
“ayah janji enggak akan tinggalin junika, kan ayah selalu ada dihatinya junika” ucap rama sambil menunjuk hati junika.
“dan ayah pengen kamu mulai sekarang enggak boleh sedih ya, nanti cantiknya hilang lo”
“ayah pulang ya, ayah nitip salam sama Julian dan orang tuanya” ucap rama.
happy reading
...J&J...
Pagi hari junika hendak berangkat sekolah, ia telah memakai pakaian sekolahnya dan pergi kedapur untuk sarapan, pagi ini junika bagun lebih awal bahkan sangat awal.
Junika tidak bisa tidur sama sekali semalam, banyak sekali yang mengganggu pikirannya. Junika terus memaksakan agar dirinya tidur tetapi tidak bisa, dan alhasil ia hanya tidur dalam waktu 15 menit saja.
Junika membawa roti yang teroles selai kacang yang dibuatkan oleh sinta dan segelas susu coklat kedepan televisi rumah mereka.
Entah keinginan dari mana ia ingin menonton televisi pagi ini, karena junika pikir ini masih pagi sekali dan memutuskan membuka siaran yang membawakan berita pagi.
Hanya melewati satu iklan, kini TV telah menayangkan berita pagi dengan wanita berpakaian rapi menghadap kamera.
“selamat pagi pemirsa, dilaporkan telah terjadi kecelakaan antara sebuah mobil sedan dengan bus pariwisata dijalan tol tanggerang-jakarta. Kejadian ini terjadi sekitar pukul tiga pagi, kejadian tersebut mengakibatkan seluruh penumpang didalam bus mengalami luka ringan hingga luka berat”
“sementara penumpang mobil sedan dinyatakan meninggal dunia pada tempat, polisi sempat menemukan KTP penumpang yang bernama RAMA WIJAYANTO”
“Sementara ini polisi meminta keterangan saksi mata, demikian yang dapat saya laporkan dari tempat kejadian. Saya dewi peramita melaporkan, terima kasih”
Sinta yang mendengar hal tersebut langsung menyusuli junika, ia merasakan kecemasan yang sangat dahsyat.
Junika masih termenung mencerna ucapan wanita itu, tangannya melemas mengakibatkan gelas yang ia bawa terjatuh, seperti disambar petir di pagi buta. Kakinya melemas hingga membuat junika tidak sanggup menopang badannya yang terjatuh.
“AYAAAAAAHHHHHHH……..”
...J&J...
__ADS_1
Junika menatap sebuah batu nisan dengan berukiran nama “rama wijayanto” dengan sorot mata yang penuh luka. Langit pun ikut menangis sedari tadi seakan menyampaikan duka mendalam kepada sang bumi. Bahkan alam semesta pun ikut berhenti sejenak mengantarkan sang pahlawan menuju tidur panjangnya.
Semua kenangan sang pahlawan pun satu per satu bermunculan begitu saja, tanpa peduli dengan jiwa yang sudah hampir mati karenanya.
Junika menangis tersedu-sedu sambil memikul pilu. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan tenggelam dalam angannya.
“AYAAAHH…. JUNIKA CANTIK PULANG!”
“ayaahh, junika sayang banget sama ayah. Kalau suatu saat junika udah nikah, junika nggak mau pisah sama ayah! Ayah harus ikut ke mana pun junika pergi nantinya! Janji, ya, ayah?”
“ayah, kok, garing banget, sih! Lawakan ayah itu nggak lucu tahu! Ayah itu nggak ada bakatnya untuk jadi pelawak!”
“ayah, nggak boleh sakit lagi, ya!. Nanti yang jaga junika siapa? Ayah tahu sendiri, kan, di dunia ini masih banyak orang jahat”
Junika memukul dadanya berkali-kali yang sudah penuh dengan kesesakan. Junika memeluk makan sang pahlawan sambil menumpahkan tangis sejadi-jadinya. Entah bagaimana hidup yang akan junika jalani setelah ini, dia benar-benar tidak memiliki tempat untuk pulang lagi.
Sember kekuatannya telah hilang. Pahlawannya telah pergi untuk selama-lamanya.
“ayah? Ayo kita pulang, disini dingin, ayah,” lirih junika “ayah, jangan ngelucu lagi. Junika udah bilang, kan, ayah itu nggak ada bakat jadi pelawak. Berhenti pura-pura, ayah”
"ayah, junika nakal, ya? Ayah udah capek dengan junika? Ju-junika…. Junika janji akan jadi anak yang baik untuk ayah. Junika….” Junika menahan napas dalam. Suaranya sudah semakin mencekat. Gadis itu tidak mampu lagi untuk berkata-kata.
