JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 7


__ADS_3

Kini Wira, Fendy, dan Dian sudah berada di rumah sakit. Disana juga ada ayahnya Rama dan istri Elang, Dewi. Semua yang ada disana harap-harap cemas menunggu dokter keluar dari ruangan VIP tempat Elang dirawat.


Jauh dalam hati Wira. Ia merasa sebagian dari dirinya hilangnya. Hatinua perih bak disayat pisau tajam. Rasanya melihat tubuh Elang yang tidsk berdaya seperti membuatnya lebih sakit. Walaupun hubungan keduanya kurang baik tetap saja Elanga dalah kakaknya.


Ray berada di gendongan Wira. Sedari tadi Ray merengek minta digendong hingga membuatnya tertidur pulas di pundak Wira. Sesekali Wira mengelus surai rambutnya yang lembut sambil mata memandang sang kakak dari jendela kecil di pintu.


Dari sudut kursi ruang tunggu, nampak Dewi duduk termenung. Jelas sekali kalau kini ia begitu mengkhawatirkan sosok elang. Ia diam seribu bahasa seolah ada banyak hal yang dipikirkannya.


Wira mencoba menghampiri Dewi dan duduk di sampingnya. Dari kejauhan Dian melihat Wira nampak kesusahan dengan Ray yang berada pada gendongannya. Akhirnya Dian menghampiri Wira dan memintanya untuk menyerahkan Ray pada dirinya.


”Maaf ya mba,” ujar Wira merasa tidak enak.


”Nggak pap Wir,” sahut Dian tersenyum.


Tangannya refleks menggenggam tangan kiri Dewi yang nampak gemetar. Raut wajah Dewi nampak pucat pasi seolah masih tidak percaya dengan apa yanh terjadi dengan Elang kini hingga membuatnya hilang kesadaran.


Dewi menatap mata Wira dan entah mengapa Wira merasakan secercah rasa takut di kilauan mata cantik Dewi. Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kelu. Hanya air matalah yang mengucur deras sebagai ungkapan isi hatinya kini.


Wira memeluk Dewi seraya mengusap pelan punggungnya memberi kekuatan disana. Bukan pelukan bernafsu atau ada perasaan terselubung. Hanya sebuah pelukan dari seorang adik ipar yang ingin mencoba menenangkan kakak iparnya.


”Wir.. Se-semuanya gara-gara mba,” ucap Dewi terbata-bata seraya merenggangkan pelukannya. Ia menatap Wira dengan perasaan takut. Takut disalahkan, takut dipenjarakan, dan perasaan takut lainnya yang begitu menghujami hatinya saat ini.


”Mba, ini bukan salah mba, ini musibah,” ujar Wira berusaha menenangkan. Namu, Dewi menggelengkan kepalanya cepat. ”Nggak Wir, semuanya salah mba!”


”Sebenernya mba gugat cerai Elang Wir,” seketika perkataan Dewi menbuat Wira mengerutkan dahinya bingung. Cerai? Bagaimana bisa Dewi menggugat cerai suaminya sendiri? Bahkan, hubungan keduanya terlihat baik-baik saja.


“Elang sekingkuh,” tukas Dewi membeberkan fakta yang sebenarnya yang menjadi alasannya menggugat cerai Elang. Wanita mana yang tidak sakit hati ketika melihat suaminya sendiri bermesraan dengan wanita lain?


Dewi pun menjelaskan semuanya panjang lebar kepada Wira. Kini Wira paham mengapa Dewi menggugat cerai Elang. Ia dapat memaklumi keputusa Dewi tersebut, karena wanita mana yang kuat ketika suaminya bermain api di belakang istrinya sendiri.


Wir kembali memeluk Dewi berusaha memberikan kekuatan disana. Tidak berselang lama akhirnya seorang dokter pun keluar dari ruangan Elang dirawat. Dokter itu pun kemudia menjelaskan keadaan Elang secara detail.


Betapa terkejutnya Wira, Dewi, Rama dan semua orang yang ada disana. Ketika dokter tersebut memvonis kaki kiri Elang lumpuh permanen, dikareakan syaraf-syaraf yang ada dikaki kirinya sudah rusak dan tidak mampu bekerja lagi.


