
Ray mengayuh sepedanya santai. Saking ibunya gemas tidak mempercayainya yang akan pulang cepat, selama perjalanan itu pula Dian meneleponnya berkali-kali. Ray hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi sifat protektif sang ibu.
Ray pun tiba di halaman rumahnya dan memarkirkan sepedanya di tempat khusus parkiran di samping kanan. Disana sudah ada satpam yang biasa berjaga-jaga di depan rumahnya. ”Mari pak,” ujar Ray beramah tamah.
Dari luar terdengar suara gelak tawa ibunya bersama seorang pria. Ayah? Ah, tidak mungkin ayahnya pulang dari kantor jam segini. Biasanya kalau tidak sore ayahnya akan pulang agak malam.
”Mama selingkuh?” gumamnya membayangkan ibunya yang tengah berselingkuh di belakang ayahnya dan membawa pria lain masuk ke dalam rumah. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Ray pun segera membuka pintu rumahnya.
Dua orang yang saat ini tengah duduk di ruang tamu pun menoleh. Betapa kagetnya Ray ketika melihat sosok seorang pria yang memiliki rambut agak panjang di atas pundak tengah tersenyum padanya.
”Ah, Ray? Sini nak,” ujar Dian menyuruh Ray untuk segera duduk di sampingnya. Dada Ray bergemuruh ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata pria yang ada di hadapannya kini.
Cih, dasar pembunuh, batin Ray menyumpahi pria itu. ”Ray?” panggilnya. Ray begitu membenci pria itu bahkan suaranya sekali pun. Tidak ada satu hal pun yang bisa membuat Ray menyayangi pria itu lagi layaknya seorang paman.
”Ngapain lo kesini?” satu kalimat sarkas yang keluar dari mulut Ray membuat pria itu terdiam seketika. Ia menatap Ray sedang Ray menatapnya penuh benci. Kedua alis pria itu saling bertautan. Kebingungan melandanya bagaimana bisa si kecil Ray yang dulu begitu memujanya membencinya setengah mati?
”Ray! Yang sopan kalo ngomong!” tegur Dian. Dian tidak pernah sama sekali mendidik Ray untuk berkata kasar kepada orang lain. Hari ini Dian melihat sisi lain dari Ray. Kilatan matanya serta dadanya yang naik turun dan kembang kempis menandakan amarahnya yang mulai memuncak.
Wira memberi isyarat kepada Dian untuk tidak memarahi Ray lebih dari ini. Wira ingin tau terlebih dahulu duduk perkaranya. Bagaimana dan mengapa Ray bisa begitu membenci dirinya.
Ia pun berjalan menuju kamarnya untuk menenangkan diri. Disana ia duduk di pinggiran ranjang sambil mengatur nafasnya supaya kembali stabil. Tidak ada satu hal apapun yang mampu membuatnya tersulut emosi kecuali meningat nama Wira Atmajaya.
”Aku mau nyusul Ray dulu,“ ujar Wira kemudian berjalan menuju kamar Ray. Ia ketuk beberapa kali tidak ada jawaban sama sekali hingga ahirnya ia pun memberanikan diri membuka knop pintu kamarnya. Syukurlah kamar Ray tidak dikunci.
Wira pun masuk ke dalam mendapati Ray yang tengah berbaring di ranjang dengan sebelah lengannya menutup kedua matanya. Wira sengaja mengunci pintunya supaya Ray tidak bisa pergi kemana-mana kalau-kalau Ray berontak ingin kabur.
Seulas senyum tipis terukir di bibirnya yang tebal namun seksi. Ia melihat Ray masih mengenakan seragam lengkap. Ia pun menghampiri Ray dan jongkok di hadapannya berniat melepas sepatu yang masih melekat di kakinya.
Ray tersentak ketika ia merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Rupanya Ray terlelap sebentar karena kelelahan. Ray pun otomatis duduk dan mendapati Wira tengah melepaskan sepatu dan kaos kaki yang melekat di kakinya. Ray berusaha menarik kakinya namun Wira dengan kuat menahannya hinggga sepatu dan kaos kaki pun berhasil terlepas dua-duanya.
”Ngapain lo disini?” tanya Ray garang.
”Om mau bicara,” ujar Wira bersikap setenang mungkin.
”Nggak ada yang perlu kita bicarain.”
”Ray yang om kenal nggak keras kepala kek gini.”
__ADS_1
”Cih. Ray yang om kenal? Om sama sekali nggak pernah kenal ama gue so keluar.”
Ray menatapnya tajam sebuah tatapan yang seumur hidup Wira baru kali ini ia lihat. Selama 10 tahun ini ia tidak menyangka semuanya telah banyak berubah termasuk Ray yang tidak lagi sebahagia dulu ketika menyambut kedatangan dirinya.
Ray berusaha mendorong tubuh Wira supaya segera keluar dari kamarnya. Sial! Pintunya terkunci. ”Heh,” dengusnya kesal sambil menggertakan giginya geram. Wira mengangkat tangannya dan memainkan kunci kamar Ray di atas sana.
”Siniin kuncinya,” pinta Ray berusaha mengambilnya dari Wira namun tidak berhasil. ”Siniin nggak!” kali ini suaranya meninggi dan kembali merebutnya dari Wira namun gagal. Cukup sudah Wira menguji emosinya yang kian membuncah. Ray menendang lutut Wira namun gerakan Wira terlalu cepat hingga membuatnya menghindar dengan sempurna.
