
Saat ini Taehyung sedang berada di kamar Yoongi Appanya, karena tiba-tiba saja Jungkook harus menghadiri rapat kembali.
Jika dipikir-pikir sudah lama juga ia tidak bersama Appanya, jadi rindu.
"Taetae, tidul aja ya," ucapnya kesal saat dirasa Appanya malah sibuk dengan teleponnya.
Sedangkan pemuda pucat itu terkekeh gemas dengan anak manis itu, "Oke, pekerjaan Appa sudah selesai. Sekarang Taetae ingin main apa?" Tanya pemuda Min itu lembut.
Bocah menggemaskan itu menatap Appanya dengan binar cerah, "Mau dinyanyiin aja boyeh," pintanya.
Sebenarnya Yoongi tidak ahli dalam menyanyi namun kalau si kecil itu sudah mengeluarkan jurus anak kucing minta pungutnya, bisa apa dia?!
Maka dengan lembut ia mencoba untuk mendendang lagu anak kecil untuk anak manis itu.
Begitupun dengan Taehyung yang merasakan kantuk menyerang ketika rungunya menangkap suara merdu milik Appanya.
Selang beberapa menit anak manis itu sudah terlelap dalam tidurnya, membuat Yoongi tersenyum teduh.
"Appa menyayangi Taetae," katanya lembut, sembari mengecup kening halus anak itu.
Ikut membaringkan diri pada sisi ranjang yang kosong, memeluk lamat bocah menggemaskan Taehyung.
Lalu lelap menyapanya, membawa ke alam bawah sadar.
...
Sudah lumayan sore, waktu juga menunjukkan pukul 4:00 waktu setempat.
Di ruangan luang ini terdapat beberapa orang dengan pakaian formal duduk berjejer rapih.
Sedangkan di ujung sana, Jungkook memimpin rapat pentingnya.
"Baiklah, jika memang kalian ada saran ataupun masukan yang dipikirkan, jangan sungkan untuk bicara pada saya," tegasnya, "Saya juga akan mempertimbangkan pikiran kalian dalam hal ini, jika memang ada yang kurang berkenan dengan keputusan saya, silakan keluarkan saran kalian, terima kasih."
Setelah itu semua yang ada di sana berdiri lalu membungkuk hormat pada pemuda Jeon.
Rapat usai selama hampir satu jam berlaku.
__ADS_1
Sedangkan Jungkook sendiri sekarang sudah siap untuk kembali ke Hotel, sebuah kebetulan ia bertemu dengan Suho juga Jaehyun jadi ia putuskan untuk balik bersama mereka.
Selama perjalanan Mobil yang dikemudi oleh Suho ini melaju dengan kecepatan sedang.
Pemuda Jeon duduk di samping kursi kemudi sedangkan Jaehyun sendiri duduk di bagian belakang Mobil.
"Terima kasih para sahabatku yang sudah rela membuang waktu untuk sekadar membantu lancarnya jalan bisnis ini," kata Jungkook dengan menampilkan mimik muka seolah terharu.
Walaupun memang benar Jungkook berterima kasih dengan tulus untuk kedua sahabatnya kini.
"Sudahlah Jung, jangan berlebihan seperti itu, kami juga senang melakukan pekerjaan ini, juga hukumannya sudah selesai 'kan?" Ujar Suho tetap fokus pada jalan.
"Benar, apa gunanya sahabat, jika tidak saling tolong menolong?" Timpal Jaehyun setelahnya, membuat senyum tampan Jungkook merekah.
Hampir 15 menit obrolan mereka di perjalanan, dan saat ini mereka telah sampai pada Hotel penginapan mereka.
Turun dari Mobil lalu segera melangkah ke ruang masing-masing, membersihkan diri.
"Loh, Jiminnie sudah bangun tidurnya," ucap Jungkook saat dilihat keponakannya itu terduduk di ranjang sembari mengucek matanya.
Mendekat ke arah ranjang lalu mencium kening anak itu lembut, "Sebentar lagi kita makan sayang, tunggu Daddy mandi dulu oke?" Setelah mendapat anggukan, Jungkook bergegas memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.
