JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
JOMBLO AKUT 19


__ADS_3

NGETES DOANG


Hari ini Robert hendak berkunjung lagi ke panti asuhan dimana Elang tinggal. Ia menanggalkan jas mahalnya dan lebih memilih mengenakan kaos polos biasa berwarna abu-abu dan celana training berwarna hitam. Ia tidak ingin membuat anak-anak panti yang sejatinya bukanlah orang berada sepertinya harus iri karena penampilannya.


Ia ingin secara tidak langsung mengajarkan kepada anak-anak panti bahwa, sekaya apapun kita maka tetaplah harus rendah hati dan sederhana. Meskipun dulu Robert bukanlah seorang yang rendah hati dan baik seperti sekarang.


David yang menunggu di ruang tamu pun tersentak kaget melihat penampilan tuannya yang tidak biasa. ”Kenapa?” tanya Robert dingin seperti biasanya. Kalau orang yang pertama kali mengenalnya mungkin akan mengira dirinya begitu arogan dan sombong karena suaranya yang terdengar begitu dingin. Tapi, sebenarnya tidak seperti itu.


”Maaf tuan saya lancang,” ucap David membuat senyuman tipis terukir di bibir Robert. Baru pertama kali ini David melihat Robert tersenyum seperti itu. Sejak dulu Robert tidak pernah tersenyum dan cenderung bersikap dingin. Untuk melihatnya tersenyum seperti ini seperti kejadian langka yang hanya terjadi seribu tahun sekali.


”Ingat, jangan pernah panggil saya tuan di luar kantor ato gaji kamu nanti saya potong 50%, mengerti?” ancam Robert menahan senyumnya melihat mimik muka David yang memucat setelah mendengar gajinya yang akan dipotong 50% jikalau berani memanggil dirinya dengan sebutan tuan.


Mobil hitam metalik itu pun melaju kencang membelah ibu kota Jakarta. Tidak membutuhkan waktu lama sampai akhirnya mobil yang dikendarai oleh David tiba di sebuah panti asuhan. Ia membeli banyak mainan dan pakaian untuk diberikan kepada anak-anak panti.


Para pengurus panti yang melihat kehadirannya yang kesusahan membawa barang-barangnya itu pun segera membantu termasuk Arini. Entah mengapa Robert tidak menyukai sosok Arini yang terkesan polos seperti malaikat padahal ia baru pertama kali berjumpa.


Ayolah di dunia ini banyak sekali orang yang berwajah polos bak malaikat tapi kenyataannya di belakang lebih busuk dari yang namanya sampah. Cih! Robert berdecih di dalam hatinya.


Bagaimana pun Robert tetap harus menghormati orang lain, apalagi seorang wanita. Ia pun kembali menetralkan mimik tidak sukanya dengan sebuah senyuman yang tulus. Arini terpana melihat senyum tipis itu terukir di bibir Robert yang merah jambu. Begini rupanya kalau Robert dilihat dari dekat? Batin Arini.


”Terima kasih,” ucap Arini pun membalas senyuman Robert. Robert cuma menganggung saja membalas ucapan terima kasih Arini. Tiba-tiba suara calon istrinya yang memanggil namanya pun terdengar.


”Robert?” seru Elang dari samping panti, sebelumnya Elang sibuk menyirami kebun mini di belakang panti. Ia pun heran mengapa anak-anak tiba-tiba berlarian ke depan dan ada juga salah satu anak berkata "ADA KAKEK TUA ADA KAKEK TUA.” hingga ia pun ikut-ikutan ke depan melihat apa yang terjadi. Ternyata ada Robert toh, batinnya.


”Elang?” sahut Robert kemudian mengecup kening Elang sekilas. Semburat merah pun tercetak jelas di wajah Elang yang membuat sedikit salah tingkah dan deg-degan?


Elang pun melihat kiri dan kanan kalau-kalau ada orang lain yang melihat aksi anarkis nan mengujatkan yang Robert lakukan barusan. Elang menghembuskan nafasnya bersyukur karena disana tidak ada pengurus panti dan hanya ada beberapa anak-anak yang bermain.


”Ehm, inget tempat dong nak kalo mau mesra-mesraan gitu. Tuh, nggak malu apa diliatin anak kecil?” celetuk Bu Ratih yang tiba-tiba datang entah dari mana. Elang jadi salah tingkah, sedangkan Robert menahan tawanya.


