Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 2


__ADS_3

Taehyung merenung di pagi hari, boleh tidak sih ia sehari saja diberi kesempatan untuk bisa bermanja pada Jungkook, satu hari saja.


 


 


Otak kecilnya selalu menginginkan hal itu, namun susah sekali ia gapai.


 


 


Mengapa Jimin sangat mudah dimanja oleh Jungkook?


 


 


Selalu mampir dalam kepalanya pertanyaan itu.


 


 


Dan jawabannya hanya satu, hanya karena Jungkook menyayangi Jimin.


 


 


"Tae mau pangku Daddy, mau makan baleng, mau tidul baleng dan mau dimandikan juga cama Daddy." Gumamnya lucu juga sedih.


 


 


Bibi Lee yang melihat anak itu sedang berbisik lirih hanya bisa tersenyum sendu.


 


 


"Pasti Tae, pasti Tuan Jungkook  akan melakukan apapun hal yang kau inginkan ini nanti, secepatnya Bibi yakin."


 


 


 


 


Bisakah itu dipercaya?


 


 


Bibi Lee beranjak dari kursi yang ia duduki sekarang, melangkahkan tungkainya mendekat pada sesosok anak manis yang sedari tadi sedang duduk di ayunan Taman yang dikhususkan Jungkook untuk Jimin.


 


 


Berlutut di hadapan Tuan mudanya itu.


 


 


"Mau main sama Bibi sayang?" Tanyanya sembari tersenyum dan Taehyung menggeleng lemah.


 


 


"Tae mau main cama Daddy caja Bi."


 


 


"Nanti ya sayang, sekarang main ditemani Bibi dulu." Ujarnya lembut setidaknya ia harus mengembalikan suasana ceria anak tersebut, ia tak tahan melihatnya seperti ini sungguh.


 


 


"Boyeh, yuk main lobot balu milik Tae, dali Daddy."


 


 


Dan pagi itu suasana hati Taehyung kembali ceria ditemani bermain oleh tiga bibi cantiknya, tidak buruk juga.


 


 


...


 


 


Tadi pagi Taehyung lagi-lagi tidak sarapan.


 


 


Masih dengan alasan yang sama, yaitu Jungkook yang tak memperbolehkannya.


 


 


Untungnya Taehyung itu memang sudah terbiasa tidak makan teratur tapi tetap saja, tak adakah rasa kasihan sedikit saja.


 


 


"Tae lapal tapi tak boyeh makan ya?" Sudah lima kali Taehyung bergumam seperti itu.


 


 


Sekarang Taehyung sedang berada di ruang bermain Jimin.


 


 


Tenang saja karena Taehyung tak akan berani bermain, mainan milik Jimin lagi setelah kejadian itu.


 


 


Ia sudah punya mainan sendiri sekarang.


 


 


Sesekali ekor matanya melirik Jimin yang sedang asik bermain dengan Jungkook.


 


 


Ia ingin juga.


 


 


"Tae mau main baleng boyeh?" Jimin melirik sekilas dan melanjutkan kembali acara bermainnya.


 


 


Sedangkan Jungkook diam tak ada respon.


 


 


"Dad, cekali caja main cama Tae, abis itu titak lagi tak apa." Jungkook benar-benar lelah mendengar suara berisik Taehyung ini.


 


 


Dengan segera ia meninggalkan Jimin yang menatapnya bingung.


 


 


Mendekat ke arah Taehyung yang penuh binar ceria di manik indahnya.


 


 


Namun perlahan binar itu redup saat kalimat Jungkook menusuk gendang telinganya.


 


 


"Kau ini jangan minta terlalu banyak bisa tidak sih! Sudah untung aku memberikanmu mainan Jimin." Taehyung gemetar mendengar suara dingin milik Jungkook, berbeda dengan Jimin yang sekarang sudah melotot tidak terima.


 


 


"Jadi itu mainan Chim ya? Daddy napa kasih dia?" Jimin berteriak tepat di hadapan Taehyung dengan tangannya yang mungil menunjuk tepat di wajah.


