JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 10


__ADS_3

Wira melajukan mobilnya mengikuti taksi yang membawa Ray entah kemana. Hingga taksi yang membawa Ray pun singgah di salah satu kafe yang agak aneh? Ya, tidak seperti kafe pada umumnya. Di luar pengunjung di sambut oleh perempuan yang berpakaian minim dengan tonjolan dua melon yang seolah-olah hendak menyembul keluar.


Ia pun memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir. Cukup memantau dari sini saja. Ia tidak ingin membuat Ray lebih marah dan kecewa padanya. Bagi Wira Ray adalah permata hidupnya yang harus ia jaga dengan hati-hati. Dari sini ia bisa melihat kalau Ray berkumpul bersama teman-temannya. Mereka duduk tepat menghadap ke jendela. Ya, tempat yang selalu menjadi favorit setiap pengunjung, karena bisa menikmati hidangan sambil mata memandang keluar jendela melihat motor dan mobil yang berlalu lalang.


Wira menyenderkan punggungnya di kursi kemudi. Matanya tidak pernah lepas sedetik pun untuk memandangi Ray dari kejauhan. Setelah mendengar penjelasan dari Dian alasan mengapa Ray begitu membencinya, serasa ia harus lebih ekstra lagi untuk berusaha mengambil hati Ray.


”Hah,” Wira menghela nafas berat. Tidak ingin berada dalam kebosanan akhirnya Wira memutar lagu dari mobilnya.


***


Disini lah Ray dan kawan-kawan berada. Banyak di antara mereka yang menggerutu kesal kepada Yuda yang sudah berbohong minta tolong, termasuk Ray. Sedangkan Yuda cuma nyengir kuda saja mendengar keluh kesah sahabat-sahabatnya itu.


Di manapun dan kapanpun Ray selalu saja menjadi pusat perhatian. Seorang waiters wanita berpakaian minim mendekati mejanya dan memberikan tabel menu. Sebut saja namanya Lina. Lina sengaja mendekat ke arah Ray, menunjukkan menu apa saja yang hits di kafe ini. Tentu bukan hanya itu saja tujuannya. Lina bisa leluasa mendusel-duselkan melonnya yang menyembul itu di lengan Ray.


Tertarik? Jangankan tertarik malahan Ray merasa jijik dibuatnya. Hanya saja ia bersikap biasa-biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Begini-begini Ray tipe orang yang tidak ingin menyakiti hati orang lain dan lebih menghargai orang tersebut, kecuali perilakunya sudah di luar batas.


”Uhm yang inih lagi rame loh mahs,” ujar Lina dengan nada yang mirip suara rintihan sambil menunjukkan cake tiramisu. Ray mengangkat sebelah alisnya kemudian mengiyakan usulan Lina.


Berbanding terbalik dengan Yuda yang sudah panas dingin. Dirinya membeku di tempat ketika waiters bernama Zahra itu mengelus lengannya sensual. Bahkan, keringat mulai berjatuhan dari pelipisnya. Ray yang melihat pemandangan itu pun geleng-geleng kepala saja.


Angga dan Rudi bersikap biasa-biasa saja. Sedangkan Prima dengan lancangnya meremas bongkahan semangka si waiters sampai-sampai si waiters mendesis. Ya tuhan, apa salah Ray sampai-sampai di kelilingin oleh sahabat-sahabat yang rada-rada?


”Dapet?” tanya Prima ke Angga.


”Yap,” jawab Angga bangga.


”Hotel?”


”Yoi,”

__ADS_1


”Masih VG?”


”Iyalah gini gini gue gak mau yang bekas keles,”


Di antara mereka berlima Angga dikenal yang paling playboy dan sering memacari banyak wanita. Dari adik kelas, kakak kelas, sampai tante-tante wanita karir. Usianya lebih muda 2 tahun dari Ray, namun tinggi badannya lumayan tinggi dengan wajah tegas yang dewasa, tapi tidak terkesan tua.


Rudi itu sedikit gemuk dengan bibir yang tebal dan rambut agak keriting. Kulitnya hitam manis dan itu justru menjadi daya tariknya di mata bule-bule seksi dan atletis. Tidak sedikit juga pria yang terang-terangan teratarik pada Rudi. Namun, sekali lagi Rudi itu straight jadi ia selalu menolaknya dengan halus.


Beberapa saat kemudian pesanan pun datang. Kali ini diantar oleh pria-pria atletis. Ray sendiri bingung dengan kafe yang ia kunjungi saat ini. Ketika hendak memesan sesuatu maka para waiters wanitalah yang melayani. Giliran mengantarkan pesanan pria-pria atletis lah yang melayani.


”Fuuuh,” Ray menghembuskan asap rokoknya lewat mulut.


”Bisa ngerokok juga lu?” celetuk Rudi.


”Lu lu pada musti inget gue disini yang paling tua,” ujar Ray sambil mengetukkan ujung puntung rokoknya di asbak.


”Iya paling tua plus jomblo juga ckckck,” ujar Prima menohok.


Angga asyik memberi kode pada salah satu waiters pria yang bisa dibilang cukup tampan. Ray memicingkan mata curiga. Angga pun mengangkat sebelah alisnya. “Lu gay?” tanya Ray blak-blakan membuat Yuda, Rudi, dan Prima ikut-ikutan menatap Angga meminta penjelasan.


Angga pun membetulkan posisi duduknya dan menaruh puntung rokok yang tinggal sedikit itu di asbak. Ia menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menatap satu per satu sahabat-sahabatnya yang sudah tidak sabar menunggu jawaban darinya.


