
CERITA INI DI REMIX DENGAN JUDUL BARU YAITU "INCOMPLETE [BL]" DAN RESINYA START DARI CHAPTER 10 DI JUDUL INI, JADI SUPAYA PAHAM ALUR BACA CHAP 1-10 AJA YA!
Senyuman tak henti-hentinya terukir di bibir tipisnya yang merona. Sorot kamera dengan angle yang pas membuat wajah tegasnya terekspos sempurna. Ia nampak seksi dengan pakaian ala chef yang dikenakannya. Tangannya pun dengan lihai mengiris satu per satu bahan makanan yang menjadi menu masaknya hari ini.
Ya, ialah Wira Atmajaya, seorang chef muda yang terkenal akan keahliannya dalam memasak, khususnya masakan nusantara. Seluruh kru yang bertugas saat ini tak henti-hentinya bertepuk tangan ketika siaran langsung itu berakhir.
Wira pun beberapa kali membungkukkan badannya untuk memberikan rasa hormat kepada orang-orang yang telah bekerja keras dan mendukung dirinya. ”Perfect!” puji Pak Satya, sutradara acara masaknya, sambil menepuk-nepuk bahu Wira tanda memberi semangat.
Bukan Wira namanya jika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Walaupun ialah bintang utama di acara ini, tetap saja ia tidak boleh besar kepala dan berbangga diri.
Ia pun tak segan untuk membantu para kru disana berberes-beres lokasi syuting yang cukup berantakan. Apalagi ia juga harus merapikan berbagai jenis alat masak yang barusan ia gunakan.
Di tengah-tengah kesibukkannya merapikan meja bekas ia memasak tadi, asistennya yang bernama Rio itu pun menghampirinya dengan nafas yang ngos-ngosan. ”Abis maraton lo?” ledek Wira seraya mengelap gelas-gelas yang ada di meja.
”Singa bro singa!” ujar Rio dengan nafas yang terengah-engah sambil berkacak pinggang. Wira pun terkekeh geli melihat kelakuan sahabat sekaligus asistennya yang terlampau alay.
”Nafas dulu Yo ntar koit lo baru tau rasa,” celetuk Wira membuat Rio berdecak kesal. Rio pun menyodorkan hp milik Wira yang nampaknya telah berderinh sedari tadi. Hal itu jelas dari banyaknya jumlah panggilan di data panggilan tak terjawab.
Ah, sekarang ia mengerti mengapa Rio menyebut kata 'singa'. Rupanya sang ayahlah yang meneleponnya tiba-tiba seperti orang kesetanan, karena disitu tertulis ada lebih dari 50 panggilan tidak terjawab. ”Apa dia seluang itu?" batinnya penasaran.
Mengingat kalau sang ayah bukanlah tipe orang yang bisa seluang itu menghunungi anak-anaknya, sudah pasti, ini bukanlah hal biasa, melainkan ada maksud terselubung yang entah apa.
Tanpa perlu berbasa basi lagi, Wira pun meletakkan lap yang sedari tadi berada di genggamannya ke meja. Ia meminta Rio untuk membereskan peralatan masaknua dan membawakannya ke restoran miliknya.
Rio mengacak kepalanya gusar. ”Lo suruh aja yang lain, gue mau ngedate ama susan!” ujar Rio tidak terima jika Wira memerintahkannya. Rio nampak kesal karena Wira selalu saja memerintahkannya ini itu disaat yang tidak tepat.
”Kalo lo nggak mau bonus 25% nya batal gue kasih dong,” ancam Wira sambil menaik turunkan alisnya yang tebal dan kokoh.
”Ish! Ok ok! Dasar cap kapak!” umpat Rio yang mau tidak mau harus memenuhi perintah Wira atau kalau tidak ia benar-benar akan kehilangan bonus 25% nya. Ngedate? Ah, bullshit! Baginya bonus lebih penting dari segalanya.
Wira pun bergegas meninggalkan lokasi syuting. Ia melangkahkan kakinya sambil menyapa satu per satu orang yang berpapasan dengan dirinya. Ya, begitulah sosok Wira yang dikenal ramah tamah dan sering bertegur sapa baik kepada orang yang sudah akrab atau belum sekalipun.
Kini ia berdiri tepat di depan pintu ruangan kantor sang ayah. Ia diam sejenak disana menerka-nerka kira-kira hal konyol apa lagi yang akan dibahas oleh sang ayah dengan dirinya.
Tiba-tiba pintu berwarna keemasan itu pun terbuka dan menampakkan sesosok pria berbadan tegap dengan stelan jas yang lengkap menatapnya sinis. ”Heh!” ujarnya mendengus kemudian pergi melewatinya begitu saja.
Wira mengembuskab nafasnya dengan pandangan mata sendu. Bahkan, sampai saat ini ia tidak tau alasan mengapa sang kakak yang merupakan saudara kandungnya sendiri membenci dirinya? Padahal dulu hubungan keduanya baik-baik saja dan hampir tidak ads pertengkaran sama sekali.
