Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 3


__ADS_3

Menepuk pundaknya yang menghasilkan pekikan tertahan.


 


 


"Tae... Janan... Tatut."


 


 


Jungkook bingung, Taehyung meracau dan ia tak paham sama sekali.


 


 


"Bocah ini aku!" Setelah mengatakan hal itu Jungkook dapat melihat Taehyung mendongakkan wajahnya.


 


 


Manik kecokelatannya menusuk tepat pada obsidian sekelam malamnya.


 


 


Jungkook dapat melihat matanya sembab dan sangat merah.


 


 


Sebenarnya kenapa?


 


 


"Daddy!" Setelahnya pelukan itu terjadi begitu saja.


 


 


Lebih tepatnya, Taehyung yang memeluk sepihak kaki Jungkook.


 


 


Ia lega bertemu dengan Jungkook.


 


 


Rasa takutnya entah lenyap begitu saja.


 


 


Dan ia hanya bisa menangis sekarang.


 


 


"Tae... Tae.. Tatut... Tatut." Bahkan bocah manis ini hanya bisa meracau hal yang sama.


 


 


Jungkook total bingung, namun setelah sadar apa yang terjadi ia langsung mendorong kuat Taehyung yang dari tadi memeluknya.


 


 


Menyebabkan bocah itu kembali terjatuh, entah untuk ke berapa kalinya.


 


 


Tangisannya semakin kencang, bahkan isakannya semakin kuat terdengar.


 


 


"Dad, gendong Tae... Tatut." Pintanya memohon.


 


 


Dan Jungkook adalah Jungkook.


 


 


Maka dengan segera Jungkook hanya melenggang pergi begitu saja ke dalam Mansion.


 


 


Beberapa detik setelahnya Taehyung berlari menyusul Jungkook ke dalam Mansion.


 


 


Meninggalkan seseorang yang berdiri tepat beberapa meter dari tempatnya.


 


 


Menghiraukan sunggingan senyum miring yang tercetak jelas pada bibirnya.


 


 


"Belum saatnya aku mengambil hak ku, Jeon Jungkook kutitipkan dia padamu, hanya sementara, saat waktunya tiba, akan kuambil kembali!" Setelahnya ia memasuki Audi putihnya.


 


 


Melaju, meninggalkan kediaman Jeon.


 


 


...


 


 


Beruntung Jimin sudah tidur saat Jungkook sudah kembali, kalau tidak pasti anak itu akan mengamuk karena ditinggal.


 


 


Hati Jungkook tersayat saat melihat mata sipit si mungil terlihat sembab.


 


 


Setelahnya ia mengecup keningnya perlahan, lalu meninggalkan kamar itu dan berlalu ke kamarnya sendiri.


 


 


Saat ia turun ke bawah, matanya menangkap Taehyung yang sekarang sudah berada pada pangkuan bibi Lee.


 


 


Pandangannya tetap terpaku pada objek yang sama.


 


 


Setelahnya ia kembali ke kamarnya, namun ada yang harus ia lakukan.


 


 


"Bibi Lee, bawa dia tidur bersamamu malam ini, tapi ingat malam-malam berikutnya biarkan ia tidur dikamarnya sendiri." Setelahnya ia benar-benar pergi berlalu ke kamarnya.


 


 


Meninggalkan Bibi Lee yang tersenyum hangat dan Taehyung yang menatapnya sendu.


 


 


...


 


 


Pagi hari di kediaman Jeon Jungkook hanya terisi oleh kegiatan sarapan dan kegiatan pagi hari lainnya.


 


 


Sedangkan Taehyung kecil baru saja tiba dengan senyum kecil terbit pada bibir mungilnya.


 


 


Melangkah dengan pasti ke arah meja makan, yang mana sudah terdapat Jungkook bedanya sekarang Jimin duduk sendiri pada kursinya.


 


 


Bibi Lee yang melihatnya langsung saja membantu Taehyung untuk duduk pada kursinya dengan benar.


 


 


"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk di sini Taehyung?" Jungkook bertanya dengan nada dinginnya.


