
ig : @pratiwiptriutmi
happy reading
“kita besok aja ya belajarnya, soalnya gue capek banget soalnya lagian juga kan masih lama dan belum tentu juga kapannya lomba yang waktu guru bilang!” ucap junika setelah sesampainya dirumahnya dengan diantar Julian.
“gue juga capek, pengen istirahat dulu” ucap Julian, namun tatapannya beralih kemobil yang terparkir didalam halaman rumah junika yang seperti baru ia lihat “itu mobil siapa, bunda lo ada tamu?”
Junika mengikuti tatapan Julian, ia sangat terkejut dan sangat senang tak ketulung “AYAH?!”
“AYAH!, AYAH!, AYAH!” junika berteriak dan berlari memasuki rumahnya tanpa memikirkan Julian yang tengah terheran melihatnya.
Junika terus berlari menghampiri ayahnya yang tengah duduk diruang tamu bersama sinta bundanya, hingga saat didepannya ia berhambur memelut rama dengan kencangnya.
“junika, rindu ayah. Ayah jangan pergi lagi ayah, junika sendiri disini nggak ada teman” air mata yang tengah keluar membasahi pipi junika yang punggung rama.
Rama memapah pipi junika lalu memegangi bahu anaknya “ayah juga rindu junika, jangan nangis ya dan jangan pernah merasakan sendirian disini, kamu ka nada bunda dan ada teman-teman baru kamu juga, kata bunda kamu banyak teman sekarang, benar bukan?” ujar rama
Junika mengangguk dua kali membenarkan sebagian ucapan rama telah benar, tetapi butuh meyakinkan bahwa dirinya sekarang ada sinta, sangat berat menerima kenyataan ini.
Sinta hanya diam setelah ia berdiri dari tempat duduknya, ia tau anaknya sangat merindukan rama sebagai ayahnya, karna itulah sinta menyuruh rama agar cepat datang.
Tepat didepan pintu ada Julian yang tengah menyaksikan junika menangis, anak yang sangat merindukan sang ayah, pahlawan baginya dan cinta pertama bagi anak perempuan.
“itu teman kamu nungguin tuh, nggak ajak masuk?” ujar rama yang sadar tengah ada siswa berseragam berdiri tegak melihat mereka.
Junika menoleh, ughh sungguh dirinya telah melupakan Julian yang masih berada didepan, junika langsung menghapus air matanya. Tidak mau nantinya akan jadi bahan ejekan bagi teman-temannya karna seorang junika yang terkenal pendiam itu menangis.
“oh, assalamualaikum om tante!” ujar Julian lalu masuk dalam rumah junika dan menyalimi rama dan sinta.
“waalaiumsalam”
--
“ooh nama kamu Julian, teman anak om saat disekolah barunya ya?” Tanya rama yang mereka telah duduk berdua saja, karna sinta sedang masak bersama bi susi sedangkan junika lagi mengganti pakaiannya dan menyuci mukanya.
“iya om, tapi kebetulan kami ketemunya sebelum junika sekolah di SMA TIKARVIA om” ucap Julian
“benarkah? Ketemunya kapan dan dimana? Kok bisa” Tanya rama yang cukup penasaran dengan pertemuan anak dan temannya satu ini, karena baru kali ini junika mempunyai teman seakrab ini dan bahkan sebelumnya tidak pernah mempunyai teman.
“kami ketemu sekitar dua bulan yang lalu, waktu itu junika nangis dan hampir…” ucap Julian
“ayah! Makan yuk!” ujar junika yang tiba-tiba datang dan mendengar ucapan Julian.
“emangnya bunda kamu udah selesai masaknya?” ucap rama mengelus rambut dan sesekali mengecup kening junika yang sedang bersandar dibahunya.
__ADS_1
“udah kok tadi! Junika liat bibi udah nyiapin makanannya ayah, ayok!” paksa junika.
Julian yang melihat hal sedemikian hanya tersenyum, ternyata semudah ini membuat junika bahagia dan mengukir senyum yang lebar.
“lo cantik banget kalau gini terus, senyummu sangat indah” ucap Julian dalam hati, sungguh sekarang ia merasakan seperti dunia sedang berdamai.
“Julian ikut kan makannya?” Tanya junika menoleh ke julian
“ikut dong, masa enggak” ucap rama
Julian mengangguk dan tersenyum “iya!”