”Iya gue gay tapi lebih tepatnya bisex sih, soalnya gue suka batangan juga suka gunung kembar hehehe,” jawab Angga enteng. Angga tau sahabat-sahabatnya yang berkumpul bersamanya saat ini bukanlah homopobic. Tapi, bukan berarti mereka sama dengan dirinya.


”Srius? Emang enak sama cowok? Gimana maennya coba? Hiiiyyyyyy,” cetus Yuda dengan mata yang melotot geli.


”Yaela tinggal tusuk aja kali wkwkwk,” jawab Angga tertawa renyah.


”Gue mau keluar bentar,” ujar Ray kemudian bangkit.

__ADS_1


Ray duduk di kursi dekat kafe. Ia cukup jengah mendengar celotehan sahabat-sahabatnya yang menurutnya tidak bermutu. ”Hah gay?” gumamnya sambil menghela nafas berat. Ia mengingat kembali bagaimana Angga dengan entengnya mengatakan dirinya yang menyukai sesama jenis.


Entah kenapa mendengar hal itu membuat Ray muak tanpa sebab. Bukan berarti ia homopobic lantas membenci Angga. Tidak sama sekali. Ia pun meraih sebilah rokok di saku celananya kemudian menyalakan ujung rokoknya sampai benar-benar terbakar sedikit.


Ketika Ray hendak menghisap rokok yang baru saja ia nyalakan. Tiba-tiba seseorang merebut paksa rokoknya dan menjatugkannya ke tanah lalu menginjaknya sampai api pada rokok tersebut padam.


”Lo ngikutin gue?” tanya Ray malas. Saat ini ia tidak ingin berdebat dengan siapapun. Kehadiran Wira di hadapannya saat ini cukup membuat aliran darah dalam tubuhnya mendidih seketika. ”Gue lagi nggak mood berantem. Lo pergi sana.” usir Ray kemudian bangkit hendak masuk kembali ke dalam kafe.


Wira meraih pergelangan tangannya yang reflek Ray hempaskan dengan kasar hingga terlepas. ”PER-GI.” ucap Ray penuh penekanan di setiap suku katanya. Ia pun berbalik. Namun, dengan sigap Wira mendekapnya dari belakang.


Sejenak keduanya menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung. Tidak terkecuali sahabat-sahabatnya yanh duduk di balik jendela kafe. Jelas kelihatan karena jarak antara kafe dan kursi yang didudukinya tadi hanya beberapa meter.


”Maafin om sayang,” ucap Wira lirih. Ia memanggil Ray dengan sebutan sayang karena ia masih menganggap kalau Ray adalah si kecil Ray yang dulu ia sayangi dan ia cintai. Tidak ada dari perasaannya berubah sedetik pun. Terdengar menggelikan hingga membuat emosi Ray kian membuncah sampai ke ubun-ubun.


Ray tidak tau harus bagaimana lagi melepaskan kungkungan Wira yang menyesakkan. Akhirnya ia pun menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya. Sikutnya ia pukulkan ke belakang hingga mengenai perut Wira. Wira otomatis mundur beberapa langkah setelah Ray memukul perutnya dengan keras dengan sikutnya.


Wajahnya yang merah padam cukup jelas menggambarkan seberapa besar kemarahannya kini. ”GUE TEGESIN LAGI SAMA LO *******! GUE GAK SUDI LO PANGGIL-PANGGIL GUE SAYANG! DASAR PEMBUNUH! HOMO SIALAN!” hardik Ray berapi-api.


Bukan, ini bukanlah Ray yang Wira kenal dulu, yang selalu menangis kalau Wira tidak menuruti kemauannya. Yang selalu menangis kalau tidur tanpa dirinya. Yang selalu menangis ketika Wira mengabaikannya karena kesibukannya. Ayolah Wira, seiring berjalannya waktu setiap orang bisa saja berubah. Jangan pernah menganggapnya sama.


Kilatan matanya yang penuh kebencian menusuk hati Wira. Rasanya seperti terdapat sebuah samurai yang menancap tepat di dadanya. Ia tertegun melihat dadanya yang naik turun karena emosi.


”Ray,” panggil Wira perlahan melangkahkan kakinya maju ke depan. Tidak. Wira tidak ingin melepaskan Ray barang sedikit pun. Wira tau mungkin saja ia akan terluka atas apa yang diperbuatnya. Sekali saja. Sekali saja ia ingin egois.


Ketika Ray berbalik hendak masuk ke dalam dengan cepat Wira meraih pergelangam tangannya dan menariknya sampau dada keduanya saling bersentuhan. Wira segera meraih tengkuk Ray kemudian mencium bibirnya kuat-kuat.


Wira tau ia salah. Salah karena sudah memaksa Ray. Tapi, sekali saja ia ingin egois. Ia tau ia akan terluka lagi setelah ini dan mungkin lebih sakit dari ini. Ray membelalakkan matanya dan berusaha melepaskan diri. Namun, tidak disangkanya ternyata Wira bisa sekuat ini.


Ray memukul dada Wira dengan keras namun Wira tidak bergeming. Wira masih setia ******* bibir Ray yang terasa manis dan candu. Wira tidak peduli dengan Ray yang terus saja berontak.

__ADS_1


Tiba-tiba Wira tidak lagi merasakan Ray berontak dalam dekapannya. Ia diam dan terlihat pasrah. Matanya terbuka ketika Wira ******* bibirnya sedikit kasar. Wira pun akhirnya memundurkan kepalanya menatap lamat-lamat Ray yang menatapnya dengan marah. Plak! Ray menampar pipinya dengan keras.


”Brengsek!” makinya meludah ke samping.


__ADS_2