
"Gak penting katanya," gumam Ayana dalam hati setelah duduk di boncengan sepeda motor Ezra.
Kata-kata Kaivan itu masih terngiang-ngiang di telinganya. Begitu tidak ada arti dirinya di mata cowok itu. Ya tentu saja hanya pacarnya Jessica yang jadi prioritas. Pasti bukan dirinya yang hanya berstatus calon tunangan paksaan. Dia harus tahu diri.
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernapas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah menghilang sajalah lagi
(Maudy Ayunda - Tahu Diri)
Bait lagu Maudy Ayunda itu seakan menggambarkan kondisi hatinya saat ini. Sungguh dia tidak mau semakin terbawa perasaan untuk sesuatu yang mustahil terjadi. Walau mungkin raga Kaivan bisa terikat oleh pertunangan mereka nanti tapi tidak dengan hatinya. Hatinya telah menjadi milik orang lain.
***************************
__ADS_1
Sehabis jadwal perkuliahan hari ini, Jessica langsung mengajak Kaivan keluar ruang kelas.
"Gue blom puas nanya sama elo, masih penasaran sama kejadian tadi pagi. Elo harus jelasin semuanya," tuntut Jessica sambil menatap mata Kaivan dalam-dalam.
Dia tidak mau ada ketidakjujuran di antara mereka. Hubungan yang sudah terjalin empat tahun tentu harus dipertahankan sekuat tenaga. Jessica sangat mencintai Kaivan. Cowok itu adalah cinta pertamanya dan dia berharap akan jadi cinta terakhir dan pendamping hidupnya kelak.
"Mau penjelasan apa lagi sih? Kan gue udah jelasin semua, gak ada lagi yang harus gue ceritain," jawab Kaivan sambil beranjak pergi.
Dia tidak mau lama-lama ditatap Jessica seperti itu. Rasanya seperti ditelanjangi kebohongannya. Apa jadinya kalau Jessica curiga. Terlebih kalau sampai tahu dia dan Ayana akan ditunangkan. Bisa-bisa pecah perang dunia. Kaivan tahu sekali bagaimana karakter pacarnya itu. Tipe yang berani dan nekat.
"Heiiiiii..... Ada yang elo sembunyiin kan? Ayolah jujur aja, gue bisa merasakan ada yang gak mau elo ceritain sama gue. Percuma empat tahun kita dekat, jadi gue tau banget kalo elo lagi bohong," kejar Jessica sambil menarik keras lengan Kaivan untuk berhenti berjalan.
Kaivan menghembuskan nafas panjang. Kayaknya tidak mungkin lagi untuk menutupi semua ini. Jessica sudah terlanjur curiga dan tidak akan berhenti bertanya sebelum gadis itu puas dengan penjelasannya.
"Kita jalan dulu, cari tempat yang enak untuk cerita. Sekalian makan yuk, gue udah lapar banget," ajak Kaivan akhirnya.
Jessica terpaksa menurut, memang tidak mungkin untuk ngobrol serius di kampus seperti ini. Digandengnya erat lengan Kaivan sambil mencoba menenangkan hatinya yang semakin terasa tidak enak. Intuisinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang krusial yang disembunyikan Kaivan.
Tanpa disadari oleh keduanya, ada sepasang mata yang melihat adegan mesra saat Kaivan memasangkan helm. Ayana tidak sengaja melewati area parkir dalam perjalanannya menuju gedung perpustakaan. Dia menoleh ke arah mereka tepat saat Kaivan sedang merapikan rambut Ayana dalam posisi yang sangat dekat.
"Kalo sama pacarnya mesra banget, giliran aku tadi helm itu cuma dilempar gitu aja," keluh Ayana di hatinya.
Cepat-cepat dia berlalu dari situ, tidak mau semakin sakit hati melihat kemesraan kedua sejoli di depan matanya. Dia harus bisa mengikis rasa yang mulai muncul ini karena memang tidak seharusnya ada.
"Kamu harus tahu diri Ayana, tidak usah seperti pungguk merindukan bulan," gumam hatinya lagi.
***********************
Setelah memilih suatu cafe yang tidak terlalu ramai, Kaivan dan Jessica duduk berhadap-hadapan. Mereka langsung memesan makanan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya, nanti setelah makan gue janji akan ceritain semua ke elo. Tapi elo juga harus janji gak akan bereaksi berlebihan mendengarnya. Percayalah gue cinta mati sama elo," ujar Kaivan sambil menggenggam erat jemari tangan Jessica.