Bagai dentuman petir yang memekakkan telinga hingga membuat sekujur tubuh ngeri dibuatnya. Tubuh Dewi bergetar hebat. Lututnya lemas hingga membuatnya terduduk di lantai. Tangisnya tumpah ruah hingga membuat kesadarannya perlahan menghilang.


Seorang pria berbadan tinggi dengan brewok tipis menghiasi dagunya nampak berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah sakit. Ia mencari-cari ruangan yang dimana ada seseorang yang ia kenal dirawat disana.


Air mukanya tidaklah sedang baik-baik saja. Ia terburu-buru seolah tidak ada hari esok. Setelah mendapati ruangan yang dituju, ia pun segera menghampiri beberapa orang yang duduk di kursi tunggu.


”Wira,” serunya nampak khawatir.


”Dad?” sahut Wira ketika melihat kehadiran Sean disana.

__ADS_1


”Gimana keadaan Elang?” tanya Sean da Wira hanya menggelengkan kepalanya berat mengisyaratkan kalau keadaan Elang tidak sedang baik-baik saja.


Sean bersalaman dengan beberapa orang yang ada disana, yaitu Fendy selaku kawan bisnisnya, juga Dian sebagai istrinya. Sesaat Fendy nampak bingung dengan situasi yang ada kini. Ada keperluan apa seorang Sean datang kemari? Lagi, hubungannya denga Wira begitu akrab dan bahkan Wira memanggilnya Dad? Apa Sean adalah pacar lekakinya Wira? Ah, tidak mungkin.


Bukan Sean namanya kalau ia tidak paham dengan keadaan yang ada. Ia pun meminta Wira dan Fendy untuk menemuinya sebentar di ruang khusus VIP di lantai ini.


Baik Fendy ataupun Wira menunggu Seam untuk berbicara lebih dulu. ”Ok langsung saja,” ujar Sean mulai membuka percakapan. ”Saya tau kalian nggak bakalan percaya sama apa yan saya bilang, yang jelas kecelakaan Elang hari ini buka murni kecelakaan saja, tapi ini adalah pembunuhan berencana.”


Kedua alis Wira dan Fendy saling bertautan. Nampak dari wajah keduanya yang geram dan kesal ketika mendengarr penuturan Sean barusan. ”Siapa dalang dari semua ini Dad?”


”Robert,” satu kata yang keluar dari mulut Sean cukup menjawab semua pertanyaan yang ada di benak keduanya.


Akhirnya mereka bertiga pun melakukan rapat tertutup untuk menyusut siasat menangkap Robert. Bahkan, Sean memprediksi kalau dalam beberapa hari ke depan Robert akan menyerang Atmajaya Grup.


Beberapa hari pun berlalu biasa-biasa saja. Diluar dugaan ternyata perkiraan Sean beberapa hari lalu memang benar adanya. Ada banyak investor yang tiba-tiba menarik kembali investasinya tanpa alasan yang jelas.


Belum lagi ada banyak customer yang mengeluhkan kalau produk elektronik yang dijual oleh Atnajaya Grup tidak awet dan mudah rusak. Belum lagi keluhan lainnya di bidang kosmetik yang dimana mereka mengeluhkan wajahnya yang rusak dan iritasi setelah memakai produk Atmajaya Grup hingga meminta ganti rugi.


Shit! Wira tak henti-hentinya mengumpat. Kini ia berada di meja kerja kantor sang ayah dengan tumpukkan berkas yang kian menggunung. Kepalanya terasa buntu dan ingin pecah.


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu. Wira pun mempersilahkan masuk yang tidak lain ternyata adalah sang ayah bersama dengan seorang pria berwajah bule dengan warna mata kebiru-biruan.


Raut wajah masam Wira cukup menggambarkan kalau dirinya kini geram pada pria yang ada di samping Rama. Sebelum ia mengeluarkan semua sumpah serapahnya, Rama terlebih dahulu menyela dan meminta Wira untuk segera duduk.


”Ya, aku tau,” sahut Wira dingin. Atmosfir di ruangan ini terasa begitu mencekam meskipun masih siang hari. Mata tajam Wira tak lepas untuk menghakimi George yang duduk di hadapannya. George yang ditatap seperti itu biasa-biasa saja seolah tidak terpancing sama sekali dengan intimidasi yang Wira lemparkan padanya.


