
Semua pria terkejut bukan main dengan apa yang ia di hadapannya, apa yang terjadi di di sisi kegelapan. Yuki berjalan pelan dari kegelapan menghampiri mereka dengan tawa dan senyum mengerikan.
"hehehe..... hahahaha....."
Semuanya menjadi panik saat yuki keluar ia membawa pisau berdarah menjilatinya dan kepala terpengal berlumuran darah menghampiri mereka,Yuki hanya tersenyum saja dan raut wajah saja yang berubah.
"AH...... kamu siapa S... s.. se... tan pergi cepat lapor polisi...." ucap ketua pria.
mendengar ketua itu memberikan perintah pria itu mulai lapor polisi tapi saat akan menekan tangan pria itu putus dan menusuk dadanya berulang kali.
Mereka yang ketakutan lari menjauh meninggalkan beberapa temannya.
Yuki yang sebari tersenyum mengatakan sesuatu membuat mereka segera pergi.
"aku akan menghitung dari 3 bersembunyilah dimana kalian berada jika aku menemukan kalian ikut dengan teman kalian yang tadi ya.... hahahaha.... "
__ADS_1
Mereka lari tidak karuan dan tidak berani menoleh kebelakang apa yang baru ia lihat. Yuki tersenyum lirih dan menarik kepala itu kegelapan dan semuanya menjadi hening.
***
Luxi yang terbangun dari tempat duduknya mencari lian tidak ada di kamarnya hanya sepucuk surat saja. Luxi hanya tersenyum pahit melihat surat itu, terbiasa akan surat yang tertinggal di sana. Luxi mengambil surat itu dan meletakan di sebuah kotak yang penuh surat dari adiknya tapi tidak pernah ia baca, luxi enggan untuk membaca surat itu karena dia menebak akan surat yang muak dengan keluaraganya.
luxi yang sedari diam melamun segera ia mandi bersiap berpakaian sekolah, ia membuka pintunya mendapati seisi rumah dalam keadaan tegang, luxi yang terpaku diam bertanya pada ibunya.
"ibu kenapa mendadak diam begini adakah sesuatu terjadi?" tanya luxi
Luxi yang khawatir akan ibunya melihat dengan sayu, piring yang baru di cuci dan baru kenapa mendadak pecah seharusnya tidak ada hewan atau seseorang yang tiba - tiba menjatuhkannya.
"Siapa yang memecahkan piring ini jawab ayah? ini tumpukan piring baru kalau satu masih ayah toleransi tapi ini tumpukan berapa won yang harus di keluarkan? " tanya nada tegas tuan chen
Seisi rumah hening saling pandang kenapa mencari siapa pelaku piring itu. Ana yang duduk diam di kursinya mendadak mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Hemmm kemana lian? seharusnya dia berangkat kan kenapa tidak kelihatan?" tanya ana.
Tuan chen mendadak mencari lian di ruang makan tidak ada lian, muka yang merah marah tuan chen memanggil lian dengan keras.
"LIAN KEMARI KAU ANAK BOCAH...."
Tidak ada jawaban dari kamarnya hening seperti tidak ada lian. Tuan chen yang geram mengedor pintu lian dengan keras
"TOK.... TOK.... "
Tidak ada sahutan dari kamar lian yang biasanya akan sekali ucapan ayahnya dia akan keluar, Tuan chen membuka paksa pintunya dan mendapati kian tertidur pulas dengan badan beratakan, baju yang kenak noda merah itu apa, baju yang basah akan siram air di sungai, lumpur di sepatunya dan bajunya.
Tuan chen melihat itu marah besar dan mengambil seember besar dan melemparkannya ke lian, lian yang terjatuh ember terkejut mendadak panik dan bangun dari tempat tidurnya melihat ayahnya terkejut.
"A... AY... ayah kenapa ada di sini kenapa lian di lempar ember ayah kepala lian sakit sampai berdarah dan airnya sampai ke kasur ayah?... " tanya lian
__ADS_1
Tuan chen membuka gorden kamar lian agar terang dan mengambil cermin dan melemparkan ke arah lain dengan marah betapa terkejut lian dengan apa yang terjadi kotor dan tidak karuan muka lian...