Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 4


__ADS_3

Setelah kejadian tadi Yoongi dan Hoseok segera menenangkan Taehyung.


 


 


Matanya kembali sembab.


 


 


Dengan segera pemuda pucat itu menggendong Taehyung, membisikkan kalimat penenang, dibantu oleh Hoseok.


 


 


Masih berada di kediaman Jeon.


 


 


Jungkook kembali ke ruang keluarga tanpa Jimin.


 


 


Duduk dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


 


 


Pandangannya kembali mengedar dan berhenti lalu bertatap lama dengan Taehyung.


 


 


Berdecak beberapa kali, rasanya emosinya semakin menjadi saat melihat anak yang sekarang ada digendongan Yoongi itu.


 


 


Melihat adanya mainan yang tadi direbutkan tergeletak di lantai, Jungkook mengambilnya.


 


 


"Berani sekali kau memainkan mainan milik Jimin!" Geramnya.


 


 


Yoongi mendengus kemudian tersenyum remeh.


 


 


Melirik ke arah Hoseok yang tentu langsung dibalas dengan cengiran yang sama.


 


 


Hoseok melangkah dengan pasti pada Jungkook yang berdiri sembari memegang mainan Taehyung.


 


 


Mengambilnya dengan cepat, menghasilkan pelototan kesal dari sepupunya itu.


 


 


"Ini milik Taehyung, aku yang membelikannya," tersenyum tampan setelahnya.


 


 


Mendengar itu Jungkook tentu saja terkejut.


 


 


"Bagaimana mungkin? Jelas ini mainan milik Jimin!" Tegasnya.


 


 


Sekarang Yoongi yang maju mendekat dengan Taehyung yang sudah tertidur digendongannya.


 


 


"Tentu saja sama, aku hanya mengikuti kemauan Taehyung, saat ia melihat mainan itu matanya berbinar ceria, lalu siapa yang tidak gemas dengan hal itu. Lebih tepatnya siapa aku yang tidak mungkin mengabulkan keinginan anakku?!" Jelas pemuda pucat itu.


 


 


Jungkook hanya memutar bola matanya malas.


 


 


"Maka dari itu aku langsung minta tolong Hoseok agar membelikannya, yang tentu langsung dibelikan." Lanjutnya lagi.


 


 


"Ck,anakmu? Huh, seorang Min Yoongi mau mengurusi seorang anak yang tak jelas asal-usulnya? Yang benar saja?!" Tukasnya meremehkan.


 


 


Yoongi hanya terkekeh geli dibuatnya, "Walaupun tak jelas asal-usulnya, yang jelas sekarang dia anakku, pertama melihatnya saja aku mampu merasakan ketertarikan menjadikannya anakku, bagian dari hidupku."


 


 


Hoseok diam-diam tersenyum melihat interaksi tersebut.


 


 


Hanya Jungkook yang berang sendiri di sana.


 


 


"Oh iya Jeon Jungkook pemuda tampan sayangnya tak punya hati, aku pamit pulang dulu ya, jangan sampai rindu pada Tae ya?!" Lalu setelah mengucapkan itu, Yoongi keluar dari kediaman Jeon.


 


 


Meninggalkan Hoseok yang masih betah memberikan senyumnya dihadapan sepupunya itu.


 


 


"Jangan sampai rindu ya."


 


 


Setelahnya Hoseok ikut meninggalkan Jungkook.


 


 


Dengan senyum yang masih terpatri diwajahnya, senyum yang kini berubah menjadi miring.


 


 


...


 


 


Saat mata mungilnya terbuka, yang Taehyung rasakan hanyalah keheningan.


 


 


Rasanya masih terlalu asing.


 


 


Ia ingin bersama Daddy nya.


 


 


Tapi di mana keberadaan pemuda tampan itu, padahal terakhir kali ia masih bersama dengannya.


 


 


Kaki mungilnya melangkah keluar kamar ukuran medium itu.


 


 


Kamarnya luas dengan banyak mainan di dalamnya dan tentu amat disukai olehnya.


 


 


Matanya memendar, suasananya hening dan dingin.


