
Terbangun di sore hari adalah hal yang baru saja terjadi pada Taehyung.
Maniknya memendar ke sekeliling ruangan, ini kamar Jungkook, namun kemana Daddy nya itu.
Saat pusat perhatiannya kini tertuju pada sosok menggemaskan Jimin di sampingnya, ia tersenyum lalu kembali berbaring.
Memeluk tubuh yang sedikit lebih kecil darinya itu, menggumamkan kalimat acak.
"Chiminie lucu, apalagi kayau main baleng cama Taetae," lirihnya dibarengi dengan ringisan kotak menawannya.
"Chim anak baik kan, Taetae tau itu."
Sesekali tangan mungilnya ia arahkan pada surai terang milik anak seumuran dengannya itu, seolah tengah mendongeng untuk anak kecil.
Mengusap dengan lembut, lalu kembali melanjutkan cerita.
"Taetae lindu Mama cama Papa, Chim pacti titak tau itu 'kan?" Lirihnya.
Maniknya menyayu dan memerah, berkaca seolah ingin luruh berlomba-lomba, "Tapi Taetae lindunya ndakk belat, coalnya Taetae ada Daddy Kookie, Taetae juga punya Jinnie Yung cama Yoonie Appa, Jahe Jahe Yung, Hoba Yung, cama Cuho Yung, meleka baik cama Taetae gak kayak olang itu," ceritanya panjang, menyebutkan semua nama orang yang ia miliki sekarang.
Pandangannya kembali terarah pada si mungil Jimin, mengusap lembut surai anak manis itu seolah ia adalah seorang yang telah dewasa.
Air matanya tak lagi bisa dibendung, luruh begitu saja bersamaan dengan keluarnya kalimat dari mulut kecilnya.
"Taetae juga punya Chim di cini, Taetae mau baleng Chim telus, walaupun Chim ndak mau cama Tae... Hiks, Taetae cayang cama Chim, tau ndak?!" Ujarnya diselingi oleh isakan, tangannya masih betah merambat disekitaran kepala Jimin.
Matanya mulai sembab, "Chim kapan baik cama Tae, Taetae ndak akan lebut Kookie Daddy kok, Daddy tampan tetap jadi miliknya Chim, Taetae numpang dapat kacih cayang dikit doang. Taetae ndak boong, cumpah," ucapannya sudah tak beraturan, rasanya seperti tertimbun batu ditenggorokkannya, sakit.
__ADS_1
Dadanya juga terasa sesak dan nyeri, hujan di matanya juga masih mengalir deras.
"Nanti kayau Taetae dah ndak cama Daddy juga Chim, jangan lupa Taetae ya? Taetae janji nanti kayau Tae dah becal, Taetae atan tetap cayangi Chim cama Kookie Daddy," tangisnya pecah, namun Jimin tak ada tanda-tanda sama sekali terusik oleh bisingnya suara Taehyung.
"Tae cayang cemua, Chim mau apa bial Taetae boyeh main baleng ma Chim?" Isaknya pilu, dirinya kini sudah terduduk sempurna di ranjang, namun matanya tetap mengarah pada keberadaan Jimin.
Ia tak pernah tahu bahwa sosok tampan Daddy nya bergeming di ujung pintu, membeku begitu mendengar semua ucapan polos namun bermakna miliknya.
Merasa sesak seketika, Jungkook tak pernah tahu jika Taehyung bisa sekuat itu, ia merasa sangat berdosa karena pernah menyakitinya. Amat berdosa.
Melihat bagaimana rapuhnya Taehyung di sana, membuatnya menjadi selayak patung mati, tak mampu berucap walau sepatah katapun, lidahnya kelu, dadanya pun teramat nyeri.
Menyekat di tenggorokkan, sakit jika boleh jujur.
Entah mengapa bahkan ia tak sadar saat bulir bening yang bersarang di pelupuk mata kini telah menjadi aliran yang teramat deras mengalir.
Masih betah berdiri di ujung pintu masuk, mendengar semua isi hati sosok rapuh Taehyung, sosok menggemaskan yang dulu dengan teganya ia pukuli dan maki.
"Sosok seperti apa aku ini Tuhan, kenapa rasanya sialan sekali?" Air matanya tak henti mengalir, segala emosi seakan siap membuncah dari dalam dirinya.
Sedangkan sosok Taehyung kecil masih sibuk dengan kegiatannya bercerita pada sosok menggemaskan Jimin yang setia mengarungi mimpi.
"Apa Chim mau Taetae pelgi dali cini, bial Chim mau main baleng cama Tae?" Ucapnya parau.
Dan sumpah, sosok angkuh Jungkook tak dapat menerima hal itu.
"Taetae halus pelgi ke lumah Appa ya?" Tanyanya sekali lagi, walaupun ia tahu dengan pasti sosok Jimin tak akan pernah bisa menjawabnya.
__ADS_1
"SUDAH HENTIKAN SEMUA ITU JEON TAEHYUNG! KAU INGIN MEMBUATKU GILA?!" Suaranya menggema di seluruh ruangan, bagai raungan penuh kesakitan.
Jungkook tahu ia bodoh, ia teramat tahu.
Ia juga tahu bahwa semua ucapan yang terlontar dari Taehyung hanyalah ungkapan seorang anak kecil.
Yang Jungkook tidak tahu adalah, bagaimana bisa ucapan sepolos itu mampu meluluh lantakan kekerasan hatinya.
Jungkook tidak tahu.
Jimin terlonjak kaget dari tidurnya, sedangkan Taehyung begitu merasakan takut sekarang.
Daddy nya marah, itu pikirnya.
Tangisannya pun semakin menjadi, teriakan Jungkook tadi terlalu keras menghantam gendang telinga mungilnya.
Merasuk ke bagian terdalam dirinya, "Daddy, malah ya cama Tae?" Tanyanya pilu.
Dan siapa Jeon Jungkook membuat Taehyung merasa takut?
Maka dengan cepat langkahnya mengarah pada Taehyung, merengkuhnya dengan segala kebodohannya selama ini.
"Mana bisa marah pada kesayangan, hm?" Hanya itu yang terucap, karena setelahnya Jungkook menyerah pada Taehyung.
Menangis tanpa tahu malu, merutuki segala kebodohannya.
Mengacuhkan sosok Jimin yang menangis hilang arah, ia mendengar semuanya.
__ADS_1
Dan Jimin kecilpun, merasakan kesakitannya. Kehancurannya.