 


 


"Kembalikan milik Chim!" Taehyung yang merasa mainannya akan diambil segera memeluk erat robot pemberian Jungkook itu.


 


 


"Tae dikacih Daddy, belalti ini milik Tae, iya 'kan Dad?" Jungkook hanya menatap datar Taehyung lalu tersenyum pada Jimin.


 


 


Menggendong Jimin dan dengan tega mengambil robot yang sempat ia berikan pada Taehyung.


 


 


Berlalu begitu saja tanpa menyadari bahwa yang telah dilakukannya begitu membekas pada otak kecil Taehyung.


 


 


"Jadi Daddy, benar gak cayang Tae ya?"


 


 


"Tae anak jeyek ya, atau Tae anak nakal?"


 


 


...


 


 


Siang haripun masih sama Taehyung belum mendapatkan asupan, ia hanya boleh diberi minum tapi tidak dengan makan.


 


 


Bibi Lee ingin sekali membelikan Taehyung makan menggunakan uangnya sendiri, namun malah mendapat ancaman akan dipecat oleh Tuannya.


 


 


"Taehyung mau mandi sekarang lalu kita akan makan setelahnya?" Taehyung menggeleng, ia ingin dimandikan Jungkook saja.


 


 


"Tae mau mandi baleng Daddy caja." Lalu kaki kecilnya melangkah ke arah kamar Daddynya.


 


 


Beruntung pintunya tidak dikunci jadi ia bisa masuk dengan leluasa.


 


 


Di Sana ia melihat Jungkook yang sedang bersiap untuk masuk ke kamar mandi.


 


 


"Daddy!" Panggilnya saat melihat Jungkook akan memasuki kamar mandinya.


 


 


"Kenapa kau bisa masuk ke sini bocah?!"


 


 


"Kalena pintunya gak dikunci, hehe." Taehyung menjawab dengan pintarnya.


 


 


"Mau apa kau kemari, ingin menanyakan boleh makan atau tidak, kalau iya sekarang kau boleh makan. Cepat pergi, aku mau mandi!" Jungkook segera menyeret tangan mungil Taehyung, namun sang empunya tetap bergeming.


 


 


Pandangan matanya berkaca-kaca.


 


 


"Daddy, Tae mau mandi baleng."


 


 


Jungkook dibuat geram dengan tingkah bocah ini, ia kira dirinya siapa ingin mandi bersamanya.


 


 


"Pergi dari dari sini cepat, jangan buat kesabaranku habis." Gertak Jungkook.


 


 


Namun Taehyung masih tersenyum, seolah tak akan ada yang terjadi setelahnya.


 


 


"Tae, mau." Ia masih bersikeras untuk dapat mandi bersama Jungkook.


 


 


Cukup, Jungkook tidak kuat lagi.


 


 


Maka, "KUBILANG KELUAR TAEHYUNG!" Teriaknya marah bahkan terdengar begitu memekakkan telinga mungilnya.


 


 


Air matanya tak dapat lagi ia tahan.


 


 


"Tae mau, Tae mau... Tae mau." Gumamnya.


 


 

__ADS_1


"Tae... Hiks...Mau."


 


 


"Kau ingin aku berlaku kasar padamu atau bagaimana Taehyung?!" Jungkook hanya ingin tenang, tapi kehadiran bocah ini benar-benar membuatnya bisa mati muda.


 


 


"Tapi Tae mau!" Taehyung menjawab dengan lantang.


 


 


Jungkook betul-betul kehilangan kesabarannya sekarang, maka jangan salahkan ia jika...


 


 


PLAKK!


 


 


Taehyung terjatuh dengan keras saat tamparan cukup keras ia terima dari Daddy nya.


 


 


Pipinya terasa perih, bibirnya bergetar hebat.


 


 


Matanya kembali memanas dan rasa anyir mendera indera perasanya.


 


 


Jungkook cukup terkejut dengan apa yang ia perbuat, namun egonya tetap kukuh tak akan pernah goyah.


