Jungkook Daddy

Jungkook Daddy
Episode 15


__ADS_3

Saat dirinya membuka mata kecilnya, ruangan sudah mulai gelap. Remang-remang karena keadaan penerangan yang belum dipasang.


 


 


Hatinya terenyuh karena ia masih berada dalam pelukan hangat sang Daddy.


 


 


Menjawil sedikit hidung bangir milik Jungkook, membuat tidur pemuda tampan itu sedikit terusik.


 


 


"Hm, ada apa Chim?" Ujarnya serak.


 


 


Dan lagi-lagi terulang, selalu.


 


 


Apa yang ada di kepala Jungkook hanya Jimin saja, rasanya tak ada lagi tempat untuknya.


 


 


"Ini, Taetae," suaranya bergetar, mencoba melepaskan pelukan di tubuhnya dari lengan kekar Jungkook.


 


 


Tubuh Jungkook tersentak kecil saat mendengar suara itu, membuka matanya secara keseluruhan dan benar saja dipelukannya kini hanya ada Taehyung, bukan Jimin.


 


 


Merasa sedikit bersalah, melihat mata indah milik bocah menggemaskan itu kembali berkaca.


 


 


Ia bangun dari baringnya, lantas merengkuh tubuh mungil Taehyung dalam dekapannya.


 


 


"Maaf," ucapan itu terlontar begitu saja, tanpa tahu dengan betul maksudnya berujar.


 


 


Spontan.


 


 


Taehyung menggeleng dalam pelukannya, "Lapal," rengeknya lucu, berharap mendapatkan perhatian.


 


 


Nyatanya kini sosok Jungkook perlahan berubah, "Ayo, aku gendong," ujarnya.


 


 


Menggendong Taehyung setelahnya, keluar kamar dan berakhir masuk ke dalam kamar keponakannya.


 


 


Ia harus membangunkan Jimin tentu saja, seperti ucapannya tadi sore.


 


 


Saat kakinya menapaki lantai kamar sang keponakan, dapat ia lihat sosok lucu Jimin bergelung nyaman di kasur empuknya.


 


 


Berjalan mendekat lalu mendudukkan diri yang tentu dengan Taehyung berpindah pada pangkuannya.


 


 


Membelai lembut surai sang keponakan, "Sayang, bangun," ujarnya lembut.


 


 


Dirasa ada yang mengusik tidurnya, manik bulatnya terbuka perlahan.


 


 


"Eum, Daddy," ucapnya.


 


 


Namun saat manik lucunya melihat keberadaan Taehyung dipangkuan Jungkook, ia mulai merasa tak bersahabat.


 


 


"Tulun, Tae jelek tulun. Daddy gendong Chim caja," ucapnya ketus, Jungkook menghela napasnya sebentar, lalu menurunkan Taehyung dan beralih menggendong Jimin.


 


 


Tanpa melihat raut wajah Taehyung yang kembali merengut, selalu seperti ini, pikirnya.


 


 


Jika ada Jimin, semua atensi perhatian Jungkook akan ada pada bocah seumuran dengannya itu.


 


 


Taehyung mengikuti langkah lebar sang Daddy, sampai pada meja makan ia dibantu duduk oleh bibi Lee.


 


 


Tersenyum kotak saat melihat banyak makanan tersaji di hadapannya.


 


 


"Mau," ujarnya lucu, maniknya berbinar cerah.


 


 


Jungkook mengangguk memberi kode pada sang pelayan untuk menyajikan makanan yang ditunjuk Taehyung.


 


 


Saat Taehyung ingin menyantapnya, sebuah suara membuatnya berhenti.


 


 


"Ciapa bilang Tae boleh makan?" Ujarnya sembari menyeramkan wajahnya, walaupun malah terlihat menggemaskan.


 


 


Sontak manik Taehyung menatap atensi Jungkook, tak mendapat respon apapun, ia mulai turun dari kursinya.


 


 


Selalu seperti ini, Jungkook seolah mati kutu jika di hadapan Jimin.


 


 


Taehyung paham, paham sekali.


 


 

__ADS_1


Dengan langkah lesu ia kembali ke arah kamar, bukan kamar Jungkook. Ia kembali ke kamar yang seharusnya ia tempati di Mansion ini.


 


 


Jungkook menatap Taehyung resah, berbalik pada Jimin yang mulai tersenyum lucu, setelah berhasil membuat Taehyung pergi dari sana.


 


 


"Taehyung," panggilnya dengan nada rendah.


 


 


Tak mendapati respon Jungkook kembali memanggil.


