
Junika berjalan dengan cepat kini air mata yang sudah tidak terbendung lagi kini mengalir begitu saja, banyak yang melihatnya tidak suka dan ada yang merasa heran apa yang terjadi pada junika. Kini ia sampai dikelasnya tempat ia belajar selama ini tanpa seorang sahabat dan teman.
“eh pencuri datang nih,” ujar Helen yang melihat junika datang dan berkemas barang-barangnya.
Junika tidak menanggapi ucapan Helen karna ia tahu bahwa emng Helen tidak suka dengannya, “junika kamu mau kemana?” Tanya anggi penasaran karna hanya ia yang sering bertegur sapa dengannya.
“junika resmi dikeluarkan dari sekolah” ujar seseorang dari balik pintu yang tidak lain ia adalah ibu haida, yang membuat semua orang disana terkejut dengan senang maupun sedih. yang sedih hanyalah anggi.
“oh. Bagusih sekolah kita kan tidak terima seorang pencuri, untuk aja nggak dilaporin kepolisi tuh, pantes aja bokapnya pergi kelakuan anaknya kayak gini” ujar Helen yang membuat sebagian murut tertawa.
Dengan sakit hatinya junika berusaha untuk kuat sekuat mungkin dan tidak ingin menangis didepan orang disekitarnya, ia berjalan menuju depan papan tulih disamping ibu haida.
“junika silahkan ucapan apa yang kamu ingin sampaikan sama teman-teman kamu” ujar bu haida
Junika memandang ibu haida dan bergantian dengan semua murit yang berada dikelasnya sekarang. yang sebentar lagi bukan kelasnya,
“saya tidak punya teman ataupun sahabat bu” ujar junika menjeda
“ untuk kalian semua terima kasih atas buliannya dan hinaan yang kalian lontarkan untuk saya, dan satu hal yang harus kalian ketahui saya tidak mencuri barang apapun” ujar junika
“mana ada maling ngaku” ujar salah satu murit
Junika hanya mencengkram roknya. “ tapi aku yakin kok junika memang tidak mencuri handphone milik Helen” ujar anggi yang membuat semua menoleh kearahnya.
Junika tidak ingin membuat kegaduhan lagi ataupun siswa bertengkar karnanya. Langsung pergi keluar kelas berlari dengan sekencangnya. Air mata yang sudah keluar begitu saja tanpa seizinnya,
“junika tunggu!!” ujar seorang siswi berlari menuju junika yang terengah-engah.
Junika menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya melihat sesorang yang memanggilnya. Melihat anggi yang berjalan menghampirinya ia langsung dengan cepatnya menyeka air matanya dengan cepat
“kenapa nggi?” ujar junika
“lo mau kemana jun?” ujar anggi yang membuat junika terheran karna pertanyaan tersebut.
“pulang, emang mau kemana lagi?” ujar junika
__ADS_1
“lalu lo sekarang akan sekolah dimana?” ujar anggi
“gue juga belum tahu nggi”
“lo tenang aja jun, gue akan cari bukti jika lo memang tidak mencuri. gue tahu jika lo itu orang baik” ujar anggi membuat junika terharu karna masih ada orang yang perduli terhadapnya.
“makasih nggi lo udah percaya sama gue, tapi itu tidak akan merubah apapun. gue tetap akan pindah sekolah walaupun bagaimana pun keadaannya. lo jaga diri disini ya, gue pergi dulu!” ujar junika langsung pergi meninggalkan anggi yang masih setia berdiri melihatnya dari kejauhan
“lo juga jaga diri ya junika, gue tahu kamu orang yang baik. Semoga kita masih bisa ketemu dilain waktu.” Ucap anggi sambil melihat junika yang perlahan menghilang dari hadapannya.
Junika berjalan menyusuri jalan yang entah kemana arah dia berjalan, menatap nasibnya yang tidak menentu. Menatap jalan kosong yang tidak ada pikiran sama sekali, ingin ia mengakhiri hidupnya, ia ngerasa tidak ada siapa pun yang menginginkannya sekarang, bahkan ayahnya pergi meninggalkannya.
