Karena Dijodohkan

Karena Dijodohkan
Apakah Itu Ciuman Pertama Lo?


__ADS_3

Kaivan sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi itu. Suasana rumah agak sepi karena dari kemaren siang kedua orangtuanya mendadak harus keluar kota menjenguk saudara mereka yang sedang sakit keras. Entah kapan mereka pulang. Sedangkan abangnya pagi-pagi sekali sudah langsung berangkat ke kantor karena seharian ini ada beberapa meeting dengan klien penting perusahaan mereka.


Jam di dinding sudah mendekati pukul 8 pagi, sedangkan kegiatan perkuliahan akan dimulai pukul 9. Tapi Ayana belum juga keluar dari kamarnya.


Kaivan bangkit dari duduknya. Dengan langkahnya yang panjang-panjang dia kembali menaiki tangga menuju kamar Ayana.


Bruk Bruk Bruk......


"Heiiii !!! Elo blom bangun? Gak mau berangkat kuliah? Gue udah nungguin dari tadi nih... Banyak gaya amat sih lo," teriak Kaivan sambil menggedor-gedor pintu kamar Ayana dan menggoyang-goyangkan handle pintu yang terkunci.


Tidak ada juga gerakan membuka pintu dari dalam walau Kaivan sudah menggedor-gedor beberapa menit. Dia sudah mulai merasa cemas dan kuatir.


"Ngapain sih cewek ini? Gue udah gedor-gedor lama gini, dia blom keluar juga.... Jangan-jangan...." batin Kaivan semakin tidak tenang.


Apakah gara-gara perlakuan kasar dan ciuman paksanya tadi malam, Ayana jadi marah sampai akhirnya putus asa?


"Tidak mungkin dia sebodoh itu," Kaivan berusaha menenangkan hatinya yang mulai gundah.


Untunglah gagang pintu kamar Ayana akhirnya bergerak terbuka. Gadis itu keluar perlahan dengan muka cemberut. Dia tidak mau melihat ke arah Kaivan. Dengan marah didorongnya dada Kaivan supaya mau memberi dia jalan.


Tapi cowok itu juga tidak mau mengalah begitu saja. Ditariknya tubuh mungil Ayana kembali ke arahnya sehingga wajah gadis itu berbalik jadi menabrak dadanya. Kemudian didekapnya erat pinggang ramping itu merapat padanya.


Posisi wajah mereka kembali sangat berdekatan. Mata Kaivan tak lepas dari wajah Ayana yang sudah makin merona.


"Lepaskan aku," desis Ayana lirih.


Mata gadis itu seakan melekat kuat kepada wajah Kaivan yang sangat tampan mempesona. Walau pikirannya menyuruh untuk berpaling tapi logikanya kalah dengan pesona cowok yang sedang mendekapnya erat.


Selama beberapa menit mereka terperangkap dalam posisi seperti itu, terjebak dalam pesona masing-masing. Sampai akhirnya Ayana tersadar sepenuhnya dan kembali berontak berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


"Kenapa elo lama banget keluar dari kamar? By the way, gue juga penasaran dari kemaren, itu ciuman pertama elo ya?" bisik Kaivan dengan nakal.


"Keliatan banget belum berpengalaman," lanjutnya lagi sambil mengedipkan mata ke arah Ayana.


"Dan bibir lo boleh juga, manis, kenyal dan hangat bikin gue ketagihan," sambil bicara Kaivan kembali mendekatkan bibirnya ke arah bibir Ayana, kemudian mengecupnya sekilas sambil tertawa.


Kemudian barulah dilepaskannya tubuh Ayana. Gadis itu masih merasa gemetaran karena perbuatan Kaivan tadi, kakinya seakan goyah tidak kuat menyangga badannya. Akibatnya Kaivan melihatnya terhuyung hampir jatuh dan kembali mendekap bahunya.


"Kenapa sampe gemetaran gitu? Ketauan banget blom pernah deketan ama cowok apalagi yang super ganteng kayak gue ya...." bisik cowok itu lagi di telinga Ayana.


Nafasnya yang hangat dan beraroma segar menyapu daun telinga dan pipi Ayana. Gadis itu memejamkan mata sejenak berusaha menenangkan debar jantungnya yang terasa seperti mau meloncat keluar.


