JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 11


__ADS_3

Stelan jas hitam dengan rantai kecil di bagian kiri membuatnya terlihat gagah, apalagi warna rambutnya yang silver kontras akan kulitnya yang putih. Ia pun menekan tombol kecil di dekat jendela mobilnya dan membuat jendela mobilnya otomatis terbuka separuh.


Dari sini ia melihat seseorang yang ada disana berjalan tertatih-tatih mengenakan tongkat di sebelah kirinya. Orang itu tidak segan-segan mengelus pucuk kepala anak-anak panti kemudian mengecupnya sayang.


Hatinyq teriris teramat sangat melihat pemandangan yang ada. Ingin kakinya melangkah menghampirinya namun rasa bersalahnya yang besar membuatnya gengsi untuk sekedar bertegur sapa.


Cukup sudah pengalamannya yang mendekam di jeruji besi selama 9 tahun menorehkan luka sekaligus penyesalan yang mendalam di hatinya. Keserakahannya membawa banyak orang terluka, termasuk ayahnya sendiri.


”Jalan,“ perintah Robert kepada sekretarisnya sekaligus supir pribadinya.


Disana Elang termenung melihat sebuah mobil hitam metalik yang berlalu begitu saja. Jarak yang jauh membuatnya tidak bisa mengenali siapa gerangan orang yang ada di dalam mobil tersebut. Kedua alisnya saling bertautan ketika ia mengingat-ingat kembali, kalau mobil hitam metalik yang baru saja ia lihat cukup sering memarkirkan mobilnya di ujung jalan sana.


”Nanti aku samperin deh kalo kesini lagi,” gumamnya bertekad untuk menghampiri mobil itu lagi kalau-kalau nanti datang berkunjung lagi kesini.


”Daddy susu susunya daddy,” rengek salah seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua yang menyodorkan gelas plastik pada Elang. Anak itu memintanya supaya mau mengisi gelasnya yang kosong dengan susu.


Elang pun tersenyum kemudian dengan senang hati meraih gelas plastik tersebut lalu mengisinya dengan air susu murni. Ia pun memberikannya pada anak perempuan yang tadi merengek cemberut. Seketika matanya berbinar setelah mendapatkan segelas susu tambahan dari Elang.


Ya, setelah kecelakaan naas yang membuatnya kaki sebelah kirinya lumpuh total, Elang memilih mengabdikan dirinya di panti asuhan. Rama beberapa kali membujuknya untuk kembali bergabung di perusahaan sementara Wira mengurus perusahaan Sean Anderson di Inggris.


Tentu Elang menolaknya mentah-mentah. Ia masih belum siap untuk kembali bergabung di perusahaan sang ayah. Ia takut kalau-kalau suatu saat ini kembali terjun ke dunia hitam yang membawanya kembali pada permusuhan dan akhirnya melukai orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


”Mas?” seru seorang wanita berdress hijau muda bernama Arini. Arini tersenyum lembut kepada Elang. Dialah yang membantu semua kebutuhan Elang disini dan merawatnya dengan telaten ketika Elang pertama kali bergabung di panti ini.


Arini adalah sosok wanita yang lemah lembut, ramah tamah, dan keibuan. Sayangnya sebaik apapun sosok Arini tidak mampu membuat Elang jatuh hati padanya. Beberapa waktu lalu Arini pernah menyatakan perasaannya pada Elang. Namun, dengan halus Elang berkata, ”Arini, bagi saya kamu itu adalah seorang adik yang harus saya sayangi dan lindungi. Maaf, saya nggak bisa nyayangin kamu lebih dari ini.”


Siapa yang hatinya tidak sakit ketika pernyataan cinta mu ditolak oleh orang yang kamu sukai dan kamu cintai? Arini berusaha mengindahkan rasa sakitnya dengan tersenyum selembut-lembutnya, meskipun ia tau rasa sakit dan kecewa ketara sekali di wajahnya yang putih bersih.


Elang menoleh. Ia mendapati Arini yanh menghampirinya sambil menggendong si bayi yang bernama Hanan. Ya, beberapa waktu lalu pula panti ini dikejutkan oleh kehadiran seorang bayi laki-laki tepat di depan pintu panti. Elang tidak habis pikir betapa teganya kedua orang tuanya yang telah membuang darah dagingnya sendiri. Tidakkah mereka berpikir masih banyak di luar sana orang yang mandul berobat kesana kemari demi mendapatkan keturunan. Tapi, ini malah ditelantarkan begitu saja?


”Makan siang dulu mas,” ucap Arini sambil menepuk-nepuk Hanan pelan supaya Hanan tidak terbangun dalam tidurnya. Sebelum Elang ke dapur hendak makan siang. Ia pun menyempatkan diri mengecup kening Hanan. Ya, kalau dilihat-lihat Elang dan Arini persis seperti sepasang suami istri yang bahagia. Bahkan, kepala yayasan panti pun mendukung hubungan keduanya. Namun, apa daya Elang tidak memiliki perasaan apapun pada Arini.


”Makasih ya Rin udah ngingetin mas,” ucap Elang dan keduanya pun saling berbalas senyuman.


Senyuman Arini memudar ketika Elang berlalu begitu saja menuju dapur. Rasa cinta dan sayangnya kepada Elang masih begitu besar. Melupakan? Bagaimana bisa ia melupakan benih-benih cinta yang ada kalau setiap harinya saja keduanya selalu bertatap muka. Yang ada benih-benih cinta di dalam hatinya kian membesar. Seharusnya Arini mengetahui posisinya, yang dimana ia hanyalah seseorang yang dianggap adik oleh Elang, tidak lebih.