 


 


Senyum Taehyung perlahan luntur.


 


 


Sikap Jungkook masih sama saja ternyata.


 


 


"Tae hanya numpang duduk kok, titak mau makan." Ucapnya semangat.


 


 


Ia tahu kalau dirinya pasti tidak boleh makan pada pagi hari.


 


 


Dan ia paham itu.


 


 


"Ck, mengganggu saja!" Jungkook hanya menggerutu kesal lalu melanjutkan makannya.


 


 


Begitupun dengan Jimin.


 


 


Pandangan Jimin tak lepas dari sosok seumuran dengannya itu.


 


 


Ia masih kesal omong-omong.


 


 


Sarapan pagipun telah usai.


 


 


Jimin langsung meminta gendong pada Jungkook setelahnya.


 


 


...


 


 


Siang harinya Taehyung memandang sendu kegiatan Jungkook beserta Jimin di depannya.


 


 


Susah sekali ya rasanya mendapat perhatian Jungkook.


 


 


Pandangannya sesekali memindai ke lain arah.


 


 


Sekarang ia berada di taman bermain yang khusus Jungkook buatkan untuk Jimin.


 


 


Dan saat manik cokelatnya menangkap sesosok yang kemarin sempat ia temui.


 


 


Ketakutan kembali menderanya.


 


 


Apalagi saat senyum miring tersungging apik pada bibir tipisnya.


 


 


Maka secepat yang ia bisa, kakinya melangkah untuk mendekat pada Jungkook.


 


 


Setelahnya memaksa masuk dalam rengkuhan pemuda tampan itu.


 


 


Yang tentu membuat Jungkook tersentak kaget dan langsung mendorongnya.


 


 


Disertai pekikan tidak terima dari Jimin.


 


 


Namun Taehyung seolah batu, maka ia kembali mendekat pada Jungkook.


 


 


Manik kucingnya berkaca-kaca, ia terus berusaha merangsek masuk pada pelukan Jungkook.


 


 


Namun hal yang sama selalu dilakukan Jungkook, yaitu mendorongnya.


 


 


"Daddy, Tae tatut, orang jahat... Datang... Dia ambil Tae... Tae... Tatut."


 


 


Kosakatanya hancur, total membuat Jungkook bingung.


 


 


Namun melihat sikap anak itu yang seperti sedang benar-benar ketakutan, Jungkook sedikit melunak.


 


 


Membawa anak itu mendekat, Taehyung sedikit tersentak saat tiba-tiba tangan Jungkook menarik nya.


 


 


"Kau kenapa bocah?" Dan tak ada sahutan sama sekali hanya ada binar takut yang begitu kentara pada manik cokelat Taehyung.


 


 


Pupil matanya bergerak gelisah, menuju satu arah setelahnya.


 


 


Berulang kali Taehyung lakukan.


 


 


"Tae.. Tatut...hiks... Di sana... Itu... Hilang, Tae tatut Dad." Taehyung terus meracau tidak jelas, Jungkook hanya bergeming.


 


 


Dan tanpa ia sadari tangannya perlahan mengelus punggung Taehyung yang berada pada rangkulannya. Pelan dan penuh afeksi.


 


 


Membuat Jimin yang melihatnya menatap berang pada Taehyung.


 


 


"Kau mau lebut Daddy Chim ya?!" Jimin langsung saja mencubit keras tangan Taehyung yang berada pada pelukan Jungkook.


 


 


Taehyung diam untuk sesaat, tangisnya semakin menjadi saat merasakan sakit yang teramat pada lengannya.


 


 

__ADS_1


"Daddy, Chim peluk juga, lepas Tae... Peluk Chim." Jimin mencoba mengambil alih atensi Jungkook.


 


 


Namun Jungkook seolah tuli, pandangannya sedari tadi mengamati pergerakan yang ada pada arah tatapan di mana yang menjadi sumber ketakutan Taehyung muncul.


 


 


Terlalu cepat, tapi ia yakin ada seseorang di sana tadi.


 


 


Tapi siapa?