Setelah merasa agak tenang dan pulih sepenuhnya, Ayana melepaskan diri dari dekapan Kaivan dan tanpa suara berjalan mendahului menuruni tangga. Kaivan mengikuti dari belakang sambil tersenyum nakal. Hatinya sangat senang selalu berhasil menggoda Ayana dan membuat gadis tersebut salah tingkah.


Ayana buru-buru duduk di meja makan. Tanpa suara diambilnya sepotong roti bakar kemudian diolesi dengan selai coklat. Kaivan menyusul duduk di hadapannya dengan gaya seperti tidak terjadi apa pun. Tetapi matanya tetap tajam menyorot ke arah Ayana.


Gadis itu hanya menunduk sambil mengunyah rotinya pelan. Segelas susu coklat hangat yang ada di depannya kemudian diteguknya setengah. Ingin rasanya cepat-cepat menghabiskan sarapan. Siapa juga yang bisa nyaman makan sambil dipelototi seperti ini.


"Ayo berangkat sekarang," ujarnya sambil jalan menuju pintu depan.


Kaivan ikut bangkit. Dalam diam dia mengikuti langkah Ayana.


"Fine, lo gak mau ngomong ya sama gue.... Gue akan hukum lagi lo nanti," geram Kaivan dalam hati melihat sikap diam Ayana.


**********************


Kaivan kembali menurunkan Ayana di gang belakang kampus. Saat akan melajukan motornya lagi, tiba-tiba ada yang berteriak memanggil namanya.


"Kai, tunggu !!!" terdengar suara seorang gadis.

__ADS_1


Cowok itu menoleh ke belakang, dia terkejut melihat Jessica berlari ke arahnya.


"Koq elo jalan dari arah belakang kampus?" tanya Kaivan heran.


Biasanya Jessica ke kampus diantar pakai mobil sama supir keluarganya. Dan selalu lewat gerbang depan. Tapi hari ini kenapa dari arah belakang kampus?


"Tadinya gue mau lewat depan eh ternyata di persimpangan itu macet banget, jadinya supir gue berusaha cari jalan tikus tapi malah di gang itu lebih parah macetnya dan mobil gue kejebak gak bisa jalan lagi. Daripada telat ke kampus, mending gue jalan kaki aja deh, makanya lewat sini. Gak nyangka ketemu sama elo. Lagian elo juga ngapain lewat belakang dan cewek yang tadi lo bonceng ini siapa?" jelas Jessica panjang lebar sambil menatap ke arah Ayana dengan pandangan curiga.


"Sorry gue lupa cerita ke elo, kenalkan ini Ayana sodara gue dari kota P. Dia dibantu mama untuk bisa kuliah di sini dan gue jadinya kebagian tugas bareng dia terus kalo ke kampus. Elo tau lah kalo maunya mama gak bisa dibantah," ujar Kaivan berusaha mencari penjelasan yang bisa diterima Jessica.


Kaivan tentu saja tidak mau Jessica berprasangka buruk kepadanya apalagi melihat dia baru saja berboncengan dengan Ayana.


"Oohh gitu.... Hai kenalkan gue Jessica, pacarnya Kaivan," Jessica berbasa-basi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ayana.


"Namaku Ayana....." katanya sambil menyambut uluran tangan Jessica.


"Lo koq gak cerita sih sama gue soal ini?" tanya Jessica, entah mengapa dia masih belum bisa menerima sepenuhnya penjelasan Kaivan tadi.


"Karena gue anggap ini hal yang tidak penting.... Udah deh gak usah dibahas lagi, buruan lo naik ke boncengan, ntar kita telat," ujar Kaivan sambil menstarter sepeda motornya kembali.


"Tapi ini sodara lo koq ditinggalin di sini?"


"Biarin aja, gue sengaja nurunin dia di sini karena dia udah janjian ama temennya yang sama-sama mahasiswa baru," Kaivan berusaha cari alasan lain.


Beruntung tidak lama kemudian sepeda motor Ezra datang mendekat yang kemudian langsung menawarkan Ayana untuk ikut dengannya. Kaivan jadi lega, tertolong oleh situasi yang pas sehingga kebohongannya tidak ketahuan oleh pacarnya. Tapi di lubuk hatinya ada sedikit rasa marah yang entah kenapa muncul saat melihat Ayana berlalu dibonceng Ezra.


Visual Jessica


__ADS_1


Visual Ezra



__ADS_2