 


 


Sepertinya sudah malam.


 


 


Saat melihat siluet yang dikenalinya, kakinya semakin cepat melangkah.


 


 


"Yoonie Hyung!" Teriaknya lucu.


 


 


Dan Yoongi yang merasa terpanggil tentu segera menolehkan kepalanya pada sosok menggemaskan tersebut.


 


 


"Hei, sayang. Berapa kali aku bilang, panggil Daddy, jangan Hyung," ucapannya hanya dihadiahi gelengan dari Taehyung.


 


 


"Tae punya Daddy Jungkook, jadi panggil Yoonie hyung pakai itu." Setelahnya cengiran lebar yang tercetak jelas, membuat Yoongi tersenyum juga.


 


 


"Baiklah, Yoongi hyung tak masalah, tapi bisakah Taetae panggilnya Yoongi appa saja?" Tanyanya.


 


 


"Boyeh, Yoonie appa bagus, hihi."


 


 


Gemasnya Yoongi.


 


 


Tapi perlahan senyuman manis itu luntur.


 


 


Raut wajah Tae berubah jadi sendu.


 


 


"Kenapa cuma Taetae yang ada di cini?" Tanyanya polos.


 


 


Yoongi hanya tersenyum menanggapi.


 


 


"Memangnya kenapa?"


 


 


Manik Taehyung berkaca-kaca, itu tak baik bagi kesehatan Yoongi.


 


 


"Daddy, tak tinggal cini?"


 


 


Dan Yoongi lebih memilih membawa Taehyung ke meja makan, untuk makan malam daripada menjawab pertanyaan polos Taehyung.


 


 


Untuk apa?


 


 


...


 


 


Berbeda dengan Taehyung, Jungkook sendiri terlihat begitu menikmati harinya tanpa gangguan mahluk kecil itu.


 


 


Tangannya sesekali membersihkan noda makanan pada bibir kecil Jimin.


 


 


Tersenyum hangat setelahnya.


 


 


Walaupun cuma berdua saja makannya, itu terasa lebih menyenangkan bagi Jungkook.

__ADS_1


 


 


Karena ia tak suka ada orang asing diantara keluarganya.


 


 


Tanpa memedulikan gejolak hatinya yang menjerit, kehilangan sesuatu.


 


 


Pandangannya menajam seketika bersamaan dengan terlontarnya kalimat dinginnya.


 


 


"Bocah itu baiknya tak usah kembali!"


...


Sebenarnya kalau boleh jujur Jungkook itu juga tidak tahu bagaimana bisa ia sejahat itu pada Taehyung.


 


 


Rasanya emosinya lebih cepat mengalir jika ia berhadapan dengan bocah imut itu.


 


 


Ditambah lagi, Jimin tidak menyukai Taehyung. Tambah tidak sukalah ia pada Taehyung.


 


 


Satu hari tanpa anak itu, Jungkook masih bertahan tanpa adanya gejolak yang menentang.


 


 


Pagi harinya Jungkook terbangun dengan Jimin di ranjangnya.


 


 


Ini kamarnya, mungkin Jimin terbangun di tengah malam lalu menyelinap ke ruangannya.


 


 


Ia memang tak pernah mengunci pintunya, karena kebiasaan Jimin yang satu ini juga termasuk alasannya.


 


 


"Pagi sayang," sapanya saat melihat balita empat tahun itu menggeliat kecil dalam tidurnya.


 


 


Manik sipit Jimin terbuka perlahan, menatap polos Jungkook, yang tentu langsung dihadiahi kecupan gemas diseluruh bagian wajahnya.


 


 


"Pagi, Dad."


 


 


Mengucek matanya yang lengket, perlahan Jimin merentangkan kedua tangan mungilnya pada Jungkook.


 


 


"Lapar," pekiknya lucu, Jungkook pun langsung membawa tubuh itu untuk dimandikan terlebih dahulu sekalian ia juga.


 


 


Selang beberapa menit, keduanya selesai mandi.


 


 


Jimin sibuk dengan celotehan khas anak-anaknya.


