Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Bunga


__ADS_3

Setelah menikah keseharianku sama saja seperti belum menikah, aku bahkan seperti tak memiliki suami, karna suamiku super sibuk dan jarang sekali bertemu disuatu titik untuk mengobrol. Bang Galuh seorang yang pekerja keras, dia memberiku uang jajan dan uang untuk keperluan rumah tangga dengan jumlah yang besar bagiku, karna pengeluaranku pun nominal ini cukup untuk 3-4 bulan dan aku meminta pada bang Galuh untuk memberikan yang secukupnya saja.


Aku pun tak terbiasa untuk jajan dan berfoya-foya, kata bang Galuh jika uangnya lebih bisa di tabung saja atau di taro di suatu dompet dan jika habis bang Galuh bisa mengisinya jika tidak maka tidak perlu. Bang Galuh juga berpesan untuk membeli furniture yang baru agar rumah terasa nyaman karna memang rumah ini terasa hampa. Bang Galuh mempercayakan seleraku dan tak perlu diskusi untuk masalah barang. Padahal komunikasi kan perlu, bang Galuh seakan menyerahkan semua sesuka ku. Ini membuatku antara senang dan sedih.


Bang Galuh menyuruhku untuk mencari pegawai tambahan di kedai, agar pembagian shiftnya aman dan menyuruhku tidak terlalu bekerja di kedai, kalau di rumah berjualan kaktus katanya tidak masalah. Setelah aku mendiskusikan kepada teman-teman, mereka pun sangat setuju, akhirnya Sasi lah yang mencoba mencari anak baru dan aku percayakan semua padanya.


Aku juga lupa kalau aku diberi mahar kebun kopi, aku meminta tolong Brian agar dibantu tentang perkebunan ini serta distribusi kopi. Entah aku mendapat kebahagiaan tiba-tiba ini dari mana, karna serasa mendapat jackpot dari langit. Mungkin ini memang yang ibuku mau yaitu kebahagiaan anaknya. Aku akan pergi ke makam ayah dan ibu karna aku jarang kesana semenjak paman mengusirku, karna jalan nya melewati rumah nenek.


Karna abang sangat sibuk akhirnya aku ke makam diantarakan Sasi.


"Gilak yaaa.. kalo inget paman mu, gedek banget sumpah, apalagi bini barunya" Ucap Sasi marah karna mengingat pamanku.


"Iya.. tapi yaudah lah Sas, mau gimana lagi". Jawab ku berusaha tidak kepancing amarah.


"Bakalan mampus kena karma tuh orang" Ucap nya ngedumel.


"Makasi ya Sas, anterin aku ke makam, di depan hati-hati ada lubang" Kata ku kepada Sasi karna dia yang nyetir motor.


Sesampainya di makam aku berdoa mendoakan bapak dan ibuku dan banyak-banyak meminta maaf kepada mereka. Sampai tak sadar air mataku jatuh karna hawanya sangat sendu dan sedih, tapi Sasi menenangkan ku, selesai dari makam aku berencana membeli kerupuk di dekat rumah nenek karna sangat enak, tapi Sasi melarangku karna takut ketemu sama paman dan istrinya.


Akhirnya aku tak jadi beli kerupuk dan langsung pulang kerumah, Sasi juga lapar dan kami makan masakan ku.


"Kenapa kau selalu masak ini-ini mulu sih". Ucap Sasi protes.

__ADS_1


"Yaa gimana... bisanya masak yang gampang-gampang gitu. Beda lagi kalo bang Galuh, pinter banget masak yang pake lengkuas lah, jahe lah". Jawab ku sambil tersenyum membanggakan suami.


"Iyaaa... iya suami nya kok jago semuanya yaaa. Dah ganteng badan nya kekar bagus, manis lagi eh ditambah pinter masak". Ucap Sasi meledek.


"Ya tapi, kerja mulu gaada waktu buat istri". Jawab ku kesal.


