
Karena keseriusan Danny yang ingin melamar Yolanda, Bu Jesika tidak ingin menunda niat baik putranya. dengan semangat Bu Jesika menelepon Mayangsari ibu nya Yolanda.
"halo,, assalamualaikum" sapa Bu Maya saat menjawab panggilan telepon.
"wa'alaikumussalam Bu Maya"
"Bu Jesika menghubungi saya, ada apa ya Bu" tanya nya lembut kepada tetangga kompleks nya.
"sebelumnya saya mohon maaf ya Bu, saya mau minta waktunya sebentar, boleh Bu" ucapnya terus terang.
"boleh Bu,,ada apa ya Bu" semakin penasaran dengan maksud Bu Jesika.
"seperti nya tidak enak kalau ngobrol nya melalui handphone Bu, bagaimana kalau kita bertemu di kafe saya saja, bagaimana Bu?"
"baiklah Bu Jesika, kapan itu waktunya?"
"kalau siang ini bagaimana Bu, sekalian makan siang, Bu Maya tidak keberatan kan?"
" oh, tentu saja tidak Bu Jesika, sampai bertemu siang ini Bu Jesi"
"terimakasih banyak ya bu Maya, sampai bertemu di kafe"
"kalau begitu saya tutup dulu telepon nya"
"assalamualaikum" pamitnya mengakhiri panggilan telepon setelah terdengar jawaban salam dari Maya.
"Hem,,ada apa ya, Bu Jesi tiba-tiba mengajak bertemu, duh. kok aku jadi deg-degan gini sih" ucapnya pada dirinya sendiri.
"hayo,,,mama ngapain ngomong sendiri?" Yola mengagetkan mama nya yang asik berbicara sendiri.
"ahh,,kamu bikin kaget aja, untung Mama ga punya sakit jantung" sembari mengelus dada nya karena terkejut.
"habisnya Mama di panggilan diam aja,,asik banget ngelamun nya"
"emangnya mama lagi mikirin apa sih?"
"oh,,bukan apa-apa kok"
__ADS_1
"kamu hari ini ga buka toko?"
"ga ah,,malas,,,palingan juga emak-emak rempong bikin kesel lagi" sambil mengerucutkan bibirnya.
"loh kok gitu sih,,namanya juga penjual, ya harus sabar dong" memberikan nasehat putrinya.
"ahh,,,mama kayak ga tau aja, rajanya aja Uda kayak Fir'aun, gimana mau sabar cobak" keselnya lagi.
"kamu nih ada-ada saja"
"mana ada seperti itu, ngaco kamu, Uda sana buka toko" usirnya mendorong lembut punggung Yola agar segera ke toko.
"iya deh ma" pasrahnya berjalan menuju toko yang tidak begitu jauh dari rumah nya.
Yola sebenarnya gadis yang penurut, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang yang dia sayang aja, tidak untuk mereka yang julid, maka dia pasti akan melawan.
Toko kembali dibuka,
"ayo semangat menjemput rezeki Yola, perbanyak stok sabar,,semoga hari ini ga ada drama lagi" Yola bermonolog pada dirinya sendiri tak lupa berdoa semoga tidak ada ibu-ibu rempong yang menguji kesabaran nya yang setipis tisu.
tiga puluh menit kemudian, maya sudah sampai di parkiran kafe, setelah memarkirkan mobilnya, Maya bergegas turun menuju kursi yang sudah terlihat Bu Jesi duduk.
"maaf ya Bu Jesi, sudah dari tadi ya menunggu nya" ucapnya tak enak hati karena sudah lebih dulu Bu Jesi yang sampai. sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"oh,, belum lama juga kok Bu Maya" menyambut uluran tangan dan cipika-cipiki.
"mau pesan apa nih Bu Maya, kebetulan sudah masuk jam makan siang" tawarnya pada Bu Maya.
"saya minum saja Bu Jesi, karena tadi sebelum datang kesini, saya sudah makan bersama Yola dirumah" tolak ya secara halus.
"oh,,begitu ya,,ya sudah saya pesankan dulu ya," memanggil pelayan kafe untuk memesan minuman mereka dan juga makan siang Bu Jesi.
Sambil menunggu pesanan, mereka berbicara ngalor ngidul , tanpa menyinggung maksud dan tujuan mereka bertemu. di karenakan Bu Jesika ingin mengutarakan maksud nya setelah makan siang.
Setelah pesanan datang, Bu Jesi segera menyantap makanan nya, dan Bu Maya sendiri hanya meminum jus sambil sesekali menjawab pertanyaan Bu Jesi.
Acara makan siang telah selesai, meja yang tadinya berisi makanan pesanan Bu Jesi sudah bersih kembali, yang tersisa hanya dua buah gelas jus di atas meja.
__ADS_1
"begini Bu Maya, maksud dari pertemuan kita ini, adalah saya ingin mengutarakan niat baik putra saya Danny yang ingin melamar putri Bu Maya, Yolanda" ucapnya langsung.
"ukhuk,,ukhuk,, Maya tersedak mendengar ucapan Bu Jesi yang secara langsung dengan mimik wajah yang serius.
"Bu Jesi serius?" memandang lekat Jesi seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"ya serius dong Bu Maya"
"bagaimana,,Bu Maya setuju?" tanya nya antusias.
"aduh,, bagaimana ya Bu Jesi,, sejujurnya saya sangat senang dengan niat baik putra ibu Jesi, tapi saya juga tidak bisa memberikan keputusan sendiri" ucapnya tak enak hati.
"iya saya ngerti kok Bu Maya"
"bagaimanapun saya harus bertanya terlebih dahulu kepada Yola, karena yang akan menjalani ini semua Yola sendiri, terlepas rasa senang saya mendengar putri saya akan di kamar oleh nak Danny.
"jadi Bu Maya setuju nih lamaran putra saya" tanya nya antusias.
"kalau saya pribadi sih setuju Bu, tapi saya harus bertanya terlebih dahulu kepada Yola nya , semoga saja dia setuju"
"oh,,senang nya saya mendengar kabar ini"
"bagaimana kalau nanti malam kami datang untuk membicarakannya lebih lanjut" ucapnya tak sabaran.
"secepat itu Bu Jesi?" seakan tak percaya.
"iya dong Bu Maya, kenapa harus di tunda lagi, niat baik harus disegerakan.
"oke,,baiklah Bu Jesi, saya bicarakan dahulu kepada mas Pram dan juga Yola"
"jam berapa kira-kira yang mau datang Bu Jesi?"
"sehabis bakda isya Bu Maya, bagaimana?"
"baiklah Bu Jesi, sampai bertemu nanti malam".
Setelah mencapai kesepakatan, mereka memutuskan berpisah tak lupa cipika-cipiki di lakukan sebelum pergi mempersiapkan segala sesuatu untuk acara nanti malam.
__ADS_1