Shit! Kini Ray jatuh di pelukan Wira. Sosok Wira yang dewasa ternyata semakin membuat dirinya lebih kuat dan tidak memberikan Ray kesempatan sama sekali untuk kabur. Mata keduanya pun saling bertemu. Ray mencoba mengelabui Wira dengan meneduhkan pandangannya yang dimana disana terlihat seolah seperti emosinya kian menurun saja padahal tidak sama sekali.
Ray memiringkan kepala dan sedikit berjinjit kemudian mengecup bibir Wira lembut dengan kedua matanya yang terpejam sempurna. Wira membelalakkan matanya kaget melihat aksi mengejutkan Ray, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Ray sudah mengambil kunci kamarnya dari tangannya.
Ia pun segera melepaskan diri dari kungkungan Wira yang begitu menyesakkan. Kilatan matanya kembali menajam ketika menatap kedua manik mata Wira yang hitam legam. Wira tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan. Ray telah mengelabuinya dengan sempurna dan ia pun kalah telak.
Ray tersenyum miring kemudian ia menyapu bibirnya dengan kasar karena ia sungguh merasa jijik sudah berciuman dengan seorang pria.
”Keluar,” ucap Ray berapi-api. Wira tidak bergeming. Ray pun mendorongnya dengan kasar hingga akhirnya Wira benar-benar keluar dari kamarnya. Brak! Pintu kamarnya pun dibanting dengan kasar.
GRUP CHAT WHATSAPP
Yuda: please selametin gue gue lagi dalam bahaya **
Angga: tulungin aja takut anak orang kenapa napa tar kita yang disalahin, lu lu pada taulah mak bapaknya galaknya kek gimana
Ray: berisik
Prima: Ray tolongin tuh anak lo
Ray: gue gak punya anak
Yuda: tega lu lu pada ** please lah kuy ngumpul di kafe anu
Prima: kafe anu apaan
Yuda: tempat biasa
Angga: kuylah sekalian cuci mata gue
__ADS_1
Prima: (2)kuylah sekalian cuci mata gue
Ray: (3)kuylah sekalian cuci mata gue
Rudi: (4)kuylah sekalian cuci mata gue
Yuda: dih ada makhluk astral kesasar @rudi
Rudi: egp
Kaos polos berwarna hitam dan celana panjang berwarna krem menjadi pilihan Ray untuk ia kenakan malam ini. Setidaknya dengan berkumpul bersama teman-temannya lah mampu membuat suasana hatinya kembali membaik.
Ia pun meraih ponselnya kemudian segera turun ke bawah. Ah, kenapa Wira masih ada disini? Apakah ia tidak mempunyai rumah untuk ditinggali? Apakah dia semiskin itu sampai-sampai harus tinggal di rumah ini? Lihat saja, pakaian santainya itu sudab menjawab semuanya kalau Wira tidak hanya sekedar berkunjung belaka.
”Kemana Ray?” tanya Fendy ketika melihat Ray agak terburu-buru.
”Nongkrong pa ama temen-temen, pa pinjem mobil yah.” ujar Ray meraih kunci mobil yang ada di meja.
”Ray, papa nggak ngijinin kamu malem-malem jalan loh ya.”
”Kenapa?”
”Biar Wira yang anter kamu baru papa ijinin.”
”Cih! Eh om lo pake pelet apa hah? Ampe papa gue aja tunduk ama lo?”
”RAY!”
Suara Fendy mulai meninggi setelah mendengar anaknya sendiri berbicara kasar kepada yang lebih tua, maksudnya kepada Wira. Fendy tidak mengerti mengapa Ray bisa seperti itu. Setau Fendy, Ray cukup pendiam dan penurut meskipun ada kalanya ia pun juga bisa membantah.
”Kamu ikutin kata papa ato papa tarik atm kamu dan papa kurangin uang jajan kamu hm?”
Ray merogoh saku celananya dan mengeluarkan atm dari dompetnya. Ia pun meletakkannya di meja. Ia tidak peduli lagi jika uang sakunya dipotong separuh atau dipotong habis. Ia pun menatap Wira sebentar kemudian pergi begitu saja.
Dian menghela nafasnya berat. Wira dapat melihat dengan jelas kekecewaan di wajah Fendy dan Dian. Secercah rasa bersalah pun menghampirinya. ”Maafin Wira mba mas,”
Dian menghembuskan nafasnya kemudian memegang pundak Wira dan tersenyum. ”Nggak papa Wir, ini bukan salah kamu kok. Ray cuman butuh waktu buat nerima kamu lagi. Kamu inget kan apa yang mba ceritain tadi siang? Ray nganggep kamu pembunuh karena dia mikir cacatnya dia dulu itu gara-gara kamu.”
__ADS_1
Fendy ikut-ikutan memegang pundak Wira berusaha memberi kekuatan disana. ”Dia anak mas dan mas bangga kamu masih bisa pertahanin perkataan kamu dulu Wir. Biarin semuanya berjalan apa adanya, mas yakin suatu saat Ray pasti nerima kamu lagi kek dulu.”
”Makasih mas mba,” ujar Wira tersenyum tipis. Wira pun bangkit meminta izin kepada Fendy dan Dian untuk mengikuti Ray. Jujur saja Wira begitu khawatir walaupun nyatanya Ray sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri. Ia masih menganggap Ray adalah si kecil Ray yang benar-benar harus dilindungi. Fendy dan Dian saling berpandangan dan tersenyum.