
...J&J...
Sigit dan nabila, mereka sekarang sedang bingung. Diruang makan rumahnya nabila sudah ada orang tua mereka yang saling bertatapan.
“mama sama papa, nggak ada maksud lain kan selain makan malam?” Tanya sigit.
Sigit merasa tidak ada yang beres sekarang, begitupun nabila beradu dengan pikirannya, ada apa nih?
“jadi kami berempat ada rencana, ini tidak sama sekali merugikan kalian berdua kok” ucap ziva, ibunya sigit.
Ziva melirik gea ibunya nabila, manaik turun kan alis mereka, itu semakin membuat sigit sama nabila bingung.
“KALIAN BERDUA AKAN TUNANGAN!” ucap ziva dang gea dengan bersemangat.
“APA?”
“mama, kok gitu sih, sigit nggak mau tunangan sama mak lampir” ucap sigit ke ziva dan andre seperti anak kecil yang sedang meminta susu.
“nabila juga nggak mau sama pak lampir ma, pa” ujar nabila
“nggak ada yang boleh membantah, kalian harus jalani hubungan sebagai tunangan mulai sekarang.” Ucap rapel- ayahnya nabila.
“iya benar” balas andre.
“sigit nggak mau papa, lagian kalau tunangan itu harus ada cincin terus harus saling suka dan cinta, dan sigit nggak suka sama mak lampir” ujar sigit.
Ziva mengambil sesuatu yang ada ditas miliknya, mengambil kotak kecil yang berwarna merah, ia mumbukanya dan sudah ada sepasang cincin berlian didalamnya.
“cincinnya sudah ada, sekarang kalian akan tunangan, ayo pakai cincin ini, masalah cinta dan sayang? Itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu” ucap ziva.
“sigit nggak mau ma,”
“nabila juga nggak mau tunangan sama dia”
“HARUS! KALIAN MAU MAMA BONGKAR RAHASIA KALIAN?” ucap ziva dan gea bersama.
“iya! mau”
Tunangan, itu status sigit dan nabila sekarang, setelah memasangkan cincin yang melingkar dijari manis masing-masing. Dengan tatapan tidak suka.
“inget ya, mak lampir! Ini cumin sementara!?’ bisik sigit selagi sesi foto mereka, difotokan oleh asisten rumah tangga nabila
“gue juga nggak mau sama lo! Dasar pak lampir” balas nabila
...J&J...
Dengan waktu yang sama dirumah sakit sudah datang ibunya junika, sinta yang diantar oleh teman-temannya, setelah mendapatkan informasi dari Julian ketika junika dibawa kerumah sakit.
__ADS_1
“sayang, kamu nggak apa-apa kan, bunda khawatir sama kamu!” ucap sinta ke junika,
Junika membalikan badannya menatap kearah marisa, ia tidak ingin melihat sinta sekarang. “kenapa bunda kesini” ucap junika, kebencian telah meyelimuti hatinya.
“bunda kesini mau liat kamu, kamu kan anak bunda” ucap sinta
“sejak kapan bunda, nganggep junika jadi anak bunda, junika kok nggak tau” junika alih-alih menatap sinta dengan air mata.
“kamu selalu jadi anak bunda sayang, sampai kapanpun. Bunda selalu akan ada buat junika” ucap sinta.
“bunda nggak pernah ada buat junika, bunda nggak inget?. Sejak umur junika delapan tahun sampai sekarang, junika nggak pernah main sama bunda, junika bisa membaca dan berhitung, hingga mendapatkan beasiswa itu karna ayah, dan sekarang ayah pergi gara-gara bunda!”
“setelah bunda bercerai dengan ayah, dan ayah pergi selama-lamanya. Sekarang bunda baru sadar ada junika? Junika rasa itu sudah terlambat”
Diam, semua orang terdiam tidak berani menimbal ucapan junika, marisa mengajak sinta keluar, diikuti oleh suaminya, sepertinya mereka akan membicarakan hal tadi.
“mbak sinta, jangan khawatir dengan junika. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini, dan ada yang kami ingin bicarakan sama mbak?” ucap marisa menoleh ke justin,
Justin mengangguk sebagi jawaban dan duduk disebelah istrinya. “mungkin ini tidak sopan, kita harus bicara dengan keadaan seperti ini dan ditempat seperti ini.”
