
"Tuan saya mohon, tolong bawa dia bersama anda," Wanita paruh baya yang sedari tadi menggandeng tangan mungil seorang anak kecil, memohon pada pemuda tampan nun dingin.
"Untuk apa saya membawa dia, saya masih muda. Apa kata orang-orang nantinya kalau tiba-tiba saja membawa anak ini bersama saya?!" Pemuda itu menjawab kesal padanya.
"Bilang saja ini keponakan anda Tuan."
"Tidak bisa semua orang tau saya hanya mempunyai satu keponakan!" Jawabnya ketus.
Apa-apaan ini?
"Kalau begitu berikan marga anda padanya Tuan, saya mohon." Wanita itu masih saja memohon, ia harus segera pergi setelah membuat anak digandengannya ini aman.
Pemuda itu hanya mendelik horor saat mendengar tuturan wanita paruh baya itu, sebelum akhirnya menjawab.
"Tidak sudi!"
Tapi percuma karena sekarang wanita itu telah pergi meninggalkannya berdua dengan seorang bocah tak tahu asal usulnya.
Ia tidak peduli dan mulai melangkah menjauh dari tempat itu menuju ke mobilnya, tapi suara lirih seseorang membuatnya berhenti seketika.
"Daddy, mau mana?" Tanyanya sembari mengerjab polos.
Namun pemuda yang ia panggil Daddy barusan tetap diam di tempatnya, memunggungi.
Melihat Daddy nya mulai melangkah lagi balita mungil itupun berlari dan memeluk kaki jenjang milik pemuda itu.
"Jangan tinggal Taetae hikss... Taetae tatut."
Dan akhirnya pemuda itu hanya bisa bergeming sebentar lalu membukakan pintu bagi si kecil dan setelahnya pergi meninggalkan tempat itu menuju Mansion nya.
Berhenti sejenak untuk memasangkan pengaman agar si kecil aman, ia tak peduli bukan berarti ia tak punya hati.
...
Mobil Audi putih berhenti tepat di garasi sebuah Mansion mewah.
Tuan Jeon, atau Jeon Jungkook nama pemuda itu keluar dengan diikuti sesosok bocah kecil menggemaskan, walaupun dengan badan kotor.
Saat kakinya menapaki lantai marmer dengan indah, masih diikuti dengan bocah kecil yang kerap sekali memanggil dirinya sendiri Taetae.
Semua maid yang ada di sana menunduk hormat pada sang pemilik Mansion.
Walau diikuti dengan raut wajah heran, bagaimana bisa Tuan mereka membawa seorang anak kecil.
"Tolong antarkan dia ke kamar keponakanku, biarkan ia tinggal di sana bersamanya."
Sebelum tungkainya melangkah lebih jauh lagi, Jungkook berbalik lagi.
"Jangan lupa mandikan dia dan tolong satu orang belikan dia baju untuk dipakai sehari-hari," setelahnya Jungkook memberikan kartu hitamnya pada salah satu pelayannya.
Satu orang pelayan wanita menggandeng tangan mungil sosok Taehyung menuju ke arah kamar sang keponakan Tuannya.
Sesampainya di sana ia langsung membawa anak itu ke kamar mandi.
Selesai memandikan, wanita itu mengambil baju Tuan mudanya.
Mengambil baju paling besar dari lemari keponakan sang Tuan, lalu memakaikannya pada si kecil.
"Nah sekarang anda sudah rapih Tuan muda, apakah kau lapar?" Taehyung mengangguk malu-malu saat ditanyai lapar.
"Baiklah ayo saya gendong sampai ke ruang makan."
Di sana sudah ada Jungkook dengan Jimin yang berada dipangkuannya manja.
Rupanya bocah lucu itu berada di ruangan Pamannya sedari tadi, karena menunggu.
Bibi Lee, pelayan tadi mendudukkan Taehyung di samping kursi Jungkook.
"Ciapa kau?" Tanya bocah imut berpipi tembam yang berada dipangkuan pamannya.
"Tae, nama Taehyung, anaknya Daddy." Ucapnya sembari menunjuk Jungkook, yang total membuat Jimin mendelik seketika.
