
Taehyung bergelung nyaman pada pangkuan Jungkook.
Hening masih menemani keterdiaman mereka, Jungkook juga terpecah fokusnya.
"Jimin," gumamnya kemudian, Taehyung mendengarnya.
Tubuhnya menegang hanya karena mendengar namanya, Jungkook merasakannya, ia tahu pasti banyak sekali pikiran pada otak kecil bocah manis itu.
"Sayang, tenang oke?" Ujarnya pelan, Taehyung mengangguk lalu meringis kotak pada Jungkook.
Jungkook juga ikut tersenyum melihatnya, berdiri perlahan dengan Taehyung yang kini beralih pasa gendongan depannya.
"Aku pamit dulu, Jimin pasti panik mencariku di Mansion," tutur Jungkook, membuat semua atensi pemuda di sana memusat padanya.
Yoongi terang-terangan menatapnya tak suka.
"Hanya jangan bedakan perhatianmu saja Jeon," tukasnya dengan dingin, Jungkook tersenyum lembut mendengarnya.
"Tidak akan!"
Setelah mengatakan itu Jungkook langsung keluar Rumah Jaehyun, dengan Seokjin yang juga ikut pamit.
Ia bawa tungkainya melangkah ke arah di mana Mobilnya terparkir.
"Seokjin Hyung, kau bawa kendaraan sendiri bukan?" Ucap Jungkook saat ia sudah berada di depan pintu masuk Audinya.
Seokjin mengangguk, lalu menunjuk ke arah Mobilnya terparkir.
Taehyung memendar arah ekor matanya, lalu terpaku pada sosok di ujung pilar samping rumah Jaehyun.
Raut wajahnya menegang, tubuhnya juga mengaku seketika, meremat ujung baju yang dikenakan Jungkook. Membuat atensi Jungkook beralih padanya.
"Kenapa Sayang?" Ujarnya lembut, dapat ia lihat raut wajah ketakutan begitu kentara terlihat di sana, namun Jungkook bingung apa pemicunya?
"Dad, olang itu... Ja'at, di cana," tunjuknya kaku pada keberadaan sosok itu.
Jungkook menoleh cepat, namun masih kalah cepat dengan sosok misterius itu.
Hingga tak ada yang Jungkook lihat saat ia menoleh ke arah yang tengah ditunjuk Taehyung, berbeda dengan Seokjin ia melihatnya sekilas.
"Kurasa ada seseorang di sana tadi?!" Pekiknya, membuat Jungkook mengeraskan rahangnya seketika.
"Minggu-minggu lalu aku akan diam saat Taehyung merasa ketakutan, namun kali ini tak akan kubiarkan kesayanganku merasa takut sedikitpun," bisiknya rendah, Seokjin menghela napas berat mendengar itu.
"Jangan biarkan Taehyung keluar sendiri tanpa pengawasan Jungkook, jika kau yakin orang itu berniat membahayakan Taehyung," ujar Seokjin, Jungkook mengangguk menyetujui.
Lalu mereka pulang ke Mansion keluarga Jeon, tanpa sadar bahwa sosok pengintai masih berada di sana.
Dengan senyum miring tersemat makin lebar dibibirnya.
"Banyak pemain baru huh? Kita lihat nanti!" Gumamnya rendah, amat rendah hingga membuat siapapun yang mendengar bergidik ngeri.
...
Mereka sampai di Mansion dengan waktu tidak terlalu lama, Jungkook menggendong Taehyung turun dari Mobil lalu melangkah tegas ke dalam Mansionnya.
Diikuti Seokjin dibelakangnya, ekor matanya sesekali memendar, menelisik ke arah seluruh penjuru bagian luar Mansion yang terlihat.
Karena entah pikiran atau perasaannya saja, kalau ia merasa ada yang mengintai kehidupan di Mansion Jeon ini.
__ADS_1
Setelah memastikan keadaan aman baru ia ikut masuk ke dalam Mansion.
Sekali lagi tanpa sadar telah memberi banyak peluang pada sosok itu menjadi semakin besar kepala.