“kami mau mengangkat junika anak kamu, menjadi anak kami jika diizinkan, kami akan merawatnya seperti anak kami sendiri?” ucap justin
“mungkin ini membuat hati mbak sakit atau gimana, tapi kami benar-benar serius dengan apa yang kami bicarakan, kami akan merawat junika seperti anak kami sendiri?” ucap marisa
“dan semisal mbak memperbolehkan, kami akan mengurus persuratan junika, junika akan kami masukan dalam kartu keluarga kami, jika mbak memperbolehkannya?” tambal marisa.
Marisa yang tidak enak, segera memeluknya “tidak usah khawatir, kelak akan baik-baik saja, dan suatu hari nanti kita akan menjadi besan”
...J&J...
Junika, setelah seminggu ia tidak masuk sekolah, kini hari pertama ia masuk sekolah SMA TIKARVIA, menyandang setatus sebagai adik Julian, cowok tertam pan disekolah, tapi sayang bodoh kata junika.
“ayo, turun adikku tercinta!” rayu Julian, membantu junika menuruni motor nya.
Setelah malam itu, keluarga Julian datang kerumah junika, ia memutuskan untuk tinggal dirumah marisa, mengemasi pakaian separuh untuk keperluannya.
Sungguh, junika sangat malu jika ia dirayu oleh Julian ketika mereka sedang berada disekolahan, banyak siswa dan siswi mencibir mereka, iri dengan junika tentu saja. Mungkin sebaliknya!?
“berhenti merayuku ketika disekolah, apa kata orang nanti?” bisik junika.
“kenapa harus malu?, lo sekarang sudah jadi adik julian margantara yang paling ganteng, lo seharusnya bangga punya abang kayak gue, atau masih kurang? Mau nikah aja?” ucap Julian.
Junika lagi-lagi dibuat malu, pipinya selalu memerah saat dirayu Julian. Ia pergi mengacuhkan Julian, jika diladeni tidak aka nada sudahnya.
Julian langsung turun dari motor yang telah ia parkirkan, “eh, tunggu dong adek”
“gimana? Mau nikah nggak sama abang ganteng? Hm?” Tanya Julian lagi, setalah langkah mereka sejajar.
__ADS_1
“ganteng aja nggak cukup? Kok abang sendiri kalah sama adik, bodoh sih?!” ujar junika
“kan ada adiknya abang yang paling cantik, lo harus ajarin gue supaya kaya lo. Kitakan mau lomba” ucap Julian
“lomba belum tentu aja bangga, lo itu harus contoh adik yang sangat pintar ini” ucap junika
“ya, iya, papa sama mama pasti bangga, punya anak kayak lo!” ucap Julian,
Junika yang mendengar ucapan Julian berhenti “harus dong” menadahkan tangan di dadanya.
“ayah juga pasti bangga” ucap junika lagi.
“bunda?” Tanya Julian
Junika hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan itu, ntahlah junika tidak pernah menjawab jika seseorang membahas sinta, bundanya sendiri.
Julian tidak enak, menanyakan hal itu ia melihat wajah adiknya berubah, tiba-tiba teman mereka mendatangi junika dan Julian, menyambut kembali mungkin?
“woy bro, udah sampek lo?” ujar sigit
“halo, neng junika yang geulis, apa kabar?” Tanya galuh.
“hai, junika baik kok, galuh sendiri apa kabar?” Tanya junika balik
“ba--” belum sempat menjawab sahabat junika datang dengan heboh
Nabila, lily berlari menghampiri junika dengan gembiranya, kecuali lila yang jalan biasa, tidak seperti yang lainnya, gue masih waras katanya!
“junika!! Gue kangen banget sama lo, lo nggak sekolah seminggu rasanya nggak sekolah satu tahun!” ujar nabila.
“gila, satu tahun nggak tuh” ucap Julian dengan pelan.
Lily yang ikut menghadap junika dengan dekat, memegangi tangannya, “sumpah jun, nggak ada lo rasanya ada yang kurang” ucap lily
“micin kali ah!”
Lila yang melihat mereka hanya heran, sepertinya mereka tidak punya urat malu. Tapi jujur ia juga merasakan hal yang sama dengan nabila dan kembarannya si lily. “gue juga!” ucapnya.
“WAW! Sebuah penghargaan besar untuk junika, sudah membuat seorang lila kangen sama orang?” ujar galuh.
Junika terus memandangi sahabatnya, ditengah jalan mereka berhenti, tetapi tatapan junika beralih ketangan temannya, binggung, ketika ia melihat cincin yang melingkar dijari manis nabila.
“lo? Dilamar siapa, Bil?” Tanya junika
...Happy reading ...
...@pratiwiptriutmi...
__ADS_1
...🤍...