JUNIKA DAN JULIAN

JUNIKA DAN JULIAN
AWAL YANG BURUK


__ADS_3

KETUKAN palu dari sang hakim memenuhi seluruh penjuru ruangan sidang. Setelah satu bulan menjalani proses persidangan, rama wijayanto dinyatakan bercerai dengan istrinya sinta wijayanti, sebagai seorang anak tidak ada yang menginginkan orang tuanya bercerai, membuat hatinya terguncang. Junika selia wijaya. Bisa dipastikan bahwa hari ini adalah mimpi yang buruk baginya.


Inilah kisahku dari keluarga yang memang bisa dibilang sederhana tidak mempunyai segalanya, dulunya kami keluarga kecil yang saling melengkapi, aku sangat dekat dengan ayahku selalu bercerita dan melakukan banyak hal denganya. Ia meskipun aku tidak dekat dengan bunda tapi itu tidak masalah bagiku. hingga berjalannya waktu, drama mulai datang ayahku tidak suka dengan sikap bunda yang selalu sibuk dengan pekerjaannya tidak ada waktu untuk keluarga dan ujung-ujungnya mereka cerai, ayah meninggalkan ku keluar negeri dengan bunda sendirian, aku ingin ikut ayah tetapi bunda melarangnya.


“NGGAK AYAH NGGAK BOLEH PERGI!! Teriak junika histeris.


Rama pilu menatap junika, saat ini dirinya merasa gagal sebagai seorang kepala keluarga untuk anaknya dan istrinya. “nak kamu harus ikhlas, ini kebaikan bundamu, maafkan ayah, nak”


Junika menggeleng lemas, ia masih belum ikhlas jika ayah tercintanya meninggalkannya dengan bundanya sendiri yang bahkan sebelumnya tidak seakrab ia dengan ayahnya. “nggak, ayah nggak boleh pergi, gimana hidup junika yah, junika nggak sanggup” lirih junika.


Rama melepaskan pelukan dan menangkupkan kedua tangan kewajah mungil putrinya. Rama menatap junika dengan sendu “ayah titip bunda ya, kamu nggak boleh benci sama bunda, ayah tau kamu kaut. Kita masih bisa berkomunikasi” pesan rama yang hanya masih berdiam disana.


Merasa waktu sudah mepet akhirnya rama memutuskan langsung memasuki barang-barang yang ia bawa kedalam bagasi mobilnya dan langsng menghampiri junika yang kemungkinan untuk terakhir kalinya


karna ia juga tidak tau ia akan kembali lagi atau tidak. “junika jangan nakal ya sama bunda” pesan rama dan langsung pergi kebandara karna pesawat yang ia tumpangi akan segera melakukan penerbangan keluar negeri.


Junika memandangi mobil rama yang lama kelamaan menghilang menjauh, hatinya sakit ketika ayahnya pergi tanpa membawanya. Kembali menyusuri jalan pergi entah kemana, teriknya matahari tidak menghentikan kemana ia pergi, berjalan dengan wajah menangis tersedu-sedu. Hingga malam pun tiba iya masih berjalan entah kemana. Kini sengitan matahari terganti dengan guyuran hujan deras, bahkan saat ini semesta pun ikut mendukung perasaannya.


“AWAS!!!” teriak seorang pria menarik junika ketika mobil yang hampir melintas berhadapan dengan junika


Saling berpandangan tatapan mata kemata membuat pria tersebut terpesona dengan keindahan mata junika. Beberapa menit kemudian tatapan junika terpecahkan, seketika iya mendorong pria tersebut “terima kasih” ucap junika meninggalkan pria tersebut menghe ntikan taksi yang datang pergi dari tempat tersebut.


“siapa nama mu?” teriak pria tersebut bertanya pada junika tetapi tidak dihiraukan olehnya, “cantik” ucap pelan pria yang masih memandangai taksi yang hampir tidak terlihat.


Junika berdiri sambil memandang istana kecil yang selama ini dia tinggali, mulai hari ini iya akan tinggal sendiri tanpa seorang ayah yang biasanya menemaninya ketika tidak ada orang disekitarnya.


Junika melangkahkan kakinya dengan pelan, memasuki rumahnya mendapati Sinta Wijaya yang sedang memondar-madir, “sayang, kamu dari mana?, bunda khawatir sama kamu. kaki kamu kenapa?” Tanya sinta.


Junika tidak ingin berhadapan dengan sinta begitu lama, ia tidak menjawab semua pertanyaan bundanya, meninggalkannya masuk kekamarnya dan menguncinya “ayah kenapa harus pergi jauh, junika sendiri disini. Junika kesepian ayah.” Junika terisak menangis dalam lengkukan lututnya yang terluka dan mengobatinya sendiri


Sinta yang mendengarkan dari balik pintu merasa kecewa pada dirinya sendiri, sekarang ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri “maafkan bunda, sayang” ujar sinta depan pintu kamar milik junika.

