
Beberapa hari ini hubungan Wira dan Ray semakin memburuk. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah akan perasaan masing-masing. Di sisi lain ada Ray yang keras kepala tidak ingin membuka hatinya sedikit pun untuk sekedar mendengarkan penjelasan Wira. Di sisi lain ada Wira yang juga keras kepala yang membuatnya selalu gerak cepat, namun ujung-ujungnya malah membuat hubungan keduanya semakin memburuk.
Di sela kesibukannya Wira berpikir sejenak. Ia menyadari kalau dirinya terlalu memaksakan kehendaknya sendiri tanpa memikirkan apa yang Ray kehendaki. ”Hah,” Wira menghela nafasnya. Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul satu siang. Itu artinya sebentar lagi Ray pulang sekolah.
Ia pun berinisiatif menjemput Ray dan menitipkan sisa pekerjaannya kepada sekretarisnya. Mobil melaju pelan karena Wira bukan tipe orang yang suka ngebut kalau bukan untuk hal yang sangat mendesak. Menurutnya menikmati jalanan kiri dan kanan itu perlu.
Dinyalakannya musik di radio mobilnya untuk memecah keheningan. Ia bersyukur jalanan tidak terlalu macet sehingga ia bisa sampai tepat waktu ke sekolah Ray. Ia pun tiba di sekolah SMAN 3 Bandung. Masih tersisa 40 menit lagi sampai menunggu bel pulang sekolah berbunyi.
Wira menunggu dengan sabar, ia berharap hari ini hubungannya dengan Ray sedikit membaik. Tidak terasa bel sekolah pun berbunyi pertanda siswa dan siswi akan segera pulang ke rumah masing-masing setelah pelajaran berakhir.
Wira turun dari mobil melihat satu per satu siswa dan siswi yang berlalu lalang. Wira tidak mempedulikan teriakan para siswi yang memuji ketampanannya, karena yang ia cari saat ini adalah Ray.
”Ray!“ panggil Wira ketika ia melihat sosok Ray di antara teman-teman lelakinya.
Ray menatapnya dengan tatapan yang dingin meskipun teman-temannya terlihat menggoda Ray dengan menyenggolkan lengan kiri dan kanan. ”Cie cie cihuy ada pangeran berkuda yang jemput nih critanya eak,” goda Prima. Ray acuh saja karena kini sorot matanya terfokus pada sosok Wira yang teramat dibencinya.
Wira menghampiri Ray dan menyapa teman-temannya. ”Boleh saya duluan sama Ray?” ucap Wira meminta izin dan teman-temannya pun dengan senang hati mengizinkannya. Bagaimana pun tata krama itu harus dijunjung tinggi dimana pun dan kapan pun.
”Gue naik taksi aja,” ucap Ray dingin dan membuang muka.
”Kamu lupa? ATM kamu disita dan uang saku kamu dipotong?” ucap Wira mengingatkan.
Ray pun mendelik tajam. Semua ini gara-gara Wira yang hadir ke dalam hidupnya. Tidak ada satu pun hal baik terjadi semenjak kedatangannya. ”Gue nebeng Ri,“ cetus Ray pada Prima. Prima cukup memahami situasi yang ada sehingga ia pun memberikan seribu alasan jitu untuk menolak permintaan Ray.
”Kampret lo Ri!” makinya kesal.
”Gini-gini gue sahabat lo kali, udah ah gue mau cabut lo ama om lo aja deh bye.” ucap Prima segera menstarter motornya dan berlalu pergi begitu saja.
”Ayo Ray,” ajak Wira kemudian membukakan pintu mobil untuk Ray. Tidak ada pilihan lain lagi dan dengan terpaksa Ray pun masuk ke dalam. Ia tidak tau kemana Wira membawanya pergi, karena jelas sekali rute yang dilaluinya bukanlah jalan menuju rumahnya.
”Lo mau nyulik gue?” tanya Ray.
”Iya,“ jawab Wira singkat.