Tempat sembunyinya bahkan akan dengan sangat cepat ditemukan oleh mata telanjang, namun terlalu sulit dilihat oleh mata tajam Seokjin.
"Belum saatnya," setelah kalimat singkat itu terucap, sosok itu melangkah jauhi Mansion Jeon tersebut.
Dengan seringai mengerikan terpatri apik di sana.
...
Jimin menggeliat dalam tidurnya, sudah pukul 10 pagi namun ia masih betah bergelung dengan hangatnya selimut yang dikenakan.
Bahkan melewatkan jam sarapannya.
Manik sipitnya perlahan terbuka, meraih segala kesadaran yang tertinggal.
Saat entitas Daddy tampannya tak terlihat di indra penglihatannya, wajahnya merengut dalam.
"Mana?" Tanyanya pada ruang sunyi itu, bahkan gorden kamar masih tertutup rapat seolah disengaja agar tidak mengusik tidur si bocah menggemaskan.
"Daddy mana?!" Nadanya sedikit meninggi, suaranya terdengar sedikit serak terdengar.
"Daddy mana? Mana?" Racaunya, baru terhenti saat entitas pemuda tampan dengan bocah manis digendongannya memasuki kamar.
"Chim ditinggal, Chim ditinggal?" Manik sipitnya berkaca, mendapati Jungkook menggendong Taehyung di ujung pintu sana.
Jungkook menurunkan Taehyung segera saat melihat Jimin siap menurunkan hujan di matanya, sedangkan Taehyung hanya menatap keadaan di depannya dengan polos.
Dilihatnya Jungkook yang merengkuh tubuh mungil Jimin dan membawanya ke pangkuan.
Melangkah semakin dekat ke pada Jungkook juga Jimin di ranjang empuk sana.
"Daddy cayang Tae 'kan?" Tanyanya memastikan, ujung bajunya ia pilin dengan gugup, manik indahnya menatap penuh harap pada Jungkook.
Jungkook tersenyum mendapati keadaan Taehyung, "Pastinya sayang," ujarnya, ia rengkuh tubuh kecil Taehyung, perlahan ia dekap dengan segala kehangatan yang ia punya.
Mengecupi puncak kepala Jimin juga Taehyung dipelukannya.
..
Senyum tanpannya tersungging apik pada belahan seksinya, "Sekarang ayo sarapan, pasti Chim lapar 'kan?" Ujarnya, yang tentu diangguki dengan cepat oleh Jimin.
Sedangkan Taehyung hanya bergeming, terlalu nyaman pada pangkuan serta kecupan yang Jungkook berikan padanya.
Menggendong keduanya pada dua lengan kokohnya, melangkah ke lantai bawah, tepat saat kakinya menapak pada lantai ruang makan ia dudukkan Taehyung juga Jimin pada kursi masing-masing.
Sedangkan ia sendiri mendudukkan diri pada kursinya, menatap lembut pada kedua kesayangannya itu.
"Jimin mau makan apa hm?" Tanyanya lembut, sedangkan Jimin sendiri menunjuk pancake yang ada di meja makan dengan gemas. Membuat semua yang ada di sana **** senyum.
Sudah jadi kebiasaan bagi mereka melihat Jimin sangat antusias hanya karena melihat pancake kesukaannya.
Bibi Lee segera memberikan potongan besar pada piring tuan mudanya itu, lalu menuangkan susu putih kesukaan Jimin.
Sedangkan piring Jungkook ia isi dengan sarapan kesukaan Tuannya.
Taehyung sendiri menatap polos pada Jungkook, lalu meringis kotak setelahnya.
__ADS_1
Jungkook maupun Jimin sudah selesai dengan sarapannya, pemuda tampan itu alihkan pusat perhatiannya pada sosok gembul lucu di samping kursinya.
"Tae mau makan apa hm?" Tanyanya yang langsung dihadiahi gelengan, si gembul ini sudah terlebih dulu sarapan saat di tempat makan pertemuan Seokjin tadi.