Meronta ingin turun dari pangkuan Jungkook, sesaat setelah kakinya menapak pada lantai ia langsung menarik tangan mungil Taehyung sampai bocah menggemaskan itu terjatuh dari kursi.
Semua orang yang ada di sana tentu terkejut, tapi karena melihat tak ada respon apapun dari Jungkook semuanya memilih diam.
Sedangkan Taehyung sendiri manik bulat indahnya sudah berkaca-kaca.
"Tae titak akan nanis, Tae anak kuat."
Semua yang melihat hanya tersenyum sendu menatap bocah itu.
"Chim tak peduli, dan napa kamu pakai punya Chim bajunya!?" Mata sipit Jimin memicing tanda tak suka karena bocah bernama Taehyung tadi memakai bajunya.
Manik indahnya berkaca-kaca dan ia memeluk leher Jungkook manja, membenamkan wajahnya pada pemuda tampan tersebut.
"Daddy, dia nakal. Punya Chim dipakai."
Jimin itu kesayangan Jungkook maka dengan segera ia mendudukkan Jimin pada kursi lalu menghampiri Taehyung yang sedari tadi masih duduk di lantai.
"Kau ini kurang ajar sekali memakai baju keponakanku huh!" Jungkook menarik tangan Taehyung dengan kencang menyebabkan anak itu meringis kecil.
"Siapa yang menyuruhmu memakai baju Jimin? Jawab!" Jungkook itu mempunyai tempramen yang buruk, emosi sesaat selalu datang menguasainya.
"Tae dipakaikan ini oleh Bibi tantik." Jungkook menoleh pada pelayan yang mengurus Taehyung tadi.
"Kenapa kau memberikan dia baju Jimin, aku tidak menyuruhmu untuk itu?"
Dengan gemetar wanita paruh baya itu menghadap ke Jungkook.
__ADS_1
"Tuan maaf, saya tidak punya pilihan lain. Dia tidak memiliki baju jadi saya pakaikan saja milik Tuan Jimin." Jawabnya.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk membeli baju tadi, jadi seharusnya kau menunggu baju itu, lain kali jangan sembarangan memakaikan baju mahal Jimin pada anak kecil ini, kau paham?!" Sang pelayan hanya mengangguk patuh.
...
Sekarang Jungkook sedang tidak ada kesibukan apapun, membuat ia bisa bermain bersama Jimin.
Banyak sekali permainan anak itu di ruang khususnya sendiri untuk bermain.
Dan tentu semua itu Jungkook yang membelikan.
Jimin memang tinggal bersama Jungkook, karena kedua orang tua Jimin sudah meninggal saat umur Jimin baru menginjak dua tahun, karena itu Jungkook sangat memanjakan Jimin agar anak itu tidak bersedih.
Jimin menganggap Jungkook sebagai ayahnya, karena Jungkook sendiri pun juga tidak mempermasalahkan itu, tapi orang luar tetap mengetahui bahwa Park Jimin adalah anak dari kakaknya.
Jungkook terlalu asik bermain dengan Jimin sampai tidak menyadari sosok mungil Taehyung memasuki ruangan itu bahkan sudah memainkan sebuah robot-robotan.
Sampai saat manik milik Jimin menangkap kehadiran Taehyung.
Sontak teriakan kesal Jimin menghentikan kegiatan Jungkook yang sedang berlangsung.
Menghampiri Taehyung dengan tergesa lalu merampas dengan kasar mainannya.
"Janan ambil punya Tae, tembalikan." Taehyung mencoba untuk meraij lagi mainannya.
"Ini punyanya Chim, Tae tak boleh mainkannya!" Jimin terus menepis tangan kecil yang mencoba menggapai mainannya.
"Daddy, mainan Chim mau diambil." Adunya pada Jungkook.
"Hei, bocah. Mainan ini milik Jimin jangan pernah kau memainkannya!" Mendengar bentakan dari Jungkook membuat Taehyung menangis seketika.
"Tae juga mau mau itu Dad."
"Kau tak boleh karena itu mainan mahal milik Jimin!"
