
Ayana tak kuasa membendung airmata yang terus mengalir deras di depan batu nisan kedua orangtuanya. Rasanya baru kemaren dia selalu dipeluk, dimanja dan disayang oleh papa dan mama. Tapi kini mereka sudah tidak ada lagi, tinggallah dirinya sendiri.
Sungguh tidak sanggup dia membayangkan bagaimana masa depannya kelak tanpa mereka. Karena selama ini dia betul-betul tergantung sepenuhnya pada mama dan papa, maklumlah Ayana memang anak tunggal yang selalu merasakan kasih sayang berlimpah, tidak pernah merasakan kesulitan hidup.
"Jangan menangis lagi nak, hapuslah airmatamu, kasihani mama dan papamu. Mereka pasti sedih melihatmu seperti ini."
Seorang wanita paruh baya seusia mamanya mengusap lembut rambutnya. Dialah tante Hana, teman akrab mamanya sewaktu kuliah dulu. Begitu mendengar peristiwa tragis yang menimpa keluarga sahabat karibnya, tante Hana langsung mengajak suaminya terbang ke kota P. Karena dia mendapat kabar bahwa sahabatnya itu meninggalkan seorang putri tunggal yang selamat dari kecelakaan tersebut.
Ayana menganggukkan kepala dan berusaha keras menghapus airmatanya. Kepalanya masih dibalut perban dan sekujur badannya dipenuhi luka-luka memar. Tapi semua itu tidak dirasakan sakitnya, yang ada hanyalah perasaan sedih dan kesepian yang mendalam.
Tante Hana mengajaknya untuk pindah ke kota J. Karena keluarga Ayana tidak memiliki kerabat dekat lain. Mau tidak mau dia harus ikut. Karena tidak mungkin di usianya yang baru menginjak usia 17 tahun 2 bulan yang lalu, dia mampu hidup sendiri.
Sebenarnya Ayana hanya satu kali pernah bertemu langsung dengan tante Hana. Itupun sewaktu umurnya masih 7 tahun. Saat mamanya dan tante Hana reuni 10 tahun yang lalu. Dia juga tidak terlalu ingat karena masih kecil. Berhubung mamanya dan tante Hana tinggal berjauhan, tidak memungkinkan bagi mereka untuk sering-sering saling mengunjungi. Tetapi persahabatan mereka memang terus terjalin erat bahkan sudah seperti saudara kandung.
Tadi tante Hana bercerita bahwa dia dan mama Ayana pernah berjanji apapun yang terjadi mereka akan terus saling membantu. Oleh karena janji itu tante Hana berkeras mengajak Ayana supaya mau berada dalam asuhannya sebagai pengganti kedua orangtuanya yang sudah pergi.
"Ayo nak, kita kemasi barang-barangmu supaya besok pagi kita berangkat ke kota J," ajak tante Hana sambil mengulurkan tangannya membantu Ayana berdiri.
"Iya tante.... Mama dan papa, Ayana pamit dulu, doakan Ayana kuat menghadapi kenyataan ini. Suatu saat Ayana akan ke sini lagi," isaknya tertahan sambil melepaskan pandangan terakhirnya ke nisan orangtuanya.
Ayana berjalan pelan mengikuti tante Hana menuju mobil. Tubuhnya seakan tidak berpijak ke tanah. Semua terasa seperti mimpi baginya tapi dia harus sadar bahwa ini nyata.
************************
Ayana memandang rumah megah berhalaman luas seperti istana itu. Ternyata keluarga tante Hana sangat kaya raya. Tidak seperti keluarganya yang biasa-biasa saja walau juga tidak kekurangan. Di sinilah dia akan tinggal.
__ADS_1
"Yuk nak, kita masuk.... Nanti tante akan memperkenalkan kamu dengan anak-anak tante," ucap tante Hana sambil tersenyum hangat kepada anak sahabatnya itu.
"Jangan sungkan Ayana.... Mulai sekarang kamu harus anggap ini adalah rumah kamu sendiri ya," suami tante Hana, om Gibran juga menunjukkan keramahannya supaya Ayana tidak merasa gamang dengan masa depannya.