Kurang lebih sudah satu jam berlalu. Ray dibuat heran oleh Wira yang membawanya entah kemana. ”Lo mau bawa gue kemana sih!?” tanyanya dengan kedua alis saling bertautan. Wira hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ray tanpa berkata sepatah kata pun.
Wira dan Ray berjalan beriringan lebih tepatnya Ray lah yang berjalan lebih dulu di depan. ”Hati-hati,” ucap Wira memperingatkan ketika Ray berjalan tidak seimbang. Sejenak Ray terhipnotis akan pemandangan hijau yang terhampar indah. Dari sini ia bisa melihat dengan jelas perkebunan teh yang begitu hijau dan asri.
Wira membeli tiket masuk terlebih dahulu untuk melewati jembatan pinisi yang sedang populer di kalangan wisatawan akhir-akhir ini. Ray menelan ludahnya susah payah. ”Kenapa?” tanya Wira melihat mimik wajah Ray yang sedikit memucat.
”Takut?” tebak Wira menatapnya remeh. Ray mendengus. Ia tidak suka ditatap remeh seperti itu apalagi yang menatapnya adalah Wira. ”Cih! Gue berani kok!” ucapnya penuh percaya diri.
Perlahan tapi pasti Ray melangkahkan kakinya persis seperti siput. Lamban sekali. ”Pfft,” Wira mengulum tawanya melihat tingkah Ray yang menggemaskan karena ketakutan melewati jembatan pinisi, yang dimana jembatan ini adalah jembatan gantung di atas bukit.
Kalau di lihat ke bawah sudah pasti jembatan ini dibangun lebih tinggi daripada pepohona yang menjulang di bawah sana. ”O-o-om,” seru Ray sedikit terbata-bata sambil tangannya memegang kuat ke samping jembatan.
”Tot-tot-tolongin gu-gue om,” pinta Ray memelas dengan suara yang terbata-bata.
__ADS_1
”Bukannya kamu dulu suka naik role coaster? Berarti sama aja dong ama naik yang kek ginian? Hm?”
”Jangan bacot deh om. Pegangin.”
“Coba deh kamu liat tuh yang di depan kamu mana ada yang pegangan kayak kamu gitu.”
Sial! Ray sudah dipermalukan secara tidak langsung setelah melihat orang-orang yang berjalan dengan santainya. Bahkan, di hadapannya ada beberapa anak kecil yang dengan girangnya melalui jembatan pinisi tanpa perasaan takut sedikit pun.
Ray yakin saat ini Wira tengah menertawainya di belakang. Sesekali terdengar suara Wira yang cekikikan menertawai tingkah lucu nan menggemaskannya. Ray semakin kesal dibuatnya.
”OM WIRA! PEGANGIN TANGAN GUE!” kali ini suaranya seperti setengah berteriak dengan ejaan yang penuh penekanan di setiap katanya.
”Bicara yang sopan dulu kalo sama orang tua,” ucap Wira berbisik.
”I-i-iya ma-maaf cepetan tolong pep-pegangin Ray om,” runtuh sudah harga diri Ray. Ia dengan lancangnya meminta tolong kepada Wira di samping perasaan bencinya.
Wira tersenyum, ia tentu akan dengan senang hati menolong pujaan hatinya. Ia mengulurkan tangannya menggandeng Ray sampai garis finish. Disana mereka disambut oleh hamparan sungai yang hijau. Pun jembatan kecil berbentuk perahu.
”Disini namanya Pinisi Resto Ciwidey. Pernah kesini?” tanya Wira. Tangannya masih menggenggam erat tangan Ray. Wira berpikir kalau Ray akan melepaskannya dengan kasar seperti beberapa waktu lalu tepatnya kejadian di kafe waktu itu.
Sorot mata yang memancarkan perasaan takjub tak henti-hentinya menelisik seluruh area Ciwidey. Ray dapat melihat sungai kecil nan jernih di bawah sana. Ingin rasanya Ray menceburkan diri disana kalau saja ini bukan tempat wisata.
