
Masih jelas diingatan Wira kala ia pertama kali merasakan getaran-getaran cinta di hatinya pada sosok Ray yang kala itu masih balita. Ia sempat berpikir apakah dirinya memiliki kelainan psikologis atau cacat mental lainnya. Sampai-sampai ia harus berkonsultasi dengan seorang psikolog untuk meyakinkan kalau dirinya memiliki penyakit mental atau tidak.
Dokter yang menanganinya kala itu sempat bertanya, apakah keinginan Wira terhadap Ray itu ada hasrat untuk berbuat asusila padanya? Wira sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan dokter itu karena begitulah memang seharusnya.
Wira dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan mantap bahwa tidak sekalipun dari dalam hati dan jiwanya berkeinginan untuk berbuat hal yang tidak-tidak kepada Ray.
Dokter itu pun tersenyum dan berkata kalau Wira sehat tanpa cacat sedikit pun. Mendengar pernyataan dokter tersebut Wira pun tersenyum bahagia. Ia bersyukur kalau dirinya tidak memiliki cacat mental seperti yang sudah ia takutkan akhir-akhir ini.
”Ini murni cinta mu padanya pak,” tambah dokter itu lagi seraya tersenyum kepada Wira.
Wira pun segera tersadar dari lamunannya ketika Vikal menepuk bahunya dan menanyakan perihal tingkat kekentalan saus yang tepat untuk menu hidangan masakan khas india yang tengah dimasaknya.
Setelah menjelaskan detail perihal tingkat kekentalan saus yang hendak dimasak, matanya pun kini memicing tajam ke arah meja dimana Marry duduk. Disana Marry memarahi Ray habis-habisan karena tidak sengaja menumpahkan minuman ke dressnya.
Ia pun dengan sigap melangkahkan kakinya dan membantu Ray untuk segera bangkit. Ditatapnya Marry yang sebelumnya penuh amarah kini terlihat melunak ketika Wira datang ke hadapannya. Jelas sekali kalau perbuatan Marry ini hanyalah salah satu siasatnya untuk menarik perhatian Wira.
Tapi tidak, sekalipun Wira tidak akan termakan dengan tipu daya perempuan seperti Marry. ”Saya mohon maaf nona, atas tindakan keponakan saya yang kurang berkenan,” ujar Wira seformal mungkin karena kini ia berada ditengah-tengah pengunjung yang tengah menikmati hidangannya.
Wira pun menggendong Ray. Ia mengusap pipi Ray yang sembab karena air mata. ”Ta-tan-tante yang bab-baju merah hiks ja-jahat hiks,” ujar Ray terisak. Tangis Ray adalah hal yang tidak ingin Wira lihat. Baginya itu terlalu menyakitkan.
”Cup cup,” ujar Wira seraya mengelus pelan punggung Ray. ”Ray jangan nangis lagi ya? Nanti om ajakin Ray main ke taman hiburan gimana?” bujuk Wira.
Ia pun bersyukur karena Ray mengiyakan ajakannya walaupun hanya dengan anggukan kecil. Marry terenyuh ketika melihat interasi Wira dengan sepupunya sendiri yang begitu kebapakan. Bahkan, semua pengunjung yang ada disana pun merasa takjub. Mungkin sebagian orang akan mengira kalau Ray adalah anaknya.
”Nona untuk kerugiannya saya akan menggantinya nanti, tolong beritau nomor rekening anda kepada pegawai saya ya,” ujar Wira menyudahi permasalahan ini supaya tidak berkelanjutan.
Marry sedikit menggigit bibir bagian bawahnya. Ia merasa kesal dan terpojokkan akan sikap manis Wira yang nyatanya secara tidak langsung memintanya untuk segera pergi dari sana.
Merasa jengah dengan situasi yang ada, Marry pun memilih meninggalkan restoran tersebut. Wira pun memerintahkan pegawainya untuk kembali bekerja seperti biasanya.
Kini ekor matanya kembali fokus pada Ray yang terus menerus terisak sambil mengusap matanya dengan kedua punggung tangannya. Walaupun tangisnya tidak seperti tadi, bagaimanapun hal itu cukup menyayat hati Wira.
Ia pun memerintahkan Vikal untuk menghandle urusan dapur hari ini bersama dengan yang lainnya, karena Wira berkata ia mempunyai sedikit urusan sehingga mengharuskannya untuk meninggalkan restoran hari ini.