”Maaf sebelumnya nak Wira, aku harap kamu bisa bersikap lebih profesional dan mengesampingkan egomu sedikit saja. Aku datang kesini karena ingin membantu menyelesaikan semua masalah yang ada. Termasuk anak ku Philip, ah lebih tepatnya Robert,” tutur George. Benar apa yang dikatakan olehnya kalau Wira seharusnya bisa lebih profesional dan mengesampingkan egonya sedikit. Seharusnya ia mendengarkan terlebih dahulu maksud kedatangan George.


”Kalau saja Sean tidak membantu mungkin Atmajaya Grup sudah bangkrut,” ujar George. ”Dan tujuan terakhir Robert sekarang ialah bandara,” ujarnya lagi membuat kedua alis Wira saling bertautan.


”Wir, tolong,” pinta Rama ketika melihat sang anak yang seolah masih menampakkan kekeras kepalaannya. Wira pun menghembuskan nafasnya dan mencoba mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rama dan George.


Siasat pun telah disusun. Kini tim George mulai bergerak satu per satu menuju bandara. George yang sebagai pemimpin jalannya siasat kepolisian ini pun meminta rekannya untuk menyembunyikan diri, supaya target tidak kabur.


George nantinya akan memberikan kode petunjuk sebagai isyarat kepada timnya nanti untuk segera menyergap Robert, anaknya. Jujur saja hati George sakit, jika ia harus menyergap anaknya semata wayangnya, yang dimana ia akan diberi tuduhan telah melakukan percobaan pembunuhan dan kejahatan lainnya.


Namun, sebagai seseorang yang sudah terjun ke dunia kepolisian, siapapun itu mau anaknya sendiri, istri, suami, ia tidak akan pandang bulu terhadap sesiapapun yang berbuat kejahatan. Kejahatan tetaplah kejahatan yang harus dipertanggung jawabkan.


George berpakaian seperti biasa. Ia sengaja mengenakan kaos polo berwarna abu-abu dengan mantel warna coklat selutut. Ia tidak ingin berpenampilan mencolok yang dimana itu akan membongkar identitasnya sebagai polisi intel.


George terus berjalan mencari sosok sang anak yang sudah lama sekali tidak ditemuinya. Setalah beberapa waktu lalu Sean memberikannya foto lengkap Philip yang kini berubah nama menjadi Robert. Rasanya tidak susah untuk mengenali sosoknya dari kejauhan.


Sekitar dua puluh meter dari tempatnya berdiri, George melihat seorang pria berbadan tinggi nan tegap, rambutnya agak panjang seperti wanita dengan warna silver. Namun, tidak lantas membuatnya kemayu. Malah nampak gagah dan berwibawa.

__ADS_1


Ia pun mendekati pria tersebut yang dikawal oleh beberapa bodyguard berbadan kekar. ”Philip,” panggil George berharap kalau pria yang ada di hadapannya kini benar-benar Philip anaknya.


Robert William


Kini aku sudah puas karena semua dendam ku atas kematian ayah ku terbalaskan sudah. Walaupun aku tidak bisa sepenuhnya meruntuhkan Atmajaya Grup lantaran mendapatkan suntikan dana dari perusahaan besar kategori Lion King.


Siapa yang tidak tau dengan sebutan Lion King? Perusahaan besar yang tidak hanya meraja di bidang bisnis seperti fashion, food, konstruksi dan lain-lain. Namum, juga ikut andil dalam bekerjasama dengan pemerintah, yang artinya orang tersebut memiliki akses mudah untuk mengetahui informasi apapun.


Ketika dirasa semua urusan ku di Indonesia sudah selesai, aku berniat ingin kembali ke negara asalku yaitu Irlandia. Dikawal dengan beberapa bodyguard handal aku pun melaju menuju bandara.


Ada banyak pasang mata yang menatap kagum padaku namun tidak ku hiraukan sama sekali. Aku berjalan dengan angkuh seolah hendak menunjukkan betapa hebatnya diriku dan tentunya cukup untuk membuat orang lain bergidik ngeri dengan tatapan tajam ku yang penuh intimidasi.


