Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
AsmaranJani


__ADS_3

Oh God....


Hari ini papa datang, dan besok kak Mahdi memintaku menjadikan tunangan nya. Kok hati ku senang banget serasa di atas awan sampai gak bisa tidur. Apakah ink bagaikan penantian yang ditunggu-tunggu dan menjadi kenyataan.


Ada suara ketokan pintu.


"Nak bangun, papa sudah di bawah". Suara mama yang merdu membuatku tersadar kalau aku sedang melamun.


"Iya maaa... Jani bentar lagi turun". Jawab ku dengan cepat sambil ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Saat aku turun tangga, ku dapati papa memeluk mama dengan hangat sepertinya mereka saling merindukan karna sudah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang sibuk. Aku menyapa papa dan memeluk nya, ku sampaikan rasa rindu dan bahagia ku.


"Nak, kamu semakin cantik seperti mama mu". Ucap papa sambil tersenyum lebar. Mungkin kami tak bertemu sudah setahun lebih malah hampir 2 tahun.


"Iya dong... Anak mamaaaaa". Jawab mama sambil mengelus rambut ku.


"Mama sama papa, udah gak ketemu berapa tahun?". Tanya ku sambil menatap mereka.


"Setahun mungkin nak, mama kan tahun lalu buka store di Singapore jadi papa datang". Kata papa sambil mengingat.


"Emang kalau sudah suami istri terus LDR enak ya?". Tanya ku penasaran.


"Sebenernya sulit nak, tapi papa mu mengizinkan mama untuk berbisnis dan meraih apa yang mama mau. Soalnya dulu waktu pacaran papamu over protective banget, setelah mama melahirkan, mama tuh stress karna gak melakukan apapun, jauh dari saudara, gak punya teman. Akhirnya papa mu mengizinkan". Jawab mama bercerita.


"Iya nak, setelah ini mama mu sudah waktunya pensiun dan mengikuti papa, karna sudah cukup dan biarkan handle pekerjaan di rumah aja". Sambung papa sambil melihat ke arah mama, nampak sekali muka mama sedih.


"Oh yaaa... terus mama tinggal dimana? ". Tanya ku.


"Mama ikut papa tinggal di Singapore, rumah ini buat Jani. Nanti kalau papa pensiun biar ikut Jani disini". Kata papa dengan muka sedih karna menyadari anaknya sudah dewasa.


Kami lanjut makan sambil bercerita banyak hal, aku juga menceritakan kak Mahdi dari awal sampai akhirnya mampu meluluh kan hatinya. Aku juga mempersiap kan tempat bertunangan, tamunya, undangan nya serta gaun dan banyak hal. Aku sangat excited dan bahagia sekali, semua keperluan acara dari papa uangnya, tak lupa aku juga membeli cincin pertunangan yang uang nya sudah di transfer kak Mahdi.


"Nak, cincin nya kok sederhana sekali?" Tanya papa.


"Iya pa, kak Mahdi gasuka terlalu mewah, may yang simple-simple aja". Jawab ku binggung, padahal kak Mahdi gak punya cukup uang.


"Baik lah, kerjaan Mahdi aman aja kan?". Tanya papa, apa papa gatau ya kalau kak Mahdi hanya asisten penulis.

__ADS_1


"Baik kok pa". Jawab ku singkat.


Padahal Ayah kak Mahdi adalah juragan tanah dan kaya, tapi kak Mahdi menginginkan jalan lain, apakah nanti aku akan hidup sederhana dan siap jika misalnya kekurangan apapun. Duh aku jadi galau, ah tapi dipikir nanti aja deh. Aku memotret semua persiapan ke kak Mahdi tapi respon kak Mahdi kaget karna katanya terlalu mewah, tapi aku bilang kalau ini dari papa kan kak Mahdi cuma kasih uang untuk cincin aja. Kak Mahdi terlihat kesal, nada bicaranya terlihat sekali.


Rasanya kesal juga kenapa kak Mahdi kek gitu sih, padahal kan tinggal terima aja harusnya. Lalu tiba-tiba Ayah nya kak Mahdi datang sendirian karna sudah janjian temu kangen dengan papa dan aku hanya menyapa lalu meninggalkan mereka berdua.


Tanpa sadar aku ketiduran, bangun-bangun sudah jam 4 pagi. Padahal lagi nonton series favorite, mungkin aku kelelahan. Saat aku cek Hp ku ternyata kak Mahdi menghubungi ku. Lalu ku coba telfon kak Mahdi.


"Halo... ". Ucap kak Mahdi dengan suara serak.


"Maaf kak, aku ganggu tidur kakak. Semalam aku ketiduran". Kata ku sambil menarik selimut karna dingin sekali.


"Ya! ". Jawab nya singkat.


"Kakak, kesini jam berapa? ". Tanya ku.


"Habis subuh, yauda ku tutup telepon nya". Kata kak Mahdi dan langsung menutup telepon.


Huft..


