
Aku menikmati pantai dengan tenang, berpakaian cantik bunga-bunga yang jarang sekali ku kenakan. Karna aku hanya memakai pakaian dengan 1 warna saja tak pernah seramai ini. Terkadang juga aku pergi sendiri untuk memotret, karna bang Galuh sibuk dengan pekerjaan nya. Berbelanja sendiri, makan sendiri, semuanya sendiri.
Aku tahu, mungkin bang Galuh yang baik itu belum bisa mencintai ku, bahkan tak ada nafsu terhadap ku, badan kekar nya itu mungkin hanya suka dengan tubuh yang seksi. Ini membuatku sedih dan kepikiran. Membuat ku tidak nyaman dan ingin pulang saja tak perlu melanjutkan perjalanan jika semuanya ku nikmati sendiri.
"Bang... aku ingin berbicara". Kata ku serius.
"Iya... bicara aja". Ucap nya sambil menatap tablet milik nya.
"Kalau istrinya ngomong, bisa gak dengerin dan tatap baik-baik". Kata ku kesal.
"Hmm... iya-iya, ada apa ?". Jawab nhya ketus, langsung menutup tablet dan melihat ku.
"Aku mau pulang aja, bang". Ucap ku.
"Kenapa? ". Tanya nya enteng seakan tak menyadari nya.
"Ini kan bulan madu kita, tapi hanya aku yang jalan sendirian, makan sendirian, semuanya sendiri. Kamu hanya di kamar dengan kerjaan mu. Aku bosan, aku mau pulang dan bahkan kamu gak menyentuh ku sama sekali". Ucap ku meledak-ledak.
"Oke, nanti kita pulang". Jawab nya sambil membuka tablet dan melanjutkan pekerjaan nya.
Aku sangat marah, dia tak menyangah apapun ucapan ku dia hanya menerima apa yang aku mau, tak ada argumen tak ada perdebatan. Ini semakin membuat ku kesal dan emosi. Sedangkan dia tenang dan santai sekali. Lalu aku mengemasi semua pakaian ku dan pakaian nya, dan menunggu dia siap untuk pulang. Sementara aku ngopi di kedai pinggir pantai sendirian sampai membuat ku tenang dan berusaha memahami nya.
Harus kah rumah tangga ku ini ku ceritakan pada teman-teman. Aku ingin ada tempat untuk bercerita. Sangat melelahkan dan menghabiskan energi ku.
Di perjalanan pulang, bang Galuh hanya diam sambil menikmati lagu di mobil. Padahal aku sangat kesal tapi semakin kesal jika aku marah sendirian dan tak di anggap. Bagaimana ada lelaki seperti ini sih. Aku hanyut dalam pikiran ku sampai tertidur. Bangun-bangun aku sudah ada disuatu tempat seperti hutan daratan tinghi karna aku bisa melihat banyak lampu di bawah, aku mencari bang Galuh ada di mana kenapa dia tak membangunkan ku. Ternyata dia sedang memasang tenda dan membuat perapian.
__ADS_1
"Bang, ini dimana? bukan kah aku meminta pulang". Kata ku bertanya.
"Sebelum pulang, malam ini kita harus berlama di sini". Jawab nya sambil memanaskan air di poci.
"Angin nya kencang dan dingin". Ucap ku sambil mengosok-gosok kan tanggan.
"Masuk lah ke tenda, ada selimut di dalam". Jawab nya tenang.
Aku masuk dan mendapati suasana yang tenang di dalam tenda, ada juga buku yang di baca bang Galuh. Aku mengambil selimut dan kembali keluar, membantu menyeduhkan coklat panas dan membakar marshmallow seperti Spongebob dan Patrick. Ini sangat menyenangkan. Kami berdua duduk di dekat perapian menghangatkan diri, lalu bang Galuh merapikan rambutku yang menari-nari terkena angin, suasana ini sangat romantis menurutku karna aku tak pernah merasakan camping. Aku sangat bahagia.
"Kamu lapar? " Tanya bang Galuh.
"Iya... perut ku bunyi". Jawab ku malu, karna perutku seperti bernyanyi.
"Aku buatkan roti bakar yaaa". Ucap nya dengan suara yang merdu.
