JUNIKA DAN JULIAN

JUNIKA DAN JULIAN
KOTAK KECIL PITA MERAH!


__ADS_3

“lain kali gue nggak mau lagi kalau lo ajak gue kemanapun itu, gue takut gila! Grogi gue anjing!” ujar junika ketika turun dari motor milik Julian setelah ia berada didepan rumahnya.


“enggak usah anjing-anjingan juga kali, santai aja lah, ini tuh baru pemanasan nanti juga kebiasa. Yaudah gue balik ya udah mau maghrib nih” pamit Julian ketika melihat matahari yang sudah semakin menghilang.


“yaudah hati-hati” ucap junika memperingati


--


Junika menghempaskan dirinya keatas karus empuknya, entah mungkin sekarang dirinya sangat malu, “argghhh, coba gue nggak minta jalan-jalan waktu diperpustakaan pasti gue nggak kerumah dia!”


tok tok tok


"non ini ada paket" ujar bi susi dari balik pintu kamar Junika.


Junika yang baru saja hendak memejamkan matanya kini terpaksa ia urungkan karena ketukan dari asisten rumahnya, bibi Susi


cklek, Junika membuka pintu kamarnya yang sudah ada bi Susi yang sedang memegangi sebuah kotak kecil.


"dari siapa bi?" tanya Junika


"bibi tidak tau non, tadi saat bibi tanya sama orang yang nganterin ini dia langsung pergi" jawab bi Susi


"cowok, cewek??"


"kayaknya si cowok non bibi liat dari rambutnya pendek, dia pakai masker sama topi"


"iya udah, makasih ya bi" ucap Junika


"sama-sama non, kalau begitu bibi balik ke dapur lagi ya non" pamit bi Susi ketika melihat mengangguki nya


Dengan rasa penasaran Junika duduk dimeja belajarnya, ia membuka kotak kecil yang berpita yang berwarna merah.


ia membuka pelan, mata Junika membulat sempurna ketika melihat sebuah polaroid yang tertera foto Rama Wijayanto sebagai ayahnya


foto tersebut berlumuran darah, namun masih bisa dilihat jelas bahwa foto itu adalah foto ayahnya.


Junika membalikan foto tersebut, terdapat tulisan kecil dibelakang foto itu, yang tertulis


"semua akan berakhir"


rasa takut menyelimuti hatinya, ia meletakkan lagi foto itu seperti semula. berlari keluar dari kamarnya seolah mencari seseorang


"BUNDA... BUNDA... BUNDA.." teriak Junika mencari dimana Sinta berada, ia menuruni tangga menuju dapur, dan benar sekali Sinta lagi masak dengan bi susi


"kenapa sayang?!" Sinta menghentikan kegiatannya menghampiri Junika yang terlihat panik.


"bunda, Junika pinjam handphone-nya" ujar Junika, Sinta yang ikut panik gelagapan mencari benda pipih disaku celananya


"ayo cepet bunda!!"


Sinta memberikan handphone-nya, dengan cepat Junika menerimanya dan segera mencari nomor Rama

__ADS_1


Tut,,Tut,,Tut


lama Junika menunggu jawaban dari ayahnya, satu menit kemudian ia mendengar suara Rama diseberang telponnya


"hallo?"


"ayah, ayah dimana? ayah enggak apa-apa kan??" tanya Junika panik.


"ayah ada dirumah sayang, kenapa? kamu kayak lagi panik. kenapa sayang? ayah baik-baik aja kok!" ucap Rama


helaan nafas lega terdengar dari Junika, betapa paniknya dirinya ketika melihat foto ayah yang ia sayangi melebihi bundanya sendiri seperti tadi.


"syukurlah kalau ayah baik-baik aja"


"memangnya kenapa sayang?" tanya Rama


Junika tidak menjawab, ia menutup matanya sekejap lalu membukanya lagi


"ayah kapan pulang!? junika merindukan ayah"


...J&J...


"SIAPA YANG BERANI BERBUAT INI SAMA LO?" Nabila menggebrak meja kantin saat mendengarkan cerita dan melihat foto yang ada di handphone Junika ketika ia menerima paket semalam.