 


 


Sembari memakaikan baju milik Jimin, tak ada hentinya Jungkook tersenyum menanggapi celotehan si kesayangan.


 


 


"Baiklah, Jiminie sudah tampan dan rapih sekarang waktunya Daddy yang siap-siap."


 


 


Jimin hanya diam memperhatikan tabletnya, nyanyian anak-anak selalu ia dengarkan di pagi hari.


 


 


Setelahnya mereka berdua sarapan, seolah tak pernah ada yang terjadi sebelumnya.


 


 


Melupakan bahwa masih ada satu anak yang butuh kasih sayang dari Jungkook di beberapa kilometer sana.


 


 


...


 


 


Manik kucing Taehyung terbuka perlahan, membiasakan diri dengan bias cahaya yang merangsek masuk pada penglihatannya.


 


 


Menoleh ke samping dan menemukan sosok pucat Appa nya.


 


 


Yoongi yang memang sudah terbangun hanya mengecup pelan kening Taehyung.


 


 


Lalu tersenyum setelahnya.


 


 


"Jangan kucek matamu sayang, nanti merah." Ucapnya saat melihat kedua tangan mungil Taehyung mulai mengucek matanya.


 


 


"Oke, Appa tampan." Jawabnya sembari berhormat lucu.


 


 


Tak segan-segan Yoongi menciumi seluruh wajah Taehyung.


 


 


 


 


Dengan Nyonya Min yang sudah sibuk menata makanan di meja dibantu para pelayan keluarga.


 


 


"Anak manis sudah bangun ya?" Tanyanya dan diangguki polos oleh Taehyung.


 


 


Segera mungkin Nyonya Min mengecup kedua pipi bocah manis tersebut.


 


 


Taehyung hanya bisa memekik lucu setelahnya, perut tummy nya sudah terisi dengan penuh.


 


 


Matanya berkaca-kaca, ia terlalu senang.


 


 


"Taetae kenyang Nini, Appa." Lirihnya.


 


 


Yoongi dan ibunya hanya tersenyum, merengkuh tubuh gembul itu dalam gendongannya.


 


 


Lalu pemuda pucat itu melangkah ke arah ruang keluarga.


 


 


"Sayang, nanti ikut Appa ya ke kantor."


 


 


Taehyung hanya mengerjab polos, lalu tersungginglah senyum apik di wajahnya.


 


 


"Mau temu Daddy, boyeh?" Tanyanya sembari tersenyum kotak.


 


 


"Iya, nanti kita ketemu Daddy, kebetulan sekali Appa ada urusan dengannya."


 


 


Yoongi memberikan Taehyung pada ibunya, karena ia harus mengambil kunci mobil yang berada di kamarnya.


 


 


Setelahnya ia membawa Taehyung menuju Kantor Jungkook.


 


 


Ia memang ada urusan bisnis dengan pemuda tak punya hati itu.


 


 


Sekitar dua puluhan menit akhirnya mereka sampai.


 


 


Melangkah keluar bersama Taehyung digendongannya.


 


 


Memasuki area Lobi perusahaan Jungkook, lalu langsung diarahkan ke ruangan Jungkook oleh resepsionis di sana.


 


 


Sepatu pantofelnya begitu menggema di lorong kantor itu.


 


 


Tadi Yoongi sudah menaiki lift ke lantai paling atas di mana ruangan direktur utama berada.


 


 


Mengetuk pintu lalu saat sebuah suara menyuruhnya masuk, kakinya perlahan memasuki ruang tersebut.


 


 


Manik Taehyung yang tadinya redup seketika berbinar saat melihat Jungkook.


 


 


Kakinya berusaha untuk turun dari gendongan Yoongi.


 


 


Sedangkan pemuda pucat itu langsung mengerti maksud Taehyung, menurunkannya.


 


 


"Daddy, hihi temu lagi cama Taetae." Kaki mungilnya yang menapak pada lantai berlari kecil untuk menggapai tubuh Jungkook.


 


 


Sedangkan pemuda tampan itu hanya mendecih saat netra sekelam malamnya menangkap penampakan yang sama sekali tak ingin ia lihat.


