
Masuk jurusan IPA merupakan paksaan dari Ayah, tapi saat ini aku bekerja disalah satu penerbit sebagai asisten penulis yang bercita-cita memiliki buku sendiri. Ayahku yang juragan tanah memaksaku untuk masuk kuliah tapi aku kabur agar tidak selalu diatur oleh Ayah yang suka mengekang. Tapi aku juga tak enak hati kepada abangku satu-satunya yang harus meladeni sikap Ayah dan bahkan sampai sekarang pacarnya yang dikenalkan ke Ayah tak pernah direstui.
Namaku Wirata Mahdi, suka menulis puisi bahkan penulis dibalik nama penulis. Tapi aku sudah bersyukur karna kelak mungkin aku bisa memakai namaku sendiri yang tertera di cover buku.
Jika kembali ke kota ini yang dingin dengan banyak perkebunan aku jadi ingat wanita yang sangat aku cintai, berkulit kuning langsat, berponi dan berambut pendek yang jarang disisir pakai sisir, dia lebih memilih memakai jari sebagai sisirnya. Membuatku kagum dengan setiap tingkahnya hingga saat ini dialah cinta pertama dan terakhirku, meski banyak luka yang dia beri. Cintaku tetap murni sebagai penyembuh diri.
Ingin sekali menemuinya tapi aku tak punya keberanian karna aku bilang cinta tapi memacari wanita lain. Mungkin saat ini dia membenciku. Tapi aku sangat merindukan tatapanya yang tegas itu dan tatapan berani penuh makna.
"Nih, minum biar gak tegang lagi. Ayah akan segera sehat." Ucap Abangku sembari memberi es kopi.
Rasa kopinya enak dan gurih, ketika ku lihat nama kopinya adalah Kopi Djiwa, dengan mata sebagai logonya. Tampak tidak asing dan didalam otakku apakah ini kopinya Wawa.
"Bang.. kok enak ini kopi." Kataku.
"Iya... di aplikasi ini yang paling best seller, pakai biji kopi lokal kebun sini juga." Jawab bang Galuh.
"Dimana lokasinya?" Tanyaku.
"Gak tau, cari aja soalnya aku biasanya ya pesen online aja." Jawab bang Galuh sambil mengecek hpnya ada chat dari temannya katanya bersedia menjual kebun kopi jika harganya dinaikkan.
__ADS_1
Bang Galuh memang meneruskan bisnis Ayah, dan aku juga kurang paham dengan pertanahan. Aku pulang kerumah untuk beristirahat karna bang Galuh yang menjaga Ayah.
Keesokan harinya aku coba cari kedai kopi ini, ternyata kedainya masih tutup dan tertulis buka jam 11 siang, masih 2 jam lagi. Ketika berbalik aku bertabrakan dengan orang yang membawa banyak barang hingga jatuh. Aku pun meminta maaf sambil mengambil barang-barang yang jatuh itu. Ketika mata kami bertemu jantungku serasa berdetak hampir meledak terkaget didepan mataku adalah Djiwa wanitaku.
"Djiwa.." Kataku pelan tak berkedip karna getaran rasa itu masih sama membuatku speechless tak berkutik.
"Mahdi... kamu ada di sini, kok bisa." Ucap Djiwa dengan suara premannya.
"Dipikir ini daerahmu yaaa..." Kataku tanpa sadar memeluknya dengan erat dan aroma wangi rambut semerbak kehidungku.
"Ah.. gak bisa napas.. ah gak bisa napas woi." Ucap Djiwa dan berusaha melepaskanku.
Akhirnya Djiwa menyuruhku masuk ke kedainya, menyuruhku duduk dan dibuatkanya aku minuman. Aku hanya duduk tenang menatapnya penuh haru, aku bisa bertemu denganya lagi dan dia tidak berubah sama sekali, tak ada cincin di jarinya pertanda dia belum menikah, dan bisa dilihat kedai ini miliknya.
"Ayah sakit, dan.. " Ucapku belum selesai tapi sudah dipotong.
"Apa? sakit apa om? astaga kenapa? beliau sangat baik." Kata Djiwa bertanya.
"Ayah sakit dan operasinya lancar, beliau akan segera pulih. Ayahku yang tukang ngekang baik dari mana coba?" Tanyaku sambil menyeruput kopi.
__ADS_1
"Yaaa.. baik pokoknya." Jawabnya singkat.
"Kok bisa?" Tanyaku.
"Dahlah, habiskan kopi itu lalu pergilah, aku harus menapa barangku tadi, habis ini kedai buka aku belum bersih-bersih." Kata Djiwa mengusirku, padahal belum bertanya kabarnya dan lain-lainnya.
Aku sadar aku siapa dan pasti dia muak denganku. Tapi dia memberikanku kaktus yang cantik dan menyuruhku merawatnya, sepertinya dia juga menjual kaktus, karna nampak sekali tempelan stiker di potnya yaitu Djiwajiwa kaktus.
Aku pamit pulang dan meminta nomor hpnya, tapi dia tak menberi, dia akan memberi kalau dia balik lagi membeli daganganya karna kopi yang aku minum kali ini gratis. Aku tersenyum melihat tingkah imutnya, membuatku berseri-seri dan tak tahan ingin membawanya bersamaku, apakah Ayah menyetujuinya.
Ketika pulang dan mampir dulu ke rumah sakit untuk menjenput Ayah, Ayah bilang akan menjodohkan bang Galuh dengan wanita yang di pilih Ayah. Hal itu menbuat bang Galuh emosi dan sangat marah, lalu aku menenangkan karna posisi Ayah saat ini baru operasi. Ayah memang sekaku itu dan sangat suka mengatur memang memuakkan tapi beliau Ayahku.
Jani menelpon berkali-kali tanpa henti membuatku lelah dan lelah, karna aku sudah tak ingin berhubungan lagi dengannya.
"Gimana kabar Jani?" Tanya Ayah.
"Sudah putus." Jawabku singkat.
"Jangan putus, waktu sakit papanya Jani yang membantu Ayah sering sekali telfon. Dia teman baik Ayah waktu muda." Ucap Ayah semena-mena.
__ADS_1
Aku hanya diam dan pergi kekamar karna tak ingin membuat Ayah marah dengan aku melawannya.
Tiba-tiba Djiwa datang bukan sendirian tapi bersama Brian teman sekelasnya. Rupanya mereka membahas kebun kopi milik kakek Brian.