
...J&J...
Dengan masih terbaring ditempat tidur, kini junika belum sadarkan diri, suhu badannya menaik derastis. Julian membawanya untuk kembali kerumahnya, karena ia pikir akan bahaya jika junika pulang.
“lo udah, bilangin sama bunda sinta, dia tinggal disini sementara waktu kan?” Tanya Julian kepada sigit yang berdiri didekatnya.
Sigit mengangguk “sudah”
Sigit ikut mengantarkan junika kerumah Julian, begitupun dengan galuh, nabila, lily dan lila. semuanya izin tidak masuk hari ini, guru disama pun memaklumi.
“kalian sebaiknya pulang, nanti orang tua kalian mencari kalian, kenapa tidak pulang!” marisa, ibunya Julian.
“baik tante, kalau gitu kami pulang ya tante, om” pamit mereka ke marisa dan justin.
“kalian hati-hati ya!” ucap marisa
“iya tente, assalamualaikum”
“waalaikumsallam"
“apa, tidak apa kita tinggalkan junika sendiri disini?” Tanya nabila, ia khawatir dengan keadaan junika saat ini.
“disini ada orang tuanya Julian, tante marisa dan om justin. Mereka tidak mungkin melakukan hal yang membuat junika sakit” jawab galuh.
“jangan berpikir negative dulu,” ujar sigit.
“TAU!” ucap nabila
“gue sama lila mau ketempat tante sinta, kita tidak boleh hanya memperdulikan junika. Kita nggak tau gimana ibunya junika disana!” ujar lily.
“gue setuju, gue ikut kalian” ujar galuh.
Sigit yang bingung, ia memandang nabila sekejap “gue sama bila, nggak bisa ikut dulu. Kita berdua ada urusan” ujar sigit.
“ada urusan apa lo bedua? Ngasih makan kambing nabila?” ujar galuh.
“iya bener, tumben ada urusan berdua, biasanya lo rebut mulu” timbal lily
“jangan pada sotoy, lo bedua jangan kepo, noh tiru kembaran lo yang diem nggak kepo kayak kalian berdua, apa jangan-jangan kalian jodoh” ujar sigit
“JANGAN SOK TAU!” ucap lily dan galuh.
“gue udah banyak koleksi, kalau lily mau jadi yang ke 236, ayo gas!” ucap galuh.
“OGAH…”
Lain hal dengan orang yang berada dikamar yang tengah menunggu kesadaran junika, marisa sangat mencemaskan cewek yang berada didepannya sekarang.
“sayang! Tolong jelaskan ke mama sekarang juga, kenapa bisa pingsan?” Tanya marisa ke Julian yang berada diposisi berseberangan dengannya.
“ntahlah ma, Julian nggak bisa ngejalas in, Julian masih nggak percaya ayahnya junika meninggalkannya, bahkan baru semalam mereka bertemu padahal beberapa ini mereka sangat jarang bertemu!” ucap Julian
__ADS_1
“ya ampun sayang, jangan sedih ya, disini ada kami yang akan menjaga kamu” ucap marisa mengelus kepala junika.
“bahkan semalam, om rama menitipkan salam sama, mama, papa dan menyuruh julian buat jagain junika” ujar Julian.
“mama nggak bisa bayangin gimana hancur hatinya, ketika cinta pertamanya pergi untuk selama-lamanya.” Ucap marisa.
“terus kamu bilang iya, atau, tidak?” Tanya justin.
Julian mengangguk “iya, Julian bahkan bilang akan jagain junika dan tante sinta”
“ingat ya Julian, kamu harus bertanggung jawab atas ucapanmu. Ini amanah dari almarhum,” ucap justin yag berdiri samping istrinya.
“iya pa”
“ayah..” ucap junika dengan pelan, dan sadar dari tidur yang cukup lama.
Junika melihat disekitarnya, pandangan yang sedikit buram lama kelamaan semakin jelas siapa tiga orang yang ada didekatnya sekarang, Julian, marisa, justin.
Junika mencoba untuk duduk, dan dibantu oleh Julian dan marisa.
“tante marisa, tadi junika mimpi, ayah ninggalin junika untuk selamanya, ayah baik-baik aja kan, tante, om, Julian” ucap junika menatap ketiga orang itu.
Mereka terdiam, tidak ada yang menjawab “benarkan tante?” ucap junika.
Marisa menatap junika kembali dengan air mata yang hampir tumpah “nggak sayang, tuhan lebih sayang ayahnya junika makanya dia dipanggil duluan!”
