
ig: @pratiwiptriutmi
*mengulang sedikit kli aja lupa
"gue tau alasannya makanya mereka benci lo" ucap Julian
"apa?" tanya Junika karena ia sendiri tidak tau apa alasannya
"karena Lo cantik dan pinter, mungkin mereka semua iri sama lo, dan membenci apa yang kau Lo lakuin" ucap Julian
"hmm. iya kali ya?" ucap Junika lalu tertawa dan Julian pun ikut tertawa
begitu recehnya hingga membuat keduanya tertawa diperjalanan pulang dari sekolahnya, sekarang yang hanya dipikiran Junika hanyalah satu kata untu k menggambarkan kehidupannya sekarang dengan teman-teman itu adalah nyaman!!
...J&J...
sang malam telah tiba, satu keluarga tengah melakukan makan malam mereka dengan keadaan hening Julian ingin memulai pembicaraan.
“Julian mau kerumaah temen, bolehkan ma pa?” Tanya Julian ditengah makan mereka.
“mau ngapain?” Tanya justin
“mau belajar” Julian menjawab cepat
Uhuk, justin dan marisa tersedak mendengar ucapan anak mereka, dan segera mengambil gelas yang berisi air putih, langsung meminumnya.
“malam ini bulan purnama ya ma?” ucap justin pada istrinya
“kayaknya enggak deh pa” jawab marisa sambil melihat arah luar melalui jendela
“Julian serius nih, kok mama sama papa malah nanya bulan purnama. Aku kan Julian bukan purnama” Julian memutar mata malasnya ketika berhadapan kedua orang tuanya
“kamu ada angin apa mau belajar? atau lagi mau sesuatu?” Tanya justin
“kalau mama tebak kayaknya Julian mau mainan boneka kayak anak tetangga sebelah deh pa!” ujar marisa
“kalau memang iya, mama cepetan beli deh dari pada anak kita jadi gila gimana, bisa berabe ma” ujar justin
Marisa kartika dan justin argantara adalah orang tua dari Julian margantara, mereka berdua memang tidak memaksa anak meraka untuk melakukan apa yang mereka mau.
Marisa dan justin membebaskan Julian menentukan jalan hidupnya sendiri dan Julian tidak pandai dalam urusan pelajaran mereka juga tahu tetapi mereka tidak pernah memaksa anaknya untuk menjadi pintar karna paksaan
Mereka hanya memperingati Julian tentang sopan santun dan etika, mereka tidak pernah menuntut, tidak pernah memaksa Julian agar ia bisa dibanggakan, apalagi membandingkannya dengan anak tetangga itu tidak akan pernah, meraka sangat menghargai apa yang anaknya lakukan.
__ADS_1
Julian sangatlah bersyukur dengan mempunyai keluarga yang sempurna, dan menerima dirinya apa adanya.
“apa apaan sih, mama sama papa gitu. Julian lagi serius malah dibecandain, males ah” ujar Julian
“emang kamu mau belajar sama siapa, dan belajar apa dulu nih? Jangan macem macem ya Julian, mama nggak suka loh” ujar marisa
“Julian mau belajar pelajaran sekolah lah ma, asal mama sama papa tau beberapa bulan kedepan Julian mau diikutin dalam perlombaan dan Julian belajarnya sama cewek cantik loh” ujar Julian
“pantesan semangat banget, belajar sama cewek cantik ma” ucap justin menoleh kearah marisa
“Julian naksir ya sama itu cewek, kenalin dong” ujar marisa
“iya kapan-kapan Julian ajak kesini, tapi boleh kan?” Tanya Julian
“BOLEHLAH” ujar justin dan marisa semangat, menggebrak meja membuat Julian terkejut.
“santai dong”
...J&J...
GDUK, GDUK, GDUKK
Suara musih yang sangat kuat membuat seorang cewek sangat terganggu konsentrasi belajarnya dimalam hari, ia menutup telinganya namun masih terdengar sangatlah keras.
Kamar milik sigit dan nabila memanglah seberangan membuat mereka selalu membuat masalah, pernah waktu itu kaca jendela sigit pecah karna ulah nabila. Iya sama seperti sekarang karna terganggu belajarnya oleh musik sigit membuatnya melempar batu kearah jendela sigit.
Bedanya sekarang ialah jendela sigit terbuka membuat nabila tidak ingin melemparkan batu yang sudah tersedia didekat jendelanya.