 


 


"Tae lepas, ini Daddy Chim!" Jimin terus berteriak bahkan sekarang tangannya dengan cepat memukul brutal tangan Taehyung.


 


 


Membuat Taehyung yang tak tahan sakitpun tanpa sengaja menendang Jimin dengan kaki mungilnya.


 


 


"Tae titak lebut Daddy Chim!" Ucapnya setelah lepas dari pukulan Jimin.


 


 


Dan tangisan Jimin, sontak membuat Jungkook tersadar dari kegiatannya.


 


 


"Kau apakan Jimin, Taehyung!?" Lalu setelahnya Jungkook berdiri membiarkan Taehyung tergeletak dengan lemasnya, sedangkan ia sendiri fokus menggendong Jimin lalu menenangkannya.


 


 


Taehyung yang banyak mendapat luka, kenapa ia juga yang mendapat hukumannya.


 


 


Bekas tamparan Jungkook waktu itu saja belum sembuh, memar di beberapa bagian tubuhnya saat ia di dorong dan membentur beberapa barang juga masih tersisa.


 


 


 


 


 


 


 


 


Ini adil tidak?


...


Jungkook terlalu fokus pada keadaan Jimin, sehingga menjadi buta pada keadaan Taehyung.


 


 


Tangisannya tak bersuara seperti Jimin, namun hujan yang keluar dari manik indahnya tak berhenti mengalir.


 


 


Semakin deras.


 


 


Isakannya bahkan tak terdengar, Taehyung lelah sehingga ia putuskan untuk tetap berada di tempatnya, meringkuk sembari memejamkan matanya.


 


 


Jungkook yang masih saja fokus pada Jimin, tak sekalipun menolehkan pandangannya pada sosok rapuh itu.


 


 


Memilih meninggalkan Taehyung, membawa Jimin dalam gendongannya yang masih terisak.


 


 


Tanpa peduli bahwa sosok pengintai masih berada di sana, tempat yang sama.


 


 


Senyum miring tersemat apik di sana, "Belum waktunya, tapi akan segera Jeon Jungkook!" Setelahnya pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.


 


 


Menoleh sebentar pada sosok rapuh di ujung sana, senyum miringnya kembali tersungging.


 


 


"Kau akan kembali padaku sayang, akan!"


 


 


Dan dengan itu ia melangkah penuh kepastian, pergi menyusun sesuatu kejutan untuk nantinya.


 


 


...


 


 


Jimin sedang asik berada dipangkuan Jungkook, menyandarkan penuh kepalanya pada dada bidang pemuda tampan itu.


 


 


Tangannya tak berhenti menunjuk ke arah televisi yang menyala menampilkan kartun lucu favoritnya.


 


 


Celotehan Jimin adalah penenang tersendiri bagi Jungkook.


 


 


Senyum Jimin adalah kebahagiaan sesungguhnya untuk Jungkook.


 


 


Beberapa menit berikutnya Jimin sudah tertidur, mungkin kelelahan.


 


 


Membawa tubuh kecil itu ke kamarnya, membaringkan penuh kehati-hatian.


 


 


Mengecup keningnya sedikit lama, lalu meninggalkan ruang malaikat kecilnya itu.


 


 


Menuruni tangga dengan santainya.


 


 


Tapat di hadapannya sosok pemuda pucat muncul.


 


 


Senyum Jungkook merekah tampan, "Oh, Min Yoongi selamat datang." Sapanya.


 


 


"Bedebah kecil ini, aku masih lebih tua darimu nak." Ujarnya malas.


 


 


"Baiklah, hyung ada apa?" Tanyanya setelah mereka telah duduk nyaman di sofa ruang keluarga Jungkook.


 


 


"Begini, sebenarnya aku tidak ingin membahas soal pekerjaan di sini Jung. Tapi aku dengar dari Hoseok kalau kau membawa tinggal anak seumuran Jimin bersamamu, aku hanya ingin menyapanya." Yoongi berujar dengan wajahnya yang amat tenang.