 


 


Taehyung hanya ingin mandi bersama Daddy nya sekali saja.


 


 


Tapi malah hal tak terduga yang ia dapat.


 


 


Sekali lagi biarkan ia mencoba, "Mau mandi cama Daddy boyeh?"


 


 


Dan detik selanjutnya pintu kamar itu tertutup bersamaan dengan teriakan Jungkook.


 


 


"Tidak sudi!"


 


 


Taehyung merasakan pusing mendera, ia tak bisa turun kebawah, yang terakhir kali ia dengar adalah teriakan Bibi cantiknya, sebelum direnggut paksa oleh kegelapan.


 


 


Taehyung pingsan, melihat itu Jungkook sedikit merasa bersalah.


 


 


Kemarin ia lepas kontrol.


 


 


Namun masih belum cukup untuk masuk terlalu dalam pada relung hatinya.


 


 


Jungkook tidak panik saat melihat Taehyung lemah, tidak seperti saat ia melihat Jimin yang terluka.


 


 


Jahat? Memang iya.


 


 


Dokter datang untuk memeriksa keadaan bocah manis itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


 


 


Lukanya tidak terlalu parah, namun otaknya sedikit tidak dapat menerima perlakuan itu.


 


 


Mungkin akan jadi sedikit pemicu trauma muncul pada permukaan, namun masih bisa teratasi.


 


 


Manik indahnya terbuka, tatapan poloslah yang dilayangkan. Membuat semua yang ada di sana meggelengkan kepala, terlalu tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi.


 


 


Bibi Lee tentu saja yang paling menunjukkan wajah panik yang luar biasa.


 


 


Terlalu kejam perlakuan itu jika Taehyung kecil yang mendapatinya.


 


 


Ia tak habis pikir, bagaimana bisa Tuan yang selalu bersikap baik itu, dapat melakukan hal seanarkis ini, parahnya pada anak kecil.


 


 


"Bibi Lee, urusi saja dia. Kalau tidak ada hal yang penting jangan pernah hubungi saya, kecuali untuk Jimin, hal sekecil apapun, turuti kemauannya." Ujar Jungkook lalu bergegas pergi menuju ke Kantornya.


 


 


Tanpa melihat sedikitpun ke arah Taehyung yang menatapnya dengan sendu.


 


 


"Bibi, Tae mau kelual dulu ya." Taehyung melangkahkan kaki mungilnya pada permukaan lantai.


 


 


Keadaannya cukup memprihatinkan, namun melarang tuan mudanya itu ,tidak sebaiknya ia lakukan.


 


 


Membiarkan Taehyung pergi melangkah keluar adalah yang terbaik dalam hal ini.


 


 


 


 


...


 


 


Jungkook berkutat dengan Laptop nya sekarang, kerjaannya sedikit lebih banyak.


 


 


Karena dua hari ini dia tidak masuk Kantor.


 


 


"Sajangnim, setelah jam makan siang anda harus menghadiri rapat kerja sama dengan Min Corp."


 


 


"Baiklah, Sekretaris Jung." Jawab Jungkook.


 


 


Menoleh ke samping, menemukan Sekretarisnya yang masih setia berdiri di sana.


 


 


"Hyung, jika kita hanya berdua jangan terlalu formal seperti ini, aku merasa tidak nyaman." Ucap Jungkook.


 


 


Sekretaris Jung, atau bisa disebut Jung Hoseok sahabat sekaligus sepupu jauhnya.


 


 


Hoseok hanya tersenyum menanggapinya.


 


 


"Kudengar kau membawa seorang anak kecil ke Mansion mu, kenapa kau tak memberitahuku?" Jungkook hanya tersenyum sekilas menanggapi sepupunya itu.


 


 


"Tidak terlalu penting, lagi pula hanya seorang anak tak jelas asal-usulnya." Jawaban seadanya dari Jungkook itu membuat Hoseok mengernyitkan dahinya.


 


 


"Maksudmu?" Tanya Hoseok penasaran.


 


 


Jungkook menceritakan kronologi saat ia bertemu dengan Taehyung, sampai akhirnya memutuskan membawa anak itu pada kediamannya.