Malam ini mereka berempat makan malam bersama, seperti keluarga yang sangat bahagia sesekali mereka tertawa bersama ketika junika membuat lelucon. “semoga ini tidak akan berubah”
“Julian, boleh om minta tolong sama kamu?” Tanya rama
“apa itu om?” jawab Julian penasaran
“kamu bisakan jaga junika?, om mau kamu selalu disampingnya tidak pernah membuatnya bersedih apalagi menangis, sekarang hanya kamu yang om percaya saat ini. Dan kamu sebagai temannya junika bisakan jaga amanah?” pinta rama dengan tulus menatap manik mata Julian.
Julian, junika dan sinta terdiam setelah rama mengatakan itu, bingung kenapa rama mengatakan hal demikian.
“bisa om! Julian janji bakalan jagain junika saat disekolah dan dimana pun, om jangan khawatir” balas Julian
“ayah apa-apa an sih, kok ngomongnya gitu” ujar junika sedikit sedih.
“bi, bibi” panggil rama
“bibi bisakan fotokan kami berempat? Ayo sayang berikan handphone kamu sama bi susi, kebetulan ponsel ayah lowbet” ucap rama
Junika memberikan ponselnya kepada bi susi,
“ayo kalian berdua kemari, junika sama Julian berdiri dibelakang ayah sama bunda saja”ujar rama mengatur pisisi mereka
Dengan rama dan sinta duduk dikursi mereka, dan junika berdiri belakang ayahnya, dan Julian berdiri dibelakang sinta bersampingan dengan junika. Mereka menampakan senyum didepan kamera.
Cekrek
“gue balik ya” ucap Julian berada didepan rumah junika
Junika mengangguk “soal yang tadi, lo nggak perlu ko dengerin kata ayah gue tadi” sedikit tidak enak
“kenapa? Lo enggak enakan? Udahlah jangan dipikirin dan ingat gue akan selalu ada untuk lo sama tante sinta” ucap Julian, junika hanya mengangguk menatap kebawah
“yaudah gue pulang ya! Lo masuk kedalem kan masih ada om rama” ujar Julian
__ADS_1
...J&J...
Diwaktu yang sama sigit dan nabila sedang berada dihalaman belakang rumah nabila, mereka ditugaskan gea ibunya nabila untuk menjaga vivi.
Seolah sedang menjaga anak mereka sendiri, bercanda dan tertawa ada kalanya sigit melakukan hal-hal konyol untuk membuat vivi tertawa.
potong bebek angsa, masak dikuali
vivi minta dansa, abang igit nggak mau
vivi nya nangis, abangnya sedih
nanti kaka nabila beli boneka
sigit menyanyikan lagu anak-anak potong bebek angsa, namun ia merubah liriknya, sebenarnya lagunya enggak nyambung sama sekali. Tapi lumayanlah itu buat vivi tertawa.
“enggak nyambung pak lampir!” ujar nabila
“biarin aja yang penting dia ketawa, dari pada lo? Vivi liat muka lo aja udah mau nangis” ujar sigit lalu mengambil vivi dalam gendongan nabila.
“vivi jangan nangis ya liat muka kaka, soalnya muka kaka kamu itu udah jelek dari lahir, makanya mirip mak lampir beda kalau muka abang itu udah ganteng dari lahir” ujar sigit
“uwek, narsis lo”
*
“ayah pulang ya sayang!” pamit rama karna melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul delapan.
“hah? Ayah jangan pulang, tidur disini aja? Mau yah?” pinta junika
“udahlah sayang, ayah kamu itu mau pulang besokkan dia mau kerja” ujar sinta.
“enggak pokoknya ayah enggak boleh pulang mala mini, tinggal disini aja besok baru boleh pulang!” pinta junika sekali lagi
“enggak sayang, ayah harus pulang besok ada pertemuan dengan rekan kerja ayah pagi-pagi jadi harus pulang deh” ucap rama, junika menundukan wajahnya terlihat ia sedang bersedih dan kecewa.
“jangan sedih dong, anak ayah kan cantik jadi enggak boleh sedih. Kapak-kapan ayah main lagi kok kesini”
“tapi ayah janji ya nanti main kesini lagi, ayah enggak boleh pergi jauh dari junika. Junika pasti akan merindukan ayah”ucap junika dengan air mata yang hendak keluar.
“ayah janji enggak akan tinggalin junika, kan ayah selalu ada dihatinya junika” ucap rama sambil menunjuk hati junika.
“dan ayah pengen kamu mulai sekarang enggak boleh sedih ya, nanti cantiknya hilang lo”
“ayah pulang ya, ayah nitip salam sama Julian dan orang tuanya” ucap rama
__ADS_1
HAI READERS