"Yaiyalah, mau berkecukupan mah gitu kalau gak gitu ya suruh nganggur aja". Kata Sasi dengan nada yang menjengkelkan.


"Iya juga si, bener katamu, yaudah lah di syukuri aja" Jawab ku sambil makan.


"Rumah mu kek sepi kali sih, gaada estetik-estetiknya kecuali di taman". Ucap Sasi sambil melihat sekitar.


"Kata bang Galuh juga disuruh beli furniture atau apa aja terserah aku konsepin nya". Jawab ku sambil meminta saran dari Sasi.


Sepulangnya Sasi, aku kembali ke kedai unthk mengecek bahan-bahan yang habis dan perlu di beli. Di sana ada Brian yang kesusahan karna banyak orderan online. Sasi tadi pamit ada pulang dulu mau ganti baju, akhirnya aku membantu Brian sampai selesai, tanpa sadar sudah saatnya tutup. Saat ku lihat hp ternyata bang Galuh sama sekali tak mencari ku, ini sangat menyedihkan dan membuatku kesal, bagaimana bisa sudah jam 11 malam suaminya tak mencari istrinya sama sekali. Selesai mencatat bahan yang perlu dibeli aku pulang dan ternyata memang bang Galuh belum ada di rumah. Aku akan mencoba menelepon nya.


"Hallo bang, abang dimana? " Tanya ku.


"Di jalan mau pulang" Jawab nya singkat.


"Keluar kota lagi? " Tanya ku kesal.


"Iya... ini di tol sudah dekat kok". Jawab seakan biasa aja kalau gak ada kabar.

__ADS_1


"Yaudah, aku mau tidur duluan. Bye! " Langsung ku tutup telepon nya kesal dan marah, tapi aku tunggu bang Galuh tak telepon aku bertanya kenapa telepon dimatikan.


Arggghh!


Kesal dan emosi, aku harus sabar menghadapi batu, ingat aku adalah bunga yang harum dan kecantikan nya mampu membuat batu tergila-gila. Aku hanya perlu bersabar, karna marah aku ke taman belakang dan menyempatkan untuk mengobrol dengan para tanaman sambil menyirami mereka karna tadi pagi aku lupa tak menyiram mereka.


Tapi entah mengapa bonsai ini seakan menjawab setiap perkataanku dengan sinar mengkilat daun nya. Aneh memang atau cuma perasaan ku aja yang sudah mengangap diri ini tukang tanaman yang pandai berkomunikasi dengan tanaman atau karna aku sedang emosi jadi berkhayal macam-macam. Karna ngantuk aku harus segera tidur karna pagi-pagi aku harus berbelanja.


Aku terbangun jam 3 pagi, ternyata bang Galuh sudah ada disisi ku dan aku memeluknya sambil mengendus aroma ketiak yang enak ini sampai tertidur pulas lagi. Ternyata aku bangun kesiangan, ini sudah jam 7 langsung aku mandi dan aku lupa aku harus memasak untuk bang Galuh. Tapi di mana bang Galuh ini, kenapa pagi sekali bangun nya.


"Morning". Ucap bang Galuh


"Morning bang, maaf aku kesiangan" Jawab ku merasa bersalah.


"Gapapa, ini aku buat roti panggang untuk sarapan dan susu almond". Ucap nya sambil memberiku hidangan pagi yang jelas enak ini.


"Bang galuh biasa makan roti kalau pagi? " Tanya ku.


"Iya tergantung". Jawab nya singkat padat dan gajelas.


Aku jadi lupa kalau semalam kesal karna dia, sinar matanya membuatku tak bisa kesal dan protes, bahkan dia mengantarkanku ke pasar untuk berbelanja. Pagi ini dia sangat membantu pekerjaanku. Bang Galuh mungkin sedang tak sibuk, aku akan mengajaknya membeli furniture dan mengecat rumah.


......................

__ADS_1


__ADS_2