Ia pun mendudukkan Ray disamping kursi kemudi. Sebuah senyum tipis terukir indah di bibirnya tatkala Ray dengan antusiasnya kegirangan ketika Wira mengatakan hendak mengajaknya ke taman hiburan.
__ADS_1
”Ray mau naik role coaster!” ujar Ray menatap lurus ke depan seraya berkata 'let's go'. Wira pun melajukan mobilnya menuju taman hiburan yang menyajikan berbagai macam jenis wahana.
”Ih om! Ray bukan anak kecil lagi!” keluhnya tatkala dirinya sedari tadi berada di gendongan Wira. Ray menepuk pundak Wira memberikan isyarat supaya Wira segera menurunkan dirinya.
”Pegangan terus ya, awas jangan lepasin tangan om ya Ray,” ujar Wira mewanti-wanti karena ia tau resiko jika tangan Ray terlelas darinya, apalagi taman hiburan luar biasa ramai. Ia takut jika kehilangan jejak Ray hanya gara-gara keteledorannya.
Puas bermain beberapa jam di taman hiburan, Ray mengeluh kalau ia kelelahan. Akhirnya Wira kembali menggendong Ray namun si kecil Ray menolak dengan alasan kalau dirinya bukanlah anak kecil.
”Nanti kaki Ray sakit loh, om gendong ya? Kita makan burger disana tuh,” bujuk Wira ketika ia melihat Ray duduk di salah satu bangku taman seraya menunjuk ke arah restoran khusus menjual aneka jenis burger.
Ray memegangi perutnya yang mulai keroncongan. Alisnya berkerut seperti memikirkan sesuatu dan itu benar-benar amat sangat menggemaskan di mata Wira. Akhirnya Ray mengangguk pelan dan kini Ray pun berhasil berada digendongan Wira.
Di lain tempat Rama menghempaskan beberapa berkas ke meja dengan kasar. Ia mengutuk putranya yang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik sampai-sampai harus kebobolan dan kena tipu hingga milyaran rupiah.
Berkali-kali Rama memperingatkan Elang untuk tidak menjalin kerja sama dengan si penipu ulung Robert. Namun, rupanya apa yang Rama lakukan hanyalah seperti angin lalu untuk seorang Elas yang keras kepala dan lebih mementingkan egonya.
”Ini cuma kecelakaan biasa di dunia bisnis pa,” ujar Elang berusaha berusaha tenang untuk menetralkan suasana. Tidak untuk Rama, ia menatap tajam pada Elang yang saat ini duduk dengan tenangnya seperti tidak terjadi apa-apa.
”Cih,” Rama berdecak kesal. ”Kalo aja Wira yang ngurus dia nggak bakal kecolongan kayak kamu gini Elang,” ujar Rama memuji Wira yang sejatinya tidak ada di antara keduanya.
Hening. Kalimat yang Rama lontarkan kali ini cukup membuat Elang tertohok. ”Sekali lagi kamu bikin kesalahan yang sama, papa nggak segan-segan keluarin kamu dari sini dan nyuruh Wira buat gantiin kamu,”
Sekali lagi apa yang dikatakan oleh Rama semakin membuat emosinya membuncah. Tidak tahan dengan situasi yang ada, Elang pun memilih permisi dari ruangan sang ayah.
Di luar ruangan tepatnya di depan pintu, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menggertakan giginya tajam. ”Awas kamu Wira!” gumamnya penuh kebencian.
Tepat jam 2 siang akhirnya Wira sampai di kediaman Dian dengan Ray yang tertidur pulas digendongannya. Ia pun segera masuk ke dalam dan mendapati Dian yang tengah memasak di dapur.
”Mba,” seru Wira membuat sang empu yang merasa terpanggil pun menoleh ke belakang. ”Eh? Wira? Kok jam segini kamu balik?” tanya Dian yang kemudiam melepas celemeknya. Ia mendapati Ray yang tertidur pulas digendongan Wira.
”Tadi abis jalan-jalan sama Ray mba,” jelas Wira dan Dian pun hanya beroh ria. Dian pun bermaksud hendak mengambil Ray dari gendongan Wira. Namun, Wira menolaknya dengan alasan kalau dirinya saja yang mengantarkan Ray ke kamarnya.
Setelah merebahkan Ray di kasurnya dan mengecup keningnya, Wira tersenyum simpul kemudian segera keluar dari kamar Ray. Ia menyusul Dian yang kini tengah duduk di ruang tamu sambil menonton TV.
