JUNIKA DAN JULIAN

JUNIKA DAN JULIAN
JUNIKA BENCI SAMA AYAH


__ADS_3

Sinta mengurus semuanya dengan cepat kilat ia memutuskan mendaftarkan junika suatu sekolah yang tidak jauh beda dengan sekolah lama anaknya, semua ia uruskan hanya butuh dua hari, karna mungkin itu sudah jadi kebiasaannya mengurus persuratan


Sinta berjalan menuju pintu kamar milik junika, yang selama ia tidak sekolah junika hanya mengurung dirinya tidak bertegur sapa dengan siapa pun, makan pun hanya diantar kekamar oleh bi susi sebagai asisten rumah mereka.


“sayang buka pintunya, bunda ingin bicara,” ujar sinta mengetuk pintu kamar junika, ia ingin membicarakan tentang persekolahan junika.


Junika yang mendengar ketukan lamunanya buyar, merasa jengkel ia langsung membuka pintu kamarnya, melihat sinta yang berada didepannya segera ia meninggalkan sinta, masuk lagi kekamarnya dan diikuti oleh bundanya.


“bunda mau bicara apa?” Tanya junika


Sinta menghela napas lemas, karna perlakuannya dahulu membuat buah hatinya tidak menyukainya sama sekali


“bunda, ingin membicarakan tentang sekolah baru, bunda sudah mendaftarkan disuatu sekolah yang jauh dari sini sayang, bahkan bunda sudah membeli rumah disana dan kita akan segera pindah kesana, dalam satu minggu ini, karena bunda sudah menjual rumah ini” ujar sinta panjang lebar duduk disamping junika


Junika mendengar ucapan sinta langsung berdiri tegak menghadapnya, “APA!! NGGAK, BUNDA NGGAK BOLEH JUAL RUMAH INI!!” ujar junika dengan keras membentak sinta hingga membuatnya terkejut.


“ tapi semua itu sudah terlambat sayang, mereka sudah membelinya” ujar sinta yang membuat hati junika semakin memanas.


Junika tidak terima rumah yang ia tinggali sekarang sudah menjadi milik orang lain, banyaknya kenangan yang ia buat dengan seorang pahlawan baginya


“BUNDA NGGAK BERHAK JUAL RUMAH INI!, INI RUMAH AYAH, BUKAN RUMAH BUNDA!!” ujar junika dengan emosinya


“rumah ini atas nama bunda sayang, bahkan bunda sudah memberikan kabar pada ayahmu, dan ayahmu juga sudah memberi izin” ujar sinta dengan sabarnya ingin menenangkan nya.


Hati junika sudah hancur ingin meluapkan amarahnya sekarang “BUNDA KELUAR DARI KAMAR JUNIKA SEKARANG, KELUAR BUNDA!!!” teriak junika dengan emosinya hafasnya sudah tidak bisa diatur lagi, hatinya sesak saat ini.


Sinta yang melihat anaknya ia semakin terpukul, mendekati junika yang berniat untuk menenangkan anaknya, “maafkan bunda sayang” ucap sinta mendekati junika.


“NGGAK!!, BUNDA KELUAR DARI KAMAR JUNIKA” teriak junika lagi membuat sinta pasrah dan segera keluar dan menjauh dari junika karna ia pikir lebih baik junika sendiri menenangkan hatinya,


sinta tidak bermaksud untuk melukai hati junika, ia hanya ingin membuka lembaran baru dan kisah yang baru dengan junika tanpa harus mengenang masa lalu yang berada dirumahnya sekarang.


Junika sudah terhisak menangis dengan sendunya, melempar semua barang yang berada didekatnya dengan keras, tidak ada lagi junika dahulu yang lembut dan sabar dengan semua orang meskipun semua menyakitinya, sekarang sudah berbanding terbalik dengan yang dulu, menjadi pemarah adalah kesehariannya sekarang, saat matanya tertuju benda pipih yang berada diatas kasur tempat tidurnya.


Junika mengambilnya, mencari nomor rama yang jadi tujuannya. Junika meletakkan benda yang berada ditanggannya ketelinganya setelah ia menemukan nomor rama.


“hallo sayang, kamu apa kabar?” ucap rama


Hati junika sesak saat mendengar suara yang ia rindukan selama ini, ayah yang selalu ada untuknya sekarang sudah jauh dari kehidupannya.


“AYAH, KENAPA MEMBERI IZIN KEPADA BUNDA INGIN MENJUAL RUMAH INI AYAH” ujar junika dengan emosi sekaligus tangisan.


“maafkan ayah sayang” ucap rama dibalik telpon dengan penuh salah


“JUNIKA BENCI SAMA AYAH!!!” teriak junika dan mematikan sambungan telpon dengan rama dan melemparkan handphone nya kesembarang arah yang membuat benda tersebut hancur berkeping-keping.


Seminggu berlalu kini bertepatan dimana hari ia akan pindah kerumah barunya, junika mencoba melihat seluruh ruangan untuk yang terakhir kalinya.


