JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 16


__ADS_3

Arini berjalan dengan setengah berlari masuk ke dalam panti. Ia mencari sosok Bu Ratih yang ternyata sedang sibuk mematahkan kacang panjang yang nantinya siap dioseng untuk menu makan siang nanti.


Ia berkali-kali mengusap sudut mata dan pipinya yang basah karena air mata yang terus menerus luruh tanpa henti. ”Bu,” seru Arini. Bu Ratih pun menoleh dan mendapati mata Arini yang memerah karena menangis.


Arini pun segera berhambur di pelukkan Bu Ratih. Sebagai seorang ibu bagi anak-anak pantinya, Bu Ratih pun mengulurkan tangannya mengusap punggung Arini yang sedikit bergetar. ”Ada apa nak? Hm? Cerita sama ibu,” ucap Bu Ratih semakin membuat tangis Arini kian menjadi.


Arini tidak tau harus memulai ceritanya dari mana. Bu Ratih merenggangkan pelukannya kemudian mengusap kedua pipi Arini yang basah dengan kedua tangannya yang sudah mulai keriput.


”Ma-mas E-elang bu,” gumamnya terisak-isak.


”Iya, Elang kenapa nak? Hm?” tanya Bu Ratih lemah lembut.


”Mas Elang gay bu,”


Bu Ratih diam sejenak mendengar penuturan Arini. Beliau tau kalau ayahandanya pun juga seorang gay yang menikah dengan pasangan gaynya pula. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya dan pepatah itu benar adanya.


Bu Ratih tersenyum maklum. Sebagai seorang ibu beliau tidak pernah sekali lun memaksa anak-anaknya untuk memilih. Tugas dari seorang ibu ialah mendidik anak ke jalan yang benar, sisanya anak itu sendirilah yang memilih.


Arini heran mengapa Bu Ratih tersenyum seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan apa yang dikatakan olehnya barusan. ”Ibu nggak marah?” tanya Arini kini isakannya mulai mereda.


”Nak, ibu harap kamu nggak akan pernah benci Elang.” ucap Bu Ratih menasihati seraya menggenggam kedua tangan Arini. Bu Ratih takut kalau-kalau Arini melakukan perbuatan yang tidak-tidak karena gelap mata.


“Ibu tau kalau Mas Elang gay?” tanya Arini memastikan. Bu Ratih hanya tersenyum seraya mengelus sayang surai rambut Arini yang lembut dan berkilau.


”Ibu tau semua hal yang ada di diri anak-anak ibu, nak.”


”Ibu nggak marah? Jijik?”


”Kenapa harus jijik? Elang dan kalian semua anak ibu.”


”Tapi..,”


”Selama Elang tidak merugikan orang lain ibu nggak akan pernah ngehalangin keputusannya. Jadi, ibu harap kamu juga begitu Arini.”


Bu Ratih pun mengajak Arini untuk keluar sebentar. Keduanya pun berdiri di ambang pintu. ”Lihat,” cetus Bu Ratih meminta Arini untuk melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini. Ya, disana Elang tersenyum bahagia seolah tanpa beban sambil bermain bersama anak-anak. Bagian mana dari dirinya yang terlihat menjijikkan, kecuali fakta orientasi seksualnya?


Jawabannya tidak ada. Sampai saat ini Elang selalu berkontribusi dalam pengembangan panti asuhan yang ia tinggali. Tidak hanya menyumbangkan sejumlah uang, bahkan ia terjun langsung untuk menjadi relawan dan mengabdikan hidupnya disini.


Senyuman itu yang penuh arti bahagia, siapa yang tega melukainya? Lalu, apa yang harus Arini lakukan? Mengikhlaskannya begitu saja atau bagaimana? Entahlah. Ia sendiri tidak tau.


Fendy duduk di sofa sambil menghela nafas panjang pertanda dirinya yang kelelahan sehabis bekerja seharian. Ya, ia baru saja pulang dari kantor. ”Yank?” serunya yang tidak mendapati istrinya menyambut kepulangannya seperti biasa.


”Sayang, jangan ngumpet deh tar mas makan nih.” goda Fendy. Ia tau kalau Dian sedang menyembunyikan dirinya di suatu tempat. Tidak butuh waktu lama Dian yang mengumpet di balik lemari dapur itu pun segera berdiri menghampiri Fendy dengan wajah yang memberengut masam.

