JUNIKA DAN JULIAN

JUNIKA DAN JULIAN
DIA BODOH


__ADS_3

Sesampainya disekolah Julian langsung membawa junika ke UKS untuk memberikan obat merah pada dahinya junika. Dan junika hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh Julian tanpa membantah


“makasih ya” ucap junika disela Julian mengobati kakinya yang sesekali menatap junika. Uwu romantisnya!


“aku kira seorang junika tidak bisa mengucapkan terimakasih, ternyata bisa!” ucap Julian


Junika yang mendengar ucapan Julian sedikit tersindir “apa kamu bilang?!” ucap junika


“eh.. ngak kok, iya sama sama” ujar Julian dengan cengiranya “udah selesai, ayo aku antar kamu kekelas” ucap Julian dan hanya dibalas anggukan dengan junika.


Julian mengantarkan junika kekelas dengan menggandeng tangannya, banyak ucapan –ucapan para murit yang buruk maupun yang baiknya.


Tetapi junika tidak memperdulikan semuanya, sampai akhirnya mereka sesampainya dikelas dimana junika belajar.


“kamu belajar yang rajin ya, aku ke kelas dulu” ucap Julian sambil mengacak ngacak rambut milik junika.


Junika yang hanya termenung hanya dibalasnya dengan anggukan oleh junika, pipinya memerah tetapi ia tidak mau bawa hati, ia langsung kedalam kelas dan menemui teman-temannya.


“loh itu kenapa jun” ucap nabila menunjukan kaki junika yang sedikit tertutup rok nya namun masih bisa dilihat.


“nggak papa kok” ucap junika lalu duduk dikursi miliknya.


“baguslah kalau nggak papa” ucap nabila lalu menyusuli junika duduk disebelahnya.


Junika yang melihat kedepan tidak ada makhluk kemar ia bingung kemana mereka “itu. Lily sama lila kemana?” Tanya junika pada nabila.


“mereka tadi katanya pergi ketoilet” jawab nabila.


“ooh”


...***...


saat bel berdering semua siswa maupun siswi berhamburan keluar dari kelas menuju ke kantin untuk memberi makan cacing-cacing yang berada diperut mereka yang terus berbunyi.


"Jul, gimana lancar pdkt nya sama Junika? gue nggak yakin dia akan jadi pacar Lo" ujar Sigit yang tengah menunggu makanan datang


"tapi Abang galuh yakin kok Junika akan jadi pacar Julian percaya deh sama Abang" ucap Galuh


"liat aja nanti"

__ADS_1


"liat aja nanti apa!!, kalian taruhan untuk dapetin Junika?" tanya Nabila yang dari tadi mendengan ucapan mereka dan tentunya ada Junika dan sikembar juga disana.


"Lu apa apaan sih dateng marah-marah, sok tau lu dasar Mak lampir" ujar Sigit.


"eh apaan lu ngatain gue Mak lampir, yang ada tu elo yang pak lampir orang cantik kayak gini dibilang Mak lampir?" kesal Nabila


"cantik dari mana" gumam Sigit


"kalian ini kenapa dah, kayak ada dendam yang tersimpan ati-ati entar jatuh cinta" ejek Galuh yang membuat Nabila dan Sigit menatapnya tajam


"ogah" ucap mereka bersama


"udah dong bil, Junika aja nggak ambil hati kok mending kita makan aja" ucap Lily melihat Junika yang telah duduk dikursi kantin.


Nabila yang masih kesal segera ditarik oleh Lily dan Lila tidak ingin memperdebatkan hal yang sepela, mending makan aja!


Junika tidak memperdulikan apa yang diucapkan teman-teman, toh dia juga nggak ada perasaan sama sekali baru dua Minggu kurang lebih masa udah jatuh cinta.


"Jun Lo nggak marah, jangan mau Lo dideketin sama mereka cakep aja kagak apalagi sigit, paling yang lumayan cuman Julian tapi sayang. BODOH!" tekan Nabila masih dengan hati yang ingin meluap, menusuk-nusuk bakso yang dibeli mereka yang telah datang.