 


 


Sedangkan Jungkook hanya bisa merotasi bola matanya malas, ia pikir rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu ingin membicarakan hal penting, nyatanya.


 


 


 


 


"Benar kata Hoseok, kau berubah Jungkook, kemana kehangatan hatimu sekarang?" Perkataan Yoongi bahkan hanya dianggap angin lalu oleh Jungkook.


 


 


"Kau hanya ingin menyapanya kan, jadi silakan ke taman samping." Setelahya Jungkook berdiri dan melangkah ke arah lemari es, ternggorokannya serasa kering.


 


 


Sedangkan Yoongi langsung saja beranjak ke taman samping.


 


 


Sesampainya di sana pandangannya mengedar mencari sesosok anak manis itu.


 


 


"Ya Tuhan, Jeon Jungkook!" Teriaknya kesal.


 


 


Jungkook yang kebetulan memang ingin menuju ke taman mendengar teriakan sahabat albinonya itu.


 


 


"Ada apa hyung?" Tanyanya bingung.


 


 


Yoongi melotot horor.


 


 


"Ada apa katamu!? Kemana hatimu Jeon Jungkook!?" Teriaknya sembari menunjuk sesosok yang tengah meringkuk di sana.


 


 


"Taehyung? Kenapa dengannya?" Jika tidak mengingat Jungkook adalah sahabatnya, ia sudah pasti menghajar bajingan di sampingnya ini.


 


 


"Terserah!"


 


 


Yoongi berlari ke arah Taehyung, menggendong anak itu segera.


 


 


Dapat ia lihat anak digendongannya tak henti menurunkan hujan dari pelupuk matanya.


 


 


Hatinya teriris.


 


 


Kenapa Jeon Jungkook bisa sekejam itu?


 


 


Ia bahkan dengan jelas melihat memar keunguan di sudut bibir Taehyung.


 


 


Beberapa memar juga menghiasi bagian bawah anak manis ini.


 


 


Apa yang dilakukan Jungkook sebenarnya?


 


 


Yoongi benar-benar ingin menghajar Jungkook, jika saja anak digendongannya tak bersuara.


 


 


"Juhci capa?" Suaranya menggetarkan hati batu seorang Min Yoongi.


 


 


Perlahan air matanya juga mengalir, tatapan polos itu.


 


 


Bagaimana bisa Jungkook tega menyakitinya?


 


 


"Kau bajingan Jeon Jungkook! Kalau kau tak mau mengurusnya, biar aku saja." Suaranya merendah ditiap kata yang terucap.


 


 


"Silakan." Titik bahkan Jungkook tak mengekang sedikitpun.


 


 


"Baiklah, terima kasih!" Setelah itu Yoongi benar-benar keluar dari Mansion Jungkook dengan Taehyung digendongannya.


 


 


Menaiki mobil nya dengan Taehyung yang sekarang menatapnya polos.


 


 


Mendudukkan perlahan anak itu di kursi samping tempatnya duduk, memasangkan sabuk pengamannya.


 


 


"Kau akan bersamaku mulai sekarang, duduklah dengan nyaman." Setelahnya mobil yang mereka tumpangi melaju, membelah padatnya kota Seoul di siang hari itu.


 


 


Bersamaan dengan senyum miring yang semakin apik tersungging, dari seseorang.


 


 


"Pemain baru huh? Min Yoongi, Jeon Jungkook. Taehyung sayangku, belum saatnya."


 


 


Setelahnya ia melajukan mobilnya, menuju kediamannya sendiri.


 


 


7


Selepas Taehyung dibawa ke rumah sahabatnya itu.


 


 


Boleh Jungkook jujur?


 


 


Rasanya ada yang aneh.


 


 


Hening yang menyebalkan.


 


 


Tak ada celotehan, tak ada rengekan.


 


 


Sebenarnya ada apa?

__ADS_1


 


 


Jimin tidur siang setelah lelah menangis, tinggal Jungkook sekarang yang sedang bingung sendiri.


 


 


Ada yang aneh padanya, tapi iapun tak tahu itu apa?