Ketika aku hendak masuk ke barisan check in bandara, tiba-tiba terdengar seseorang menyebut nama ku 'Philip'. Tidak ada sesiapapun yang mengetahui identitas ku yang sebenarnya.


Ketika aku berusaha menghiraukannya suara itu kembali menginterupsi langkah ku hingga membuat langkah ku benar-benar berhenti di tempat. Dada ku bergemuruh. Suara itu suara yang sangat aku rindukan.


Aku pun perlahan membalikkan badan dan betapa terkejutnya tatkala melihat sosok ayah ku berdiri di hadapan ku dalam keadaan sehat wal afiat. Ia tersenyum. Apakah aku berhalusinasi?


Tidak. Jelas-jelas aku merasakan kaki ku yang beranjak di tanah bukan mengawang-awang. Refleks ku peluk tubuhnya yang masih begitu atletis di usianya yang sudah setengah abad.


Sungguh aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi, tunggu darimana ayah bisa mengenali dirinya sementara kini wajahnya bukanlah wajahnya yang dulu, melainkan telah berubah drastis dengan operasi plastik.


Aku pun melonggarkan dekapannya dan menatap kedua manik matanya. Bisa ku lihat matanya yang mulai memerah hendak meneteskan air mata seraya mengusap kedua pipiku sayang.


”Maafkan ayah nak,” ucap George lirih kemudian menekan sebuah tombol yang terdapat di tangan kirinya. Tiba-tiba sekelompok orang berpakaian serba hitam mengepung ku. Aku sungguh tidak paham dengan situasi yang terjadi saat ini.


Aku kembali menatap ayah dan mencoba meminta penjelasannya. Lagi, orang-orang itu bahkan menodongkan pistol ke arah ku seolah menjadikannya tameng agar aku tidak bisa lari kemanapun.


Kedua bodyguard ku juga berusaha untuk melimdungi ku dengan menodongkan pisau ke beberapa orang yang mencoba mengepung ku. Semua orang yang ada di bandara di perintahkan untuk menepi menjauhi lokasi dimana aku dan ayah ku berada sekarang.


Perlahan tapi pasti ayah ku membuka suaranya kembali. Bukan ucapan rindu ataupun kasih sayang, melainkan sederet pelanggaran hukum yang telah aku lakukan.


”Ayah,“ ucap ku lirih. Aku tidak menyangka jika seorang ayah yang aku anggap telah tiada kini muncul kembali. Namun, bukannya membawaku dalam dekapnya, melainkan ingin menjebloskan ku dalam penjara.


Lalu, untuk apa balas dendam yang telah aku lakukan sat ini? Semuanya terasa sia-sia. Aku tau dan paham kalau tatapan ayah begitu iba melihat diriku yang dikepung seperti ini. Ia seolah hendak melangkahkan kakinya mendekapku, nun aku tidak tau apa yang membuatnya urung melakukannya.


Kedua bodyguard ku sudah berhasil dilumpuhkan. Aku masih berdiri mematung. Tidak, aku tidak ingin tertangkap begitu saja. Sungguh, aku tidak ingin membusuk dipenjara.


Aku pun mengeluarkan pistol dari dalam jas ku dan melayangkan satu tembakan ke udara. ”PHILIP!” teriak ayah ku nampak histeris. Aku tersenyum miring. ”Aku pikir ayah menyayangi ku tapi ternyata..,” ujar ku sengaja memotong perkataan ku sendir kemudian menodongkan pistolkan mengarah pada salah seorang di antara mereka yang mengepung ku.


Ketika aku hendak menarik pelatuknya tiba-tiba ayah menerjang tubuh ku hingga terjungkal ke belakang. Duar! Satu tembakan lagi berhasil keluar dari sarangnya. Aku melihat cairan amis darah mengalir deras dari dada sebelah kiri ayah ku. Mata ku pun melotot tajam. ”A-apa yang su-sudah aku lakukan?” batin ku.


Perlahan kesadaran ayah pun kian menipis hingga ia tak sadarkan diri di atas tubuh ku. Aku merutuki diriku yang tanpa sengaja membunuh ayah ku sendiri. Aku merasa kalau diriku bahkan lebih hina dari binatang. Shit!

__ADS_1


__ADS_2