Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 14


__ADS_3

Jungkook sampai di Mansion nya.


Membawa Taehyung yang saat ini masih saja menggendong manja padanya.


Saat kakinya menapaki lantai kamar Jimin, Jungkook merunduk sekadar mengecek keadaan keponakannya itu.


Awalnya tersenyum teduh begitu menyadari mata sipit lucu itu terbuka perlahan, memandangnya polos.


Namun di detik kemudian kejadian yang tak lagi ia harapkan kembali terjadi, saat Jimin dengan cepat mencubit kaki kecil Taehyung yang masih ia gendong.


Dulu Jungkook bisa diam saja bahkan seolah tak terjadi apa-apa, namun sekarang berbeda. Ia tak bisa melihat Taehyung menangis.


Maka dengan gerakan cepat tangannya menghalau pukulan yang kembali Jimin layangkan untuk Taehyung.


"Hey, Jiminie. Jangan begini sayang," menurunkan Taehyung dari gendongannya, lalu merengkuh tubuh mungil keponakannya.


"Jimin, dengar. Jangan seperti ini," namun Jimin tetap berontak, bocah berpipi gembil itu tetap tidak ingin menghentikan kegiatannya.


Taehyung menatap Jimin yang memandangnya nyalang, bibirnya mencebik ke bawah.


Ini akhirya tidak akan seperti yang lalu-lalu bukan?


Mengapa si mungil ini merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini.


Terlebih lagi ia sangat mengantuk, seharusnya ia tetap memilih tinggal di rumah Appanya saja, maka sekarang ia sudah pasti bergelung nyaman pada kasurnya.


Kaki mungilnya perlahan menjauh, berniat ingin keluar secepatnya dari dalam kamar Jimin.


Ia tidak mau kejadian seperti itu kembali terjadi lagi.


Jungkook melihatnya, namun sekali lagi perhatiannya tertuju pada Jimin seorang. Jimin lebih butuh perhatian pikirnya.


Tanpa tahu bahwa Taehyung yang malang, kini melangkah pergi dengan air matanya yang menganak sungai.

__ADS_1


Layaknya hanya harapan palsu yang Jungkook berikan padanya, karena pada kenyataannya, Jungkook tak akan mudah memalingkan perhatiannya secepat itu pada Taehyung.


"Shsst, jangan menangis sayang. Kenapa menangis hm?" Tanyanya kemudian, Jimin melihat ke arah Taehyung tadi, namun keberadaannya sudah nihil.


Mendongak, menatap Jungkook dengan mata berairnya.


"Daddy napa bawa dia kemari lagi?" Jungkook hanya mendengarkan perkataan Jimin dengan seksama tanpa berniat menjawab.


"Napa gendong-gendong Juga? Tak cayang Chim lagi ya?" Secepatnya Jungkook menggeleng, bukan itu maksudnya.


"Hey, bicara apa kau sayang? Daddy sayang padamu Chim," kembali ia rengkuh tubuh mungil keponakannya itu.


Menghela napas berkali-kali, terasa berat.


Menoleh pada atensi Jimin yang sekarang sudah bergelung dipangkuannya. Terlihat nyaman sekali dan Jungkook tak ingin mengacau.


Maka ia hanya menggerakkan tangannya dengan halus pada punggung keponakannya, menghadirkan ketenangan pada Jimin.


Berangsur-angsur tangisan Jimin mereda, hanya tersisa isakan sesekali.


"Jimin tidurlah kembali sayang, nanti saat makan malam baru Daddy bangunkan kembali," membaringkan kembali tubuh Jimin pada kasur empuknya, setelah mengecup kening putih itu lembut ia beranjak keluar dari kamar itu.


Melangkahkan kakinya tak tentu arah, ia baru ingat beberapa menit lalu Taehyung pergi, entah kemana.


Namun saat langkahnya berhenti tepat di hadapan kamarnya ia menghela napas, membuka pintu berharap ada sosok yang sedang dicarinya, namun nihil.


"Kau, kemana Tae?" Ia percepat langkahnya pada lantai bawah, tak sedikitpun ia temui sosok menggemaskan itu.


"Taehyung!" Teriaknya menggema, menghentikan langkah para pelayan di Mansionnya yang mendengar teriakan itu.


Bibi Lee lah yang pertama kali mengeluarkan suara, "kenapa Tuan?" Tanyanya.


Bisa ia lihat wajah Tuannya itu memerah entah karena apa.

__ADS_1


"Taehyung, aku mencari keberadaannya," Bibi Lee tersenyum lembut setelahnya.


"Ada di kamarnya Tuan," ujarnya, menghasilkan kedutan di kening Jungkook


"Kamar, ia tidak ada di kamar Bi."


Bibi Lee menunjuk ke arah samping Tangga, barulah Jungkook paham mana yang dimaksud kamar.


Dengan tak tahu dirinya ia membentak bibi Lee, seakan itu kesalahan sang kepala pelayan di Mansion tersebut.


"Bagaimana bisa kau membiarkannya kembali ke sana?!" Total membuat Bibi Lee bungkam, bukannya memang Tuannya sendiri yang menyuruh Taehyung tidur di tempat itu. Namun sekarang.


"Sudahlah, kembali bekerja."


Pergi melangkah ke arah tangga, membuka kenop pintu ruangan sempit itu.


Hetinya mencelus, ya Tuhan kenapa sekarang baru ia merasa kasihan.


Berjongkok tepat di samping kasur kecil milik Taehyung, menempatkan tangannya pada lipatan bawah lutut Taehyung juga menjalar pada punggungnya. Menggendongnya perlahan, membawa sosok mungil yang sekarang tengah terlelap dari tidurnya.


Saat sampai di kamarnya, ia letakkan tubuh kecil itu pada ranjangnya. Membaringkannya hati-hati seolah tak ingin mengganggu sedikitpun tidur lelapnya.


Nyatanya walau tak membuat suara gaduh sedikitpun, mata mungil itu kembali terbuka, memandang sayu ke arah Jungkook yang masih setia duduk di samping tubuh Taehyung.


Taehyung baru menyadari di mana ia berada sekarang, di kamar Daddy nya. Maka sudah jelas.


"Tae... Daddy," lirihnya lemah, namun mampu didengar rungu Jungkook.


Jungkook menatapnya lembut, "Apa, hm?" Tanyanya setelahnya.


Tak ada jawaban namun tangan kecil yang menepuk tempat kosong disebelahnya adalah pertanda, Jungkook paham. Maka ia ikut membaringkan tubuhnya sendiri pada bagian kosong yang ditepuk Taehyung tadi.


Merengkuh tubuh mungil Taehyung, membawa anak itu tenggelam pada kehangatan yang coba ia salurkan.

__ADS_1


Pada akhirnya keduanya terlelap, mengarungi mimpi.


__ADS_2