 


 


Belum sempat Taehyung menyentuhnya, Jungkook sudah mendorong tubuh bocah manis itu.


 


 


Sontak Yoongi mengeraskan rahangnya melihat itu.


 


 


Mengambil alih tubuh Taehyung yang terduduk di lantai.

__ADS_1


 


 


Menenangkannya sembari menggeram penuh tekanan.


 


 


"Kau biadab Jungkook, dia salah apa padamu, sampai kau berbuat begini?!"


 


 


Taehyung menatap Jungkook dengan wajah yang sudah banjir air matanya.


 


 


"Tae calah apa?" Gumamnya pilu yang tentu tak makan mampu meruntuhkan tembok kokoh pertahanan Jungkook.


 


 


Jungkook hanya memutar bola matanya malas, terlalu muak dengan segala drama di depannya ini.


 


 


"Kukatakan sekali lagi Hyung, aku tak peduli padanya!" Tekannya pada Yoongi.


 


 


Tanpa tahu bahwa ucapannya sudah terlalu jauh masuk pada relung hati si kecil.


 


 


"Aku benar-benar lelah dengan bocah itu," tambahnya lagi, setelahnya masuk ke kamar pribadinya yang ada pada ruangan tersebut.


 


 


Meninggalkan Yoongi yang siap tumpah dengan segala emosinya.


 


 


Meninggalkan Taehyung yang tersenyum sendu digendongan Appanya.


 


 


10


Taehyung tak berhenti menangis setelah kejadian beberapa menit lalu, biasanya bocah manis itu akan dengan cepat berhenti jika sudah berada digendongan Yoongi.


 


 


Namun kali ini bukannya diam, tangisannya malah semakin pecah.


 


 


Jungkook juga masih berada di dalam ruang pribadinya.


 


 


Ia harus cepat pergi dari kantor ini, namun urusannya belum juga beres.


 


 


"Jungkook, cepat keluar. Aku ke sini untuk urusan kerja sama bisnis kita." Ucapnya sembari mengetuk pintu milik Jungkook.


 


 


Sepersekon kemudian Jungkook keluar dari ruangannya.


 


 


"Baiklah, silakan duduk. Lagi pula kenapa kau membawa dia Hyung!?" Ucapnya sembari mendudukkan diri di sofa ruangan itu.


 


 


"Bukan urusanmu aku membawanya atau tidak, ini hakku asal kau tahu!" Yoongi sungguh mati-matian menahan emosinya agar tak lepas kendali di hadapan Taehyung untuk memukul Jungkook.


 


 


"Baiklah, sekarang kita mulai pembicaraan bisnis kita."


 


 


Yoongi ingin ini cepat selesai namun Taehyung masih belum berhenti dengan tangisannya.


 


 


Isakannya semakin menjadi, itu tidak baik bagi kelancaran napas Taehyung nantinya.


 


 


Hidungnya pasti akan tersumbat.


 


 


"Sayang, berhenti ya nangisnya, nanti Appa belikan Taetae mainan baru, oke?" Yoongi mencoba sekali lagi untuk membujuk kesayangannya namun gagal.


 


 


Sati-satunya cara adalah.


 


 


"Jungkook gendong Taehyung, cobalah tenangkan dia, kau tak kasian sama sekali huh?!" Teriakan Yoongi tidak terlalu keras namun begitu lantang terdengar diruangan kedap suara ini.


 


 


Membuat Taehyung terlonjak kaget.


 


 


Dan tangisnya semakin pecah.


 


 


Karena tidak ingin berlama-lama makan Jungkook ikuti saja kemauan pemuda pucat itu.


 


 


"Baiklah, sini!" Tukasnya.


 


 


Yoongi tersenyum sekilas melihatnya, lalu beralih menatap Taehyung dipangkuannya.


 


 


"Taetae, gendong Daddy  Jungkook ya?" Tanyanya lembut, Taehyung masih belum mengerti maksud Appanya itu.


 


 


"Appa, makcudnya?" Lirihnya parau.


