
Menuruti semua kata Ayah adalah kewajiban sebagai anak pertama yang tak terlalu pintar, bahkan saat sekolah pelajaran yang disukai hanya olah raga. Karna ketidakpintaraanku paling tidak aku bisa menjadi anak yang berbakti pada Ayah. Satu-satunya orangtua yang rela tidak menikah lagi demi menjaga perasaan anak-anaknya. Ayah cukup berkecukupan dan bekerja jual beli tanah, cukup mudah saja sebenarnya menikah lagi. Hal itu yang membuatku salut pada Ayah.
Namaku Galuh Setta Tama, Manusia sederhana yang bisa dibilang bodoh karna dari kecil hal yang paling disukai hanya main dan tidak suka belajar. Masalah percintaanpun bodoh karna lebih mementingkan perasaan Ayah dari pada perasaanku serta kekasihku. Memang aku tak sering dibodohi wanita dan dimanfaatkan, entah mengapa aku selalu bodoh. Lama kelamaan aku pandai berkomunikasi dan bernegosiasi karna Ayah selalu mengajariku dengan telaten meski suka marah-marah.
Aku punya 1 adek laki-laki bernama Mahdi yang pintar meski dia tidak belajar, bahkan karna tidak mau terkekang dia memilih kabur dan bekerja dibidang yang dia sukai. Aku dulu ingin menjadi atlet tapi Ayah tidak memperbolehkanya karna tidak diperbolehkan Ayah menyulap halaman belakang rumah menjadi kolam renang dan lapangan kecil yang bisa digunakan untuk basket, tenis ataupun olahraga lain. Meski Ayah melarang tapi Ayah memberiku ruang dengan hoby ku.
Ada tamu datang, cucu dari kakek Marno.
"Permisi... " Ucap Brian.
"Iya.. mari masuk, terimakasih sudah datang." Kataku dengan tanggap.
"Iya Bang." Jawab Brian.
"Silahkan duduk." Kataku sambil kebelakang membawa minuman gelas dan beberapa camilan.
"Wah.. jadi repot bang." Ucap Brian sambil tertawa.
"Gak kok, ayo silahkan ngobrol santai sambil nyemil." Kataku sambil membuka tutup kue.
"Kenalin dulu bang, ini teman saya Djiwa." Kata Brian dan kami langsung bersalaman saling mengenalkan diri.
"Nama yang cantik." Ucapku tanpa sadar.
__ADS_1
"Iya bang terimakasih, Ibu saya yang memberikan nama itu." Jawab Djiwab sambil tersenyum dan mengambil kue dan aku tersenyum balik karna dia satu-satunya wanita yang tidak pemalu langsung mengambil apa yang di tawarkan.
Kami ngobrol tentang tanah dan aku akan mempersiapkan surat-surat dan segalanya. Saat obrolan kami selesai, Ayah datang dan menyapa Brian dan Djiwa. Kaget juga ternyata Ayah mengenalnya.
"Halo juga om, om apa kabar?" Tanya Djiwa seolah sudah saling kenal.
"Baik-baik aja om. Gimana kabar pamanmu nak?" Tanya Ayah.
"Sudah tidak berurusan dengan paman lagi om semenjak saya diusir dari rumah nenek." Jawab Djiwa dengan tegas serta sedih diraut wajahnya.
"Tega betul pamanmu. Itu karna pengaruh wanita licik yang baru dinikahinya. Terus sekarang tinggal dimana?" Tanya Ayah dengan wajah yang kesal.
"Iyaa mau gimana om, sekarang ngalah aja toh emang nenek dulu hanya secara ucapan saja memberikan rumah itu tidak tertutulis juga. Padahal paman juga dengar paman malah diwariskan kebun salak serta rumah dikebun itu tapi habis terjual karna istrinya. Sekarang saya tinggal di ruko tempat kedai kopi saya om." Jawab Djiwa menjelaskan situasinya.
"Astaga nak, om sedih mendengarnya. Padahal Bapakmu dulu sangat memanjakan adiknya, kini sudah tidak ada orangtua yang mengingatkannya." Kata Ayah dengan prihatin.
"Om turut berduka cita nak, Bapakmu dulu sangat pintar berdagang dia marketing om yang hebat meski lebih muda tapi dia telaten dan dewasa bahkan karna dia ditinggal Ibumu dia tetap setia dan tidak menikah lagi. Berkat dia om juga jadi berpikir seperti itu dan hidup untuk anak-anak om." Ucap Ayah sambil mengingat masalalu.
"Iya om. Terimakasih banyak." Ucap Djiwa.
"Oh iya terimakasih juga Kek Marno mau menjual kebunnya ya Brian." Kata Ayah dan mengobrol masalah pertanahan lagi.
Ayah mengajak berkeliling ke belakang rumah dan menunjukkan anjing penjaga rumah pada Brian karna dia penasaran sekali dengan anjing. Djiwa senang karna halaman belakang sangat luas dan baru tau ada kolam renang yang membuat Djiwa ingin berenang. Sebelum mereka pamit pulang Ayah meminta Djiwa untuk tinggal di depan rumah kami di seberang jalan ada rumah kami yang kosong meminta tolong pada Djiwa agar mau mengisi dan merawat rumah itu. Tapi Djiwa menolak karna sungkan tiba-tiba diminta menempati rumah.
__ADS_1
Ayah bersikeras untuk Djiwa menempati rumah itu, karna itu termasuk rumah kecil dan tua yang harus dirawat karna itu rumah yang dibangun oleh Ibuku karna hoby menanam dan menjadikan rumah itu tempat santai untuk Ibu dan berbagai tanamannya. Ayah memberikanku kunci dan menyuruh besok menjemput Djiwa dan membantunya pindah.
Djiwa tidak bisa menolak lagi dan mengiyakanya, Aku juga tak pernah menemui wanita setangguh dan seberani ini, hidup sendirian dan bisa berjualan kopi.
Setelah mereka berdua pamit pulang, Aku melihat Mahdi dibalik jendela.
"Kenapa ngintip gitu?" Kataku mengagetkannya.
"Duh bang, ngagetin aja." Ucap Mahdi sambil mengelus dadanya.
"Napa sih?" Kataku lagi.
"Ngapain mereka tadi?" Tanya Mahdi.
"Ngurusin kebun, emang kau kenal?" Tanyaku.
"Mereka temen SMA ku." Jawabnya.
"Lah.. ku pikir SMA mu gapunya temen, orang sama Jani mulu kemana-mana." Ucapku meledek.
"Iya sih... bang aku mau balik kerja nih, bagi duit dong" Kata Mahdi seperti biasa dari dulu selalu minta uang jajan.
Mahdi pamit balik ke kota sebelah dengan mobil tua milik Ayah dengan banyak sekali hasil kebun yang dibawa untuk oleh-oleh di kantornya.
__ADS_1
Ayah melamun sambil memandang foto keluarga yang terpajang di ruang keluarga, sedangkan aku meminta mbok Nari untuk membuatkan jus untuk Ayah lalu aku pergi mengurus berkas-berkas pembelian kebun.
......................