Bang Galuh menyiapkan roti dengan olesan Nutella dan membakar nya, tapi gosong. Itu membuat kami tertawa bersama sambil menikmati moment ini, tak lupa aku juga memotret moment ini dan berfoto bersama, sangat indah dan membuat haru. Sampai akhirnya ngantuk dan tidur dengan lelap.
Ternyata hujan yang membuat malam semakin dingin, suara berisik hujan seakan membuatku takut tenda ini hancur karna hujan yang deras, sedangkan ku lihat bang Galuh tidur dengan nyenyak, apakah bang Galuh sudah biasa seperti ini. Aku memeluk bang Galuh dari belakang, mencium aroma tubuh yang harum parfum nya enak dan menenangkan, sampai aku tertidur dan terbangun. Ku lihat bang Galuh sudah tak ada dalam pandangan ku. Aku keluar dari tenda, sangat dingin dan berembun aroma tanah yang enak dan menyegarkan.
"Sudah bangun? ". Tanya nya.
"Iya bang, dingin sekali. Berapa derajat ini? ". Tanya ku sambil memeluk diriku sendiri.
"Kira-kira 16° , aku akan mengemasi tenda dan kita mencari sarapan di bawah sana ya". Jawab nya sambil membersihkan barang-barang.
__ADS_1
"Iya bang, aku bantu ya". Ucap ku sambil membantu bang Galuh sambil kedinginan.
Setelah usai, aku melihat hasil foto yang aku potret sangat indah dan cantik, aku sangat menyukai nya. Aku bersin-bersin karna kedinginan sampai akhirnya kami makan di warung sederhana dan memesan kopi yang membuat tubuhku kembali hangat. Tapi entah mengapa aku merasa aku demam dan pusing, tapi aku tidak bilang bang Galuh karna tak ingin dia khawatir.
Sesampai nya di rumah, bang Galuh memasuk kan barang-barang dan aku mencuci baju-baju kotor. Bang Galuh memasak, aroma rempah-rempahan sangat harum. Padahal aku hanya bisa masakan sederhana, tapi bang Galuh memasak dengan banyak rempah-rempah yang membuat lapar. Selesai mencuci aku menyirami tumbuhan di belakang, sambil ku lap satu demi satu daun-daun sampai mengkilap sambil bercerita dengan tumbuhan, katanya kalau kita mengajak tumbuhan ngobrol, dia akan tumbuh dengan baik. Selama aku pergi yang mengurus pekerjaan ku Brian dan Sasi mereka berdua sangat baik, aku bersyukur mempuanya mereka. Aku yang hanyut dalam pikiran ku, terkaget saat bang Galuh memanggil ku untuk mencoba makanan nya.
"Emmm... ini enak banget abangggg". Kata ku sambil mencari piring dan menambahkan nasi.
"Enak kan? itu masakan kesukaan ibu ku, beliau mengajari ku berbagai macam hal". Jawab nya sambil mengenang masa lalu.
"Ibu sangat baik ya, dan pandai mengurus anak-anaknya". Jawab ku sambil makan.
"Iya... Aku ingin punya istri seperti beliau, sangat tenang dan teduh. Dulu beliau primadona kampung ini". Kata nya sambil memperlihatkan foto ibu nya sewaktu muda.
"Ini sih bak model banget, sudah putih dan tinggi pula. Cantik sekali". Kata ku terkagum, tapi aku juga bukan wanita yang tenang dan teduh, aku kan wanita yang membuat gaduh. Mungkin karna itu bang Galuh tidak menyukai ku.
"Iya.. Ayah ku sangat mencintai nya, padahal ayah ku adalah playboy kampung dimasa nya". Jawab bang Galuh sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana akhirnya mereka menikah, bang? ". Tanya ku penasaran.
"Mereka menikah karna ayah ku terus-terusan mendekatinya, sampai ibu bosan dan menyerah". Kata bang Galuh bercerita.
Kami lanjut bercerita banyak hal tentang masa lalu ayah dan ibu nya, sampai aku juga nambah makanan karna terlalu enak sampai kekenyangan, lalu aku tertidur karna ngantuk sekali.
Honeymoon ku walau tak di isi selayaknya honeymoon tapi aku sangat menyukainya walau hanya sebentar.
__ADS_1
......................