"Baiklah, sekarang kalian berdua ingin apa?" Ujarnya, membuat Jimin tersenyum hingga membuat manik sipitnya membentuk bulan sabit.
Jimin menatap Jungkook dengan binar di matanya, "Mau main cama Daddy, main ayo," pekiknya lucu, menghadirkan kekehan renyah dari pemuda tampan itu.
Jungkook alihkan pandangannya pada Taehyung, "Taetae juga mau main baleng," jawabnya disertai ringisan kotak ikoniknya.
Jimin memandangnya tak suka, sedangkan Jungkook dengan segera membawa kedua anak manis itu ke dalam rengkuhan lengan kekarnya. Ia bawa ke arah Taman samping Mansionnya.
Mendudukkan kedua bocah menggemaskan itu di ayunan, lalu ia juga posisikan dirinya untuk duduk di hadapan kedua bocah manis itu.
Jimin juga Taehyung bersebelahan duduknya, sedangkan di hadapan mereka sudah ada sosok tampan Jungkook yang menatapnya teduh.
"Hm, bersantai saja ya sayang, Daddy lelah sekali rasanya," ujar Jungkook kemudian, sedangkan kedua bocah itu kompak merengut setelah mendengarnya.
Mereka berdua ingin main bersama dengan Jungkook asal tahu saja.
"Tidak kasian pada Daddy nya hm?" Ucapnya saat menemukan keadaan kedua anak itu yang sudah memajukan bibir bawahnya, merajuk.
"Iya, Tae mau cantai-cantai caja, bial pala Tae dinin," ujarnya sok pintar, sedangkan Jungkook tersenyum lebar mendengarnya.
Apa-apaan ucapan Taehyung tadi, sudah selayak orang dewasa saja dia.
Sedangkan Jimin hanya melihat bagaimana Jungkook membawa tangannya untuk mengusak lembut surai madu milik Taehyung.
Itu seharusnya berlaku padanya bukan, kenapa Taehyung juga merasakannya sekarang?
Jungkook gemas sekali rasanya saat melihat tingkah lucu yang Taehyung lakukan, tanpa sadar perlakuannya membuat kesan tersendiri pada Jimin.
"Chim mau pangku Daddy caja," setelah mengatakan itu, segera mungkin Jimin labuhkan tubuhnya pada paha kekar Jungkook.
Sedangkan Taehyung masih saja mempertahankan senyum polosnya, saat tangan sang Daddy tak henti mengusap lembut puncak kepalanya.
"Taetae duduk cendili caja, coalnya Daddy cedang capek," ujarnya sok dewasa.
Tuhan, Jungkook semakin dibuat gemas oleh tingkah Taehyung.
"Hm, kenapa lucu sekali ya, kesayangan siapa sih ini?" Gemas Jungkook, seraya menarik pelan pipi berisi milik Taehyung.
Taehyung hanya tersenyum, lalu mencoba menghalau tarikan main-main tangan Jungkook pada pipi gembilnya.
Jimin merasa hampa, padahal ia sudah berada lebih dekat dengan Jungkook.
"Chim mau cium," ucapnya kemudian, membuat atensi Jungkook mengalih padanya.
Jungkook kecupi seluruh bagian wajah Jimin, "Sudah, hm?" Ujarnya, lalu mendapati gelengan dari keponakannya.
"Woah, suka sekali ya Daddy cium," Jungkook berucap sembari mengecupi kembali keseluruhan wajah memerah keponakannya itu.
Sebelum pekikan penuh rasa senang terdengar dari Taehyung, "Chim cini duduk baleng Tae," Taehyung berucap sembari menepuk gemas ruang kosong di sampingnya.
Sedangkan Jimin menatapnya enggan, ia sudah terlalu nyaman pada pangkuan Jungkook.
Jungkook mengecup puncak kepala anak menggemaskan itu berkali-kali, "Jimin, ayolah sayang," rayunya kemudian, jika sudah begitu Jimin dengan rasa berat duduk di samping Taehyung.
Jungkook hanya tertawa renyah saat melihat gerutuan asal keponakannya itu.
__ADS_1
Semoga selalu begini, pikirnya.