
Entah harus bagaimana menjalani peran sebagai figur suami, tak terbayangkan bagaimana rumitnya rasa ini. Di sisi lain aku tak memiliki rasa apapun pada Djiwa, tak memiliki emosi bahkan perasaanku biasa saja, hasrat dan napsu pun kosong. Lantas harus seperti apa aku ini menghadapi Djiwa yang sangat agresif ini. Apakah aku harus jujur saja jika aku kurang nyaman dengan nya yang selalu mendekat padaku?.
Tiba-tiba ayah datang menanyakan kenapa bulan madunya cepat sekali dan menanyakan kemana Djiwa. Ayah sangat kesal mengapa bulan madu berlangsung dengan cepat dan mengapa Djiwa malah bekerja bukan istirahat dan lebih saling mengenal dengan suaminya. Aku hanya diam saja mendengarkan ayah mengomel sampai selesai dan pulang. Banyak kerjaan ku yang menumpuk dan berhubungan dengan para pembeli dan penjual tanah.
Sampai akhirnya konsentrasi ku di ganggu oleh Mahdi yang curhat tentang finansial, ya memang akan susah, mengingat Jani dari keluarga yang mampu dan Mahdi memilih bekerja sesuai passion nya. Memang tidak salah, bebas saja, kan mulai dari 0. Tetapi apakah Jani mau hidup cukup bukan lebih, mendengar curhatan itu semakin membuatku pusing, sedikit-sedikit ku beri kerjaan yang bisa saja aku kerjakan sendiri, ini hanya cara ku membantunya tanpa dia berprasangka buruk.
Aku bekerja survey tanah dan menemui client sampai tidak sadar sudah jam 10 malam, saat ku lihat hp sudah banyak notifikasi dari Djiwa yang khawatir aku dimana dan tidak ada kabar, hanya saja aku tak biasa mengabarinya. Aku hanya membalas pesan nya kalau aku akan segera pulang dan tidur duluan saja.
Sesampainya dirumah, ternyata Djiwa belum tidur, dia masih packing kaktus-kaktus nya, dia menawariku makan malam tapi aku sudah makan. Aku mandi dan langsung tidur karna kelelahan. Saat subuh aku bangun lebih dulu dan menemui ayah mendiskusikan tentang Mahdi sambil olahraga di halaman belakang rumah ayah. Terdengar hp ku berdering dan Djiwa menelpon bertanya dimana keberadaan ku dan aku menjawab aku sedang berolahraga di rumah ayah, tak lama dia datang dengan raut muka yang sedih.
"Abang... dari kemarin kita tak bertemu" Katanya sambil menghela napas.
__ADS_1
"Ketemu kok". Jawab ku singkat.
"Iyaaa... tapikan gak ngobrol". Jawab nya.
"Harus yaa? toh sibuk masing-masing". Jawabku dengan muka datar.
"Iyaa... maaf ya bang, aku sebagai istri belum bisa mengabdikan diri full untuk suami". Jawabnya sedih.
"Loh.. gapapa aku support kerjaanmu kok. Santai aja lah, emang sibuk masing-masing". Jawab ku berusaha menenangkan nya.
"Iya.. ". Jawab ku sambil melihatnya berlalu di depanku.
__ADS_1
Saat aku sudah selesai olahraga aku minum susu yang disiapkan mbok Nari, setelah itu langsung pulang yang hanya berjalan beberapa langkah dari rumah ayah. Ketika masuk rumah aroma sayur sop sudah harum tercium, saat ke dapur, Djiwa memasak sayur sop dengan perkedel dan tempe serta sambal yang terlihat enak. Aku langsung menyantapnya karna lapar dan rasanya enak.
"Gimana bang? enak? " Tanya nya.
"Enak... ". Jawab ku sambil mengunyah makanan.
"Habis ini aku mau nganter paket terus langsung ke kedai ya bang". Ucapnya dengan nada seperti meminta izin atau mengabari.
"Iya.. hati-hati. Pakai aja motorku" Jawab ku sambil memberinya kunci motor.
"Iya bang, makasih". Kata nya seperti ada bahasan yang dia utarakan tapi tak diucapkan.
__ADS_1
Aku langsung mandi dan Djiwa sudah berangkat mengantar paket. Aku lupa seharusnya aku mendiskusikan dengan Djiwa bagaimana baiknya bisa nyaman di rumah tapi aku lupa karna aku harus bergegas ke luar kota.
......................