__ADS_1
Wira pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan melihat sang ayah tersenyum sumringah padanya. Sang ayah pun bangkit menghampiri Wira kemudian menepuk pundaknya bangga. ”Anak papa udah dewasa ya?” ujar sang ayah berbasa basi.
Ah, entah mengapa basa basi sang ayah padanya rasanya membuatnya begitu muak. Seolah seperti sebuah perhatian palsu tanpa didasari ketulusan. Ya, kalau kalian bertanya apakah sosok Rama Atmajaya yang merupakan ayahnya sendiri adalah orang tua yang perhatian?
Maka jawabannya adalah tidak. Jangankan untuk berbasa basi atau sekedar memberikan perhatian kecil kepada anak-anaknya, bahkan untuk menanyakan kabar pun bisa dihitung dengan jari walaupun nyatanya keduanya hidup dalam satu atap.
Bukanlah hal yang biasa jika tiba-tiba seoranh Rama meminta putranya untuk menemui dirinya secara langsung. Sudah pasti ada maksud dan tujuan lain yang sudah ia rencanakan sebelumnya.
”Langsung aja pa,” ujar Wira terlihat tidak sabar, karena jujur saja dirinya muak melihat tingkah Rama yang terkesan bertele-tele hanya sekedar memberi tau hal-hal yang menurut Wira tidak penting dan membuang-buang waktunya saja.
Rama pun menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat. Wira menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya-tanya apa gerangan isi amplop tipis itu. ”Coba buka,“ perintah Rama kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi dengan begitu percaya diri.
Wira pun membuka amplop tersebut. Kedua alisnya saling bertautan tatkala melihat isi amplop yang memperlihatkan deretan wanita-wanita dewasa nan cantik jelita. Tentu saja wanita-wanita yang ada di foto ini bukanlah wanita biasa. Anggun, berpendidikan, dan tentunya memiliki tubug proporsional yang merupakan idaman setiap pria.
Wira tersenyum samar. Saking samarnya mungkin tidak akan ada yang menyadari. Ia pun kembali memasukkan foto-foto tersebut ke dalam amplop berwarna coklat kemudian menatap Rama, yang dimana ia seolah terlihat menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Wira untuk memilih salah satu wanita yang ada di foto tadi.
”Papa tau sendiri kalo Wira nggak bisa milih wanita mana pun, lebih tepatnya nggak bisa suka dan cinta sama wanita mana pun,” ujar Wira menjelaskan. Ya, sejujurnya Wira adalah penyuka sesama jenis sejak lama. Bahkan, bisa dikatakan sejak kecil?
Bahkan, jika ia dihadapkan dengan sejuta gadis berbadan seksi dan bohay sekali pun tidak akan pernah membangkitkan gairah yang ada dalam dirinya.
Rama mulai geram ditandai matanya yang mulai menyipit dengan tangan yang terkepal kuat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Ia tidak habis pikir jika Wira, putranya sendiri masih saja memilih jalan yang salah untuk mencintai seseorang dengan jenis yang sama.
Ya, hanya dengan satu kalimat yang dimana ia disinggung sebagai penyebab kematian istrinya lah baru akan mampu menghentikan mulut iblisnya. Saat ini Raam benar-benar marah, kesal, dan emosi jika harus diingatkan kembali dengan kenyataan akan kematian mendiang istrinya dulu.
Wira memilih meninggalkan ruangan sang ayah dan pergi ke suatu tempat, yang tidak lain adalah makam sang ibu. Ia tersenyum getir tatkala tangannya mengusap batu nisan yang nampak masih bersih walaupun tahun ini menginjak tahun ke empat kepergian ibunya.
”Mama apa kabar?” tanyanya seolah-olah ibunya akan menjawab 'ya ibu baik-baik saja'. Namun, nyatanya nihil karena itu hanyalah monolog dirinya saja. ”Maafin Wira nggak bisa jaga mama,” ucapnya lirih menahan bendungan air mata yang siap luruh kapan saja.
Tak terasa rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi pertiwi. Tak ada niat Wira untuk beranjak dari sana hingga seseorang datang dan memayungi dirinya. ”Maaf tuan, saya terlambat,” ucap pria berjas serba hitam.
*
Suasana restoran yang cukup ramai membuat para pelayan hampir saja kewalahan dalam menangani pengunjung yang datang silih berganti. Bahkan, tangan-tangan chef khusus yang memasak berbagai macam jenis hidangan itu pun terus bergerak lihay mengayunkan wajan dan spatula tanpa merasa lelah.
”Huft,” ujar Verdian si station chef yang bertugas untuk bagian panggang-memanggang menghela nafasnya seraya menyeka keringat yang hampir menetes dari dahinya.
”Kenape lu?” seru Vikal sambil menggoyang-goyangkan wajannya menumis sesuatu.
__ADS_1
”Kapan muka gue bisa putih coba kalo kerjaan gue manggang-manggang ginian?” ujar Verdian sambil mengangkat sepotong steak siap panggang dengan pisau.