Junika menatap kosong jalan menenteng tas yang berwarna pink dan meletakkannya didadanya, ia tidak tahu apa yang ingin ia lakukan sekarang, rasanya enggan untuk pulang karna ia tahu karna bundanya sekarang pasti sibuk dengan pekerjaannya, hingga tidak ia sadari bahwa sudah ada mobil yang sedang melaju dengan kencangnya berada didepannya.
“AWAS!!!!!” teriak seorang pria lalu menariknya dengan cepat, hingga mereka terjatuh. Tatapan demi tatapan hanyut dapas pesona.
“minggir!!, kenapa lo narik-narik gue? hah” ujar junika lalu berdiri dengan tegaknya dan membersihkan pakaiannya yang terkena kotoran saat ia terjatuh.
“apa lo gak punya mata, atau lo mau mati muda!! Bukannya terima kasih malah marah-marah” ujar pria didepannya dengan kesal.
“nggak waras ni anak” decak pria tersebut lalu meletakkan punggung tangannya didahi junika
“nggak panas” gumamnya tapi masih dapat didengar oleh junika.
“ngapain lo megang- megang gue, tangan lo kotor ada virusnya” ujar junika lalu mengambil tisu didalam tas sekolah yang ia pegang.
Pria itu hanya mengerutkan dahinya melihat wanita yang berada didepannya,
“gue udah nyelamatin lo dua kali, sebagai imbalannya kita harus kenalan. Nama gue Julian margantara ” ucap Julian menjulurkan tangannya membuat junika mengangkat sebelah alisnya
Junika heran pada Julian, ia menepis tangan Julian “ogah!!!” ucap junika lalu pergi meninggalkan Julian yang masih diam ditempat
Julian hanya menatapnya junika dengan penasaran,ia tidak berniat untuk mengejarnya ataupun mengikutinya, kalau jodoh nggak akan kemana yakan jul?. Julian hanya terpesona kepada junika dengan pandangan pertama saat malam waktu itu.
Junika memutuskan untuk pulang melihat hari semakin sore, saat berada didepan pintu ia melihat seseorang yang tengah menunggunya
__ADS_1
“kamu dari mana sayang? Kok pulangnya sore nak” ujar sinta melihat keadaan anaknya,
Junika hanya mengacuhkannya dan duduk disofa diikuti oleh sinta kembali duduk ditempatnya sebelumnya.
“junika dikeluarin dari sekolahan” ucap junika singkat sambil melepas sepatu yang ia pakai
Sinta terkejut dengan perkataan anaknya, “loh kok dikeluarin, junika ngelakuin apa sampai-sampai dikeluarin sayang??” ucap sinta terheran karna ia tahu anaknya pintar dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh.
“junika dituduh” jeda junika, saat ia tahu pasti banyak pertanyaan dari bundanya “udah deh, bunda nggak usah banyak Tanya, daftarin aja disekolahan lain. Bundakan banyak uang karna kerja keras bunda sampai ngelupain kita” ujar junika dan pergi kekamarnya meninggalkan sinta
Sinta hanya tertekun dengan ucapan junika, tidak bisa berkutik dengan ucapannya karna semua ucapan anaknya benar. Kesalahan masa lalunya membuatnya menyesal dan akan mencoba mendekatkan dirinya dengan anaknya, yang selama ini ia tidak dapat perhatian dengan junika.
junika masuk kedalam kamarnya, merenung telah menjadi kebiasaannya sekarang ia butuh perhatian dan kasih sayang dari orang tua terutama ayahnya. tetapi sekarang kenapa hatinya belum bisa membuka hatinya untuk sinta sebagai bundanya sendiri
sinta sangat bingung dengan keadaannya sekarang. apa yang harus ia lakukan pikirnya, ia akan berusaha mendekatkan dengan anaknya walaupun itu akan sangat lama, dan tidak tahu kapan
.
.
.
.
.
.
.
.
salam😀
ig: @pratiwiptriutmi
__ADS_1