”Ma-maaf bu,” ucap Elang gugup.


”Iya nggak papa, suruh nak Robert nya masuk juga ya.” perintah Bu Ratih sambil membawa keranjang berisi sayuran.


Di ruang tamu yang sederhana Robert dan yang lain pun duduk. Elang awalnya ingin ikut duduk disana juga. Namun, Bu Ratih segera memerintahkannya ke dapur membantu Arini memasak untuk menu makan siang nanti, katanya ada yang dibicarakan dengan si ganteng Robert. Ganteng?


Setelah Elang berlalu menuju dapur, Bu Ratih pun memulai pembicaraannya dengan Robert. Terkesan serius namun santai juga. ”Jadi, nak.. Kamu mencintai Robert?” tanya Bu Ratih to the point. Beliau tidak ingin lepas tangan untuk memperhatikan anak-anaknya, biarpun sudah dewasa.


”Untuk saat ini belum bu,” jawab Robert sedikit sanksi kalau-kalau Bu Ratih salah paham kepada dirinya.


”Lalu, apa yang bikin kamu ngelamar nak Elang hm?” tanya Bu Ratih sedikit menekankan kalimat yang terakhir. Beliau tidak ingin anak-anaknya disakiti oleh perasaan cinta yang semu.


”Maafkan saya sebelumnya bu, jujur saya sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti Elang sehelai rambut pun. Saya tau saat ini saya belum mencintainya, lebih tepatnya kami belum saling mencintai.”

__ADS_1


”Lalu?”


”Sudah terlalu banyak orang yang saya lukai di masa lalu bu termasuk Elang sampai-sampai bikin dia lumpuh sampai sekarang. Dan saya nggak mau lagi berbuat hal yang sama bu. Saya mau menjaga Elang, saya mau belajar buat mencintainya. Saya tau mungkin hubungan sesama jenis nggak dibenarkan oleh masyarakat dan agama. Tapi, saya yakin saya bisa membahagiakan orang-orang yang saya sayang dengan cara saya sendiri bu.”


Bu Ratih tertegun mendengar jawaban Robert yang terkesan mantap dan tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Beruntung Elang bisa mendapatkan suami sebaik dan sebijaksana Robert. Setelah mendengar semua penuturan Robert, rasanya Bu Ratih tidak lagi khawatir jika harus merelakan Elang bersama dengan Robert.


Di dapur Elang, Arini, dan ibu-ibu lainnya memasak untuk menu makan siang. Arini bertugas mengiris bawang-bawangan sedangkan Elang bertugas mengupasnya. Elang terlihat fokus sekali dengan aktivitasnya itu sampai-sampai tidak menyadari kalau Arini yang duduk di sebelahnya tengah memperhatikan dirinya.


Sebuah ide licik pun muncul di kepala Arini. Ia pun dengan sengaja mengarahkan mata pisaunya ke jarinya dan melukainya sedikit. ”AWW,” pekiknya ketika merasakan sayatan pisau di jari telunjuknya. Ia berharap dengan ini bisa mendapatkan sedikit saja perhatian dari Elang dan mampu membuatnya jatuh hati padanya. Ya, sedikit saja.


”Arini!” seru Elang kaget ketika melihat darah segar menetes dari ujung jari Arini. Elang sengan sigap mengecup jari telunjuk Arini supaya darahnya berhenti keluar. Jantung Arini rasanya berdegup dengan kencang sampai-sampai perih di jari terunjuknya tidak lagi terasa.


Elang bangkit dengan tongkat di ketiak kirinya, mengambil P3K di dekat kulkas. ”Hati-hati dong Rin, udah aku aja yang ngiris bawangnya.” ucap Elang kemudian membersihkan lukanya dengan antiseptik dan membalutkan handsaplas.


”Udah kamu bantu Bu Santi goreng ikan ama numis sayur aja.” perintah Elang dan Arini pun segera mengiyakannya. Ia bangkit menyusul Bu Santi sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Elang.


”Makasih ya mas,” ucap Arini tersipu malu.


”Hm,” sahut Elang singkat.


Arini pun membantu Bu Santi mengoseng udang dan pare. Semburat merah pun muncul membuat kedua pipinya merona malu. Arini berharap perhatian kecil seperti tadi mampu membuka hati Elang untuk menerima kehadiran dirinya sebagai satu-satunya wanita yang Elang cintai.