“ayah….”junika mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Dia benar-benar sudah tidak sanggup untuk menahan gejolak emosi dalam jiwanya saat ini.
Diraupnya tanah yang telah menyelimuti tubuh sang pahlawan dengan kedua tangan mungilnya itu. Semua ini sungguh tidak adil untuknya. Perlahan, dia mulai membenci semesta.
“AYAH, BANGUN! TOLONG JANGAN TINGGALKAN JUNIKA! KITA HARUS SAMA-SAMA LAGI, AYAH”
“AYAH NGGAK BOLEH PERGI! SIAPA YANG PERBOLEHKAN AYAH UNTUK PERGI, HAH? AYAH JAHAT! BANGUN, AYAH”
“AYAH TEGA MENINGGALKAN JUNIKA SENDIRI DISINI! JUNIKA PULANG KEMANA AYAH?! JUNIKA NGGAK PUNYA TEMPAT TUJUAN LAGI! TOLONG JUNIKA, AYAH, TOLONG”
“JUNIKA NGGAK PUNYA KEKUATAN LAGI, AYAH! UNTUK APA JUNIKA HIDUP KALAU AYAH UDAH NGGAK ADA?!”
__ADS_1
“SEMALAM AYAH, JANJI MAU MAIN BARENG JUNIKA LAGI, DAN AYAH, UDAH JANJI NGGAK BAKAL NINGGALIN, JUNIKA”
“TAPI, MANA? AYAH, MANA? SEKARANG AYAH NINGGALIN JUNIKA!”
Junika mulai melemas, suaranya makin parau saat ini “ayah… izinkan junika ikut ayah, ya? Junika janji nggak bakal akan merepotkan ayah di sana”
Julian yang mendengar ucapan melantur junika segera memeluk gadis itu kuat. Tidak peduli dengan junika yang sudah memberontak dan menolak keras atas kehadirannya. Julian tidak sanggup melihat junika seperti ini.
“LEPAS, JULIAN! JUNIKA MAU IKUT AYAH!”
Julian menatap kedua manic mata junika dalam-dalam. “lo nggak akan pernah bisa pergi tanpa seizin gue, junika. Ingat itu baik-baik.”
“NGGAK!, JUNIKA NGGAK BUTUH SIAPA-SIAPA LAGI DI DUNIA INI! JUNIKA MAU PERGI, JULIAN!”
Julian menghembuskan napas kasar, dia benci mendengar kata pergi. Julian sangat tidak suka ditinggalkan, cowok itu lalu menatap junika dengan tajam sambil mencekeram kedua bahu gadis itu dengan kuat
“LO LUPA DENGAN KEBERADAAN BUNDA LO, HAH? BUNDA LO LEBIH HANCUR JUNIKA! APA LO BISA MEMBAYANGKAN BAGAIMANA POSISINYA SEKARANG? LAKI-LAKI YANG SELAMA INI MENDAMPINGI HIDUPNYA, SEKARANG UDAH NGGAK BISA LAGI DIA TEMUKAN DI DUNIA. LO NGGAK LIAT BUNDA LO?”
Julian menunjukan sinta yang sedang menangis berdiri disamping makam, junika yang melihat sinta kini tidak sama sekali ingin memeluknya dan bahkan dirinya sekarang sangat-sangat membenci bundanya
“DIA? BAHKAN BUNDA YANG MENGANTARKAN AYAH DENGAN KEMATIANNYA! ANDAI WAKTU ITU DIA MEMBELA KU, AGAR AYAH TIDAK PULANG, SEMUA INI TIDAK AKAN TERJADI JULIAN, JUNIKA BENCI DIA! BENCI BUNDA!!!”
Takut akan terjadi hal-hal buruk yang mungkin akan junika lakukan, galuh dengan cepat menjauhkan sinta dan membawanya pulang.
Pemakaman dihadiri dengan teman-teman junika. Sigit, galuh, nabila, lily, lila bahkan anggi pun ikut ke pemakaman ayahnya junika.
mereka ikut menangis dalam diam melihat keadaan Junika sekarang ini, jika mereka berada di posisi Junika mungkin akan melakukan hal yang sama.
Julian memeluk junika dengan kencangnya, tidak peduli dadanya telah sakit di pukuli oleh junika, sungguh! Hatinya sekarang penuh dengan kebencian.
“gue benci bunda Julian” kata terakhir yang junika ucapkan hingga ia kehilangan kesadarannya, benci!
HAI READERS
__ADS_1
ig : @pratiwiptriutmi