Semuanya sudah berkumpul di sana, karena memang sebelumnya Jungkook telah mengabari lewat ponsel.
Terlihat sudah ada beberapa makanan yang tersaji diatas meja, dengan Jaehyun dan Hoseok yang lahap memakannya.
Pemuda Jeon mendudukkan Jimin pada kursi kosong di sebelahnya, lalu beralih ke arah Taehyung dan mengecupi keseluruhan wajah manis itu, sedangkan ke lima pemuda di sana hanya menggelengkan kepala saat dirasa Jungkook terlalu memaksa anak itu untuk dikecup, karena sudah jelas Taehyung asik lahap dengan makanannya.
"Sudahlah, Jungkook, kau ini," baru setelah ucapan Seokjin tadi, pemuda Jeon berhenti mengecupi keseluruhan wajah Taehyung.
Mereka makan dengan lahap, sebelum kalimat yang terlontar dari bibir bergetar Taehyung memecah fokus makan mereka.
"Appa, itu olang jaat!" Pekiknya bergetar, tiba-tiba tubuhnya meringsek mendekat pada pemuda Min, maniknya berkaca.
Jungkook menggeram di tempatnya, meneliti ke arah pandangan Taehyung tadi. Nihil, tidak ada apapun di sana.
Beranjak mengambil alih tubuh Taehyung dari pangkuan Yoongi, lalu memangkunya di kedua paha kekarnya.
__ADS_1
Memeluk afensif anak manis itu, "Siapa, sebenarnya orang itu Hyung?" Ucapnya pada ke lima pemuda lebih tua usia darinya itu, pandangannya menajam seketika, membuat salah satu pemuda di sana merinding dibuatnya.
Jungkook tidak akan tinggal diam untuk hal ini.
#flashback
"Dia Park Jimin?" Ujar Jaehyun, senyum mirisnya terpatri. Teramat tipis.
"Keponakanku," Jungkook dengan bangga mengatakan hal itu.
Tungkainya serasa lemas tak bertulang, rasanya teramat sesak.
Bagaimana bisa?
"Lalu, Orangtuanya?" Sekali lagi Jaehyun bertanya. Rasa penasaran itu serasa menggerogoti.
Jungkook geming sesaat, setelahnya menyungging senyum miris. Jika ditelisik lebih dalam, seringai tipis tersemat pada belahan merah miliknya.
"Mereka meninggal," jawabnya kemudian, lantas sebuah seringai menyeramkan terpatri apik pada sudut bibir si pemuda Jung.
"Boleh aku memeluknya?" Katanya, lantas Jungkook hanya mengangguk.
Tanpa tahu bahaya mengintai.
"Aku akan ke bawah terlebih dulu, silakan memeluknya, namun jangan sampai melukainya," ucapan itu sarat akan penekanan, namun tak berlaku pada pemuda Jung.
Karena setelah mengetahui bahwa sebelum mengarah ke lantai bawah, Jungkook terlebih dulu memasuki kamarnya sendiri. Itu sebuah kesempatan, tentunya tak boleh disia-siakan.
Tersenyum remeh, memindai sekitarnya. Tak menemukan bahaya, cukup aman.
Lantas, segera ia rengkuh anak manis yang sedang lelap dalam tidurnya itu. Membawanya keluar Mansion tanpa ada satupun kesulitan.
Meninggalkan Pemuda Jeon yang mengumpat kata kasar, murka. Merasa dikhianati.
Karena sosok teman yang sangat dipercayainya, ternyata bermuka dua.
Sejak saat itu, Jungkook was-was saat berhadapan dengan pemuda Jung.
__ADS_1
Semua hal yang tidak terpikirkan dapat dengan pasti menjadi bencana sewaktu-waktu.
Jimin kembali pada pelukannya. Namun, sosok Jaehyun hilang seketika dari radarnya. Bagai ditelan Bumi, menghilang tanpa satu jejakpun tertinggal.