__ADS_1


”Kenapa lagi deh yank? Hm?” tanya Fendy sambil melepas kancing kemejanya yang bagian pergelangan tangan dan melepaskan dasinya yang terasa mencekik sedari tadi.


Dian memanyunkan bibirnya persis seperti anak kecil. Fendy geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang kadang-kadang terlihat lebih kekanak-kanakan dibandingkan Ray. Seperti biasa sudah pasti Dian sedang ada maunya. Kalau sudah begini biasanya Fendy akan selalu dituduh tidak peka.


”Mas, bisa nggak sih kerjanya tuh dikurang-kurangin? Kan mas punya si siapa tuh si anu duh lupa lagi namanya, pokoknya orang kepercayaan mas lah intinya.”


”Trus?”


”Ya pokoknya mas harus luangin waktu buat aku.”


”Lah? Bukannya mas pulang jam 2 siang ya? Berarti kan mas udah handel waktu mas buat keluarga yank.”


”Iya tau mas tau. Tapi, tetep aja.”


”Tetep aja gimana?”


”Au ah dasar ngga peka.”


Fendy menepuk jidatnya menghadapi tingkah absurd istrinya. Lihat? Bukankah lelaki selalu salah dan tidak peka? Bagaimana Fendy bisa mengetahui maksud sang istri kalau Dian saja main kode-kodean, mana Fendy paham masalah kode-kode istri kecuali kode keuangan. 'HEHEHE' batinnya tertawa jahat.


”Iya, mas salah, maaf sayang. Nah, sekarang kamu mau apa? Mobil? Apartemen?” cetus Fendy asal dengan wajah tanpa dosanya sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Oh tidak, kepala Dian sudah berasap dan kini asapnya makin membumbung tinggi. Fendy harus siap-siap mendengarkan siraman rohani sang istri beberapa saat lagi.


”DIAN MAUNYA LIBURAN MAS! LIBURAN! LIAT TUH RAY SAMA WIRA ENAK-ENAKAN LIBURAN KE CIWIDEY. MEREKA YANG BELUM NIKAH AJA LIBURAN BERDUA. MASA KITA UDAH PUNYA ANAK GEDE NGGAK LIBURAN JUGA SIH MAS?”


Fendy mengangguk paham, rupanya istrinya iri melihat anak semata wayangnya yang tengah asyik berlibur di Ciwidey. Ia akui kalau aktivitas liburan seperti yang dikatakan Dian barusan bisa dihitung dengan jari.


”Dek, kalo mas dateng yo disambut to dek jangan cemberut kek gitu.” kini Fendy sedikit berubah ke mode serius. Dian menyadari perubahan intonasi suara Fendy yang agak serius itu lalu segera meminta maaf.


”Iya iya maaf,” sahut Dian sedikit lesu. Fendy pun merengkuh istrinya dalam dekapannya. Ia ciumi wajah istrinya sampai membuat Dian sebal sekaligus geli.


”Nanti mas atur jadwal dulu yah? Kita ke Ciwidey, ok?” ucap Fendy membuat mata Dian berbinar senang. Dian pun memeluk Fendy kemudian mencium bibirnya sekilas.


***


”Hati-hati,” seru Wira memperingatkan Ray untuk berjalan dengan hati-hati karena jalanan terlihat begitu licin setelah Ciwidey diguyur hujan deras beberapa waktu lalu.


Selanjutnya ia dan Ray menuju Taman Bintang yang dimana dari atas flatfon berbentuk bintang itu, mereka bisa melihat pemandangan Ciwidey yang penuh dengan perkebunan teh dari sana. Beberapa kali Ray hampir saja tergelincir namun Wira dengan sigap meraih pergelangan tangannya.


”Uwaaaaaa,” ucap Ray berdecak kagum. Ray tidak menyangka kalau ada pemandangan seindah ini di Bandung, padahal ia sudah lumayan lama tinggal di Bandung. Di belakang Wira tersenyum melihat Ray yang begitu gembira dan antusias.


Tiba-tiba ponsel Ray berbunyi tanda sebuah panggilan video call masuk. ”Shit!” umpatnya ketika melihat nama yang tertera yaitu 'Prima'. Panggilan video call itu datang di saat yang tidak tepat. ”Kenapa?” tanya Wira ketika ia mendapati Ray yang sedikit kaget dan salah tingkah.