 


 


"Bibi Lee, buatkan aku kopi," rasanya kepalanya pening sekarang dan ia butuh meminum kopi sekali-kali.


 


 


"Baik Tuan."


 


 


Beberapa menit kemudian kopinya datang, ia minum satu teguk pertama dan setelahnya rasanya ia malas untuk meminumnya lagi.


 


 


Bukan karena tidak enak, tapi entahlah.


 


 


"Daripada seperti orang linglung lebih baik aku tidur saja di kamar Jimin."


 


 


Setelahnya Jungkook melangkahkan tungkainya ke arah ruang Jimin.


 


 


Membuka pintu perlahan, sebisa mungkin tidak menyebabkan bedebum yang keras.


 


 


Tersenyum tampan saat netra sekelam malamnya menangkap pemandangan menenangkan kegelisahannya.


 


 


Jimin yang tertidur begitu lelap, tanpa celah dosa.


 


 


Membuat Jungkook merasa ingin mendekapnya seketika.


 


 


Perlahan merebahkan diri pada ranjang medium milik ponakan manisnya itu.


 


 


Menelusupkan tangannya pada bawah kepala Jimin, lalu membawa ponakannya mendekat agar bisa ia dekap erat.


 


 


"Daddy menyayangimu sayang," mengecup begitu lama kening Jimin, setelahnya ikut memejamkan mata, meraih mimpi indahnya.


 


 


...


 


 


Taehyung bingung, kepalanya ia miringkan imut.


 


 


Ini rumahnya tak kalah besar dari milik Daddy nya itu.


 


 


Namun rasanya teramat asing.


 


 


Sekarang ia duduk di sebuah sofa yang sangat empuk di ruang keluarga Min.


 


 


"Woah, anak manis siapa namamu?" Ujar seorang wanita paruh baya.


 


 


Taehyung tersentak kecil dari dunia pikirnya.


 


 


"Eum, Taetae. Taehyung." Jawabnya memiringkan kepala.


 


 


Sontak membuat wanita itu memekik gemas.


 


 


"Kau manis sekali sayang, Taetae nama yang bagus."


 


 


Setelahnya Taehyung sudah ada pada pangkuan wanita itu.


 


 


"Eomma, benarkan ia sangat manis." Yoongi datang lalu mengambil duduk di samping wanita yang sedang memangku Taehyung tadi.


 


 


"Ia sangat manis dan juga imut, kau yakin anak semanis dia tega Jungkook lukai!?" Yoongi hanya mengkodenya lewat pandangan matanya.


 


 


Nyonya Min awalnya bingung, namun saat menangkap bekas memar bahkan luka sobek disekitar bibir, ia merasa tersayat seketika.


 


 


Bagaimana ia melewatinya tadi, padahal begitu jelas bekas lukanya terlalu menyolok.


 


 


"Taehyung sayang, panggil aku eomma oke?" Tanyanya gemas.


 


 


Taehyung hanya mengerjab polos.


 


 


Lalu menjawab, "Titak oke, Tae tak punya mama, Tae cuma punya Daddy." Bagaimana bisa ke dua orang di sana tidak meneteskan airmata.


 


 


Saat Taehyung menjawab omongan itu dengan maniknya yang berkaca siap luruh kapan saja, jangan lupakan bibir mungilnya yang bergetar memilukan.


 


 


Taehyung terlalu manis untuk mendapatkan luka itu.


 


 


Terlalu polos dengan kejamnya dunia.


 


 


"Lalu Tae mau panggil apa, padahal eomma penginnya punya anak manis seperti Taetae nih?"


 


 


Taehyung menunjukkan cengiran manisnya, "Panggil Jumma boyeh? Atau mau Tae panggil Nini?" Jawabnya lucu.


 


 


"Nini juga bagus itu, yasudah Tae panggil Nini saja yah." Setelahnya hanya terdengar suara tawa lucu Taehyung yang menggemaskan.


 


 


Tawa yang pertama kali terdengar setelah beberapa hari tak terdengar, atau bahkan beberapa minggu tak terdengar.


 


 


...