Rencanan Wira berhasil untuk membawa Ray ke Ciwidey. Bukan ide yang buruk juga untuk membawanya kesini. Wira akan menggunakan kesempatan ini untuk berbaikan dengan Ray bagaimana pun caranya. Wira tidak ingin hati Ray membeku terlalu lama dan membicarakan uneg masing-masing.
Setelah selesai menikmati luasnya pemandangan hamparan hijau Ciwidey, keduanya pun memutuskan untuk mengisi perut yang mulai berontak minta diisi. Ray tidak berbicara sepatah kata pun. Ray membuang mukanya begitu saja dan ia tidak ingin membiarkan mataya sakit karena harus memandang sosok yang menyebalkan di hadapannya kini.
”Mau makan apa?“ tanya Wira sambil membuka tabel menu.
”Kita nginep disini loh Ray,”
Ray pun mendelik tidak suka. Menginap? Untuk apa? Ray masih mempunyai rumah untuk tidur. Jadi, kenapa harus menginap? Buang-buang waktu saja. ”Lo aja yang nginep gue pulang,” ucapnya dengan raut wajah sedikit ngambek. Ah, imutnya, batin Wira.
Sedetik kemudian Wira pun mengacak-acak rambut Ray gemas hingga membuat empunya sebal dan mengenyahkan tangan Wira dengan kasar. Marah? Tidak ada kata marah bagi Wira. Entah mengapa raut wajah sebal Ray padanya terlihat begitu imut dan menggemaskan.
Kebetulan sekali Wira memilih spot paling pojok supaya agak jauh dari pengunjung lain dan bisa leluasa berbicara panjang lebar dengan Ray. Wira memberitahukan beberapa pesanannya kepada seorang pelayan. Sambil menunggu pesanannya datang Wira pun mencoba membuka suara. Kali ini ia benar-benar dalam mode serius.
”Dulu om terpaksa ninggalin Indonesia Ray,” ucap Wira masih belum bisa menarik perhatian Ray. Wira tidak menyerah. ”Perusahaan papa hampir bangkrut tapi syukurnya ada orang tua angkat om yang mau nyuntikin dana.”
Ray pun menoleh sebentar kemudian membuang mukanya lagi. ”Syaratnya om harus handel perusahaan orang tua angkat om sebagai balas budi.” ucap Wira sengaja menjeda kalimatnya. “Sebenarnya hati om berat banget musti ninggalin bocah yang om sayang. Itu bener-bener bikin om hampir nggak bisa fokus kerja ampe om sendiri ditegur ama Daddy Sean.”
Kali ini Ray mencoba memusatkan perhatiannya kepada Wira. Ia ingin mendengarkan lebih. ”Om bukan pembunuh. Dan om nggak pernah bunuh orang Ray.” ucap Wira lagi menatap Ray lurus. Bola mata Ray bergerak ke kiri dan ke kanan. Secercah rasa bersalah pun menghinggapinya.
Wira tersenyum kemudian mengacak-acak pucuk kepala Ray gemas. ”Om sayang kamu Ray,” batinnya. Wira masih belum bisa mengatakannya secara langsung. Biarkan saja semuanya mengalir apa adanya mengikuti arus yang membawa perasaan keduanya entah kemana.
Dari sini sambil menikmati hidangan yang tersaji juga bisa menikmati indahnya pemandangan Ciwidey yang begitu menyegarkan mata. Hamparan pemandangan nan hijau terlihat begitu asri. Keduanya makan dalam diam tanpa ada satu pun yang mau berbicara.
”Om,” seru Ray ragu-ragu lebih tepatnya gengsi dan malu.
__ADS_1
”Apa sayang?” sahut Wira lemah lembut.
”Apaan sih pake sayang sayang segala! Emang gue apaan hah!?”
”Hahaha kamu itu ponakan yang paling om sayang Ray ya wajarlah,”
”Jijay ah?”
”Jijay?”
Tanya Wira persis seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa. Lihatlah bahkan Ray tidak mampu menahan tawanya melihat ekspresi Wira yang aneh itu. ”Lo hidup di jaman apa coba? Nggak tau istilah jijay?“ cecar Ray sambil mengulum tawanya. Wira menggeleng kan kepalanya tanda tidak tau.