"gue juga nggak tau siapa yang ngirim, yang jelas dia cowok" ucap Junika


Pagi tadi Sinta memberikan Junika handphone baru ketika ia hendak berangkat sekolah, Junika terpaksa menerimanya karena sekarang ia sedang butuh untuk menghubungi ayahnya.


"kita harus cari tau, siapa yang berani teror kayak gini, norak banget sumpah" ujar Lily


"ada apa nih? kok serius amat" ujar Sigit yang baru datang bersama dengan Julian,


kalian nanyain Galuh? tentu saja ia sedang menggodai adik kelasnya dengan tampangnya yang tampan, playboy SMA TIKARVIA!!!


Junika membuka handphone nya kembali, yang melihatkan foto yang ia foto setelah menerima handphone dari Sinta.


Julian yang melihat foto tersebut ia melamun sejenak, "gue juga dapet gituan semalem!"


"HAH??" semuanya terkejut


"iya, tapi bedanya gue cuman tulisan yang ditulis dengan darah!" ucap Julian.


"tulisannya apa? kenapa baru ngomong" kesal Sigit


"kertas itu tertulis tidak akan bersatu, gue juga enggak tau siapa yang ngirim itu, pas gue Sampai dirumah gue dari nganterin Junika ada kotak kecil dengan pita merah"


"kalian berdua punya musuh yang sama?" tanya sigit


"gue nggak pernah buat masalah atau nyari musuh, nggak ada sama sekali. kalian tau sendiri kan kita itu nggak ada musuh dari luar atau pun dari sekolah lain!" ujar Julian menatap semuanya satu persatu


"Lo?"

__ADS_1


"gue rasa,, gue nggak ada musuh tapi yang nggak suka sama gue itu banyak" ucap Junika


"Helen nggak ngerjain Lo kan?" tanya Nabila


"enggak! dia aja nggak masukkan tadi" jawab Junika


"apa jangan-jangan ini semua ulah dia karena kita memperlakukan dia seperti itu kemarin" ujar Lily


"enggak boleh nuduh sembarangan" tegur Julian


"gue pindah kesini masih baru-baru ini, yang tau alamat rumah gue itu cuman Julian! nggak ada orang lain yang tau" ucap Junika


"Junika yang cantik, imut dan gemoy. bisa aja orang itu ngikutin Lo habis pulang sekolah yang tanpa Lo sadari" ujar nabila


"mulai sekarang kita nggak boleh pisah, kita harus bersahabat dan kita harus mencari siapa pelakunya, gue takut kalau ini dibiarin semuanya kena imbas" ujar Sigit.


mereka menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Sigit, nabila pun ikut menyetujui tanpa ribut seperti biasanya, semua orang mungkin mengira Sigit dan Nabila memang Akrab seperti saat berada disekolah mereka, tetapi kenyataannya.....! oh no


...J&J...


ehem, Galuh datang melihat teman-temannya yang sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


mereka semua seharusnya sudah pulang sekolah, tapi mereka memutuskan untuk ke Rooftop.


"kalian kenapa diem, telepati?"


"iya"


"ah kalian nggak seru! mending gue nggak usah balik tadi, terus nyari cewek lagi dideket gerbang sekolah" Galuh menyesalinya, telah meninggalkan para cewek-cewek nya dami sahabatnya yang hanya bertelepati.


Galuh tidak ingin ikut campur sahabatnya, yang bahkan ia tidak tau apa masalah mereka. lebih baik ia membuka ponselnya yang sudah bergetar dari tadi, pasti pacar onlinenya!


"pulang yuk, gue anter" ujar Julian


"enggak usah, gue mau nelpon pak Bambang aja" ucap Junika sambil mengambil ponselnya di saku bajunya.


Julian mengambil handphone milik Junika. "enggak boleh nolak, titik"


dengan terpaksa Junika menurut pada Julian, karena ia sudah memerintahkan pak Bambang pulang lebih dulu. iya walaupun ia bisa menelponnya kembali, tapi tidak


yang lain hanya menyimak keduanya,


"kalian enggak belajar?"


...hai readers, jangan lupa like dan komen ya....


...shere ke temen kalian, supaya likenya makin banyak....


...itu salah satu dukungan yang bikin aku semangat up secepatnya...


...lovyu❤️...

__ADS_1


maaf jika banyak typo


ig: @pratiwiputriutmi


__ADS_2