"Tae mau."
"Kau bisa diam tidak bocah!" Habis sudah kesabaran Jungkook jika dihadapkan dengan Taehyung ini.
Meninggalkan Taehyung sendirian.
Namun perlahan kaki mungil itu ikut melangkah ke arah di mana Jungkook berjalan.
Sesampainya di kamar Jimin langsung ia turunkan pada ranjang empuknya.
Menata guling beserta bantal agar Jimin merasa nyaman.
"Tae mau bobok juga Dad, " Jungkook lagi-lagi menghela napas kasar mendengar suara itu.
Sangat mengganggu.
"Chim tidak mau Tae tidur di cini!" Teriak Jimin seketika saat Taehyung baru saja ingin menaiki tempat tidurnya.
"Dad, cepat bawa dia keluar." Jungkook hanya tersenyum lalu mengecup kening Jimin sayang, lalu setelahnya menyeret Taehyung keluar dari kamar itu.
Membawanya ke arah lantai bawah, lalu membuka pintu yang tepat berada pada bawah tangga.
Saat pintu terbuka terlihat ada sebuah kasur kecil beserta satu buah meja yang terdapat sebuah lampu tidur sederhana.
"Kau tidur di sini mulai saat ini, karena Jimin tidak suka ada kau di kamarnya. Maka kau akan tidur di sini selama tinggal di tempatku."
Ucapan final dari Jungkook itu sudah tidak ada tawaran lagi.
Taehyung yang masih kecilpun tidak mengetahui tempat apa sebenarnya ini.
Namun melihat adanya kasur, itu berarti adalah kamar. Lebih tepatnya kamar dirinya sendiri.
"Bibi, tolong ambil semua baju Taehyung yang ada di Kamar Jimin, pindahkan semuanya pada ruangan bawah tangga."
Sang pelayan hanya menuruti perintah Jungkook.
Dua orang wanita paruh baya itupun memasuki kamar Taehyung diikuti Jungkook di belakangnya.
"Tuan apakah ini kamar tuan Taehyung?" Tanya bibi Lee.
__ADS_1
"Jimin tidak mau ada dia di kamarnya, berarti satu-satunya tempat ya di sini." Jawab Jungkook masih dengan raut wajah datarnya.
"Tapi, bukannya ada beberapa lagi kamar yang kosong? Menurut saya apakah tidak ditempatkan di sana saja?"
Jungkook adalah Jungkook.
Maka jika ia berkata tidak, itu artinya tidak.
"Aku yang punya tempat ini, jadi aku yang memegang hak kendali, mengerti!"
Setelahnya Jungkook langsung keluar dari ruang yang tak lebih dari dua meter itu.
Taehyung yang melihat Daddy nya pergi berlari dengan cepat untuk mengejar.
"Daddy!"
Jungkook sejenak menoleh dengan tatapan tak suka.
"Berhenti memanggilku Daddy, jika kau masih mau tinggal di sini!"
Maka setelah mengucapkan kalimat itu Jungkook langsung pergi meninggalkan Taehyung yang hanya bisa mematung dengan air mata yang sudah menganak sungai dari pelupuk indahnya
...
Pagi haripun tiba, Taehyung yang memang sangat mengantuk enggan bangun dari kasurnya.
Namun suara langkah kaki yang terasa sangat dekat dengannya itu mengusik tidur lelapnya.
Ia ingat kalau tempat yang sekarang ia tiduri itu tepat di bawah tangga, maka dari itu akan sangat mengganggu jika ada orang yang berjalan menggunakan tangganya.
Seruan anak kecil seumuran dengannya terdengar bahagia. Ia yakin itu Chim.
"Tuan muda, ayo sarapan."
Taehyung mengucek matanya pelan, lalu tersenyum manis saat tubuhnya melayang karena digendong oleh bibi cantik.
Bibi Lee membawa Taehyung ke kamar mandinya agar Taehyung dapat kembali segar setelah ia mencuci mukanya.
Lalu setelahnya ia membawa Taehyung untuk duduk di meja makan yang sekarang sudah ada Jungkook, lagi-lagi dengan Jimin dipangkuannya.
