Kakak kelasku cintaku

Kakak kelasku cintaku
BAB 19 Ibu Mertua Ku Yang Baik


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, aku segera membereskan meja makan dan mengangkat piring kotor ke dapur lalu mencucinya


" sayang kamu ngapain?" aku kaget ternyata ibu mertuaku sedang memperhatikanku dari belakang.


"Tidak ada bun, hanya mencuci sedikit piring kotor. " aku menjawab sambil menunduk.


"untuk apa sayang? apakah kamu tidak mempercayai bibi? bahwa bibi bisa mencucinya dengan bersih?" ibu mertua ku melipat tangan


"tidak seperti itu bun, ini hanya pekerjaan ringan, kata mama dita , sekarang dita kan sudah menjadi istri, dan juga sebentar lagi akan menjadi ibu, jadi dita harus belajar mengurus rumah juga suami. itu pesan mama pada dita bun" aku menjelaskannya dengan sedikit gugup. takut jika ibu mertua ku itu salah faham.


"bagus sekali didikan orang tua kamu sayang, memang benar apa yang dikatakan mama kamu, tapi kan suami kamu orang berada sayang, asisten dirumah ini juga bukan cuma satu, jadi kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah, nanti jika tangan kamu yang halus ini jadi kasar bagaimana, bunda tidak rela pasti nanti sandi juga akan merasa tidak enak pada kedua orang tua kamu, takutnya orang tua kamu, berfikir yang buruk, kenapa anak perempuan yang mereka sayang tangannya menjadi kasar." ibu mertua ku tertawa kecil sambil mencubit pipiku.


" baik bun, Dita minta maaf" aku menatap mata ibu mertua ku sambil berkaca kaca.

__ADS_1


"tidak perlu minta maaf, ada apa kenapa kamu ingin meneteskan air mata? apakah perkataanku tadi menyakitimu sayang?" bunda memeluku.


" Tidak bun, dita hanya senang karna mendapatkan ibu mertua yang sangat baik" aku malah menangis, jadi takut ibu mertua ku salah faham.


"sudah sudah, kenapa malah jadi nangis beneran coba,? sayang anggap saja aku ini sebagai ibu kandungmu, karna aku tidak akan membeda bedakan anak menantu atau anak kandung, bagiku kalian semua itu sama, kalian anak anak ku." ibu mertua menatapkuu.


"terimakasih bunda"


" sudah Ayok kita duduk bergabung dengan ayah juga sandi, sepertinya mereka sedang membicarakan bisnis apa yang akan di lakoni oleh sandi, dia harus bekerja keras agar istri juga calon cucuku ini sehat juga berkecukupan" ibu mertua mengelus perut ku yang masih rata ini dengan lembut.


Setelah kami sampai di teras belakang rumah dekat taman, kami bergabung duduk dengan ayah juga mas sandi.


"Ayah, sandi serius sekali apa yang sedang kalian bahas? apakah kami boleh bergabung?" tanya ibu mertua ku, tetapi aku melihat jelas tatapan ayah mertuaku terhadap aku sama sekali tidak suka.

__ADS_1


"boleh dong bun, sini sini dek" mas sandi menepuk nepuk kursi yang ada di sebelahnya.


"bun, mas, dita kebelakang saja ya sama bibi mau bantuin bibi menyiapkan makan untuk nanti siang." aku menunduk karna takut melihat wajah ayah mertuaku yang garang itu.


"sayang, apakah kamu tidak mendengarkan permintaan bunda tadi" bunda menegurku


"iya dek, untuk apa kamu membantu, itu sudah tugas bibi. " mas sandi mendekati ku lalu menuntukun untuk duduk tepat di sebelahnya.


" Ya sudah jika dia tidak mau, apakah kalian akan memaksa orang yang tidak mau bergabung dengan keluarga kita.!" ucapan ayah mertua ku berhasil membuat jantungku serasa mau copot dan aku ingin sekali menumpahkan air mata yang sendari tadi aku tahan.


"ayah!! jangan seperti itu bercanda dengan menantu kita, dia baru masuk ke keluarga kita, jadi dia pasti bakal takut dengan suara mu yang menggelegar itu. Dita sayang maafkan ayah ya, ayah hanya becanda tadi, ayah memang seperti itu orangnya agak kaku." bunda menatapku dengan senyum yang tulus,


Tapi jelas ayah mertua ku tadi sedang tidak bercanda, dia memang seperti tidak menyukaiku.

__ADS_1


"iya dek, ayah memang seperti itu, jangan di ambil hati ya," mas sandi melingkarkan tangannya ke pinggangku.


__ADS_2