Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 9


__ADS_3

Yoongi mengalah tentang hal ini.


Satu tetes air matanya mulai luruh.


Siang tadi saat di restaurant kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya.


Terjadi begitu saja.


"Taetae gak mau bersamaku hm? Bersama Daddy Jungkook?"


Setelah pertanyaan itu terlontar dari mulut Jungkook.


Taehyung hanya mengerjab polos.


Ia bingung mau bereaksi seperti apa?


"Hey, dengar tidak sih? Tidak mau pulang bersama Daddy?" Jungkook terus mencoba, tapi kenapa susah sekali.


"Jungkook berhenti! Dia anakku!" Pemuda pucat itu juga bersikeras agar Jungkook tidak terlalu memaksa pada Taehyung.


"Diam Hyung! Taehyung pulang denganku!" Tanpa menghiraukan tatapan Jimin Jungkook menyeret Taehyung ditangan kanannya, sedangkan Jimin hanya bisa mengikuti dari belakang.


"Jungkook berhenti! Kau gila huh?!" Yoongi cepatkan langkahnya, mengejar Jungkook yang dengan paksa menarik tangan Taehyung.


Taehyung sendiri sudah menangis, Appanya.


Ia butuh Appanya.


"Chim tinggal... Hikss."


Bahkan melupakan Jimin yang tergopoh-gopoh mengejarnya juga.


Arrghhhh.


Rasanya Yoongi ingin berteriak memaki Jungkook saat ini juga.


Mobilnya pergi melesat dengan cepat, total abai pada Jimin yang tertinggal.


Membawa Taehyung yang setia menangis di tempat duduknya.


"Chim, ayo pulang denganku."


Yoongi menggendong anak manis itu, menuju mobilnya dengan cepat.


Membelah padatnya kota Seoul di siang hari.


"Chim ditinggal... Hikss."


"Daddy tinggal Chim."


"Taetae jelek ambil Daddy Jungkook nya Chim." Racaunya disela isakan kecilnya.

__ADS_1


Yoongi hanya melirik Jimin disampingnya.


Ia sudah sampai di depan gerbang Mansion Jungkook.


Terlihat sudah ada mobil audinya di sana.


"Chim, ayo . kita sudah sampai."


Jimin mengangguk, lalu turun setelah dibukakan pintu oleh Yoongi.


"Juhcii, gendong," Yoongi bukan Jungkook, jadi ia segera menggendong Jimin.


Ia kesal dan marah dengan Jungkook, bukan berarti ia akan setega itu pada keponakan sahabatnya itu.


Masih pantaskah disebut sahabat?


"Jungkook kembalikan Taehyung!" Teriaknya saat ia sudah mulai memasuki pintu utama Mansion pemuda tampan itu.


"Taetae balikkan Daddy Chim!" Jimin pun berteriak dengan suata tercekatnya.


Jungkook mendengar semuanya, namun ia mencoba tuli.


Biarkan ia melakukan apa yang harus ia lakukan kini.


Biarkan ia mengikuti kata hatinya kali ini.


"Taehyung jangan keluar dari sini, ingat perintah Daddy!" Tegasnya lugas.


Aneh.


"Taetae... Hikss. Appa,"


Jungkook geram, Taehyung kenapa sih?


"Kau ini kenapa huh? Bukannya selama ini kau mengemis aku menjadi Daddy mu? Sekarang?!" Teriaknya keras, menyebabkan si manis terlonjak kaget.


"Diam Taehyung, jangan keluar!" Setelahnya Jungkook menutup pintu kamarnya.


Tanpa peduli bahwa tangisan anak itu semakin pecah, tanpa peduli bahwa dorongan tadi membuat Taehyung harus relakan kepala mungilnya terbentur kerasnya marmer dingin pada lantai.


Menghampiri Yoongi dengan segera.


Menarik Jimin, lalu ia gendong anak manis itu.


Ia sampai melupakan kesayangannya, bahkan sampai menangis.


Rasa bersalah kembali menyeruak kepermukaan.


Melihat isakan tercekat Jimin.


"Shhsst, sudah ya sayang, jangan menangis lagi." Bujuknya, ia harus menenangkan kesayangannya dulu.

__ADS_1


"Sudah ya?" Jungkook tersenyum lembut pada Jimin.


"Chim capek nangis, mau bobo." Angguknya lucu, total lupa kalau ia baru saja menangis.


Jungkook dengan segera mengalihkan Jimin pada gendongan bibi Lee.


Lantas bibi Lee langsung membawa tuan mudanya itu ke kamar.


"Yoongi Hyung. Ku mohon. Pergi. Dari. Sini." Suaranya rendah terkesan dingin.


Maka dengan itu langkah gontai Yoongi bergema lesu di dalam ruangan itu, lalu hilang begitu saja tak lagi terdengar. Pertanda bahwa pemuda pucat tadi telah pergi dari Mansion Jungkook.


Menyisakan Jungkook yang tersenyum getir.


"Huh, semua kukembalikan padamu Jungkook, bukan berarti aku akan benar-benar melepaskan Taehyung padamu, dia masih tetap akan menjadi anakku, selalu. Selamanya." Ujar Yoongi setelah kembali dari kilas balik ingatannya siang tadi.


...


Malam hari, begitu sepi.


Terlalu dingin.


Ia rindu pelukan hangat Appanya.


"Hey, kau tidurlah Taehyung." Jungkook kembali berujar, walaupun nadanya tidak terkesan datar, namun tetap saja kesan dingin terlalu kentara terdengar.


Taehyung menggeleng lemah, namun ia juga mengantuk.


Yang menjadi pemicu kebingungannya kini, ia harus tidur di mana?


"Tae, tidur di mana ya?" Tanyanya, lebih tepatnya pada diri sendiri.


Gumamannya terlalu kecil bahkan dapat disebut sebagai bisikan.


"Tidur Tae, aku ini mengantuk." Jungkook mulai mematikan lampu utama kamarnya, yang tersisa sekarang hanya temaram lampu tidurnya.


Taehyung ingin tidur, ia mengantuk.


Tidak ada pilihan lagi, selain merangkak dengan kaki mungilnya pada ranjang Jungkook.


Ranjangnya empuk, Taehyung tentu suka.


"Daddy, maafin Taetae ya tidur di cini?" Ujarnya sembari menyamankan baringnya di ranjang empuk Jungkook.


Terdengar hela napas panjang setelahnya.


"Hmm, tidurlah." Dan kini Taehyung merasakan apa itu arti dekapan hangat yang sesungguhnya, dari Daddy nya.


Taehyung bahagia sekarang.


Tanpa tahu apa yang akan terjadi besok dan besoknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2