Tiba-tiba ia teringat akan kejadian beberapa waktu lalu ketika ia dengan sengaja mengintip pembicaraan antara Elang dan Robert di bawah pohon membuat sesuatu di dalam dirinya membara marah. Kilatan matanya tidak lagi seteduh biasanya yang kata anak-anak sosoknya persis seperti ibu peri.


Ia mengaduk telur di mangkuk dengan kasar sehingga menimbulkan beberapa cipratan. ”Ma-maaf bu,” ucapnya pelan. Kemudian ia kembali mengatur emosinya supaya tidak meledak-ledak. Bisa-bisa orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya.


Ia berniat menyusul Robert dan Bu Ratih di ruang tamu. ”Udah selese ngomongnya kan ya?” batin Elang kemudian segera melesat menuju ruang tamu. Arini yang tidak sengaja melihatnya pun menduga kalau Elang pasti mencari pria yang katanya calon suaminya itu.


”Bu? Robertnya mana?” tanya Elang yang tidak mendapati Robert disana dan malah melihat Bu Ratih saja yang nampak menggelar tikar di lantai untuk makan siang lesehan bersama nanti.


Bu Ratih tersenyum melihat ekspresi Elang yang terlihat sedikit kecewa. ”Ya ampun nak, mukanya jangan gitu napa? Lebih asem dari mangga muda tau. Itu nak Robertnya ada di depan, di wastafel samping. Katanya mau wudhu dulu.”


Elang pun menjadi salah tingkah. Benar, mengapa ia bisa begitu panik ketika tidak mendapati Robert ada disana? Apa jangan-jangan Elang mulai menyukai Robert? Tidak-tidak bahkan Elang belum lama ini bertemu dengan Robert, masa langsung suka sih?


Tunggu dulu, apa yang Bu Ratih bilang tadi? Robert ke wastafel di samping panti untuk berwudhu? Setau Elang kalau George itu non muslim, jadi mengapa Robert berwudhu?


Ah, dari pada Elang mati penasaran lebih baik ia pun segera menyusul Robert ke wastafel samping panti. ”Bu, Elang permisi dulu.” ucapnya kemudian keluar menyusul Robert. Bu Ratih geleng-geleng kepala melihat tingkah Elang yang seperti gadis remaja saja. Padahal usia Elang sudah 42 tahun. Tapi, lihat, tingkahnya tak ayal seperti gadis remaja belasan tahun.


”Ro-bert?” seru Elang mengeja satu per satu suku katanya. Ia tertegun melihat wajah Robert yang basah karena air wudhu pun peci hitam bercorak benang berwarna emas di setiap sisinya yang ia kenakan di kepalanya.


”Oh, jadi minta dicium nih?” goda Robert ketika melihat Elang yang memandanginya dengan tatapan terkejut pun mulut yang sedikit terbuka tidak percaya. Ya, tidak percaya.


”Ka-kamu muslim?” tanya Elang sedikit salah tingkah. Astaga kenapa saat ini Robert terlihat begitu tampan dan manly sekali? Badan tinggi dengan kulit putih bersih serta wajah yang tampan rupawan. Dalam hati Elang merutuki dirinya yang tidak henti-hentinya memuji Robert.

__ADS_1


Robert pun mendekat. ”Iya sayang aku muslim,“ wajah Elang memanas ketika Robert berkata seperti itu tepat di wajahnya dengan jarak yang begitu dekat. Apalagi hembusan nafasnya yang segar begitu terasa menerpa permukaan kulitnya pun tangannya yang mengelus pucuk kepalanya sayang.


Robert tersenyum dengan pandangan matanya yang teduh namun tetap tidak meninggalkan kesan tajamnya. Elang semakin dibuatn salah tingkah. ”Udah mulai suka sama abang nih?” goda Robert lagi. Sesaat Elang seperti terhipnotis dengan tubuhnya yang membeku.


”Ng-nggak! Nggak kok! Siapa juga yang suka. Nggak ada!” elaknya lalu mendorong tubuh Robert supaya sedikit menjauh darinya. Bisa-bisa Elang mati karena jantungnya bermasalah saat itu juga. Bayangkan saja dengan jarak yang sedemikian dekat mampu membuat sesuatu di dalam dadanya berdegup kencang.


”Intinya aku mualaf pas beberapa tahun masuk ke jeruji besi.” ucap Robert to the point. ”Sudah, ayo kita salat, nanti pahalanya kurang loh kalo telat,” ucap Robert. Elang pun segera mengambil air wudhu dan salat di mushola yang ada di dalam panti. Tebak siapa yang jadi imamnya? Ya, Robert!