 


 


Jungkook terbangun di sore hari masih dengan Jimin yang berada didekapannya.


 


 


Senyumnya mengembang walaupun rasanya masih ada yang aneh.


 


 


Bergegas turun dari ranjang Jimin, perlahan berjalan menuju pintu keluar.


 


 


Namun suara tersayangnya terdengar.


 


 


"Daddy, Chim mau ikut." Rengeknya manja sembari menjulurkan kedua tangan mungilnya.


 


 


Dan apa yang tidak Jungkook lakukan untuk kesayangannya itu.


 


 


Dengan pasti ia menggendong Jimin lalu perlahan keluar dan menuruni tangga ke lantai bawah.


 


 


Sesampainya di bawah, Jungkook melihat pemandangan yang tak pernah ia duga sebelumnya.


 


 


Min Yoongi juga sepupu terlampau ramahnya ada di sana, jangan lupakan keberadaan sosok mungil menggemaskan Taehyung juga berada bersama mereka.


 


 


Perlahan Jungkook melangkahkan kakinya dengan Jimin digendongannya, yang bahkan masih terlalu mengantuk. Terbukti dengan kepalanya yang memangku lucu dipundak Jungkook.


 


 


Duduk di sofa panjang, Jungkook mengedarkan pandangannya.


 


 


Dan saat manik jelaganya menatap keberadaan Taehyung, terdapat kilatan aneh di sana.


 


 


Terlampau terkejut.


 


 


"Oh, bajingannya sudah datang Hoseok." Suara rendah Yoongi terdengar begitu jelas di ruangan itu.


 


 


Hoseok hanya tersenyum menanggapi, beda dengan Taehyung yang masih asik bermain mobil-mobilannya.


 


 


"Apa maksudnya Hyung?" Tanya Jungkook dengan suara tak kalah rendahnya.


 


 


"Tidak ada, oh iya. Aku ke sini hanya untuk mengantarkan Taehyung yang katanya rindu pada Daddy nya." Terangnya.


 


 


Jungkook hanya merotasikan bola matanya terlampau malas.


 


 


Jimin yang sensitif saat mendengar nama anak sepantarannya itu disebut, melongokkan kepala kecilnya, mencari keberadaan Taehyung.


 


 


Saat manik kelamnya mendapati entitas Taehyung, tatapannya memicing.


 


 


Tepat pada mainan yang ada pada Taehyung.


 


 


"Mainan Chim," celetuknya nyaring.


 


 


Membuat semua pasang mata yang ada di sana menatap eksistensi bocah lucu itu.


 


 


Kaki kecilnya berontak ingin turun dari pangkuan Jungkook.


 


 


Dan saat kakinya mulai menapaki lantai, langkahnya dipercepat. Tujuannya adalah bocah manis dipangkuan Yoongi.


 


 


"Mainan Chim, balikkan mainan Chim!" Teriaknya sembari mencoba merebut mainan ditangan Taehyung.


 


 


Tapi Taehyung semakin erat mendekap mainannya.


 


 


Yoongi menurunkan Taehyung, saat anak itu kesusahan dalam pangkuannya.


 


 


Dan saat itu pula tangan Taehyung tak sengaja mendorong tubuh mungil Jimin.


 


 


"Tae titak mau kasih Chim."


 


 


"Tae titak mau Chim!" Pekiknya lantang pada Jimin yang sekarang sudah berkaca-kaca.


 


 


Jungkook sontak menggendong Jimin dan mendorong tubuh Taehyung hingga terjatuh kehilangan keseimbangannya.


 


 


"Lagi-lagi, kau ini!"


 


 


Tak peduli pada keadaan Taehyung yang sekarang sudah siap meluncurkan buliran beningnya, Jungkook sudah membawa Jimin ke lantai atas sembari berdecak.


 


 


Menulikan telinga pada teriakan Yoongi juga Hoseok, yang terkejut dengan kejadian barusan.


 


 


Tepat dihadapan mereka, bahkan Jungkook dengan tanpa dosa mendorong simungil Taehyung.

__ADS_1


 


 


__ADS_2