Boleh tidak Taehyung kecil ini egois, ia ingin juga dimanja oleh Jungkook, tapi kenapa rasanya sulit.
Maka dengan apa yang ada di otak kecilnya, Taehyung melangkah mendekati Jungkook.
Mendapat tatapan heran dari Jungkook dan tatapan tak suka dari Jimin.
"Dad, Tae mau pangku juga boyeh?" Tanyanya pelan, ia begitu menginginkannya sungguh.
Jungkook tak merespon beda dengan Jimin yang sudah kembali mendorong Taehyung hingga bocah manis itu lagi-lagi terjatuh pada dinginnya lantai.
Jungkook masih belum merespon seolah itu adalah hal biasa.
Tidak adakah rasa kasian untuk bocah manis ini.
"Jangan pangku Daddy, ini tempat Chim, mengelti?!" Taehyung hanya menatapnya dengan polos.
"Tapi Tae juga mau pangku Daddy." Taehyung masih berusaha agar menahan tangisnya, tapi ia benar-benar ingin dipangku oleh Jungkook.
"Chim bilang tak boleh, beralti tak boleh, iya kan Dad?" Jungkook mengangguk sembari mengecup kening Jimin sayang, saat bocah itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Maka Taehyung memilih untuk pergi ke kamarnya setelah mengatakan kalimat terakhir pada pagi itu.
"Tae titak akan minta pangku lagi, titak akan, janji!" Tangisnya pecah, lalu kembali berucap, "Tae cayang Daddy, tapi telnyata Daddy tak cayang Tae yah? Bibi Bae boong cama Tae, kalau Daddy cayang Tae."
Setelahnya Taehyung pergi ke kamarnya, tanpa ada asupan pagi pada perut kecilnya.
Meninggalkan Jungkook yang masih betah dengan pendiriannya, bahwa ia tak akan berbaik hati lebih jauh pada anak itu, tak ada hubungan darah jadi untuk apa dia ikut memanjakan anak itu.
Bibi Lee hanya menatap kepergian Taehyung dengan sendu, setelahnya menatap Tuannya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya saya antarkan sarapan Tuan muda Tae ke kamarnya?" Dan gelengan kepala Jungkook yang didapatnya.
Kenapa Tuannya kejam sekali, begitu pikirnya.
"Sekarang Chim ingin apa lagi, kebetulan Daddy sedang tak ada kerjaan hari ini?" Jungkook bertanya pada Jimin, dalam sekejab manik indah milik Jimin berbinar penuh ceria.
"Chim mau beli mainan baru boleh, ayo kita jalan luar Dad?!" Dan tentu dengan senang hati Jungkook menurutinya.
Setelah bersiap dengan penampilannya, ia bergegas menggendong Jimin menuju mobilnya, lalu mendudukkan Jimin pada kursi penumpang.
Setelahnya mobil Audi itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Mansion dengan melupakan sosok mungil yang masih betah menangis melihat Daddy nya pergi tanpa memedulikannya.
"Tuan muda?"
Taehyung tersentak kecil.
"Ayo makan bibi suapi ya?"
"Tae titak mau makan, nanti Dad malah lagi. Dad tak bolehin aku makan iya Bi?" Pernyataan kelewat polos Taehyung membuatnya ingin menangis sekarang juga.
Kenapa nasib bocah manis ini, jadi semenderita ini.
Taehyung langsung memasuki kamarnya dan langsung menguncinya dari dalam.
Bibi Lee khawatir karena setelah Taehyung mengunci pintu dengan jelas ia mendengar raungan serta isakan dari bocah manis itu.
Hatinya seperti tersayat saat mendengar kalimat, 'Tae titak mau makan, kalau Daddy tak bolehin, sampai sore juga tak apa'.
Dan Bibi Lee terlalu paham dengan respon Jungkook nantinya.
Kalau ia tak peduli maka sampai kapanpun tak peduli, ditambah lagi dengan Jimin yang pasti akan semakin mempersulitnya.
