
Aku meyakinkan diri dan berusaha keras kalau aku harus melupakan Djiwa dan membuka hati untuk Jani yang rela menunggu dan terus ada bersamaku selama ini. Aku tak percaya hal ini dan proses ini akan aku rasakan, karna selama ini aku tak pernah peduli pada Jani sedetik pun.
Ku kirim Kaktus sebagai tanda bahwa dia mampu bertahan dan kuat di tanah yang gersang dan aku berterimakasih atas hal itu. Rasanya ada perasaan baru di hati bahwa selama ini aku ada yang mencintai dan ada seseorang bersama ku yang tak pernah sadar ini.
Rasanya cukup mengasyik kan dengan menantang diriku untuk membuka hati dan membuatnya masuk kedalam kehidupan ku ditahap lebih dalam lagi. Aku juga sudah tak memiliki rasa yang menggebu terhadap Djiwa karna dia milik abang ku, tapi jika aku hanyut aku bisa saja mengambil Djiwa lagi, tapi itu takkan terjadi karna aku menjaga perasaan semua orang.
Aku berencana pulang menemui ayah untuk merestui pekerjaan ku dan mendoakan ku banyak rejeki, aku sedikit takut apakah ayah akan marah seperti biasanya atau ayah bersikap baik karna aku mau menuruti permintaan nya untuk tetap bersama Jani.
"Mahdi, kamu weekend dateng ya ada perilisan buku" Ucap bos yang seakan bernada ini adalah kewajiban.
"Tapi bos, saya ada keperluan keluarga, bolehkah saya izin? " Tanya ku.
"Tidak bisa! wajib datang semuanya". Ucapnya sambil berlalu pergi.
Membuat ku emosi dengan hal ini, memang perusahaan ini adalah terbilang kecil, mungkin jika aku berkuliah aku bisa ada di perusahaan besar, tapi aku tak boleh berkecil hati. Aku harus tabah dan sabar agar aku bisa meraih mimpi ku tapi jika diingat aku akan bertunangan dan menikah, membuat mimpi ku seakan jauh, karna entah apa yang akan terjadi kedepan nya. Apakah akan baik-baik saja atau malah menjadi huru-hara.
__ADS_1
Aku pulang ke kontrakan dan langsung tertidur karna kepala ku sangat pusing dan demam, mungkin aku sakit. Aku mengabari Jani kalau aku sakit, ternyata dia heboh sekali dan otw ke kontrakan ku, apakah segitunya dia mencintaiku?.
Jani sampai di kontrakan jam setengah sebelas malam, perjalanan cukup jauh dan melelahkan dia tempuh untuk merawat ku. Dia membawa banyak obat-obatan dan makanan, karna aku deman dia mengompres kepala ku, disuapinya aku makanan lalu memberikan ku obat penurun demam dan kepala. Mungkin bagiku ini terbilang lebai, padahal aku dulu sering seperti ini, hanya dengan makan dan banyak minum lalu tidur, besok paginya sudah sembuh. Tetapi entah mengapa aku ingin sekali ada seseorang yang merawatku di kala sakit.
"Kak.. kakak tidur aja di kamar, biar aku tidur di ruang tamu". Ucap Jani sambil mengelus kepalaku.
" Kau gapapa kan? ambil selimut dilemari, sama bantal ini" Kata ku.
"Iya kak, aman kan di depan ada kasur busa". Jawabnya sambil tersenyum kelelahan karna perjalanan jauh.
"Kak, Jani mulai coba-coba bikin kue, ini aku bawain brownies, kakak coba deh yang manis-manis biar lidah gak pahit". Ucap nya sambil menyuapi ku brownie.
" Emm.. enak banget, kok kek di bakery mama mu". Ucap ku karna rasanya mirip, tau persis karna kantor ku langanan roti-roti buatan jank bakery.
"Iya kak, mama yang bantuin soalnya, aku bikin berkali-kali gagal... hehehe" Ucap nya sambil tertawa manis.
__ADS_1
"Tapi kenapa bakery nya di namain jank bakery? " Tanya ku penasaran.
"Diambil dari Jani jadi jan dan k nya itu nama mama dan nama belakangnya papa". Jawab nya sambil ngemil brownies nya.
" Iyakah? " Tanyaku.
"Iyaaaa.. nama mama kan kikan terus nama papa kalim, jadi kek disingkat gitu jadi satu kesatuan". Jawabnya ceria.
" Tapi apakah pagi ini kita sarapan brownies aja? ". Tanya ku.
" Iyaaa... aku masak nasi ya kak, terus aku coba bikin sayur". Jawab nya panik dan tergesa-gesa.
Aku tahu dia tak pandai memasak, dia kan semua serba ada dan instan jadi ya begini, tapi entahlah mungkin dia juga sedang belajar kelak jika berumah tangga harus bagaimana. Selesai memasak aku makan masakan Jani yang entah enak atau tidak karna memang lidah ku tak merasakan apapun, Jani malah senang karna semua makanan akan terasa pahit tapi kata Jani rasanya memang hambar.
Kita ketawa-tawa dengan rasa sayur ini, dan menanak nasi yang bagaikan bubur. Jani berjanji akan terus belajar biar ga kalah sama aku yang pinter masak.
__ADS_1
......................