Setiap ruangan ada cerita lain yang ia ciptakan kebahagian dengan rama. Ketika junika berada disebuah taman yang luas, saat itu juga kenangan kebahagiaan dengan ayah tercintanya teringat.


“ayah, kejar junika ayah!!”

__ADS_1


“kamu jangan cepat-cepat sayang”


“ayo ayah, kejar junika”


“ayah capek sayang, kamu nggak kasihan ya”


“ayah capek ya, maaf kan junika”


“tapi boong, hap..” menangkap junika


“ah ayah curang, junika sebel”


“cie marah” menggelitiki junika


“hahaha, hentikan ayah”


Junika menepis semua kenangan, ingin melupakan semuanya. Hatinya sakit mengingat semua itu, ia menghapus air mata yang sudah lolos mengingat semua kenangannya.


“jun, rumahnya enak loh” jeda sinta dalam perjalanan “eh, kamu tadi udah makan belum ya?” Tanya sinta disela perjalanan kerumah baru mereka. Tetapi tidak ada balasan dari junika, untuk melihat arah bundanya pun enggan baginya,


junika hanya menatap diluar jendela kaca mobil tidak menghiraukan sinta.


“ini rumah baru kita sayang, masuk yuk” ucap sinta membuka pintu dan masuk, disusul oleh junika yang merasa jengkel


Junika masuk kekamar miliknya sekarang, yang berbeda dengan rumahnya dulu. Ia mengeluarkan seluruh barang yang ia bawa. Menggantung semua foto. Dan yang terakhir ia melihat fotonya dengan keluarga kecilnya yeng terdapat mereka bertiga disana. Foto sinta dan rama dengan junika berada ditengah. Ia memeluk foto tersebut “ayah, junika rindu”


...****************...


Sekarang junika sudah berada disekolah barunya, hari pertama untuk mengenal ulang semuanya, di lingkungan barunya ia akan mencoba hal-hal yang tidak pernah dilakukannya disekolah lamanya. Coba tebak?


“ehem, anak-anak kalian hari ini kedatangan teman baru ya, dan mulai hari ini dia mulai belajar sama kita” ujar pak wahyu kesemua murit


“sekarang kamu perkenalkan diri dan ceritakan sedikit tentang kamu” ujar pak wahyu pada junika mempersilahkannya.


Junika maju lebih depan dengan rambut terurai polesan wajah yang natural membuat semua kaum adam terpesona. Junika mengubah segalanya dari gaya pakaian maupun tata rambut yang dulunya selalu diikat


“hai, teman-teman” ujar junika kepada seluruh teman barunya.


“hallo” ucap semuanya


“hallo, cantik. Nama kamu siapa??” Tanya galuh yang dikenal sebagai playboy cap kaki tiga.


“salam kenal semuanya nama aku junika selia wijaya!” ujar junika


“ hai junika” ucap semua murit


“jalan-jalan kekota padang.


Jangan lupa membawa manisan.


Adek junika enak dipandang.

__ADS_1


Wajah cantik manis pisan” ucap galuh mengeluarkan rayuan mautnya


“pisang kali ah manis” ucap salah satu siswa


Melihat murit yang tertawa pak wahyu menghentikan mereka segera.


“sudah-sudah, junika silahkan duduk” perintah pak wahyu pada junika.


“junika kamu duduk sama aku saya, disini kosong” ucap siswi yang tengah melambaykan tangannya.


“baiklah kamu duduk disana, kalian jangan rebut. Bapak ada urusan sebentar, kalian silahkan berkenalan dengan junika” ujar pak, pergi keluar kelas


Junika berjalan kearahnya dan duduk disamping siswi tersebut


“hai junika, kenalin nama gue nabila” ujar nabila menjulurkan tangannya dan dibalas oleh junika


Dua siswi yang berada didepan menoleh kearah belakang secara bersamaan, mereka menjulurkan tangan secara bersamaan. Lagi-lagi sama


“hai kenalin nama aku lily, dan ini adik aku lila” ujar lily.


“kalian kembar?” Tanya junika dan dibalas anggukan secara bersamaan


“junika lo harus tau, mereka kembar semuanya. Melebihi upin & ipin” ujar nabila yang membuat junika paham.


Galuh yang sendari tadi memandang junika, kini iya mendekatinya dan menimbrung dengan teman junika sekarang, membuat teman sebangkunya terheran dengan galuh, dasar playboy cap badak kaki tiga!!!


“hai junika yang cantik, kenalin nama abang galuh” ujap galuh menjulurkan tangannya


Junika langsung membalas juluran tangan galuh


“hai galuh salam kenal” ujar junika tersenyum membuat galuh makin melayang.


.


.


.


.


.


.


.


salam dari author


...selamat menunaikan ibadah puasa...


...bagi yang menjalankan...

__ADS_1


...jangan lupa dukung author ya...


ig: @pratiwiptriutmi


__ADS_2