”Mas Fendy kapan pulangnya mba?” tanya Wira tiba-tiba yang tidak biasa menanyakan kepulangan suami Dian. Pertanyaan tiba-tiba yang diajukan oleh Wira itu pun membuat kedua alis Dian saling bertautan.
__ADS_1
”Tumben kamu nanyain Mas Fendy pulang jam berapa?” rupanya raut wajah Wira ketara sekali kalau sebenarnya memang ada hal serius yang ingin dibicarakannya.
Wira diam sesaat ketika Dian menanyai dirinya. ”Wir?” seru Dian lagi seketika membuyarkan lamunan Wira yang entah sedang memikirkan apa. ”Ada masalah?” tanya Dian menerka-nerka.
Ya, ia benar-benar mempunyai masalah yang dimana hal ini perlu ia bicarakan langsung baik dengan Fendy ataupum Dian. Ia tidak ingin sesuatu terus menerus mengganjal hatinya. Ia mau apa yang ada di hatinya kini ia sampaikan kepada dua orang yang ia sayangi Fendy dan Dian.
Dian pun menghela nafasnya. Ia paham kalau masalah yang dialami adik sepupunya ini cukup serius. Ia tidak ingin mencoba untuk mengoreknya lebih dalam. Namun, berusaha memberi Wira semangat dengan menepuk pundaknya beberapa kali. Senyuman tipis nan getir pun terukir di bibir Wira. Jelas sekali kalau ia sebenarnya dilanda rasa takut dan gelisah.
”Bentar lagi pulang kok, tunggu aja,” ujar Dian tersenyum kemudian kembali fokus pada channel TV yang kini ditontonnya.
Benar saja selang beberapa waktu akhirnya Fendy pulang dengan stelan jas yang masih lengkap dan tas kerja yang ia tenteng di tangan kirinya. Tak lupa ia lepas kedua sepatunya dan ia letakkan di rak hingga tertata rapi.
”Wira? Lah tumben jam segini udah nangkring aja disini? Nggak ke restoran?” cerca Fendy yang sedikit terkejut mendapati Wira berada di rumahnya di jam-jam kerja restorannya.
”Ada yang mau Wira omongin mas,” ujar Wira to the poin. Fendy mengangkat sebelah alisnya, ”Penting?” tanya Fendy setengah bercanda. Wira pun menghela nafas dan menatap Fendy malas, ”Ya iyalah mas pake nanya segala,”
”Kali nggak penting wkwkwk,” sahut Fendy tertawa renyah. Dian pun bangkit meraih tas kerja dan jas Fendy kemudian berlalu ke kamarnya.
Kini Wira dan Fendy duduk di ruang tamu diiringi Dian yang juga datang dari dapur membawakan minuman dingin dan sedikit cemilan. Jujur saja detak jantung Wira tidak karuan. Ia antara siap dan tidak siap untuk membicarakan hal ini pada Fendy dan Dian.
”Langsung aja Wir,” ujar Fendy seraya menyesap minuman dingin berwarna kemerahan itu.
Wira menghembuskan nafasnya sebentar, kemudian ia menatap Fendy tepat di matanya. ”Minggu lalu aku ke psikiater mas,” ujar Wira blak-blakan. Fendy dan Dian sama-sama mengerutkan kedua alisnya.
”Hah? Sakit apaan kamu Wir ampe ke psikiater segala?” tanya Fendy penasaran. Ia sungguh tidak menduga kalau adik sepupunya itu pergi ke psikiater. Entah apa yang dilakukannya.
”Dokter bilang Wira sehat nggak ada cacat mental ato apapun,”
”Trus?” sahut Fendy.
”Sebenernya Wira jatuh cinta sama Ray,” seketika ucapan Wira membuat Fendy menyemburkan air sirup yang tengah diminumnya. Matanya terbelalak tidak percaya terhadap apa yang ia dengar barusan.
Ia tau kalau Wira merupakan seorang gay sejati sejak dulu. Bahkan, dalam hidupnya tidak pernah sekalipun berkencan dengan seorang gadis. ”Becanda kamu Wir,” sahut Dian tidak percaya.
”Serius mba mas,” jawab Wira mantap. Wira pun menjelaskan semua detail bagaimana ia bisa jatuh cinta kepada Ray yang notabenenya masih anak kecil berusia 7 tahun.
__ADS_1