 


 


"Taehyung berhenti," suaranya masih ia usahakan untuk berada pada nada yang aman, tidak terlalu tinggi.


 


 


Sekali lagi ia memanggil tepat saat Taehyung berada di depan pintu kamarnya, "Taehyung, kubilang berhenti!" Suaranya tak sengaja meninggi, membuat Taehyung membatu sebentar, sebelum akhirnya menatap ke arah Jungkook dengan mata berairnya.


 


 


"Tae, tidul aja bial gak lapal lagi, dah," demi Tuhan rasanya sakit, melihat kondisi anak itu.


 


 


Tetap tersenyum ditengah tangisnya yang tak henti mengalir, membuka kenop pintunya yang ternyata terkunci.


 


 


Kembali mendekat ke arah Jungkook, matanya tak henti menurunkan hujannya.


 


 


"Tae, ingin tidul, pintunya di kunci... Hikss," isakannya kembali terdengar oleh rungu, sungguh Jungkook tak tega kali ini.


 


 


"Tae tidul di mana?"


 


 


"Tae tidul di lumah Appa caja ya, tapi Tae tak tahu pulang ke cana pakai apa?" Racaunya, ia lapar juga mengantuk sekarang.


 


 


Jungkook bahkan bergeming di tempatnya tak beranjak sekalipun, memandangnya sulit diartikan.


 


 


"Tae, mau tidul di lual caja," seharusnya Taehyung berhenti meracau, karena emosi Jungkook sedang labil sekarang.


 


 


Taehyung terus berujar, pada akhirnya ia kembali memastikan.


 


 


"Daddy, cayang Tae titak?" Ujarnya kemudian.


 


 


Dan bentakan Jungkook lah yang menjadi akhir pembicaraan mereka, "Pakai Tanya!"


 


 


Yang tak menjawab sedikitpun rasa penasarannya. Taehyung butuh jawaban 'iya' sebagai penguat, bukan yang lainnya.


 


 


Berdiri dari duduknya, tak menghiraukan panggilan Jimin sekalipun.


 


 


Mempercepat langkahnya demi mencapai tubuh mungil Taehyung, selangkah lagi dan Jungkook berhasil merengkuh Taehyung.


 


 


"Hey, lihat aku,"  tak mendapati apa-apa selain Taehyung yang semakin menunduk dalam, seolah enggan menatap Jungkook.


 


 


Jungkook memandang resah Taehyung, "hey, sayang. Lihat Daddy sekarang."


 


 


Sekali lagi Taehyung tak merespon, bocah manis itu terlalu takut menatap Jungkook.


 


 


Bentakan tadi berefek besar padanya, Jungkook tak akan pernah berubah, itu pikirnya.


 


 


"Juhci tak cayang Tae, Tae tahu itu," ujarnya lirih, Jungkook serasa tertikam benda tajam. Ulu hatinya terasa nyeri mendengar panggilan itu.


 


 


"Dengar sayang, hey lihat aku!" Ucapnya meninggi, sungguh tak ada maksud apapun.


 


 


Taehyung mendongak perlahan, maniknya meraup atensi Jungkook di depannya. Dapat ia lihat netra kelam sang Daddy memerah entah karena apa.


 


 


"Juhci benci Tae, Juhci cuma cayang Chim," racaunya, Taehyung kecil merasakan sesak di dadanya. Terlalu rapuh jika harus disakiti lagi, ia hanya anak kecil biasa tolong.


 


 


Jungkook merendahkan sedikit harga dirinya, memeluk erat tubuh menegang Taehyung.


 


 


"Dengar, aku menyayangimu sayang, Daddy menyayangimu, kau senang sekarang? Jangan menangis lagi hm?" Ujarnya lembut, ia rengkuh tubuh itu dalam hangatnya dekapan, menggendongnya mendekat ke arah meja makan.


 


 


Perlahan mendudukkan diri Taehyung pada pangkuannya, "sekarang makan hm? Daddy suap oke," tanyanya.


 


 


Mendapat anggukan lemah dari Taehyung, segera mungkin ia suapkan sesendok makanan pada mulut mungil bocah menggemaskan itu.


 


 


Tangisnya masih tak henti mengalir, sesenggukannya semakin keras terdengar. Hampir tersedak oleh makanannya sendiri.


 


 


Jungkook meletakkan piring makan Taehyung yang masih tersisa banyak, memilih untuk menenangkan terlebih dulu anak manis itu.


 


 

__ADS_1


Mempuk-puk pelan bagian bokong anak manis itu, mencoba menenangkan.


 


 


Jimin melihatnya, anak manis itu melihatnya. Dan ia benci itu.