”Ng-nggak ada om,” jawab Ray seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


”Angkat aja,” ucap Wira kemudian Ray pun menarik ikon video call itu ke atas dengan terpaksa.


”SWAAAAADWIIIISSS BEROOOOOOOOO,” teriak Prima histeris di seberang sana. Ray lupa kalau dirinya mempunyai seorang teman yang sedikit rada-rada. Ray sampai-sampai harus menjauhkan ponselnya karena suara dahsyat bak toa ala Prima.


Disana rupanya juga ada Angga dan Yuda. Suasana menjadi hening sesaat ketika mata mereka seperti menelisik sesuatu tepat di belakang Ray. Astaga! Rupanya Angga, Prima, dan Yuda tengah fokus melihat Wira yang asyik memotret pemandangan dengan ponsel di belakangnya.


”Wah wah wah jadi ini kegiatan lu gak sekolah dan lu malah asyik pacaran hah!?” pekik Prima dengan mata melotot yang dibuat-buat.


”Rese lu.” jawab Ray malas.


”Selamet ya Ray akhirnya lo gak jomblo lagi, gue jujur aja sakit hati liat lo gak nafsuan liat oppai yang bertebaran, mungkin lo suka batangan kek gue?” ucap Angga frontal.


”BANGSAT!” umpat Ray kesal.


”Ray mulutnya,” tegur Wira yang semakin membuat Ray sebal.


”Udah ah gue matiin ya bye,” sebelum Ray benar-benar menekan ikon berwarna merah untuk mengakhiri video call, tiba-tiba Prima berteriak, ”OM OM OM!” begitulah teriakan Prima yang sengaja ia lakukan untuk menarik perhatian Wira.


Wira yang asyik memoto sana sini pun mengalihkan perhatiannya ke layar ponsel milik Ray. Wira ikut-ikutan menyapa teman-teman Ray yang disambut antusias oleh mereka.


”Maafin Ray ya kalo ngomongnya kadang suka nggak disaring dulu,” ucap Wira tersenyum. Ray pun mendelik tidak suka. Apa-apaan Wira ini? Secara tidak langsung ia mengatakan kalau Ray adalah orang yang suka berbicara tidak disaring terlebih dahulu.


Mimik muka Ray seketika berubah menjadi masam. Sedangkan di seberang sana Angga, Prima, dan Yuda cekikikan melihat mimik muka Ray yang masam. ”Om gimana rasanya?” tanya Angga ambigu.


”Apa?” tanya Wira balik.


”Itu anu hehehe ehem ehem gitu,” ucap Angga.


”Hahaha tanya Raynya coba wkwkwk,” ucap Wira.


”Apaan si ah sana sana rese banget deh,” sahut Ray mulai kesal.


”Jiyaaaaah ada yang ngambek,” ucap Prima.


”Om om ama Raynya pelan-pelan yah! Kasian tuh anak udah jomblo karatan, bisa tereak tereak dia kalo pertama kali mah wkwkwk hahahahaha,” kali ini suara Prima yang tertawa terbahak-bahak.


Wira ikut-ikutan tertawa sedangkan yang ditertawai wajahnya sudah masam tingkat akut. Ray pun menekan ikon merah dengan kasar. Ia berjalan turun ke bawah sambil menghentakkan kakinya. Sepanjang jalan ia menggerutu kesal merutuki tingkah sahabat-sahabatnya dan Wira yang terus saja memojokkan dirinya.


”Dek,” tiba-tiba Wira menyerunya dengan sebutan 'dek' yang entah mengapa terdengar sangat menggelikan. Tolong tenggelamkan Wira saat ini juga yang sudah membuat Ray cukup ilfeel. Ray meringis karena geli.


”APAAN SI AH MANGGIL GUE DAK DEK DAK DEK SEGALA! GUE ITU RAY BUKAN DEK! JIJIK TAU!” maki Ray kesal dengan wajah yang merah padam. Wira terdiam ketika melihat kilatan mata Ray yang jelas sekali menggambarkan kemarahannya yang teramat sangat.


”DAN LO MUSTI INGET GUE BUKAN HOMO BRENGSEK KEK LO!” sekali lagi Wira menelan ludahnya kasar. Lidahnya kelu ketika mendengar Ray mengatainya homo. Kilatan mata penuh kebencian dan rasa jijik membuat hatinya sedikit perih.

__ADS_1


Tepat pukul 11 siang Wira memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan berarti di antara keduanya karena sama-sama saling diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


__ADS_2