
Pagi telah tiba, ini sudah jam 05.00 aku segera membangunkan mas sandi untuk melaksanakan solat subuh bersama.
" mas bangun, ayo kita solat subuh bersama" aku mengguncang badan mas sandi dengan pelan.
" jam berapa sekarang dek? apa sudah terang?" tanyanya sembari mengucek mata.
" Apa jika mau solat subuh harus menunggu matahari terbit? jadinya buka solat subuh dong mas, solat duha" aku mencubit perutnya dengan lembut.
" aww, iya iya sayang mas wudhu dulu ya" dia melangkah menuju kamar mandi.
Selesai menunaikan solat berjamaah bersama suami, aku meluangkan waktu sebentar untuk tadaru Al-Qur'an. setelah 30 menit aku bertadarus, aku melangkah keluar kamar menuju dapur untuk sedikit membantu bibi.
"bi? mau masak apa untuk sarapan? tanyaku dari belakang badan bibi.
" ohh non sudah bangun, ini non mau masak nasi goreng dan juga telur" bibi menjawab dengan ramah.
"sini dita bantu bi boleh kan?" aku mendekat lalu memecahkan beberapa telur untuk di dadar.
"Tidak usah non, nanti kalau nyonya marah bagaimana? bibi takut non dimarah" bibi mengambil alih mangkuk yang berisi telur.
"ihhh bibi tidak apa, mana mungkin bunda marah, aku kan mau memasak untuk mertua juga suami aku" aku tersenyum pada bibi agar dia tidak merasa segan padaku.
"baiklah non" dia memberikan mangkung nya kembali.
" ya sudah bibi siapkan saja, pelengkap untuk nasi goreng, nanti dita yang masak ya" aku memerintah bibi dengan sopan.
__ADS_1
"baiklah non" bibi melanjutkan memotong motong sayur juga sosis.
setelah beberapa saat , akhirnya menu sarapan pagi ini sudah siap, aku segera ke atas untuk memanggil mas sandi, dan bibi memanggil ayah juga bunda. Kami pun sudah berkumpul dimeja makan, dan langsung menyantap sarapan yang aku juga bibi masak tadi.
" wahh tumben masakan bibi ini enak bun, mau nambah lagi ah" mas sandi mengambil nasi goreng dan meletakkannya di atas piring makannya.
"iya, enak ya yah," ibu mertua berkata sambil menyantap nasi goreng
" jadi ingat masakan ibu ya bun" ayah tak kalah lahap menyantap hidangan di atas meja ini.
" bi bibi" panggil bunda
"iya nyonya ada apa" bibi datang dengan sedikit agak berlari.
"Ini buka bibi yang masak nyonya, tapi non Dita" bibi berbicara sambil tersenyum
Aku kaget, seketika aku melihat bunda, ayah, juga mas sandi, mereka tak kalah kaget, bahkan mas sandi sampai tersedak.
"apa ? ini yang masak kamu dek?" mas sandi bertanya padaku dengan wajah bingung.
" iya mas, maaf jika tidak enak, ayah bunda maaf jika masakan dita tidak sedap." aku menundukan kepala.
"masya allah, ini enak sekali nak, lihat saja sampai habis begini, tuh lihat saja ayah mu dia sampai tambah tiga kali."
mendengar ucapan ibu mertuamu barusan terlihat ayah mertua ku terbatuk batuk.
__ADS_1
" ayah, hati hati ini minum dulu." ibu mertua menyodorkan air minum pada ayah.
"uhuk uhukk, ah biasa saja rasa nasi gorengnya, rasa nya seperti nasi goreng pada umumnya tidak usah berlebihan" ayah mertua meminum air ya ibu mertua berikan tadi.
" halah ayah ini, dasar tukang gengsi, tadi bilangnya rasa nya enak, jangan lupa ayah, tadi ayah sampai nambah 3 kali" ibu mertua seperti mengejek ayah.
" apaan si bun, tadi kebetulan ayah sangat lapar, jadi ya makan habis banyak" ayah mertua berusaha mengelak, sepertinya dia menahan malu karna terlihat dari wajahnya yang memerah.
Ada apa sebenarnya dengan ayah mertua ku, dasar mertua yang aneh.
***
Mas sandi berpamitan dengan ku, untuk berangkat kerja, aku mencium punggung tangan suami ku itu.
"dek mas berangkat ya, kamu hati hati dirumah, tadi mas sudah berpesan pada bunda agar mengingatkan mu untuk minum susu " ia mengelus kepala ku.
" iya mas, terimaksih"
" dita, ini" ayah mertua memberiku sesuatu.
"apa ini yah" aku mengambil barang yang ternyata itu kartu kredit.
"masak tidak bisa baca itu apa, itu kartu kredit, belanja sesuka mu belilah perlengkapan untuk bayi mu juga dirimu, itu kartunya limit" dia menjelaskan padaku dengan nada agak keras.
Aneh banget si kadang judes, kadang juga baik mertua ku yang satu ini memang agak aneh.
__ADS_1