Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Bimbang


__ADS_3

Aku dengan kehidupan dan rutinitas yang sama setiap harinya, hanya saja dengan pola pekerjaan yang berbeda-beda. Melihat Djiwa yang tenang dan santai disetiap harinya membuatku sedikit risih karna berbeda. Dari bangun tidur sampai bangun tidur berbeda. Bahkan kadang keberadaan nya tak ada dan bagaikan angin yang datang hempas dan pergi.


Mungkin nanti aku harus bicara serius dengan nya, aku harus membantu belanjaan nya terlebih dahulu, aku bersikap baik karna aku diajari bersikap baik terhadap makhluk Tuhan, tapi apakah dengan respon nya yang agresif apakah dia salah paham, dipikirnya aku mulai tumbuh benih cinta atau apalah itu.


"Bang... makasi ya udah bantuin, emm.. aku langsung kerja yaa, nanti sore bisa jemput kan? " Ucap nya sambil tersenyum teduh dan bercampur rasa sungkan.


"Oke" Jawab ku sambil kembali pulang.


Diperjalanan pulang aku bertemu Ratih, mantan kekasih yang ditolak mentah-mentah oleh ayah, bahkan dia pun tak ku undang dipernikahanku karna tak enak hati. Ternyata dia sedang menunggu bis ditempat pemberhentian bis. Aku berhenti di depan nya dan membuka kaca mobil.


"Ratih! mau kemana? " Tanya ku.


"Eh.. Galuh, aku mau ke rumah nenek" Jawab nya.


"Di desa sebelah ya? sini naik biar aku antar". Kata ku tanpa berpikir panjang.


"Jangan.. aku nge bis aja" Jawab nya menolak.


"Tuh.. ujan, buruan masuk! " Kata ku menyuruh.


Hujan tiba-tiba datang dengan deras, kamipun bertatapan seakan menyadari bahwa kami mengingat beberapa moment bersama saat hujan, karna Ratih ini atlit renang yang suka berlatih sambil hujan-hujanan dahulu. Teringat beberapa hal lucu, dengan bertatapan saja kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak, lalu diam dan aku mulai berjalan mengantarnya ke rumah nenek di desa sebelah.


"Gimana nikah nya? napa aku ga diundang? " Tanya nya mengejek.


"Hahaha...sorry yak". Jawab ku sambil tertawa.


"Kenapa lagi? dah sakit hati nih aku, gak sekalian kirimin undangan biar makin jleb". Jawabnya dengan bercanda.


"Bwahahahha... maaf yaaa" Jawab ku berasa menertawakan masalalu.


"Hahaha... ngakak kan kalo inget dulu, yaa tapi aku uda lupa sama hal itu, kata nenek gak jodoh jadi jangan terlalu lama bersedih". Jawabnya sambil melihat jalanan dengan tatapan tegar dan ikhlas.


Dan aku hanya bisa diam dan meminta maaf, tapi karna Ratih orang yang seru dan humoris gapernah moody dan manja, jadinya aku merasa cocok dengan dia karna sangat mandiri, tapi melihat dia sedih karna di tolak ayah, bukanya aku menenangkan nya tapi malah sebaliknya, dia begitu baik dan berpikir dewasa. Kalau aku jadi dia mungkin aku sudah dendam tapi dia malah santai aja kek aku ini memang kawan nya.


"Gimana Djiwa? baik? " Tanya nya.


"Baik kok, mandiri sampai mungkin aku tak dibutuhkan dalam hidupnya" Jawabku tenang.


"Bagus dongg... " Kata Ratih sambil bertepuk tanggan.


"Gak lah, jadi istri dia terlalu apa-apa sendiri, guna suaminya apaan, orang dikasi uang bulanan aja dia bingung" Jawab ku sambil berhenti ada tukang tahu.


"Yaiyalah woi .. masih baru menjabat jadi istri, masih muda lagi, komunikasiin lah yang bener". Jawabnya seakan meledek.

__ADS_1


"Eh kau mau gak tahu? " Ujar ku menawarkan.


"Mau.. mau, sekalian buat nenek" Jawabnya, langsung aku pesan ke abang tukang tahu.


"Iya sih, bener. tapi dia kek terlalu agresif jadi takut aku nyaaa" Ujarku sambil memakan tahu.


"Agresif gimana? " Tanya Ratih sambil bikin snap ig ngefotoin tahu.


"Yaaa.. gimana orang baru kenal baru aja udah peluk-peluk, bahasanya udah kek sweet banget. Aku yang gak terbiasa nih bingung" Jawabku mendalami cerita.


"Mungkin dia pengen ngambil hatimu kaliii" Jawab Ratih kesal karna aku seperti tidak peka.


"Ya mungkin, padahal dia gaperlu kek gitu aja, aku udah seneng punya istri kek dia dalam pandanganku yaaa... yang berani, tegas, mandiri dah cukup, gaperlu kek agresif gitu. Orang rumah gaada yang agresif soalnya". Ujar ku kesal.