 


 


Hoseok mengangguk paham.


 


 


"Tapi kau jangan terlalu jahat padanya Jungkook, walaupun ia tak ada hubungan darah denganmu sekalipun, tetap saja kau perlakukan dia selayaknya." Hoseok hanya menyuarakan apa isi hatinya, ia sangat menyayangi anak kecil, jadi dibagian dadanya terasa sakit jika mahkluk mungil menggemaskan itu diperlakukan tidak seharusnya.


 


 


"Entahlah Hyung, aku hanya tidak bisa menyayangi anak kecil lainnya, seluruh perhatianku aku tujukan untuk keponakan kesayanganku Jimin." Jungkook tersenyum saat menyebut nama Jimin.


 


 


Drrttttttt... Drrttt


 


 


Telepon genggamnya bergetar menandakan panggilan masuk


 


 


Bibi Lee.


 


 


"Halo, ada apa Bi?" Ucapnya saat teleponnya tersambung.


 


 


"Tuan Jungkook, tuan muda Taehyung..."


 


 


Tut....


 


 


Belum sempat Bibi Lee menyelesaikan kalimatmya, Jungkook sudah terlebih dahulu memutuskan panggilan sepihak.


 


 


"Aku kira ada apa, ternyata urusan bocah ingusan itu."


 


 


Hoseok yang saat ini telah duduk di Sofa mengertyit bingung.


 


 


"Kenapa Jung?"


 


 


"Bibi Lee menelepon, soal Taehyung tapi aku tidak tertarik sama sekali dengan urusan anak itu, jadi aku putuskan saja teleponnya."


 


 


"Bagaimana jika itu hal yang penting Jungkook?!" Hoseok sedikit menaikkan nada suaranya, sepupunya ini kenapa jadi sosok yang enggan peduli pada sesama.


 


 


"Bagiku tidak ada hal penting jika itu menyangkut Taehyung, kecuali itu Jimin baru itu menjadi hal yang paling penting bagiku, Jimin prioritasku Hyung, sedangkan Taehyung tidak sama sekali." Jawabnya.


 


 

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak ingin tahu lagi, setidaknya aku sudah memperingatkanmu Jung." Setelah itu Hoseok masuk pada ruangannya sendiri yang tepat berada di hadapan ruangan sepupunya itu.


 


 


...


 


 


Setelah rapat kerja samanya selesai, Jungkook kembali ke Mansion.


 


 


Rasa lelahnya seolah hilang saat melihat Jimin dengan tenangnya bermain di ruang TV.


 


 


"Hei sayang, televisinya kenapa tidak dilihat hn? Kenapa malah asik main robot." Jungkook membawa tubuh mungil Jimin dalam pangkuannya.


 


 


Jimin langsung menyamankan posisi pada pangkuan Jungkook.


 


 


"Chim bocan Dad," Jawabnya lucu.


 


 


Jungkook hanya terkekeh kecil melihat tingkah menggemaskan keponakannya ini.


 


 


"Kalau begitu tunggu saja di kamarmu hn, Daddy ada sesuatu untukmu." Dan tentu saja setelahnya Jimin berlari dengan semangat ke arah kamarnya.


 


 


Meninggalkan Jungkook yang hanya bisa tersenyum tampan.


 


 


Tak lama Bibi Lee muncul dengan tergesa di hadapan Tuannya.


 


 


"Tuan, Tuan muda Taehyung--"


 


 


Lagi-lagi ucapanya terpotong oleh Jungkook.


 


 


"Jangan katakan padaku jika itu tentang Taehyung, kau bisa mengurusnya sendiri!"


 


 


Jungkook yang baru saja melangkah harus berhenti saat suara lirih Bibi Lee terdengar begitu memilukan.


 


 


"Tuan muda Taehyung tidak ada di Mansion, ia hilang sejak tadi pagi Tuan."


 


 


Taehyung sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


 


 


Tentu ia akan panik mengetahui bahwa tuan mudanya itu tidak ada.