 


 


Fakta bahwa Taehyung benar-benar akan merebut Daddy tampannya.


 


 


"Chim, gendong. Tae tulun," ucapnya mengharap pada Jungkook.


 


 


Namun ada saatnya Jimin merasa tak diperhatikan, ada kalanya ia merasa tak dianggap.


 


 


Jungkook menatap keponakannya itu memelas, "nanti saja ya sayang, Chim makan dulu saja. Tae biar pangku Daddy dulu hm?" Jawabnya.


 


 


Dan Jimin hanya merengut mendengar itu.


 


 


"Tae, lapal," ucapnya serak.


 


 


Merasakan tak lagi terdengar keras isakan Taehyung, Jungkook kembali menyuap makanan pada mulut bocah menggemaskan itu.


 


 


Sesampainya pada suapan terakhir Jungkook masih menyuapkan makanan itu dengan sabar pada Taehyung.


 


 


Setelah makanan di piring Taehyung tandas, ia segera minumkan air putih pada anak manis itu.


 


 


"Kenyang hm? Atau mau nambah?". Taehyung hanya menggeleng lemah, perut kecilnya tak lagi bisa menampung makanan lebih banyak lagi.


 


 


Jungkook tersenyum tampan melihat perut mungil Taehyung terlihat sedikit mengembung lucu.


 


 


Memakan makanannya sendiri, setelah menandaskan makanan di piringnya, ia melahap sedikit makanan penutupnya.


 


 


Melihat ke arah Jimin yang sudah terlihat sangat mengantuk, mungkin kekenyangan.


 


 


"Chim sayang, ingin tidur hm?" Ujarnya lembut, sembari mengusap pelan surai arang milik sang keponakan.


 


 


"Chim, ngantuk Dad~ " jawabnya lirih, sudah mengantuk sekali anak menggemaskan ini.


 


 


"Baiklah, ayo tidur!" Setelahnya ia bawa tubuh mungil Jimin pada gendongan tangan kanannya sedangkan sebelah kiri ia gunakan untuk Taehyung.


 


 


Menaiki tangga dengan santai seolah tanpa beban, membawa kedua anak manis di masing-masing tangannya itu ke kamarnya sendiri.


 


 


Setelahnya masuk ke kamar mandi, untuk membasuh wajah serta tangan dan kaki milik dua bocah itu, juga menggosok gigi milik mereka.


 


 


Ia juga melakukan hal yang sama, setelah selesai ia bawa keluar kedua bocah itu dari sana.


 


 


Keluar kamarnya meninggalkan Taehyung dan Jimin yang sudah tak tahan lagi dengan kantuk masing-masing, bahkan tak sadar jika ditinggalkan hanya berduaan saja.


 


 


Beberapa saat kemudian Jungkook kembali memasuki kamarnya, dengan membawa masing-masing piama lucu milik ke dua bocah itu.


 


 


Menggantikan baju yang dikenakan oleh ke dua bocah itu menggunakan Piama yang ia telah bawa tadi.


 


 


Jimin sudah benar-benar terlelap setelah ia pakaikan piamanya dan baringkan di sisi kasur sebelah kanan, sedangkan Taehyung masih bisa memepertahankan kantuknya dengan sesekali terantuk oleh bahunya.


 


 


"Hey, sayang sudah ayo tidur," ia rasakan kepala kecil Taehyung yang menumpu pada bahu kekarnya, perlahan ia baringkan Taehyung di sebelah Jimin.


 


 


Mengganti pakaiannya sendiri dengan Piama satin biru gelap, lalu ikut membaringkan dirinya di sebelah Taehyung.


 


 


"Peyuk," Taehyung berujar lirih, Jungkook menaruh gulingnya disebelah kanan Jimin, sebagai pembatas, walaupun masih tersisa cukup ruang karena ukuran ranjangnya yang memang luas.


 


 


"Peyuk," Taehyung kembali berujar di tengah kantuknya, membuat Jungkook tersenyum.


 


 


"Iya sayang," jawabnya, menarik selimut untuk menghalau rasa dingin.


 


 


Membawa lengannya untuk memeluk Taehyung dengan Jimin sekaligus, dapat ia rasakan tubuh Taehyung semakin meringsek pada tubuhnya.


 


 


Ia hanya tersenyum dengan hal menggemaskan itu.


 


 


Sekarang, apapun yang dilakukan Taehyung akan terlihat lucu, tidak lagi menyebalkan.


 


 


Ia sudah menerima keberadaan anak manis tersebut.


 


 

__ADS_1


Ia sudah.


__ADS_2