Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Djiwajiwa Kaktus


__ADS_3

Pagi ini hujan, udara sangat lembab dan dingin bahkan diluar kabut sangat pekat ku buka jendela harum tanah basah seketika masuk kedalam kamar alias gudang ini. Ku lihat hp ku ada beberapa pesanan kaktus yang masuk.



Tak lupa aku menyiapkan Haworth kaktus untuk bang Galuh nanti, aku harus memberikanya ini barang kali daganganku nanti dipromosikan. Saat menyiapkan beberapa kaktus aku melihat sebuah mobil berhenti didepan kedai, kaget ternyata bang Galuh yang keluar. Aku langsung berlari kebawah dan membukakan pintu.


"Bang.. hujan pagi-pagi gini abang sudah kemari." Sapaku sambil menyuruhnya untuk duduk.


"Iya... aku ingin sarapan disini sambil minum yang hangat-hangat." Jawab bang Galuh dengan suara yang serak-serak basah.


Suaranya sangat merdu tanpa sadar aku teringat kalau aku belum bersih-bersih ke kamar mandi. Lalu pamit untuk bersih-bersih dulu gak sadar juga pakaian tidurku sangat gembel sekali. Duh aku sangat malu. Aku mandi dan berganti pakaian setelan training agar hangat.


"Bang maaf ya lama... Ini mau sarapan apa dan minum apa?" Tanya ku.


"Hmm rekomendasi darimu aja." Jawabnya singkat penuh makna yang artinya dia mempercayakan sarapannya padaku.


Aku membuatkan tahu telor karna hanya ada itu dikulkas dan kopi hitam untuk membuka hari, aku pun juga minum itu. Kami makan bersama sambil berbincang kenapa bisa kenal dengan Mahdi dan aku tanpa ragu menceritakan semuanya, Mahdi dengan Jani yang sangat mencintainya, aku hanya iri pada awalnya tapi semakin lama sayangku terhadap Mahdi hanya karna dia sahabatku dan sering main bersama dahulu. Bang Galuh juga bercerita kalau Mahdi juga menjalin hubungan dengan serius bersama Jani karna Ayah dan Ayahnya Jani bersahabat dari SMP. Tapi tak tau lagi karna mereka sedang bertengkar.


Kami ngobrol dengan nyaman tanpa disadari aku menceritakan semua kehidupanku tanpa beban yang membuatku lega. Aku sudah packing untuk pindah dan dibantu bang Galuh. Di mobil bang Galuh juga bercerita tentang hoby nya dan banyak kisah keluarganya. Padahal ku pikir bang Galuh orang yang dingin dan menyeramkam, dibalik itu ternyata dia orang yang hangat. Sesampainya dirumah Ibunya bang Galuh, aku kaget ternyata dibelakang rumah ada indoor garden yang sangat cantik, bunga-bunga berbagai tanaman disini dirawat dengan baik. Kalau di film-film ini cocok untuk tea party. Sangat tenang dan membahagiakan.


"Bang ini ada kaktus untuk abang." Kataku dan memberikan Haworth kaktus kepadanya.


"Cantik sekali, aku akan menarohnya dikamarku." Ucapnya sambil menerima kaktusku dengan senyum tipis di raut mukanya.


Aku menata barang-barangku dan tertidur di kamar. Bangun-bangun sudah siang dan lupa kalau aku harus bekerja. Aku kerumah bang Galuh untuk meminjam sepeda karna kalau berjalan aku bisa sangat telat.

__ADS_1


Sesampainya di kedai, ternyata Sasi sudah datang dan sudah ada pelangan.


"Gimana pindahanya?" Tanya Sasi.


"Yaaa .. rumahnya luar biasa indah. Rumah kecil dengan halaman luas dan 2 kamar serta dibelakang ada indoor garden sangat sesuai dengan jualan kaktusku." Ucapkku sambil terus mendeskripsikan kebahagiaan ini.


Sore Brian datang dan bekerja dengan senang karna dia bercerita berpacaran dengan cewe luar kota, entah bagaimana bisa pacaran online begini. Gak habis pikir, tapi Brian membagikan video membuat kopi nya ala-ala barista. Membuatku terpikirkan untuk membeli camera dan membuat konten tentang kopi.


