Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Janji Galuh


__ADS_3

Semalaman Aku tidak bisa tidur, karna memikirkan perjodohan ini. Tak ada rasa cinta dan sayang, apakah bisa berakhir dengan baik jika menuruti apa kata orangtua. Padahal sudah tidak jaman hal-hal seperti ini.


Aku tidak tau nomor Hp Djiwa tapi aku ingat ada telfon rumah disana. Aku menelpon dan semoga diangkat.


"Halo Djiwa.. "


"Iyaa? Siapa?" Tanya nya.


"Ini Galuh, maaf telfon malam-malam." Jawabku.


"Ih.. Bang Galuh, kaget tau malam-malam ada suara dering telfon." Jawabnya marah.


"Maaf yaaa.. tapi ada yang menggangu pikiranku." Kataku meminta maaf lagi, mungkin dia marah karna takut.


"Kenapa Bang?" Tanya nya dengan nada penasaran.


"Apa kamu gapapa nikah tanpa rasa gini?" Tanyaku langsung point nya.


"Hmmm... Gapapa sih, Bang Galuh ganteng, kaya dan kekar, baik banget lagi. Itu udah cukup untuk ngelindungi aku kan? iya kan? kalau masalah rasa inget aja kata orang dulu cinta datang karna terbiasa." Jawabnya dengan tenang dan slengekan.


"Wah aku tak sebaik itu, keknya aku orang yang kaku." Kataku memberikan pengertian.


"Iyasih terkesan dingin dan serem, tapi baik." Sautnya.


Kami bercerita kalau Ayah sudah menyiapkan pesta pernikahan dan semua keperluan nikah tanpa aku boleh ikut campur. Bahkan undangan sekalipun. Karna sudah larut aku menutup telfonnya dan bersiap tidur. Dalam hatiku aku berjanji akan menjaganya karna mungkin kedua Ibu kami bersahabat dimasa lalu atau entah apa yang dipikirkanya jaman dulu.


Pagi-pagi Djiwa datang dan membawa makanan untuk ku dan Ayah, tapi dia langsung pulang lagi karna mau ke pasar membeli keperluan kebun kaktusnya yang akan dijual. Aku mewarkan mengantarnya tapi dia gak mau karna akan langsung ke kedai dan aku juga ada urusan lain.


Ayah memintaku menyebarkan undangan pernikahan dan memberitahu keluarga kalau minggu depan akan menikah, menurutku itu sangat cepat sekali, tapi Ayah bersikeras agar menjalankan saja karna sudah ingin menimang cucu.


"Halo.. Mahdi.. " Kataku telfon.


"Napa Bang?" Jawabnya.


"Minggu depan bisa pulang?"

__ADS_1


"Gila aja pulang, kemarin juga baru pulang." Jawabnya ketus.


"Aku nikah." Kataku tegas.


"Hah? serius?" Ucapnya kaget.


"Iya. Dateng atau gak terserah."


"Buset, napa dadakan banget. Siapa yang kau hamili?" Tanyanya tapi karna ada suara guntur aku tak mendengar bagian yang kau hamili.


"Djiwa" Jawabku singkat.


"Apa?? Bangsat! Kurang ajar ya kau bang." Ucapnya marah-marah.


"Paansih, serahmu kalau gak dateng." Kataku langsung menutup telfonnya. Kenapa dia tak terima aku nikah sama Djiwa, Aneh.


Jam 8 malam ku lihat Djiwa pulang kerumah dengan banyak barang yang dia bawa. Tak lama dia keluar lagi membawa banyak kotak paket, mungkin itu orderan kaktusnya. Aku keluar dan ingin mengantarnya pakai mobil agar dia tak kesulitan.


"Bang.. makasih yaaa." Katanya sambil tersenyum.


"Iya... teman-temanku pada kaget dan heboh. Bahkan si Mahdi juga aneh langsung hubungin DM nya kopi Djiwa segala." Jawabnya.