__ADS_1


Setelah berjam-jamnya ia menangis, kini junika memandang foto-foto Polaroid yang tergantung didinding kamarnya. Setiap foto tersebut memiliki kisah tersendiri untuk junika, walaupun mungkin semua itu tidak akan bisa terulang kembali, meskipun kembali semua itu tidak akan sama.


Junika mulai mencoba untuk tidur, biarlah dia sedikit egois sekarang. Junika hanya ingin melupakan sejenak mimpi buruknya hari ini. Dan hal penting yang harus junika ketahui, malam ini bukanlah penutup untuk mimpi buruknya. Justru malam inilah yang menjadi awalnya. Siapa?


...****************...


*disekolah


...DASAR PENCURI...


...KELUAR LO DARI SEKOLAH INI...


...NGGAK MALU?...


Junika menatap nanar mejanya yang sudah penuh kata-kata yang bahkan ia tidak tahu apa yang terjadi, sekarang sudah tidak ada lagi yang membelanya. Hatinya penuh tanda Tanya kenapa ada tulisan tersebut berada diatas mejanya. Junika tidak ingin memperbesar masalah karna ia tahu seluruh orang yang ada disana tidak ada yang suka dengannya.


“junika selia wijaya” suara berat yang memenuhi seisi kelas yang membuat junika mendongakkan sepalanya


“kamu ikut bapak keruangan bapak. Ayo!!” ujar pak wan pada junika dan pergi keruangannya


Tanpa ingin berlama-lama junika segera pergi dari kelasnya mengikuti pak wan dari belakang.


Banyak murit yang memandangnya dengan sorot tidak suka. Junika menghela napas berkali-kali. Apa yang terjadi?


Junika memasuki ruangan yang dituju oleh pak wan, hati junika semakin tidak menentu karna ia melihat guru BK yang sudah duduk dan menunggunya dengan pak wan, ada apa ini? Tanya junika dalam hati.


Bu haida mengangkat pandangannya kepada junika karna sadar junika dan pak wan sudah datang keruangan pak wan karna ia lebih dulu datang dari pada mereka “maaf pak saya tidak sopan masuk duluan” ujar bu haida


"tidak apa, ayo junika silahkan duduk,” ujar pak wan, junika segera duduk “begini, ada beberapa yang ingin saya sampaikan kepada kamu dan tanyakan junika,” ujar pak wan.


“junika!, apa benar kamu yang mencuri handphone milik Helen?” Tanya bu haida yang membuat junika membelalakan matanya.

__ADS_1


Junika memandang pak wan dan bu haida bergantian dengan rasa takunya karna ia sekarang sedang dituduh “saya nggak mencuri bu, junika nggak ngambil handphon milik Helen, sumpah pak buk” ujar junika tidak terima.


Bu haida mengeluarkan handphon miliknya dan memutar vedio yang tertera wajahnya sedang membuka tas milik Helen dan mengambil barang Helen “apa ini kurang cukup bukti junika?” ujar bu haida.


“tapi saya tidak pernah mencuri bu, pak. Itu bukan saya!” ujar junika.


“tapi ini adalah kamu junika, dan handphon milik Helen ditemukan dibawah meja milik kamu” ujar pak wan “dan atas keputusan kami dan kepala sekolah, kami mengeluarkan mu dari sekolah ini, dan mencabut beasiswa kamu” lanjut pak wan, membuat junika terkejut setengah mati.


“apa alasannya karna saya dituduh mencuri? Sampai saya dikeluarkan dari sekolah ini, pak? Saya selalu mempertahankan peringkat saya, bahkan saya sering memenangkan olimpiade” ujar junika masih tidak terima.


“sekolah ini tidak menerima pencuri junika!!” ujar bu haida meninggikan ucapannya yang membuat junika terkejut.


Junika mencengkram roknya. Jadi karna ia dituduh mencuri beasiswanya dicabut dan mengeluarkannya dari sekolah. Yang dengan susah payahnya ia dapatkan harus dicabut begitu saja “baiklah pak bu, saya ucapkan terimakasih atas apa yang bapak dan ibu tuduhkan kepada saya. Saya akan keluar dari sekolahan sekarang juga. dan yang harus bapak ibu ingat, saya tidak mencuri apapun, kalau begitu saya permisi” ujar junika


.


.


.


.


.


.


.


salam dari author🙏


ig: @pratiwiptriutmi

__ADS_1


__ADS_2