”JIJIK OM JIJIK,” jawab Ray. Wira pun beroh ria saja. Mungkin karena Wira yang terlalu sibuk dan tidak terlalu memperhatikan sekitarnya sampai-sampai ia pun tidak tau mengenai slang-slang populer di kalangan anak muda. Kudet? Mungkin sebutan ini lebih tepat untuk Wira yang sudah tidak muda lagi.
Di Glamping Lakeside, Wira memesan dua buah kamar untuk 3 hari 2 malam. Di belakangnya Ray menggerutu kesal karena Wira sudah seenak udelnya membawanya kesini sampai harus menginap beberapa hari.
Ray baru menyadari kalau sedari tadi ia masih mengenakan seragam sekolah. Pantas saja ada beberapa pengunjung yang menatapnya heran. Ia pun mengetuk pintu kamar Wira yang tepat berada di sebelah kamarnya berniat meminta uang untuk membeli beberapa pakaian ganti.
”Malu-maluin aja,” gumamnya merutuki dirinya yang nantinya bakalan meminta-minta uang pada Wira untuk membeli beberapa lembar kaos dan celana. Apa kata Wira nanti? Ray yang biasanya menatapnya penuh benci kini malah meminta tolong. Lebih tepatmya meminta uang?
“Masuk,” ucap Wira membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia pun masuk setelah Wira membukakan pintu untuknya. Ray duduk di kursi sambil memperhatikan Wira yang asyik mengeringkan rambutnya dengan handuk. Sial! Kenapa Wira terlihat seksi dengan penampilan rambut yang sedikit basah? Ray mencoba mengenyahkan pikiran kotornya sambil geleng-geleng kepala.
”Gue nggak punya pakaian ganti.” ucap Ray to the poin. Wira pun langsung paham maksud kedatangan Ray. Sebuah ide jahat pun muncul di kepalanya membuat seringaian kecil terukir di bibirnya.
”Cium dulu,”
”Hah?”
”Iya, cium dulu.”
”Apaan coba? Gak ah jijay hiiiiyyyyy,”
”Mau om yang nyium?”
”Hah? Apaan si?”
Wira melempar handuk yang dikenakannya ke ranjang. Ia pun melangkahkan kakinya maju ke depan menghampiri Ray. Oh, tatapan itu, tatapan mesum! Ray bergidik ngeri sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kakinya sudah siap seperti ingin menendang. Ray cuma jaga-jaga saja kalau-kalau Wira berbuat macam-macam padanya.
Wira pun berjongkok sambil tersenyum. Ia menunjuk pipinya dengan telunjuk jarinya memberikan isyarat kepada Ray untuk segera menciumnya. ”Hm?” gumam Wira penuh harap.
”Ray kan dulu sering cium om?”
”I-itu beda sekarang gue udah gede. Bukan anak kecil lagi.”
”Hm? Nggak kok Ray tetep Ray yang dulu nggak ada bedanya. Cium ato Ray nggak usah ganti baju biar badannya gatel-gatel?”
Ray menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi menutupi mulutnya. Ia pandangi wajah Wira yang menatapnya dengan tatapan nan tulus dan lembut? Ah, bagaimana bisa muncul pikiran seperti itu di kepala Ray?
__ADS_1
Batin dan pikirannya saling beradu apakah ia benar-benar harus mencium pipi Wira atau tidak. Di sisi lain ia tidak mau terus menerus mengenakan seragam sekolah yang melekat di badannya lebih lama lagi atau kalau tidak kulitnya akan iritasi karena gatal-gatal.
Bayangkan saja kalau tiba-tiba kulitnya iritasi lalu meninggalkan bekas? Ah, Ray tidak ingin gara-gara kulitnya yang jelek nanti malah dijauhi oleh cewek-cewek dan akhirnya jomblo seumur hidup? Tidaaaaaaaaaak.