" Yaa bagus dong, kau kan tenang, cool eh terus sama yang agresif dan mandiri, jadinya ya imbang dong karna kan saling mengisi" Ujarnya memberi nasihat yang membuatku cooling down.


Kami menikmati perjalanan sambil ngemil tahu, tanpa terasa sudah sampai di rumah nenek Ratih. Aku disambut dengan baik meski menyakiti cucunya malahan berterimakasih karna tetap berhubungan dengan baik dan bersahabat saling membantu. Pesan nya hanyalah jalani kehidupan dengan tenang tana dendam dan iklaskan seluruh kepenatan.


Aku pamit pulang karna sudah saatnya menjemput Djiwa, dan nenek Ratih membawakan singkong dari kebun nya. Diperjalanan pulang aku berpikir memang seharusnya aku deep talk dengam Djiwa tapi aku juga takut menyakitinya, apalagi Djiwa begitu baik dan berusaha jadi istri meski hanya nampak menjadikanku pacar baru dari pada suami, atau memang karna masih muda dan tidak mau merepotkan ku.


Sesampainya di kedai, aku turun dan ingin ngopi sebentar.


"Loh bang.. jemput Djiwa ya? " Tanya Brian.


"Iya, mana dia? " Tanya ku balik.


"Kalau gitu aku pesen kopi susu sama roti bakar ya, oh sama gula aren 2, take away yang itu" Ujar ku pesan.


"Oke bang" Jawab Brian sembari menyiapkan pesanan.


Aku heran kenapa Djiwa anter pesanan segala, dia nih terlalu rajin atau bagaimana ya. Bikin kesal aja, terlalu baik dan peduli.


"Bang.. ini silahkan dinikmati". Ujar Brian sambil meletakkan pesananku di meja bar.


"Makasih yaa.. ". Jawab ku sambil menyantap roti.


"Ini buat siapa bang gula aren nya? " Tanya Brian.


"Buat mbok Nari, suka sekali kopi gula aren" Jawab ku.


"Widih... baik banget beliin mbok kopi gini, 2 lagi" Ujarnya sambil tersenyum.


"Iya dah seperti nenek sendiri soalnya" Jawab ku singkat.

__ADS_1


Tak lama Djiwa datang dan melihatku, nampak sekali wajahnya takut aku marah karna menunggunya lama.


"Bang.. maaf yaa nunggu lama tadi aku antar pesenan punya ibu dibelakang sini" Ucapnya menggebu.


"Iya.. santai aja" Jawabku tenang.


"Aku siap-siap dulu yaa" Ujarnya sambil naik keatas.


Aku dan Djiwa pulang kerumah diperjalanan dia hanya diam, padahal biasanya dia memulai pembicaraan duluan. Mungkin dia lelah karna banyak pekerjaan, mending aku tak perlu bilang sekarang. Sesampainya dirumah aku langsung bersih-bersih dan ke mbok Nari untuk memberikan kopi favorite nya.


"Makasi ya den, mbok seneng sekali" Ujar mbok Nari senang.


"Iyaa.. masukin kulkas yang satunya biar enak" Kataku sambil berjalan ke kamar ayah.


"Yah .. ayah tidur? " Seru ku memastikan.


Ternyata ayah sudah tidur dan aku kembali kerumah melihat Djiwa yang sedang memasak, aku membiarkanya karna aku ngantuk, aku tertidur.


"Bangun... bang bangun" Suara Djiwa bergema.


"Emmm" igau ku.


"Bangun dah magrib nih gabole tidur" Ujarnya sambil menepuk punggung ku.


"Iya" Aku bangun.


"Aku bikin martabak telor mas, rasanya ga seenak kalau beli tapi yaa" Ucap nya sambil tersenyum.


"Iyaaaa" Saut ku sambil beranjak dari tidur.


Kami makan tanpa obrolan, hanya makan saja sampai habis lalu ada ketokan pintu, ada tamu datang. Lalu aku ke depan dan membuka kan pintu ternyata ada mbok Nari memberikan gorengan, lalu aku ingat kalau dikasih neneknya Ratih singkong dan aku berikan mbok Nari untuk dimasak apa aja.


Aku letakkan gorengan itu ke meja.


"Dari siapa bang? " Tanya Djiwa.


"Mbok Nari, makan gih. aku kenyang" Jawab ku.


"Bang, tadi aku minta antarkan ke tempat furniture tapi aku sibuk dan lupa, jadinya waktu senggang abang kapan yaa? " Tanya Djiwa.


"Minggu bisa kok" Jawab ku sambil main game.


"Okey bang" Jawabnya sambil membereskan makanan di meja.

__ADS_1


Lalu dia mendapat telfon dari Sasi dan asyik ngobrol sedangkan aku lanjut ngegame sampai lupa harusnya aku deep talk dengan Djiwa dan harusnya aku juga menceritakan kalau tadi bertemu Ratih.


......................


__ADS_2