Elang terkagum-kagum dalam hati ketika mendengar Robert bisa membacakan setiap bacaan salatnya dengan fasih dan merdu. Elang yang sudah muslim sejak lahir pun kalah. Ia merasa minder. Bagaimana bisa seseorang yang sejatinya non muslim menjadi mualaf, lalu bisa membacakan ayat-ayat qur'an dengan begitu fasih?


Jelas sekali dari suaranya yang terdengar merdu itu menandakan kalau Robert belajar dengan keras sebelumnya. Kemana saja Elang sampai saat ini? Bahkan, membaca qur'an saja ia masih terbata-bata dan tidak semerdu Robert.


Selesai salat dan mengucapkan salam, bukannya senang Elang malah berwajah masam. Robert yang melihatnya pun hanya bisa mengangkat sebelah alisnya. Baru saja semburat merah yang menandakan Elang tersipu malu itu tergambar indah, sekarang malah berwajah masam?


”Kenapa? Hm? Ada masalah?” tanya Robert lemah lembut. Elang melemparkan pandangannya ke objek lain. Ia tidak ingin menatap kedua mata yang kebiru-biruan itu. Robert begitu sempurna. Mengaji saja fasih, berbanding terbalik dengan dirinya. Lalu, apa yang mendasari Robert mau berkomitmen dengan dirinya?


”Liat aku sayang kalo aku lagi ngomong,” ucap Robert kali ini terdengar lebih serius dengan sorot mata yang mulai menajam. Elang tau itu. Ia pun perlahan memutar wajahnya dan menatap lurus kedua manik mata kebiru-biruan milik Robert.


”Kamu ngajinya bagus.“ cetus Elang terdengar sedikit ketus.


“Trus?”


”Ya karena kamu ngajinya bagus.”


”Kok?”


”Intinya aku iri! Masa kamu ngajinya bagus gitu aku nggak? Trus gimana aku mau jadi istri yang baik coba!?”


Astaga! Elang seperti menggali lubangnya sendiri. Bagaimana bisa bibirnya dengan mudah mengkhianatinya sampai-sampai mengeluarkan kata-kata 'istri'? Argh! Elang merutuki mulutnya yang tidak bisa dijaga. Sudah pasti hal ini membuat Robert terbang tinggi.


”HAHAHAHA,” tawa Robert pun pecah membuat Elang semakin kesal. ”Gini loh sayang dengerin yah,” pinta Robert sambil menggenggam kedua tangan Elang.


“Aku mualaf pas tahun kedua aku di jeruji besi. Disana ada pengajian rutin tiap minggunya dan entah bagaimana aku seneng denger ceramah disana. Akhirnya aku mutusin buat jadi mualaf sekaligus belajar ngaji.”


”Ustadz itu bilang kalau kita mau istri dan anak-anak kita baik maka harus dimulai dari diri sendiri, dan aku berpikir aku harus belajar lebih banyak dari itu. Alhamdulillaah selama aku dijeruji besi aku sama yang lainnya diajarin bener-bener dari nol.”


”Jadi, kamu jangan pernah iri ato kesel. Aku yang bakalan ajarin kamu sampai bisa karena akulah kepala keluarga yang nanti bakalan didik istri dan anak-anak ku.”


Sekali lagi Robert berkata dengan bijaksana dan penuh keyakinan. Siapa yang tidak terpesona dengan pria yang satu ini? Tidak ada yang bisa menolak pesonanya termasuk Elang sekali pun.


”Tapi, aku belum suka sayang ato cinta sama kamu Robert.”


Satu kalimat yang keluar dari bibir Elang membuat Robert tersenyum penuh arti. Ia menggenggam kedua tangan kokoh itu dengan kuat. Ia berusaha memberi sebuah keyakinan disana. “Kita jalani semuanya sebagaimana air yang mengalir. Semuanya lebih indah kalau kita mau mengikuti arus tanpa memikirkan harus berbelok ke arah mana. Percayalah arus akan selalu membawanya pada sebuah tujuan yang pasti. Dan tujuan kita adalah membina bidug rumah tangga bersama, Elang Atmajaya.”

__ADS_1


***


Judul lain COME BACK HOME [BL] & ARES [BB] & BLUE SKY [BL]


__ADS_2