“WOY, KERASIN LAGI MUSIKNYA” teriak nabila “eh, kok kerasin sih” ucap nabila pelan
“WOY, PAK LAMPIR KECILIN MUSIKNYA!” teriak nabila sekencang-kencangnya namun tidak bisa mengalahkan suara music milik sigit.
Julian yang sadar nabila sedang berbicara “APA??” teriak Julian
“KECILIIN MUSIKNYA” balas nabila
“BODO AMAT GUE KAGAK DENGER!” balas sigit
Dengan emosi yang sudah meluap memutuskan nabila untuk turun kebawah dan berjalan dengan garangnya menuju kearah rumah sigit,
Dengan pintu yang terbuka, membuat nabila masuk langsung. Toh kalau dia mengucap salam tidak bisa didengar, orang tua sigit hanya menggelengkan kepala ketika melihat nabila berjalan menuju kamarnya sigit. Sudah tau akan terjadi perang rumah antar tetangga.
Nabila yang sudah menaiki tangga menuju kamar sigit, dengan hentakan kaki yang sangatlah kuat, dan segera ia mencabut colokan salon milik sigit.
__ADS_1
Sigit yang melihat musiknya telah mati menoleh kearah nabila, “LO APA APAAN SIH, SANGAT MENGANGGU KETENANGAN”
“ELO YANG MENGGANGU KETENANGAN GUE, JELAS-JELAS GUE LAGI BELAJAR LO MALAH NYALIN MUSIH KERAS BANGET SUARANYA” ucap nabila
“LO KAN BISA NUTUP TELINGA LO KALAU NGGAK MAU DENGER MUSIK GUE” ucap sigit
“LO NGGAK HANYA MENGANGGU KETENANGAN GUE, DAN LO TELAH MENGGANGGU KETENANGAN SEKOMPLEK, TAU NGGAK SIH!” ujar nabila
“UDAH? MALES GUE DENGERIN BACOTAN LO, SINI IN COLOKANNYA” ujar sigit mendekati nabila berusaha merebutnya dari nabila
“NGGAK! INI PERLU GUE GUNTING” ujar nabila
“SINI!” ucap sigit
“ENGGAK!” balas nabila berusaha agar colokan tidak berpindah tangan, matanya tertuju diatas meja yang terletak gunting diatasnya.
“MINGGIR” nabila mendorong sigit dengan kuat sehingga membuatnya terjatuh kebelakang, dengan cepatan sigit memegangi bahu nabila dan mereka terjatuh
Dengan nabila yang berada diatas badan sigit, mereka berdua membulatkan mata mereka ketika penyatuan antar bibir, lelah bersatu untuk menutup bacotan mereka.
Nabila dengan cepat beranjak dari tubuh sigit, dan mengelap elap bibirnya dengan tanggan kirinya, dengan tanggan kanan yang masih memegangi colokan.
“NAJIS!!” ujar nabila lalu menghempaskan colokan dan pergi meninggalkan sigit yang masih terbaring.
Nabila menuruni anak tanga dengan cepat, tidak memperdulikan kedua orang tuanya sigit sedang melihatnya.
Andre zigith dan zivanna (ziva) segera menghampiri anak mereka keatas menayakan apa yang terjadi, andre dan ziva adalah orang tuanya dari sigit yang dengan sabarnya dengan kelakuan sigit dan nabila.
“kalian ada apa lagi sih, ribuutt mulu” ujar ziva
“iya ada apa? Sigit nggak boleh gitu” ucap andre
“nggak apa apa ma, pa” jawab sigit masih diposisi tadi yang berbeda ia telah berdiri.
“yaudah mau belajar aja, udahan mainnya” ucap ziva
“iya ma” balas sigit
--
Berbeda dengan rumah sebelah, nabila yang berada dikamar mandi sibuk mencuci mulutnya dengan sabun nya sendari tadi, dan sibuk bergumam sendiri “najis”
“nyesel gue kesana, mending kuping gua beranak dari pada bibir gue bersentuhan dengan bibir pak lampir” kesal nabila tatapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.
__ADS_1
“najis banget ih, apa perlu ya gue cari pasir untuk cuci mulut gue? Iya kayaknya harus cari pasir sabun aja nggak cukup!!” celoteh nabila didepan cermin toiletnya