Journey Into Your Heart

Journey Into Your Heart
Rela


__ADS_3

Saat datang kembali ke kampung halaman, dalam perjalanan membayangkan bang Galuh dan Djiwa yang sedang bermesraan, membuatku hancur dan terluka dengan imajinasi ku sendiri. Apalagi aku harus menemui Ayah dan keluarga dari Jani untuk meminta izin bertunangan dengan nya dengan janji menikahi nya.


Sangat berat dan menjadi beban, karna aku belum memiliki rasa terhadapnya. Bahkan dia juga mempertanyakan situasi kelak setelah menikah, aku hanya asisten penulis yang gaji nya sedikit, sedangkan aku menikahi wanita dengan background keluarga kaya. Dia pun tak ingin hidup sengsara dengan ku, cukup pun tidak cukup baginya. Aku bersikap keras terhadapnya untuk menutupi kelemahan ku.


Setelah acara pertemuan keluarga, entah rasa nya sangat sesak dan kehilangan energi. Aku baring ke kamar menatap langit-langit kamarku sampai akhirnya Ayah datang masuk kamar ku.


"Mahdi... apa rencana mu selanjutnya? bagaimana dengan keuangan? ". Kata nya langsung to the point, membuat ku kesal saja Ayah ini.


"Yaa begitu yah, mau gimana lagi, entar aku cari kerja tambahan". Jawab ku kesal.


"Ada 1 rumah yang bisa ayah beri padamu, entah itu mau di tinggali atau di kontrakkan, atau bahkan kamu rombak di jadikan kos-kosan untuk tambahan keuangan mu". Kata ayah seolah membantu ku.


"Makasih ayah, tapi aku gabisa terima itu". Jawab ku singkat.


"Loh, harus dong. Ini kado dari ayah dan ibu mu". Jawab ayah dengan tegas.


"Hmmm... yaa terserah ayah aja". Jawab ku singkat karna tak ingin bertengkar.


"Yaudah, kamu istirahat aja, besok pagi kan balik". Kata ayah mengingatkan.


"Iya yah, makasih". Seru ku.


Rasa muak dan sesak seakan tak punya pilihan lain, tapi aku sebagai lelaki harus memegang setiap ucapan ku, entah aku sedang galau dengan menjadikan nya pelampiasan atau aku memang sadar bahwa selama ini hanya ada Jani di sampingku.

__ADS_1


Arghhhhh...


Ini membuatku emosi dan sangat kesal. Bagaimana bisa aku menerima semua ini dengan tabah, padahal aku teramat hancur dan perih. Apa yang harus aku lakukan, aku harus mencari pekerjaan tambahan untuk sementara. Ku seaching pekerjaan freelance dan apply cv kebanyak tempat, sampai tak sadar sudah pagi dan aku tidur sebentar sampai akhirnya kembali ke kontrakan dan bersiap ke kantor.


Di kantor.


"Kenapa kau di? ". Tanya Nindi si marketing.


"Gapapa mbak, lagi kesal aja". Jawab ku sambil lanjut mengetik karna bayaran ku adalah tiap kata.


"Kenapa? coba ceritain". Tanya nya seakan memaksa.


"Aku mau tunangan mbak". Jawab ku singkat.


"Lagi bingung cari freelance an mbak, buat tambahan". Jawab ku tanpa menengok sama sekali ke Nindi.


"Hmm.. iyasih, agak berat yaaa depan monitor terus sambil mikir banyak hal". Jawab nya seolah mengejek.


"Iya! " . Jawab ku singkat dan berusaha mengakhiri perbincangan ini.


"Mau gak kerja tambahan nya jadi pacar pura-pura ku, ke nikahan mantanku". Ucap nya menawarkan.


"Aku nih mau tunangan, malah jadi pacar pura-pura, gak deh, makasih tawaran nya". Ucap ku mengakhiri perbincangan lalu pergi ke pantry untuk membuat kopi.

__ADS_1


Semakin kesal saja aku dengan Nindi nih, mau bayar berapa juga jadi pacar pura-pura.


"Mas... permisi yaaa, saya mau bikin kopi". Kata OB yang mungkin sedari tadi menunggu ku melamun di depan tempat kopi.


"Oh maaf pak, saya melamun". Jawab ku dan duduk di meja makan kecil.


"Kenapa mas? saya lihat kok mas mukanya kosong gitu". Tanya nya.


"Gak pak, saya lagi banyak pikiran aja". Jawab ku.


"Memang kita semakin dewasa seakan semakin rumit masalah demi masalah, jangan lupa berdoa mas, nanti akan ada jalan baik". Jawab nya sambil pamit mau mengantar kopi pesanan bos.


Memang benar sih, aku terlalu over thingking dan tidak jelas. Aku kembali ke meja ku dan menyelesaikan pekerjaan ku dengan cepat dan banyak, agar penghasilan bulan ini bertambah, aku juga harus mendapatkan pekerjaan freelance atau aku cari kerja part time sekalian saat malam agar aku lupa dengan pikiran-pikiran buruk ku.


Ada telepon dari bang Galuh.


"Halo bang... ". Ucap ku.


"Tolong bantu aku ngurus berkas yaaa... aku kirim email mu, entar ku kasih persenan". Kata nya yang seakan berkata, aku sibuk honeymoon, ada kerjaan mendesak dan gabisa ku urus, urusin yaaaaa!. Harusnya dia ngomong kek gitu aja.


"Oke, ku tunggu email nya". Jawab ku dan langsung ku tutup telepon nya karna teramat kesal.


Entah mengapa aku sangat tempramen sekali kenapa aku gabisa jadi laki yang cool dan santai. Buat mood ku hilang saja.

__ADS_1


......................


__ADS_2