Junika menggelengkan kepalanya, dengan tangisan yang mulai membasahi pipinya “nggak tante, ayah junika sudah janji, nggak bakal ninggalin junika sendiri disini”
“tapi itu kenyataan sayang bukan mimpi, cinta pertamanya junika telah pergi, kamu jangan nagis dong. Nanti tante, om sama Julian ikut nangis loh” marisa memeluk junika,
“junika mau ayah tante, junika nggak mau sama bunda, junika benci bunda” ucap junika dalam pelukan ibunya Julian.
Marisa melepas pelukan itu, menatap junika “kamu nggak boleh benci sama bunda kamu sendiri, kamu nggak sendiri, ada kami yang akan menjagamu.” Ucap marisa
“nanti kita kerumah bunda kamu ya? Om mau bicara bundamu” ucap justin.
...J&J...
“Tante?” panggil lily
Lily, lila dan galuh kini sudah sampai dirumah junika, mereka melihat sinta yang duduk di sofa, menumpahkan tangisan yang sejadi-jadinya.
Sinta yang melihat teman-temannya junika datang, ia dengan cepat menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
“tante, tante nggak apa-apa kan?” Tanya galuh.
Sinta menggeleng cepat, “nggak, tante baik-baik saja” ucap sinta berbohong. “ayo kalian duduklah, tante mau ambilin minum”
“jangan tante, nggak usah” lily mencegah sinta dan kembali duduk.
“biar lila aja” ucap lila, lalu pergi menuju dapur.
__ADS_1
“tante?” panggil lily berdiri lalu duduk disamping sinta.
“iya?”
Lily menghela napas, “tante jangan ditahan kalau mau nangis, lily tau kok perasaan tante”
“kalau tante sinta mau, cerita aja sama lily, kalau mau peluk lily mau kok, tante anggap saja lily itu junika.”
Sinta memeluk lily, dengan tangisan yang membasahi punggung lily, lima menit berlalu. Sinta melepas pelukannya.
“junika dimana? Dia baik-baik saja kan? Tante khawatir sama junika” Tanya sinta.
“junika sekarang ada dirumah Julian, saat kami kemari dia belum sadarkan diri, suhu tubuhnya meningkat, sepertinya junika demam” jelas lily.
“tante takut, takut jika junika kenapa-kenapa. Hanya dia yang tante punya sekarang” ucap sinta.
“tante, nggak usah takut, kami akan selalu jagain junika, disana juga ada orang tua Julian yang sangat menyayangi junika seperti anak mereka sendiri.” Ucap galuh
Junika dibawa kerumah sakit oleh orang tuanya Julian, karna panas badan junika tidak turun, malah meninggi saja,
Julian yang menunggu didepan pintu ruang rawat junika, justin keluar untuk berbicara dengan anaknya. “Julian?” panggilnya
“ iya, pa, kenapa?” ucap Julian berdiri.
“papa sama mama, ada rencana buat angkat junika sebagai adikmu!” ucap justin
Julian menganga, bingung “nggak pa, nggak boleh! Biarin aja seperti ini”
“kenapa?”
“pokoknya nggak boleh!” ujar Julian masuk dalam ruang yang terlihat sedang ada marisa dan junika yang sedang tidur.
“kamu jangan gitu dong, kan kalau dia jadi adik kamu bisa lebih dekat lagi dan saling menyayangi sebagai adik dan abang, bukannya kamu mau adik kan?” ucap justin menyusul Julian
“tapi Julian nggak mau sebatas adik pa, ma” ucap Julian
Marisa tersenyum mengerti apa yang dimaksud anaknya itu, hanya saja tidak berani terus terang.
“mama, tau Julian apa maksud kamu, kamu sama junika tidak ada hubungan darah, jadi bisa kok dia jadi pacar kamu atau jadi istri kamu kelak!” jelas marisa.
“beneran? Mama nggak bohongkan? Nanti nggak boleh lagi pacaran sama Julian karna junika adiknya Julian” ucap Julian
Marisa menggelengkan kepala, tersenyum “bisa ko, tapi kamu sekarang punya tanggung jawab dua posisi, sebagai abang dan sebagai pacar, kalau junika nya mau sih?”
Huuh, Julian menghela napas lega, mulai sekarang ia akan menjadi abang dari adiknya. “aku kira nggak boleh pacaran kalau jadi adik walaupun hanya adik angkat”
...haii...
...I'm back ...
...parah banget ya, ilangnya hampir 2 tahun lebih tapi cerita ini bakal aku lanjutin sampai tamat...
__ADS_1
...babay, lovyu🤍...
...@pratiwiptriutmu...