"Mahdi kan suka kamu, aku merasa berkhianat pada adek sendiri." Kataku.


"Menikah dengan abang sahabatku rasanya deg-deg an. Abang gausa mikirin Mahdi dia kan sama Jani dah cocok banget." Ucapnya sambil memegang bahuku.


Ucapanya membuatku tenang dan akhirnya setelah selesai mengantar paket aku mengantarnya pulang dan membantunya menanam berbagai macam anak kaktus. Dia bertanya siapa yang merawat tanaman ini dan aku yang merawatnya karna sering sekali membantu Ibu dirumah ini, bahkan Ibunya Djiwa juga sering main kemari dan mengendongku. Mendengar cerita itu Djiwa sedih dan terharu lalu memelukku seakan dia memeluk Ibunya.


"Bang... mungkin abang adalah hal terakhir yang Ibuku beri untukku." Kata Djiwa.


"Mungkin begitu." Jawabku sambil memeluknya kembali.


Saat aku berusaha menenangkan tangisanya dalam pelukanku, tiba-tiba mahdi datang dam mendorongku menjauh dari Djiwa.


"Tega kali kau hamilin Djiwa, bang... " Katanya dengan lantang.

__ADS_1


Aku dan Djiwa saling menatap bingung dengan ucapanya, lalu Djiwa tertawa terbahak-bahak.


"Emang kenapa hah? aku senang akan punya anak." Jawab Djiwa dengan suara keras.


"Gilaaaa ya kalian hah. Bisa-bisanya ngelakuin itu." Ucap Mahdi shock.


"Pergi kau, bikin heboh malam-malam. Aku mau bermesraan dengan abangku sayang." Kata Djiwa sambil mendatangiku dan memelukku.


Mahdi masih marah dan berceloteh banyak hal menendang kursi dan pergi keluar. Aku bertanya kepada Djiwa kenapa melakukan itu, tapi jawabnya hanya biar seru aja. Aku pamit pulang tapi dilarang oleh Djiwa karna Mahdi ada dirumahku. Djiwa memintaku menginap dan tidur di sampingnya agar dia bisa tidur dengan nyenyak. Tapi aku menolak karna ini bahaya dan belum menikah, tapi Djiwa memaksa dan dijadikanya lenganku untuk tidur. Membuat jantungku berdetak lebih kencang dan merasa tidak nyaman akhirnya aku meminta agar aku tidur dikamar sebelah.


Aku tidur dan saat bangun ,aku kaget Djiwa tidur disampingku. Dia juga membuka mata dan tersenyum.


"Selamat pagi abang... " Ucapnya.


"i.. i.. iya pagi." Kataku terbata-bata.


Terdengar suara ketukan pintu, ternyata Mahdi dan Ayah yang datang dan baru kali ini ternyata aku bangun kesiangan.


"Kalian tidur bersama?" Kata Ayah sambil duduk di sofa kayu.


"Iya Om. Kami harus lebih mengenal dan menumbuhkan cinta." Jawab Djiwa sambil menata rambutnya.


"Gilak ya kau Djiwa, gak nyangka aku kau kek gini." Kata Mahdi marah-marah.


"Emmm.. bukan begitu Yah, tapi.." Kataku belum selesai berbicara sudah dipotong.


"Baiklah, setelah menikah tugasmu memperbesar bangunan rumah ini, agar bisa nyaman untuk istri dan anakmu." Kata Ayah seakan tau kalau kami mengerjai Mahdi.


"Yah tapi kan... " Kata Mahdi.


"Stop, balik sana bekerja. Ayah mau kerumah Pak Bari dulu." Kata Ayah sambil berlalu pergi.


Djiwa menyuruhku mandi dan akan memindahkan barang-barangku kerumah ini. Dia juga minta maaf karna bangun kesiangan belum memasak. Aku hanya bingung karna tak terbiasa dengan situasi ini. Lalu Djiwa mengajak mahdi membantunya memindahkan barang-barangku.


......................

__ADS_1


__ADS_2