Pagi-pagi sudah kesal, sampai berpikir kok bisa aku menyukai laki-laki dengan sifat kek gini. Apakah aku siap nanti akan menikah dengan nya dan hidup serba kekurangan atau aku bekerja dengan baik yang membuatnya hancur karna gaji lebih banyak punya ku. Aku harus bertanya padanya nanti.


"Nak, bangun... keluarga Mahdi dalam perjalanan kemari". Kata mama sambil menepuk pelan bahu ku.


Sontak aku kaget dan bingung, langsung ke kamar mandi untuk mandi dan meminta mama menyiapkan pakaian ku. Tapi mama menyiapkan pakaian dengan warna pink, pasti kak Mahdi gak suka, jadi aku mengenakan dress putih simple.


Akhirnya om Putra dan kak Mahdi datang, mengobrol dan meminta izin untuk bertunangan, membicarakan masa depan pernikahan dengan ku. Rasanya ingin menangis haru, padahal ini masih bertunangan. Kami membicarakan tanggal pertunangan bulan depan sambil makan bersama.


Aku mengajak kak Mahdi ngobrol di taman belakang.


"Kak... aku ingin bertanya". Ucap ku sambil menatap kelinci-kelinci yang sedang makan di taman belakang.


"Apa? ". Tanya nya singkat.


"Kakak yakin akan bertunangan dan berjanji akan sampai ke pernikahan? ". Ucap ku yang sedikit ragu bertanya pada kak Mahdi.


"Ya yakin lah, kenapa emang? ". Tanya nya sambil main hp.

__ADS_1


"Kakak akan membiarkan ku bekerja kelak? " tanya ku.


"Terserah, kau jauh-jauh kuliah, masa iya jadi ibu rumah tangga tapi kalo milih jadi ibu rumah tangga ya bagus". Jawabnya sambil melihatku.


"Kenapa? ". Tanya ku penasaran.


"Ibu rumah tangga itu bisa ngurus anak dengan baik, banyak waktu. Karna aku pengen punya 3 anak". Jawab nya dengan tenang.


"Banyak juga ya kak, tapi kakak sanggup menafkahi aku dan anak-anak? ". Tanya ku takut menyinggung.


"Yaiyalah, kau pikir aku miskin? hidup secukupnya aja, gausa ngikutin gaya hidup mu yang hedon itu". Jawab nya ketus.


"Iya kak". Jawab ku


"Ingat ya, jadi istri yang nurut. Udah ah, aku harus pulang. Ayah gaboleh terlalu capek". Jawab nya sambil berlalu pergi dan aku mengikutinya dari belakang.


Melihat kepergian kak Mahdi dan om Putra dengan suasana yang sedikit galau. Antara cinta, karir dan menuruti kata suami. Kak Mahdi emang gak cocok untuk di jadikan suami kalau pemikiran nya kuno begitu. Apakah aku batalkan saja, tapi aku takut menyesal.


Duh, susah kalau kasmaran, gabisa pakai logika. Aku harus bertanya sama siapa ya masalah ini. Kak Djiwa harusnya ya, apakah aku harus menelepon nya, tapi kan dia sedang bulan madu. Mending aku coba deh.


"Halo kak, maaf ganggu". Kata ku sambil minum susu hangat.


"Iya, gapapa santai aja, ada apa? ". Jawab kak Djiwa dengan santai.


"Kak, kalau bang Galuh ngelarang kakak kerja ga? apakah banyak larangan dan harus menurut pada suami? ". Tanya ku sedikit malu.


"Hmm.. Enggak sih yaaa.. abang tuh lebih ke support apapun pilihan ku, cenderung santai dan ngikutin alur aja dan paling penting gak ngekang apapun". Jawab nya.


"Kalau nanti aku disuruh jadi ibu rumah tangga gimana kak? ". Tanya ku galau.


"Emang si Mahdi nuntut gitu ya?. Duh belum apa-apa dah banyak mau nya". Jawab kak Djiwa dengan nada kesal.


"Iya kak, gimana ini? ". Tanya ku


"Ya gapapa turutin aja, kamu kan bisa kerja di rumah, sekarang kan banyak bisnis dari rumah kan, jadi tenang aja". Solusi kak Djiwa menenangkan ku.


Panjang lebar kami bercerita dan aku menemukan jawaban kalau aku terlalu over thinking sama hal yang belum terjadi. Lalu mama datang ke kamar ku dan memberikan kertas-kertas yang isinya aku bisa menjadi CEO di bakerys mama yang terkenal itu tapi jabatan ini diberikan kalau aku sudah lulus dan menetap di rumah ini. Karna mama kan akan menemani papa di Singapore. Mama mewajibkan aku untuk belajar dan menjadi penerus usaha mama karna aku anak satu-satu nya. Aku hanya bisa berterima kasih pada mama, karna seakan mama bekerja dengan keras jaman dulu untuk memberikan privilege padaku.

__ADS_1


......................


__ADS_2