Jika memang nanti Tuannya itu tak memberikan Taehyung makan, maka ia akan membelikan Taehyung makanan dengan uangnya sendiri.
...
Malam hari Jungkook dan Jimin baru pulang.
Jungkook menyuruh beberapa pelayan untuk membawakan belanjaannya.
Bibi Lee tentu ikut andil.
"Tuan apakah ada untuk Tuan Taehyung?" Tanyanya sopan.
"Untuk apa aku membelikan dia sesuatu, baju saja sudah cukup oke." Jawab Jungkook sarkastis.
"Lagi pula ia bukan siapa-siapaku, jadi jangan berharap banyak."
Setelahnya ia langsung membawa Jimin yang berada digendongannya ke kamar.
Meletakkan dengan hati-hati lalu mencium keningnya sayang.
Membenarkan letak selimut lalu keluar dari kamar itu menuju ruangannya sendiri.
Bergegas membersihkan diri, lalu perutnya merasakan lapar.
Padahal ia sudah makan malam sebelum pulang tadi.
Terpaksa ia harus turun lagi ke bawah untuk makan.
"Bibi tolong siapkan makan malamnya saya tunggu 10 menit!" Ucapnya mutlak.
Untung saja pelayannya sudah memasakkan makanan.
"Tuan, bolehkah saya mengantarkan makanan ini pada tuan Taehyung?" Lagi-lagi Bibi Lee yang berani bertanya pada Jungkook.
Jungkook memutar bola matanya malas.
"Kubilang tidak usah, lagipula dia cukup makan satu kali saja, aku tidak mau rugi!"
Jungkook bingung kenapa Bibi Lee sampai menangis seperti ini sekarang.
Dilihatnya wanita paruh baya itu mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi Tuan Taehyung belum makan dari tadi pagi tuan, bahkan terakhir ia makan hanya kemarin siang saat makan bersama anda Tuan, ia juga tidak mau makan kalau anda tidak mengijinkannya makan."
Jawaban Bibi Lee telak membuat Jungkook terdiam sesaat, sebelum akhirnya mulai kembali berbicara.
"Antarkan saja!" Setelahnya bibi Lee langsung bergegas untuk mengantarkan makan malam untuk Taehyung.
Jungkook mengikutinya dari belakang, sambil membawa mainan Jimin yang ia lupa bawa tadi.
"Tuan muda ayo makan."
Taehyung terlihat sangat lemas karena belum mendapat asupan, tapi ia tersenyum saat menemukan Jungkook di sana, itu artinya ia memang boleh makan ya.
Karena sungguh ia sangat lapar.
"Bibi Tae makan sendili caja, Tae anak pintal oke." Bibi Lee hanya tersenyum manis mendapati sifat baik anak manis ini.
"Tentu sayang."
Setelahnya Taehyung makan dengan lahap walaupun sisa-sisa makanan berada di sekitar bibir dan pipinya ia tak peduli.
Setelah selesai makan Bibi Lee membawa piring bekas juga satu gelas yang telah tandas isinya.
Manik kecokelatan milik Taehyung menangkap sebuat kotak yang di dalamnya terdapat sebuah mainan, di tangan Jungkook.
"Itu untuk Tae ya Dad?" Pertanyaan yang terlontar dari Taehyung membuat Jungkook mengernyit heran, namun paham setelah mengetahui arah pandang si kecil.
"Ini punya Jimin, bukan untukmu!"
"Tapi Tae mau itu Dad."
Jungkook mencoba untuk menahan emosinya sejenak.
"Tae mau itu Dad."
Mendengar kalimat lirih Taehyung yang terakhir, membuat ia meluluhkan egonya.
"Ck, bikin susah saja!" Setidaknya satu mainan tak akan membuatnya rugi, ia nanti bisa membelikan yang baru dan lebih mahal dari ini untuk Jimin.
Tidak tahu saja apa yang akan terjadi nantinya.
Setelahnya Jungkook meninggalkan Taehyung, yang sedari tadi menatap penuh haru pada kotak mainan di tangannya yang mungil.
__ADS_1
Setidaknya ia punya mainan walau hanya satu.