
Apa-apaan ini semua, mengapa bisa abang tiba-tiba memberikan undangan pernikahan dan menikah dengan cinta pertamaku. Aku bergegas meninggalkan kantor dan pergi ke kampung halaman dan yang ku temui adalah pelukan hangat Djiwa dan Abang. Mana mungkin aku tidak merasakan amarah dan bara api dalam hatiku.
Saat ku lihat Djiwa memeluk dengan senyum yang hangat, sungguh tak pernah aku melihay Djiwa seperti itu. Bahkan, Djiwa hamil dan ayah dari anak itu adalah Abang kandungku sendiri. Bagaimana aku tidak kalut dan pedih melihat kenyataan ini. Padahal aku sendiri yang menjauh dari Djiwa dan mengkhianati nya dengan berpacaran dengan wanita lain, dan kenyataan saat ini Djiwa tak akan pernah jadi milikku. Bahkan sebelum menikah pun mereka tidur bersama dan punya bayi dalam kandungan. Antara tak menyangka dan semakin sakit di dada. Bisa-bisanya ayah biasa saja dengan peristiwa ini yang semakin menyayat hatiku.
Sekian lama aku memendam rasa sampai akhirnya harus di utarakan, tapi lagi-lagi dia tak membalas cintaku padanya. Bahkan saat ini mencintai abang ku sendiri. Siapa di sini yang paling keji, apakah aku yang memiliki kekasih agar dia cemburu, apakah dia yang tak membalas lalu menikahi kakak ku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, rasa tak bisa dipaksa. Tapi membuatku dendam ingin menghancurkan nya. Dia tak boleh bahagia di atas penderitaanku, dia harus merasakan apa yang aku rasa.
Tapi sekali lagi, melihat dia ceria dan penuh senyum melayani calon suaminya, melihatnya mengepak barang-barang abang dan menyuruhku membantunya. Entah ini kurang ajar atau apa, masa dia tak memiliki rasa kasihan padaku. Apakah benar aku memang tak dianggap olehnya.
Dia akan menjadi kakak ipar ku, dan aku adek iparnya. Dia bercerita bahkan dari kecil para Ibu sudah mendekatkan nya, Apakah dia sedang menenangkan ku agar aku bisa ikhlas.
__ADS_1
Ini sungguh membuatku muak dan hancur berkeping-keping.
Melihatnya memasak dan mengecup pipi abang secara langsung semakin membuatku tertekan. Aku memutuskan pergi dari mereka dan melajukan mobil tua ku dengan kecepatan tinggi, entah tujuan ku mau kemana. Aku hanga berkeliling-keliling tanpa kejelasan sampai akhirnya aku di depan rumah Jani.
Aku masuk kerumah Jani dan langsung menuju kamarnya. Setelah ku buka pintu nampak Jani hanya duduk di sofa kamar dan menangis. Ternyata dia hanya berdiam diri setelah aku memutuskanya. Aku langsung menyeret tanggan nya dan ku lempar ke kasur. Ku ciumi dia sampai dia tak bisa berkata-kata. Aku mencium nya dengan kasar. Tapi dia tak memberontak, dia hanya menerima apa yang aku lalukan padanya. Ini membuatku menjadi lelaki yang jahat, selama ini tak pernah kuhiraukan perasaanya padaku dan dia tetap ada di sampingku.
Ku lepas pelukanku padanya, dan tidur di ranjangnya sambil menitihkan air mata sambil berpikir, apa yang aku lakukan selama ini. Menyakiti hati lain agar mendapatkan hati yang aku mau. Jani melihatku menangis dan dia memeluk ku dengan hangat. Kami sama-sama menangis dan kata yang terucap dari mulutku adalah meminta maaf kepadanya berulang kali.
Terlintas kebahagiaan di raut wajahnya yang cantik itu, ya dia memang cantik dan populer banyak di sukai lelaki, tapi aku hanya menjadikanya tempat pembuangan. Selama aku makan dia hanya memeluk punggung ku dan dia juga minta maaf karna menjalin hubungan lain karna aku tak pernah mengangapnya. Aku memaafkanya, karna memang ini semua sebab dan akibat dari perilaku ku.
__ADS_1
Aku memberi tahu nya kalau abang akan menikah dengan Djiwa. Dia langsung kaget dan sedih pasti dia berpikir lagi kalau aku hanya menjadikan dia pelampiasan. Tapi langsung ku tepis karna saat itu juga aku menyadari kesalahanku. Aku memintanya agar berkuliah dengan baik lalu aku akan menikahinya tapi dia tidak percaya dan takut perasaanku terhadapnya berubah. Karna berpacaran kurang lebih 5 tahun inilah first kiss Jani karna tak pernah ku sentuh sama sekali.
Jani meminta agar bertunangan denganku. Aku mengganguk dan akan segera menemui mamanya. Jani bahagia dan langsung memelukku dan ku balas pelukanya. Terasa teduh dan menenangkan. Aku kembali pulang dan berencana bilang pada Ayah akan rencana kami. Jani pun ikut menemui Ayah dan beliau setuju dengan cepat langsung menelpon papanya Jani.
Terlihat bang Galuh dan Djiwa pun bahagia dan senang sambil bergandengan tanggan. Seakan-akan inilah saatnya mengiklaskan dan lebih melihat seseorang yang selalu ada untukku.
Ini saatnya aku kembali ke kota seberang, aku harus kembali bekerja dengan giat agar tak kesusahan istri dan anakku kelak. Aku berpamitan pada ayah dan semuanya, aku harus mempersiapkan diri sebelum menemui orang tua Jani. Karna ayah tak mungkin memberikan uang saku padaku.
Di sepanjang jalan hanya berpikir apakah ini jalan terbaik dan sudah garis jalanku atau kah aku masih bisa mempunyai kesempatan dan merubahnya.
__ADS_1
......................