Gadis itu menggangguk, memang lebih baik mereka makan siang dulu. Walaupun sebenarnya hatinya sangat risau menunggu cerita dari Kaivan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah mereka selesai makan, Kaivan kembali menggenggam erat jemari Jessica. Ditatapnya kedua mata gadis yang duduk di depannya itu dengan penuh cinta.
"Sebenarnya Ayana itu bukan saudara gue, dia adalah anak dari sahabat dekat mama yang tinggal di kota P. Mama dan ibunya Ayana dulu sekampus di kota J ini dan mereka sudah seperti saudara kandung saking dekatnya. Walau akhirnya sahabat mama itu pindah ikut suami ke kota P, tapi hubungan persahabatan mereka tidak pernah putus bahkan terjalin semakin erat."
"Tetapi sebulan yang lalu, kabar duka itu datang, sahabat mama dan suaminya meninggal karena kecelakaan dan anak mereka yang sebenarnya turut menjadi korban ternyata selamat walau luka-luka. Mama gue mendengar kabar tersebut langsung mengajak papa berangkat ke kota P, karena sahabat mama itu sudah tidak memiliki saudara dekat, jadi mama gue lah yang mengurus semuanya sampai akhirnya kedua orangtua Ayana dimakamkan."
"Karena Ayana sudah menjadi yatim piatu, mama gue memutuskan untuk membawa dia ke kota J dan tinggal di rumah kami. Gue gak tau dari mana ide itu muncul, tapi ternyata mama berkeras mau menjodohkan gue dengan cewek itu. Bahkan minggu depan kami akan bertunangan........."
"Apaaaaaa......" jerit Jessica tertahan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Dalam sekejap matanya sudah dipenuhi airmata yang bergulir berjatuhan pipinya. Jessica sama sekali tidak menyangka akan sejauh ini. Dia menyadari bahwa dari awal perkenalan, mamanya Kaivan memang seperti kurang suka dengan dirinya tapi tidak mengira bahwa Kaivan akan dijodohkan paksa begini.
"Sayang, tolong jangan menangis.... Maafkan gue dan keluarga gue tapi gue berjanji, gue tidak akan meninggalkan elo karena ini. Gue sangat mencintai elo. Kita sudah berpacaran empat tahun dan gue ingin menikah cuma sama elo...." bujuk Kaivan.
Dia berpindah duduk ke sebelah Jessica dan meraih tubuh pacarnya itu ke dalam pelukannya. Diciuminya rambut Jessica dalam-dalam. Cowok itu juga merasa sedih melihat Jessica menangis tersedu. Ingatannya kembali kepada Ayana.
"Seandainya Ayana tidak tinggal bersama mereka, tentu ini tidak akan terjadi," pikirnya.
Setelah beberapa saat, tangisan Jessica akhirnya mereda. Tinggal sedu sedan yang terdengar memilukan. Dia memandangi wajah Kaivan.
"Tapi bagaimana cara elo menolaknya? Bukankah ini keinginan mama dan papa elo, gak mungkin elo melawan," isak Jessica lirih dengan nada putus asa.
"Gue memang sekarang blom tau caranya, tapi gue akan berusaha menolak. Mungkin bukan dengan cara melawan tapi gue akan membuat Ayana yang nanti menyerah dan memohon sama ortu gue untuk membatalkan semuanya."
"Gue dari awal udah bilang ke dia, kalo gue udah punya pilihan hati dan tidak akan pernah bisa mencintainya. Elo sendiri kan bisa liat, mana mungkin gue bisa tertarik sama cewek kayak dia. Jauh banget dari tipe idaman gue. Dari dulu gue sukanya yang kayak elo Jes," jawab Kaivan lagi panjang lebar berusaha menenangkan hati Jessica.
__ADS_1
Padahal jauh di sudut hatinya, mulai ada keraguan akan hal itu. Entah mengapa sedikit demi sedikit pesona gadis manja itu justru mulai menggoda hatinya. Ada semacam rasa ingin melindungi yang tidak pernah dirasakannya kepada Jessica muncul terhadap Ayana. Karena memang selama ini dia melihat pacarnya itu sebagai gadis tomboy dan selalu kelihatan tangguh. Itu dulu yang membuatnya jatuh cinta.
Baru kali inilah dia melihat Jessica menangis di depannya dan anehnya itu tidak menggetarkan hatinya. Cuma dia sudah terlanjur mengucap janji bahwa mereka suatu saat akan menikah, tidak mungkin seorang laki-laki mengingkari ucapannya sendiri kan.