JOMBLO AKUT

JOMBLO AKUT
SUGAR D


__ADS_3

SUGAR D [BL] 17/1


Hari pertama jadian? Haha, tentu saja Sandi menyangkal akan hal itu. Dia terus menguap sepanjang jalan karna mengantuk, dan tiba di rumah habis maghrib. “Tungguin om, San,“ seru Frederick sesaat setelah ia dan Sandi turun dari mobil. Sandi jalan lebih dulu. Dia jadi malu-malu berhadapan dengan Frederick. Sandi masih kekeh ingin tidur di rumah sendiri bersama Isma dan Satrio. “Lama banget baru pulang? Dah laper banget tau, San?“ seru Isma menunggu Frederick dan Sandi sedari tadi di meja makan.


“Jangan protes ke aku, ma~ Salahin Om Erick,“ sahut Sandi sebal. “Nggak makan dulu, San?“ tanya Frederick. Saat ia melihat Sandi malah berpaling setelah minum air putih. “Om duluan aja, aku mau ganti baju dulu,“ sahut Sandi, lalu masuk ke dalam kamar. Sandi ke mana, sih? Kenapa belum keluar juga?, batin Isma sebal. “Sandi? Cepetan!“ seru Isma setengah berteriak dari dapur. Beberapa saat kemudian; Sandi pun muncul. Dia memakai kaos hitam lengan pendek, dan celana abu-abu selutut. Lalu, ia pun duduk di sebelah Frederick.


“Mba, aku boleh tinggal di sini seminggu, nggak? Soalnya Sandi baru mau balik lagi seminggu kemudian,“ ucap Frederick sekaligus bertanya. “Terserah kamu aja, Erick,“ sahut Isma. Isma tentu saja tidak mempermasalahkan hal itu, karna bagaimana pun Frederick juga anggota keluarganya. Sandi telah menghabiskan makan malam lebih cepat dari yang lain. Frederick sampai melongo dibuatnya. “Kamu makan ato apa sih, San? Ngebut banget?“ ucap Frederick. “Mau rebahan, capek,“ sahut Sandi. Ia pun minum air putih—yang tersisa setengah gelas itu sampai habis. Lalu, ia pun langsung melesat ke kamar.


“Duh, San~ Capek apa sih kamu, hah? Kerja aja nggak?“ seru Isma.


“Capek abis jalan-jalan,“ sahut Sandi dari dalam kamar.

__ADS_1


Isma geleng-geleng kepala. Sandi sebentar lagi berusia tujuh belas tahun. Tapi, dia masih saja bersikap seperti anak kecil. Sandi? Coba kalian tebak, dia sedang apa di kamar? Betul! Dia sedang membuat video tiktok. Sandi menoleh ke arah pintu. Terdengar suara langkah kaki. Pasti Om Erick, batin Sandi. “Suami baru masuk kamar check,“ ucap Sandi dalam video tersebut. Benar saja, ternyata itu adalah Frederick. Frederick langsung tersenyum saat melihat Sandi rebahan di atas ranjang.


“Lagi ngerekam om, ya?“


“Trus kenapa?“


Uh, Frederick tidak berhenti tersenyum. Dia benar-benar sangat bahagia. Tiba-tiba ia pun menggelitik p i n g g u l Sandi gemas hingga membuat Sandi tertawa terpingkal-pingkal sambil meminta ampun. “U-udah om ampuuun,“ gumam Sandi. “Panggil om sayang dulu,“ ucap Frederick terus menggelitik. Dasar Om Erick nyebelin, gumam Sandi. “Sayang~ Stooop,“ ucap Sandi. “Hm? Apa? Om nggak denger,“ ucap Frederick bercanda. Dia berpura-pura tidak mendengar. “Sayang~“ ucap Sandi lagi, lalu Frederick pun berhenti. Sandi menatap Frederick dengan tatapan sebal, lalu menepis tangan Frederick dari p i n g g u l.


Frederick pun rebahan di sebelah Sandi. Ia sengaja berdekatan, dan meletakkan kepalanya di atas kepala Sandi, lalu menghadap kamera. Frederick mengusap pucuk kepala Sandi dengan lembut. Hal itu pun mengundang perasaan iri di antara para penonton. “Om?“ seru Sandi mendongakkan kepala. Uh, jarak antara wajah Frederick dan Sandi begitu sangat dekat. Hingga deru nafas Frederick saja sangat terasa di permukaan wajah Sandi. “Hm?“ sahut Frederick menatap Sandi dengan tatapan teduh.


“Besok kita makan-makan di Rawon Rampal Malang gimana? Tadi aku ada baca reviewnya gitu bagus-bagus. Trus ada menu best sellernya juga kek rawon rampal, nasi rawon campur, paru goreng, dan masih banyak lagi. Gimana? Mau, ya? Ya?“

__ADS_1


“Kamu pulang sekolah jam berapa emang?“


“Uhm, keknya agak sorean dari biasanya deh? Soalnya lagi ada latihan buat persiapan pawai gitu,“


“Hm, gitu, ya?“


“Kenapa? Nggak bisa?“


“Kebetulan om besok ada rapat, mungkin sekitar jam empatan baru selese,“


“Ya udah, jemput aku jam segitu aja nanti,“

__ADS_1


Frederick dan Sandi pun tidur bersama setelah mengakhiri siaran langsung. Sandi membenamkan wajahnya di d a d a Frederick. Uh, kedua mata Sandi sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Terasa sangat berat karna kantuk yang amat sangat.


__ADS_2