Ayana mengangguk, kakinya mengikuti tante Hana dan om Gibran masuk ke rumah besar itu.
"Nah, ini kedua anak tante....," kata tante Hana sambil merangkul kedua anak laki-lakinya.
"Yang sulung namanya Raihan, umurnya 5 tahun lebih tua dari kamu. Sekarang sudah selesai kuliahnya dan membantu om Gibran mengelola perusahaan," ujar tante Hana sambil memandang pemuda di sebelah kirinya.
Cowok bernama Raihan itu bermuka ramah, berkacamata dan selalu tersenyum, tipikal anak baik kebanggaan orang tua manapun. Dia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Ayana.
"Halo Ayana.... Salam kenal ya.... Kamu bisa panggil saya kak Raihan, jangan seperti anak kecil di sebelah mama itu yang gak mau mengakui kakaknya dan selalu panggil nama," ejek Raihan ke arah pemuda di sebelah kanan tante Hana.
"Hush gak boleh gitu sama adik kamu... Gak usah didengerin Ayana, mereka memang selalu bertengkar seperti anjing dan kucing," sahut tante Hana sambil mengalihkan pandangan ke arah pemuda di sebelah kanannya.
Ayana sedikit takut memandang wajah anak bungsu tante Ayana. Tampan tetapi ekspresinya dingin dan cuek. Matanya menyorot tajam. Bibirnya sama sekali tidak tersenyum, semakin memperjelas karakternya sebagai seorang pemberontak.
"Ih dikenalin gitu malah diem aja.... Lihat itu ma, gak sopan banget kan," cibir Raihan ke arah Kaivan yang diam saja.
"Ayo dong Kai, salaman dulu dengan Ayana.... Masa diam aja, " tante Hana menarik tangan Kaivan untuk berjabatan tangan dengan Ayana.
Kaivan hanya menyentuh sedikit jemari Ayana, kemudian cepat-cepat menarik tangannya lagi seolah-olah enggan bersentuhan dengan gadis itu. Wajahnya memperlihatkan rasa bosan dan tidak peduli.
"Udah kan ma basa-basi kenalannya, aku ada kuliah hari ini, nanti telat," cetus Kaivan sambil beranjak pergi ke luar rumah dan mengambil helm motor yang tergeletak di meja.
__ADS_1
"Eh sebentar Kai, mama belum selesai bicara. Ayana kan kebetulan udah lulus SMA, jadi mama rencana mau daftarkan dia ke kampus kamu,"
Mata Kaivan menyipit tidak suka. Sambil menghela nafas dengan kasar dia berkata," Terserah mama sajalah.....,"
Sejurus kemudian dia sudah berlalu melewati pintu depan dan tidak lama kemudian terdengar deru knalpot motornya meninggalkan halaman rumah.
Kaivan memang lebih suka pakai motor sport besar ke kampus. Lebih jantan katanya kalau mamanya lebih menyarankan dia untuk pakai mobil. Dan akhirnya sang mama tidak bisa membantah keinginannya.
Setelah suara motor itu hilang dari pendengaran, barulah Ayana merasa bisa bernafas lagi. Tadi selama Kaivan masih ada, dia seakan tercekik saking takutnya dengan cowok itu. Baru sekali ini dia ketemu makhluk yang begitu dingin seperti es.
Ayana mencoba menenangkan hatinya. Kalau anak tante Hana cuma Raihan mungkin tidak masalah baginya. Tetapi membayangkan akan serumah dengan beruang kutub yang bengis seperti Kaivan, sungguh membuat hatinya mengkerut. Hidupnya yang selama ini tidak pernah tersakiti dan selalu dalam kasih sayang seakan menolak menerima sesosok cowok seperti Kaivan.
Apalagi tadi tante Hana bilang kalau dia akan didaftarkan di kampus Kaivan. Berarti dia akan semakin sering berinteraksi dengan cowok itu. Tidak saja di rumah tapi juga bisa bertemu di kampus. Membayangkannya saja sudah membuat Ayana ketakutan.
Apakah dia mampu untuk hidup bahagia di rumah ini?
Perkenalan tokoh :
Ayana Halwatuzahra
Kaivan Vijendra
__ADS_1
Raihan Waradana