Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Djiwa


__ADS_3

Namaku Djiwa Kenanga, punya bisnis kedai kopi sederhana yang baru saja di rintis bernama kopi djiwa. Aku hidup sebatang kara karna kedua orang tua ku sudah tiada. Lulus SMA aku belajar bertani kopi, membuat kopi dan mencoba bisnis kopi. Orang bilang aku tidak waras karna menjual tanah orang tua ku untuk modal kedai kopi dan hidup di rumah nenek selang beberapa bulan aku diusir oleh pamanku sendiri karna itu rumah ibunya, sedangkan dulu nenek memberikanya padaku, hanya saja tak ada surat hak waris.


Akhirnya aku mengalah dan tidur dikedai kecilku, ruko kecil dan lantai 2 nya untuk tidur. Padahal itu untuk gudang dan peristirahatan anak-anak. Di sini aku ditemani 2 teman yang membantuku berjualan kopi. Ada Brian dan Sasi sahabatku yang membantuku di segala situasi, Sasi anak dari orang yang cukup mapan mungkin kerja jadi barista hanya untuk mengisi waktu luang saja sambil berkuliah. Cewe yang cantik berambut lurus di cat berwarna pink terang yang cocok dengan kulit putihnya karna dia pecinta drama korea. Sedangkan Brian temanku dari SMP bahkan kakeknya yang mengajariku tentang perkopian dan menyemangatiku. Kami bertiga bersahabat dari SMA. Lelaki berkulit sawo matang yang menumbuhkan kumis serta jenggot dan bercita-cita ingin punya tato di lengan kirinya.


Selain menjual kopi kami juga menjual cemilan seperti tahu crispy, kentang goreng, tahu pedas isi jamur, donat dan beberapa cemilan lainnya. Kedai kopi kami buka jam 11 siang sampai 11 malam. Untuk pembagian waktu kami sangat fleksibel, kalau Sasi selesai kuliah dia akan datang, kalau Brian biasanya shift malam, sedangkan aku ya disini terus. Selain jual kopi aku juga menjual kaktus secara online karna aku pengemar kaktus, semenjak pindah dari rumah nenek aku sedikit kesusahan karna kedaiku yang ruko kecil 2 lantai ini tak cukup ruang.


"Waaaa.. Cepat kemari." Ucap Brian berteriak dari bawah.


"Kenapa Yan? Kataku sambil cepat turun kebawah.


"Ini goreng tahu isi jamur pedas nih, susah bantuin." Ucap Brian sambil takut kena minyak panas yang meledak-ledak. Sedangkan aku hanya ketawa ngakak.

__ADS_1


"Ada orderan kah?" Ucapku bertanya.


"Ada nih, yang order si Sasi pesen mau dibawa ke kampusnya." Jawab Brian sambil menyodorkan adonan tahu dan dia lanjut bikin ice americano untuk Sasi juga.


Setelah pesanan selesai tak lama Sasi datang dengan keadaan happy karna ia mau bertemu kakak tingkat di pertemuan organisasi kampus, dia ikut organisasi itu karna menyukai katingnya sampai-sampai bawain cemilan ke organisasi hanya untuk mendapatkan perhatian. Aku dan Brian menyemangatinya agar dia berhasil berkenalan dan jadian.


Sudah jam 11 siang saatnya kedai buka, karna kedai ini dekat dengan SMA dan kampus banyak sekali anak sekolah dan mahasiswa yang berkumpul disini. Sudah ada 5 pelangan datang memesan mie goreng untuk makan siang dan cemilan lain.


"Iya pastilah,kenapa ?" Kataku langsung ingat karna adeknya pernah menyampaikan perasaanya sedangkan aku baru menyadarinya terlambat.


"Kemaren dia kerumah kakekku, dia mau beli lahan kopi kakek yang di kebun 3 itu." Kata Brian bersemangat bercerita.

__ADS_1


"Iyakah ? terus kek apa kakek?" Kataku bertanya.


"Kan kebun kakek tinggal 3 kalau dijual jadi tinggal 2 dong... Kakek masih bingung. Emang kau masih suka sama Mahdi itu?" Tanya Brian.


"Masih" Jawabku singkat dan berlalu karna ada orderan online masuk.


Aku keatas untuk menghitung bahan-bahan yang masih ada dan mendata apa saja yang harus dibeli. Gara-gara Brian aku jadi teringat Mahdi lagi padahal sudah susah payah aku tenggelamkan perasaanku. Dulu aku sangat tomboy mungkin sekarangpun masih sama, rambut pendek dibawah telingga, berponi tubuh kurus dan tak pandai menggunakan makeup. Saat istirahat sekolah aku biasanya main ke kelas ipa 1 menemui Mahdi dan beberapa teman lainnya untuk ngobrol, Mahdi pun juga sama, dia sering bermain ke kelasku hanya untuk ngobrol denganku. Tanpa di sadari itu berlangsung selama 2 tahun sampai akhirnya dia mengakui perasaanya, tapi disaat itu aku tak memiliki perasaan apapun, aku hanya mengangapnya dia temanku. Sampai akhirnya dia gak masuk sekolah selama 2 minggu karna cintanya ku tolak. Aku mendatangi rumahnya dan meminta maaf, dia memaksaku mencoba berpacaran dulu dengannya baru aku boleh memutuskan untuk pergi atau tinggal.


Karna aku menyayanginya sebagai teman dan ingin dia kembali sekolah karna dia termasuk anak yang pandai, aku mengiyakan permintaanya. Karna aku tak pernah memberinya perhatian, dia berusaha segala cara memberikan apapun tapi hatiku tetap kokoh tak terbuka padanya. Sampai akhirnya dia berpacaran dengan Jani adek kelas yang menyatakan cinta pada Mahdi dan diterima didepanku. Seolah-olah ingin membuatku cemburu tapi aku malah menyelamatinya. Mungkin itu yang membuat dendam pada hati Mahdi padaku.


......................

__ADS_1


__ADS_2