"udahlah mending makan aja" ucap lily Lila bersama.


"jangan terlalu membenci, nanti jatuh cinta. benci sama cinta itu adik kaka" ucap Junika sambil menyeruput es jeruk miliknya. ukh segarnya!


"sejak kapan?" tanya Lily dan Lila


"dari kecil!"


mereka tidak berhenti membicarakan masalah yang tadi, terutama Nabila yang tidak hentinya mengucapkan hal-hal yang tidak baik tentang Sigit. tidak lama seorang siswi datang mendekati mereka yang sedang makan.


"kamu Kaka Junika kan?" tanya siswi


"iya bener, kenapa ya?" tanya Junika heran


"Kaka disuruh keruangan pak beni keruangannya sebelum pulang sekolah" ucapnya


"kenapa?" tanya Junika


"aku nggak tau kak, kalau gitu aku pergi ya kak"

__ADS_1


"oh iya, makasih" ucap Junika hanya dibalas anggukan lalu pergi meninggalkan mereka, Junika bertanya kepada teman-teman apa ada kesalahan yang ia tidak tau.


"perasaan Lo nggak ada masalah deh Jun" ucap Nabila


...***...


tidak tahu apa yang akan terjadi apa yang ingin disampaikan, Junika Dengan santainya ia pergi menuju ruangan wali kelas barunya, ia tidak takut apa yang akan terjadi karena yang ia tahu Junika tidak pernah melakukan kesalahan dalam waktu dekat ini.


Junika mengetuk pintu, ia masuk ketika mendengar perintah untuk masuk pikirannya bertambah ketika melihat tiga orang yang berada disana.


"silahkan duduk Junika" ucap pak beni, Junika hanya mengangguki dan duduk tepat disamping seorang laki-laki yang sangat ia kenal.


"kita mau ngapain?" bisik Junika pada Julian, Yap Julian yang sedang berada disampingnya sekarang


"aku tidak tau"


"begini Junika kami ada tugas untukmu, kami dengar kamu siswa berprestasi, kamu mendapatkan beasiswa saat disekolah lamamu. dan kamu juga sering memenangkan olimpiade, beberapa bulan kedepan ada perlombaan matematika lalu kami ingin kalian berdua mengikuti perlombaan tersebut" jelas pak beni


"bagaimana bisa! diakan bodoh pak!" ucap Junika membuat pak beni dan Bu Ani menahan tawa, jangan kalian tanya julian ia terkejut setengah mati pengakuan dari gadis ini, siapa yang berani memberi tahunya, batin Julian


"iya kami tahu Julian bodoh, dan tugas kamu untuk menjadikannya pintar sepertimu, mengajarinya seluruh mata pelajaran terutama matematika, dan ingat kalian harus bekerja sama sesama tim" ucap Bu Ani


"tapi buk-" julian hendak protes


"tidak ada penolakan"


mereka berdua hanya perpandangan tidak yakin akan berhasil, mereka menghela napas panjang dan berat keluar dari ruangan itu Junika hanya melihati Julian dari atas sampai bawah yang membuat Julian terheran.


"kenapa?" tanya julian


"tampang si cakep, tapi kenapa bisa bodoh ya? biasanya orang cakep itu pinter contohnya aku" ucap junika


"emang Lo sepintar apa sih?" tanya julian tidak percaya orang yang berada didekatnya sekarang ini apakah pintar


"kalo Lo gak percaya, Lo tanya aja sama sekolahan ku yang lama nggak usah jauh-jauh pak beni sama Bu Ani aja tau kok aku pintar"


"pasti orang tuamu juga pada pintar ya" ucap Julian


"jelaslah ayah sama bunda semuanya pandai dalam hal apapun, ayah yang mengajarkan aku semuanya, tapi bunda..." jeda Junika mengingat Sinta tidak pernah memperdulikan nya

__ADS_1


"kenapa bunda kamu?" tanya julian


"tidak apa-apa, nggak usah dibahas, lagian bukan urusan Lo juga kan?" ucap Junika


__ADS_2