 


 


Ia sudah mencari di keseluruhan Mansion ini, namun nihil.


 


 


Maka cara satu-satunya hanyalah meminta bantuan Jungkook.


 


 


"Bagus jika dia hilang, kalau bisa tidak usah kembali!" Namun jika jawaban sarkaslah yang akan ia dapat, tentu ia tak akan pernah mengatakan hal ini pada Tuannya, ia bisa mencarinya sendiri.


 


 


...


 


 


Sedangkan sosok mungil yang menjadi sumber kepanikan Bibi Lee sedang bingung ada di mana sekarang.


 


 


Kaki kecilnya sudah sangat lelah, ia ingin pulang namun tak tahu jalannya.


 


 


Bahkan matanya sudah sangat sembab dan perih, lelah menangis.


 


 


"Tae di mana?" Ini sudah lebih dari puluhan kali terucap oleh bibir mungilnya, namun tak ada hasil.


 


 


Hanya bingung yang semakin ia dapat.


 


 


Kepala kecilnya mendongak saat ada siluet seseorang di hadapanya.


 


 


Pandangannya terpaku pada sosok itu, bibirnya bergetar hebat.


 


 


Ingin berteriak namun lidahnya kelu, dan saat tubuhnya direngkuh oleh orang itu.


 


 


Satu yang ia rasakan.


 


 


Takut.


 


 


Taehyung takut.


 


 


"Mudah sekali teryata menemukanmu sayang," ujarnya dengan senyum miring tersungging apik pada bibir tipisnya.


 


 


Membawa tubuh Taehyung yang masih setia bergetar dalam gendongannya memasuki Audi putihnya.


 


 


Lalu melaju begitu saja ,meninggalkan tempat tadi.


 


 


Saksi bisu, munculnya ketakutan Taehyung kembali.


 


 


...


 


 


Jungkook bingung, ini diluar pemikirannya.


 


 


Ia tak mau peduli, otaknya pun mengatakan tidak.


 


 


Tapi hatinya bimbang.


 


 


Meninggalkan Jimin yang masih setia merengek padanya.


 


 


Bukanlah suatu pilihan.


 


 


Namun hari semakin larut.


 


 


Dan ia harus mengambil keputusan jadi satu yang harus ia lakukan sekarang.


 


 


"Ke mana kau bocah?" Tuturnya lalu bergegas memasuki BMW putihnya, meninggalkan Jimin yang sekarang menangis.


 


 


Untuk pertama kalinya, Jungkook mementingkan Taehyung daripada kesayangannya, Jimin.


 


 


Jungkook kalut dan ini tidak benar.


 


 


Ia baru saja meninggalkan Jimin hanya untuk bocah sial seperti Taehyung.


 


 


Jam telah menujukkan pukul 09.21, tapi satupun tanda keberadaan Taehyung tak ada sama sekali.


 


 


"Kemana kau bocah?" Gumamnya.


 


 


Hampir dua jam lamanya Jungkook mencari, namun tidak ada hasil.


 


 


Pikirannya pun terbelah menjadi dua, ia khawatir pada Jimin tapi ia juga harus menemukan Taehyung, sekarang juga.


 


 


Ia pun kembali melajukan mobilnya, tujuannya sekarang adalah pulang.


 


 


Jika ia tidak bisa menemukan Taehyung, itu artinya bukan sebuah masalah.


 


 


Malahan ia yang akan bebas, dari belenggu tanggung jawab yang bukan seharusnya.


 


 


Saat mobilnya sudah memasuki pelataran Mansion, obsidian sekelam malam miliknya menangkap sebuah siluet yang sangat ia kenali.


 


 


Berdecak beberapa kali, mencoba meredam emosinya.


 


 


Anak yang selama dua jam ia cari nyatanya meringkuk tepat di samping pintu gerbang.


 


 


Memberikan kunci mobilnya pada satpam untuk dimasukkan pada garasi.


 


 


Perlahan ia keluar dari mobilnya.


 


 


Menghampiri bocah menggemaskan itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2