 


 


Dan ada sekelebat rasa tercubit di hati Jungkook saat mendengar kalimat Taehyung pada Yoongi.


 


 


Appa.


 


 


Tidak ingin berlama-lama menonton drama di hadapannya Jungkook kembali bersuara.


 


 


"Mau dipangku aku tidak, kalau tidak aku tidak memaksa!" Teriaknya.


 


 


Yoongi sekali lagi, mengetatkan rahangnya.


 


 


Taehyung mengangguk lesu, masih dengan air mata yang setia mengalir.


 


 


Seharusnya tidak begini, tapi kakinya perlahan berangsur mendekat lalu mengambil alih tubuh Taehyung.


 


 


Mendudukkannya dipangkuan, rasanya kalau boleh jujur. Hangat.


 


 


Tangisan Taehyung tak sepecah tadi, bibirnya melengkung ke atas.


 


 


Senyumnya perlahan melebar membentuk ringisan kotak yang manis.


 


 


"Sudah, sekarang jelaskan tujuanmu Hyung." Ujar Jungkook, ia biarkan saja saat tangan mungil Taehyung menggenggamnya erat.


 


 


Yoongi menghela napas sebentar, "Untuk proyek kerja sama kita yang ada di Busan, aku setuju dengan tambahan dananya, setelah kupikir ulang, ternyata benar katamu. Menambah investasi berarti menambah keuntungan untukku."


 


 


Jungkook hanya menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum.


 


 


"Aku juga sudah memikirkan adanya tambahan sebuah bangunan pelengkap di sana, menurutku itu lebih baik dibangun sebuah restoran barat saja, mengingat lokasi pembangunan proyek kita banyak sekali turis asingnya, itu cukup berguna untuk lidah mereka yang masih terlalu asing dengan makanan lokal." Lanjutnya.


 


 


Jungkook sekali lagi menganggukkan kepalanya setuju.


 


 


"Sekalian saja Hyung, di restoran itu bukan hanya tersedia makanan luar, namun juga ada makanan lokalnya, karena itu akan menambah laba kita nantinya, jadi jika ada turis asing yang ingin mencicipi makanan lokal mereka tak perlu jauh-jauh karena sudah tersedia, bagaimana?" Pendapat Jungkook.


 


 


"Benar itu, baiklah kita sepakat dengan hal itu, berarti semua tinggal pembangunannya saja, kita sesekali harus memantau langsung ke lokasi Jungkook untuk dapat melihat kerja mereka, aku ingin proyek kerja sama ini lancar." Tukas Yoongi.


 


 


Jungkook mengangguk, "Aku juga mendapat kabar kalau hotel yang kita bangun sudah setengah jadi Hyung, baiklah setelah ini mungkin beberapa hari ke depan kita kontrol lokasi langsung, sekalian menentukan desain yang cocok untuk restorannya." Tambah Jungkook.


 


 


Mereka berdua bersalaman sebagai penanda formalitas.


 


 


Saat manik kelam Yoongi melihat entitas Taehyung yang tertidur lelap dipangkuan Jungkook, senyumnya perlahan mengembang.


 


 


Bahkan Jungkook sendiripun tak sadar bahwa sedari tadi ia memangku Taehyung, saking seriusnya.


 


 


"Lihat dia Jungkook, begitu manis." Suara Yoongi memecah keheningan yang tadi sempat tercipta.


 


 


Jungkook mengarahkan pandangannya pada sosok menggemaskan Taehyung yang tertidur dipangkuannya.


 


 


Tersenyum sekilas, amat tipis.


 


 


Tapi tajamnya penglihatan Yoongi membuat pemuda pucat itu hanya menggumam kata bodoh, tentu tak ada yang mendengar karena ia berkata dalam hati.


...


Karena Taehyung yang tak mau lepas dari Jungkook, alhasil sekarang ia berada di Mansion keluarga Jeon lagi.


 


 


Manik kucingnya terbuka, saat cahaya yang masuk pada penglihatannya telah bersatu.


 


 


Ia melihat ke sekeliling, sudah malamkah.


 

__ADS_1


 


Kenapa gelap sekali?


__ADS_2