Pletak! Vikal pun memukul tengkuk Verdian hingga nembuat sang empu sebal bukan main. ”Lo?!” kini mata Verdian mulai melotot-lotot dengan bibir yang berdecak kesal.
Pletak! Lagi-lagi tengkuk Verdian dipukul oleh seseorang. Ia pun memutar kepalanua dengan sebal dan ingin rasanya ia memaki orang tersebut. ”Apa?” tanya Wira datar ketika Verdian seolah hendak memaki dirinya namun diurungkannya.
Verdian pun tersenyum kikuk membuat Vikal dan rekan-rekan chef yang lain geleng-geleng kepala melihat tingkah absurd Verdian yang kelewat absurd. ”Kalo mau putih nanti gaji lo gue potong buat biaya perawatan mau? Trus kalo rentenir pada ngeroyok lo di rumah karena gak bisa bayar utang ato lo nggak bisa makan gegara duit lo abis mau?” cerca Wira sambil berkacak pinggang dengan memegang pentungan kertas di tangan kanannya.
Verdian cuma nyengir kuda saja. Kalau kalian bertanya apakah perkataan Wira yang terdengar seperti main-main itu memanglah sebuah candaan biasa? Maka kalian salah. Bahkan, dulu pernah ada salah satu karyawan yang berstatus vegetable chef mengundurkan diri karena sudah terlena dengan bujuk rayu seorang Wira.
FLASHBACK ON
Seperti biasa seluruh chef yang bekerja di dapur akan berkumpul ria setelah menyelesaikan pekerjaan mereka termasuk Wira yang merupakan Head Chef di restoran tersebut.
Beberapa minuman beralkohol dan soda pun tertata rapi di atas meja ditemani berbagai macam jenis cemilan yang memang dibuat langsung oleh tangan handal para chef yang bekerja di restoran miliknya Wira.
Tidak terasa Wira sudah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol. Namun, sama sekali tidak membuatnya mabuk seperti orang kebanyakan. Bukannya tidak minat untuk sekedar bergabung dengan topik pembicaraan tak berujung oleh rekan kerjanya, hanya saja ia memang bukanlah orang yang banyak bicara. Cenderung pendiam mungkin?
”Dave,” seru Wira membuat Dave menoleh antusias. ”Mau hadiah nggak?” ujar Wira menawarkan dengan raut wajah yang sulit dibaca. Dave pun dengan cepat menganggukkan kepalanya seperti seorang anak yang terlampau senang setelah mendapat permen dari orang tuanya.
”Ok kalo gitu bilang aja kamu mau apa,” ujar Wira kembali menawarkan. Suara- suara yang tadinya ramai kini tiba-tiba menjadi hening. Ada yang mengernyitkan alisnya. Ada yang meringis seolah seperti menahan sakit. Ada yang menggigit bibir bagian bawahnya, dan masih banyak ekspresi getir lainnya.
Entah terlalu polos atau bagaimana, Dave dengan semangatnya menyebutkan apa-apa saja hadiah yang ingin ia terima dari Wira, dari handphone terbaru, ps terbaru, sampai televisi dengan ukuran 32inc supaya ia bisa puas menonton film blue favoritnya tiap malam.
Ah, membayangkannya saja sudah cukup membuat tubuh Dave meremang seakan disengat listrik ribuan volt berkat sentuhan-sentuhan manja para gadis yang memuja-muja dirinya.
Tanggal muda pun tiba yang dimana di tanggal inilah para chef ataupun pegawai lain menerima gajinya dari Wira yang merupakan head chef di restoran miliknya sendiri.
Senyuman mereka pun merekah dengan riangnya setelah menerima amplop berisikan uang gaji bulanan. Bahkan, Wira menambahkan 5% gaji mereka dikarenakan omset restorannya naik begitu pesat.
Berbeda dengan Dave yang mengerutkan alisnya tatkala ia melihat nominal gaji yang diterimanya hanyalah 50%. ”Bos kok segini doang?” tanya Dave penasaran.
”Kemaren kan kamu minta hp kulkas tv set masak dan lain-lain jadi itu dipotong dari gaji kamu,” ujar Wira dengan wajah tanpa dosanya.
Dave yang mengira sebelumnya itu adalah pemberian Wira dan ternyata ujung-ujungnya gajinya lah yang jadi sasarannya, ia pun geram. Semua orang yang ada disana bergidik ngeri melihat tatapan tajam Dave yang seakan hendak memangsa Wira saat itu juga.
”HYAAAAAAAAA,” dengan kekuatan penuh akhirnya Dave menghajar Wira. Ia menarik rambut Wira hingga sang empu meringis kesakitan. ”Wowowoy tolongin gue woy,” pinta Wira disela rambutnya yang dijambak oleh Dave tanpa ampun.
__ADS_1
Setelah kejadian naas itu, akhirnya Dave pun mengundurkan diri. Bahkan, sebelum kepergiannya dari restoran itu ia sempat mengutarakan semua sumpah serapahnya di luar restoran, kemudian berlalu pergi ketika tidak ada sesiapapun yang merespon dirinya.
FLASHBACK OFF