Waktu tutup pun tiba, pendapatan untuk hari ini sangat lumayan. Apalagi karna promo dari aplikasi online yang membuat banyak orang membeli. Malam menuju rumah dengan jalanan yang cukup petang membuatku mengayuh sepeda dengan berat karna takut. Ada seseorang dibawah lampu jalan seperti mau menghadang dari kejauhan, antara aku harus kembali atau jalan saja. Semakin lama semakin dekat ternyata itu adalah bang Galuh yang sengaja menungguku karna khawatir.


Aku kaget dan terharu, baru kali ini ada orang yang peduli padaku. Dia mengantarkan sampai kedepan rumah dan dia pulang juga kerumahnya. Aku ke belakang menatap semua tanaman dan entah mengapa ada pohon yang menarik membuat mataku tak berkedip. Ada pohon bonsai yang sangat cantik dan indah mungkin ini harganya sangat mahal karna terlihat berkilau diantara tanaman lain. Saat ingin menyentuhnya terasa ada magnet yang membuatku berdegup kencang entah karna apa atau aku hanya ngantuk dan kebanyakan kopi.


Aku ke kamar dan tidur, di dalam mimpiku aku melihat wanita menulis surat cinta dan mengantarkannya ke kotak pos. Wanita yang cantik berambut pendek terlihat sama sepertiku tapi itu bukan aku karna rambutnya sangat berantakan dia menyirami bunga-bunga dan tanaman lain penuh cinta sambil menyanyi. Saat bangun pun aku jadi kepikiran tentang mimpi itu, langsung kubersihkan rumah dan memasak, karna hari ini jadwalku libur jadi aku akan fokus menatap kaktus-kaktusku.


"Djiwa... " Suara bang Galuh.


"Iya bang, pagi-pagi sekali yaaa." Kataku sambil melihat jam masih jam 6 pagi.


"Diajak sarapan bareng sama Ayah." Kata bang Galuh.


"Jam berapa bang?" Tanyaku.


"Sekarang yaa gapapa, kamu udah masak? " Tanya nya.


"Mau masak sih. Oke deh yuk." Kataku sambil menutup pintu.

__ADS_1


Kami makan bersama bertiga dengan lahap dan Om bertanya padaku apakah aku nyaman dirumah garden itu, aku jawab dengan senang kalau aku juga menyukai rumah itu.


"Nak, ini ada kertas peninggalan Bapakmu dan Ibumu." Ucap Om sambil menyodorkan gulungan surat kepadaku. Aku keheranan kenapa Bapak Ibu memberikan surat kepada Om.


Surat ini berisikan:


...Anakku Djiwa Kenanga...


...Ibumu dulu pernah berpesan agar kamu bisa hidup dalam kebahagiaan dan keberuntungan. Lelaki yang dipilih Ibumu untuk menjadi menantunya adalah anak pertama dari mas Putra yang mungkin saat itu masih berusia 7 tahun saat Ibumu mengandungmu dan sudah menyukainya. Bapak pun sama jika Bapak menyusul Ibumu yang bisa Bapak berikan adalah kebahagiaan dari doa Ibumu. Maafkan Bapak tak bisa memberikan apapun, tapi Bapak menabung di mas Putra dan suatu saat tabungan itu akan diberikan pada kamu anakku....


...Bapak Ibu mencintaimu selalu....


Aku meneteskan air mata dan sangat sedih sekali, Om juga menangis haru lalu Om bilang pada bang Galuh kalau sedari kecil kami berdua dijodohkan. Bang Galuh kaget dan bingung mau berkomentar apa.


"Aku terserah pada Djiwa saja, jika Djiwa menginginkan itu terjadi maka terjadi." Ucapnya dengan tenang dan mengambilkan tissu untuk air mataku.


"Makasih bang." Ucapku sambil mengusap air mata.


"Jadi gimana Wa?." Tanya om Putra.


"Saya nurut Bapak dan Ibu saya, apalagi yang bisa saya berikan kepada mereka jika tidak dengan menerima apa yang mereka inginkan. Ini pasti keputusan yang terbaik." Ucapkku berusaha tegar.


Aku kembali pulang dan berdiam diri di garden seakan-akan aku pernah kemari atau hanya halunasiku belaka.


......................

__ADS_1


__ADS_2