Perubahan drastisnya setelah mengalami kecelakaan naas beberapa tahun silam membuatnya lebih mendekatkan diri pada yang maha kuasa. Dulunya Elang tidak pernah mendirikan salat sekali pun. Entah bagaimana ceritanya hatinya tergugah untuk kembali pada jalan yang benar yang dimana sebagai muslim ia harus menunaikan ibadah wajib lima kali sehari setiap harinya. Setelah menunaikan salah dzuhur, Elang mengambil beberapa lauk pauk di lemari. Tidak ada makanan mewah disini. Hanya tersedia beberapa lauk sederhana seperti balado kentang, asam manis ikan teri, dan oseng tahu tempe buncis. Elang tidak pernah menyesali keputusanmya untuk mengabdi di panti sekali pun. Ia malah bersyukur, karena disinilah ia diajarkan bagaimana caranya bersyukur.


Ia pun duduk bersila di lantai. Tidak ada meja makan disini karena pihak panti selalu mengajarkan anak-anak disini untuk selalu sederhana dan bersahaja. Sebelumnya Elang tidak terbiasa makan dengan cara seperti ini, apalagi makan pakai tangan. Tapi, lambat laun ia pun mulai terbiasa.


Seorang wanita paruh baya membuka tirai yang menghubungkan antara dapur dan ruang depan. Wanita itu tersenyum melihat Elang yang makan dengan lahapnya. Sebut saja nama beliau Bu Ratih.


Beliau duduk di samping Elang. Seperti biasa dimana ada Bu Ratih disitulah beliau akan menasehati siapapun orang yang ada di dekatnya. ”Nak Elang,” seru Bu Ratih lemah lembut menatap Elang lamat-lamat. ”Kemarin pak Rama telepon ibu,”

__ADS_1


Elang tersentak kemudian meletakkan piringnya di lantai. “Iya bu?” sahut Elang menantikan apa yang akan dikatakan Bu Ratih selanjutnya. Bu Ratih memegang pergelangan tangannya. Jelas sekali dari kedua manik matanya yang penuh keseriusan menatapnya lamat-lamat.


”Apa kamu nggak ada rencana buat kembali sama papa?“ tanya Bu Ratih. Selama Elang disini jujur saja Bu Ratih seperti sosok ibu baginya. Setelah kepergiam ibunya belasan tahun yang lalu. Elang seperti menemukan sosok ibu yang baru meskipun tidak akan bisa menggantikan sosok Ningsih sang ibu di hatinya.


Elang terdiam memikirkan pertanyaan Bu Ratih yang cukup sulit ia jawab. ”Elang..,” gumamnya juga menatap Bu Ratih lamat-lamat.


”Nak, ibu bangga dengan niatan baik kamu mengabdi di panti ini. Tapi, kamu harus ingat, di luar sana masih ada keluarga kamu yang menanti kepulangan mu, nak. Kamu masih punya pak Rama, papa kamu yang dimana kamu harus berbakti kepada beliau. Kamu juga masih punya adik, kan? Wira? Hm?”


”Maafin Elang bu,”


”Elang, jangan biarkan masa lalu menggerogoti kehidupan masa depan kamu. Cukup jadikan itu sebagai pelajaran dan jangan pernah lari dari kenyataan. Ok?“


”Nanti Elang pikirin dulu ya bu, Elanh masih mau disini.”


”Iya, nak. Ibu harap kamu bisa mengambil keputusan dengan baik. Jangan cuma lihat dari sudut pandang kamu saja, tapi juga dari sudut pandang orang lain.”


Elang terharu melihat ketulusan Bu Ratih yang menyayanginya layaknya anak sendiri. Sosok ibu yang selalu ada untuk Elang kapan pun Elanh butuh. Tidak pernah berat sebelah dalam memberikan kasih sayangnya kepada siapapun.


Di kamar yang kecil nan sempit namun terasa sangat tenteram dan menyejukkan, Elang berbaring di kasur single badnya yang tentunya hanya muat untuk satu orang. Tidak ada AC melainkan kipas angin biasa saja untuk menghalau panasnya cuaca.


Pikirannya berkelana kemana-mana. Ia kembali mengingat nasihat Bu Ratih yang memintanya untuk berpikir supaya dirinya mau kembali pulang ke keluarganya. Ya, sejujurnya ia begitu merindukan Rama dan Wira. Namun, fakta bahwa ayah dan adiknya sendiri menyukai sesama jenis kembali menyayat hatinya.

__ADS_1


”Hah,” Elang menghela nafasnya berat. Ia pum membuka matanya kembali setelah memejamkannya sejenak. Usianya sudah tidak muda lagi untuk berperilaku egois layaknya anak remaja belasan tahun. Bukankah ia lebih kekanak-kanakan lagi kalau di usianya yang sudah 42 tahun ini masih saja bersikap egois? Tidak hanya pada diri sendiri tapi juga kepada orang lain.


”Ok,” gumamnya setelah dirasa sudah menemukan keputusan yang tepat. Ia rasa ia harus berterima kasih kepada Bu Ratih nanti yang sudah membimbingnya dan menasihatinya dengan sabar.


__ADS_2